Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 114 Haruskah??


__ADS_3

Malam harinya seusai makan malam. Seperti biasa Aira langsung kembali ke kamarnya. Revan pun menyusul istrinya dari belakang. Wajah wanita itu begitu senang. Dari tadi sepulang dari rumah sakit. Tak henti - hentinya dia membicarakan keadaan bayinya yang tadi di lihatnya. Revan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


Lelaki itu senang. Karena istrinya sudah kembali seperti dulu. Cerewet, bawel dan riang. Aira berdiri di depan meja rias sambil menuang toner ke dalam kapas dan menempelkannya di pipi nya lalu mengusap wajahnya dengan kapas itu secara menyeluruh.


Revan menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang. Aira menatap wajah suaminya dari pantulan cermin di depannya. Lelaki itu membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Menciumi aroma tubuh wanita yang di cintainya. Aira mengusap punggung tangan suaminya yang menempel di pinggang dan perutnya.


" Ada apa?. Kenapa manja seperti ini sih?." tanya Aira sambil mengusap pipinya dengan kapas. Revan tak bersuara. Dia hanya diam dan terus menciumi setiap jengkal leher istrinya itu.


" Jangan gitu ahh. Geli tau." ujar Aira sambil bergidik kegelian.


" Aku merindukan mu." tukas Revan sambil mengeratkan pelukannya. Aira mengernyit kan dahinya mendengar itu.


" Aku kan gak kemana - kemana." jawab Aira.


" Aku merindukanmu yang dulu. Yang bawel, yang cerewet, yang suka marah - marah dan ngomel - ngomel setiap hari." ujar Revan. Aira tersenyum. Dia melepaskan pelukan Revan dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah suaminya itu. Di tatapnya mata lelaki itu lekat - lekat. Revan pun menunduk dan menempelkan dahi nya di kepala istrinya itu.


" Maafkan aku. Jika sikapku akhir - akhir ini menyusahkanmu." ujar Aira. Revan memejamkan matanya menikmati hembusan hangat nafas istrinya.


" Kamu pasti lelah kan?." tanya Aira.


" Iya. Aku lelah. Sangat lelah sekali." jawab Revan sambil menghela nafasnya dalam. Aira mencium bibir suaminya sekilas. Revan langsung membuka matanya dan menatap istrinya dengan tatapan tajam.


" Kenapa melihatku seperti itu?." tanya Aira sambil mengusap pipi lelaki itu.


" Jangan menggoda ku seperti itu. Kamu tau kan apa akibatnya kalau menggoda macan yang sedang tidur." jelas Revan. Aira tersenyum mendengar ucapan Revan.


" Aku gak menggoda mu. Aku hanya mencium suamiku. Apa itu salah?." tanya Aira sambil menarik hidung mancung Revan. Revan menarik pinggang istrinya dan merapatkan ke tubuhnya lalu mencium kening istrinya dengan dalam dan lembut. Aira sampai memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat lelaki yang sangat di cintainya itu.


Bibirnya pun berpindah menciumi hidung, kedua pipi dan berakhir di bibir merah dan tipis milik istrinya itu. Dia sudah tidak tau berapa lama tidak merasakan manis nya bibir merah istrinya itu. Yang dia tau, dia akan kehilangan akal saat merasai bibir merah wanita ini. Karena bibir merah Aira merupakan candu untuk dirinya.

__ADS_1


Mereka berdua masih berpagut dalam kehangatan dan kelembutan bibir masing - masing. Semakin lama semakin panas ciuman mereka. Revan melepas sebentar pagutan bibirnya untuk meraup oksigen sebanyak - banyaknya. Nafas kedua nya begitu memburu. Aira masih memeluk erat leher suaminya. Setelah meraup oksigen sebanyak yang di inginkan, bibir mereka kembali menempel satu sama lain.


Revan begitu rakus ******* habis bibir merah itu. Aira sampai kehabisan nafasnya untuk mengimbangi setiap serangan dari suaminya itu. Entah berapa lama mereka berdua hanyut dalam hangatnya perasaan masing - masing. Yang mereka tau dan mereka mau, malam ini janganlah cepat berakhir. Karena malam ini mereka sejenak bisa melupakan beban pikiran yang menancap di pikiran dan hati mereka selama beberapa bulan ini.


*****


Lewat tengah malam ponsel Revan berdering dengan kencang. Aira berdecak sambil menggoyang tubuh suaminya yang terlelap di sampingnya. Revan tak menghiraukan dan malah menarik selimut yang di pakainya hingga menutupi kepalanya. Cukup lama ponsel itu berbunyi. Tapi mereka berdua enggan sekali untuk menjawabnya. Ponsel itu berhenti berdering. Mereka berdua melanjutkan mimpi yang sempat terusik tadi.


Tak berapa lama ketenangan mereka terusik kembali dengan bunyi ponsel Revan yang berdering kembali. Aira berdecak kesal. Sungguh sangat mengganggu tidurnya. Aira pun bangun lalu menyalakan lampu tidur yang ada di samping tempat tidurnya. Di tariknya selimut yang melekat di tubuh suaminya itu sambil menggoyang - goyang bahu Revan.


