
Revan masih terlelap di ruang tamu rumah kontrakan Aira dan Santi. Santi pun mengangkat tubuh Bian yang tertidur di samping Revan lalu di pindah kan ke dalam kamarnya.
" Mbak istirahat juga sana. Biarin mas Revan tidur. Jangan di bangunin. Mungkin dia lelah." tukas Santi kepada ku sebelum masuk ke kamarnya. Aku pun mengangguk mengiyakan. Tubuhku juga sangat lelah rasanya. Banyak sekali kejadian menyedihkan dan melelahkan akhir - akhir ini.
Aku pun beranjak menuju kamar ku dan menutup pintu kamar itu rapat - rapat. Terlihat lampu led pada ponsel ku berkedap - kedip. Aku pun meraihnya. Ada satu pesan masuk dari Maya, teman kerja ku di pabrik.
" Ra. Kenapa kamu gak masuk kerja lagi?. Gawat Ra. Pak Yono marah besar saat tau kamu gak masuk lagi."
Begitu lah isi pesan dari Maya. Aku pun menghela nafas ku dengan berat.
" Aku pasti di pecat besok!." gumam ku lirih. Rasanya dadaku kembali sesak memikirkan semua nya. Hemmm .... Mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Biarlah besok menjadi cerita esok hari.
Aira pun merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Tak butuh waktu lama, matanya pun terpejam dan dirinya larut dalam mimpi.
*****
Sementara Reihan tengah pusing memikirkan adiknya yang meninggalkan rumahnya tanpa kata apapun itu. Dia duduk merenung sendirian di kamar Revan. Di lihatnya sekeliling kamar itu. Tampak rapi dan sunyi. Dia sudah berulang kali menghubungi nomer ponsel adiknya tersebut. Tapi tidak di jawab sama sekali.
" Revan. Kamu ada dimana?. Pulanglah. Jangan buat kakak khawatir." gumam Reihan dalam hati. Dia begitu menyayangi adik nya itu. Walau pun Revan terlihat cuek dan kaku, tapi dia memiliki sifat yang manja. Sifat manja itu hanya di tunjukkan padanya.
__ADS_1
Selepas mendiang mama nya pergi, Revan setiap malam selalu menangis seorang diri di kamar. Reihan selalu menenangkan adiknya itu hingga Revan tertidur.
Saat Revan pergi kuliah ke luar negeri pun, orang yang paling merasa kehilangan adalah dirinya. Walaupun sikap perhatian Reihan jarang sekali di tunjukkan kepada Revan.
" Mas." tangan amanda kini tengah mengusap lembut bahu Reihan. Reihan menghela nafasnya yang begitu berat.
" Belum ada kabar dari Revan?." tanya Amanda. Reihan menggelengkan kepalanya.
" Kamu jangan terlalu memikirkan. Revan pasti baik - baik saja." tukas amanda khawatir akan kesehatan suaminya itu.
" Gimana aku gak khawatir?. Kamu seperti tidak mengenal Revan saja." ujar Reihan.
" Papa gimana?." tanya Reihan.
" Papa masih di kamarnya." jawab Amanda lesu. Reihan memejamkan matanya menahan sesak di dada dan pikirannya.
Sejak semalam, lebih tepatnya sejak Revan pergi semalam, Atmaja belum keluar dari kamarnya hingga saat ini. Reihan dan Amanda berulang kali mengetuk pintu dan membujuknya pun tak berhasil sama sekali. Entah apa yang di lakukan Atmaja di dalam kamar. Sedih. Sudah pasti dia sedih dan kecewa kepada Revan, anak kesayangannya itu. Marah. Atmaja memang sangat marah saat melihat dan mendengar sendiri, kalau Revan lebih memilih Aira daripada pilihannya.
Entahlah. Kini rasanya, keluarga nya saat ini begitu sangat rumit sekali. Dua orang yang sama - sama memiliki sifat keras kepala dan ego terlalu tinggi tengah memiliki selisih paham. Reihan begitu merindukan sosok mendiang mama nya.
__ADS_1
Jika mama nya masih hidup, ini semua tak kan terjadi. Revan tak akan pergi dari rumah. Papa dan adiknya tak akan bertengkar seperti sekarang.
" Reihan." sapa seseorang dari depan pintu kamar Revan. Reihan dan Amanda pun menoleh seketika. Atmaja tengah berdiri di depan pintu kamar Revan. Matanya menatap sekeliling kamar itu.
" Adikmu sudah ada kabar?." tanya lelaki tua itu.
" Belum Pa. Rei berusaha menelepon nya berulang kali. Tapi tak di jawab." jawab Reihan. Atmaja menghela nafasnya.
" Pesankan tiket pesawat. Papa ingin pulang ke rumah papa sendiri." jelas Atmaja tiba - tiba. Reihan dan Amanda begitu kaget mendengar itu.
" Ini rumah Revan. Dia yang berhak tinggal disini. Papa kan cuma tamu. Dia tidak akan pulang kalau tau papa masih ada disini." imbuhnya.
" Kalian mau ikut papa pulang atau tinggal disini, Terserah!." tukas Atmaja lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Reihan dan istrinya pun saling beradu pandang. Mencoba mengerti dari ucapan ayahnya.
" Kita pulang!." seru Reihan yang di ikuti anggukan oleh Amanda.
Mereka pun beranjak dari kamar tersebut dan kembali ke kamar mereka untuk membereskan semua pakaiannya yang ada di sana. Reihan pun menghubungi pihak maskapai untuk memesan tiket pesawat kepulangan mereka.
__ADS_1