" Revan. Revan bangun. Ponsel kamu berbunyi itu." ujar Aira sambil membangunkan suaminya. Revan hanya berdehem sebentar dan menutup matanya kembali. Matanya sungguh lengket tak bisa di buka. Aira pun meraih ponsel yg berbunyi itu. Tertulis nama ' Dokter Anne ' di layar ponsel itu. Aira pun langsung mengernyitkan dahinya. Dia pun menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan telepon itu.


" Hallo." sapa Aira dengan suara serak khas bangun tidur.


" Hallo. Nyonya Aira. Maaf saya mengganggu malam - malam begini. Dokter Revan nya ada?." tanya Dokter Anne dengan suara paniknya.


" Eehhmm itu ... Bisa tolong di bangunkan nyonya. Saya ingin sekali berbicara dengan dokter Revan." pinta dokter Anne.


Aira melirik ke arah suaminya itu. Dia pun membangunkan Revan. Tapi Revan nya sungguh sulit untuk membuka matanya. Mungkin dia sangat kelelahan.


" Revan. Dokter Anne mau bicara sama kamu. Ayo bangun." ujar Aira. Revan yang merasa tidurnya di ganggu pun dengan malas akhirnya membuka matanya yang masih sangat mengantuk itu.


" Apa sih?. Malam - malam gini juga. Aku masih ngantuk loh." tukas Revan sebal.


" Dokter Anne telepon. Dia mau bicara dengan mu." ujar Aira sambil menyodorkan ponselnya ke arah Revan. Revan pun mengambil ponsel itu dan menempelkan di telinga nya.


" Iya hallo dok, ada apa?." tanya Revan.


" Hallo dokter Revan. Maaf saya mengganggu. Gini dok, bisakah dokter Revan datang ke rumah sakit sekarang?." pinta dokter Anne.

__ADS_1


" Sekarang?. Ada apa ya?." tanya Revan.


" Kondisi bayi dokter kritis sekarang. Dari jam 10 malam tadi dia sudah muntah berulang kali. Kami sudah memberikan obat tapi di tolak semua oleh tubuhnya. Dan sekarang bayi dokter dalam keadaan tidak sadar. Jadi dokter Revan cepat kemari." jelas dokter Anne. Revan yang mendengar itu pun, rasa kantuk yang tadi menyelimuti langsung hilang seketika. Matanya terbuka dengan sempurna.


" Baik dok. Saya akan segera kesana." jawab Revan lalu langsung mematikan panggilan nya. Revan langsung meloncat dari atas tempat tidurnya. Dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh muka nya. Aira merasa ada yang tidak beres dengan tingkah suaminya. Dia pun ikut turun dari tempat tidur dan menghampiri ke arah kamar mandi yang tertutup itu.


" Ada apa Van?. Apa yang terjadi dengan Attar?. Attar baik - baik saja kan?." tanya Aira takut dan panik itu.


" Attar baik - baik saja. Aku ke rumah sakit sebentar ya. Kamu di rumah saja." ujar Revan.


" Enggak!. Aku ikut denganmu Van. Aku ikut ke rumah sakit. Aku mau melihat Attar." ujar Aira.


" Jangan!. Kamu di rumah saja. Aku hanya sebentar disana. Kamu di rumah saja. Ok." jelas Revan sambil mengambil kaos bersih di dalam lemari dan juga jaket yang terlipat rapi di dalam sana.


" Pokoknya aku mau ikut kamu!. Aku ikut ke rumah sakit!." tukas Aira sambil menatap wajah suaminya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya itu. Revan menghela nafasnya dengan berat.


" Ya udah. Kamu boleh ikut. Tapi janji, jangan panik dan tetap tenang selama disana. Aku gak mau kamu sampai sakit lagi." pinta Revan. Aira mengangguk mengiyakan.


Aira pun mengambil baju ganti di dalam lemari lalu bergegas mengganti pakaiannya. Revan pun menyuruhnya memakai jaket yang tebal. Karena udara malam hari ini sangat dingin sekali. Aira pun menurut.


Dengan cepat dan terburu - buru, mereka berdua menuruni tangga dan berlari menuju garasi untuk mengambil mobil dan menyalakan mobil dengan segera. Revan pun memacu kecepatan mobilnya dengan cepat. Di tambah lagi jalanan yang sangat sepi sekali. Membuat lelaki itu lebih dalam lagi memacu gas pada mobilnya. Aira sampai berpegangan dengan kuat akibat laju mobil yang begitu cepat.


" Van hati - hati bawa mobilnya." pinta Aira. Revan pun tak menggubris ucapan istrinya. Baru saja Aira menutup mulutnya. Tiba - tiba dari arah yang berlawanan terlihat sebuah mobil yang menerobos lampu merah.


" Revan Awaaassss !!!!! ..." teriak Aira. Dan ...


Bruuuaaaakkkk !!! ....


Tabrakan kedua mobil tersebut tak terelakan lagi.

__ADS_1


__ADS_2