Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 39 Rumah Nenek


__ADS_3

Kala itu di rumah nenek Aira, terlihat perempuan paruh baya tetapi masih terlihat begitu cantik dan anggun tengah menyiapkan makan malam di meja makan. Wanita tua yang juga masih terlihat cantik lain pun memperhatikan nya dari jauh.


Yah perempuan tua itu adalah nenek Aira. Dan perempuan yang tengah di meja makan itu mama nya, Kinanti. Sebuah goresan senyum terukir di bibir nenek itu yang tak lain adalah ibu kandung Kinanti.


" Apa kamu tidak lelah, sedari tadi mondar mandir saja, hah?." tukas wanita tua itu lalu duduk di kursi yang ada di hadapannya itu.


Kinanti hanya tersenyum mendengar ucapan ibu nya itu.


" Tidak ibu. Makan malam sebentar lagi siap. Ibu tunggu sebentar ya. Aku ambil sayur nya dulu di belakang." ujarnya lalu beranjak pergi meninggalkan wanita tua itu duduk sendiri.


Sebenarnya Kinanti bukan anak satu - satunya, masih ada tiga saudara Kinanti. Tapi mereka semua sudah bahagia dengan keluarga mereka masing - masing. Hanya kinanti yang tidak beruntung dalam hidupnya. Dan dia juga ingin merawat ibu, orang tua nya yg tinggal satu - satunya itu.


Tookk ... Tookk ... Tookk ...


Terdengar suara pintu di ketuk. Wanita tua itu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu depan.


" Assalamualaikum nenek ... " sapa perempuan cantik itu dari balik pintu. Dia tersenyum melihat cucu kesayangannya datang ke rumah nya.


Di peluk nya tubuh perempuan cantik itu. Terlihat seorang lelaki bertubuh tegap berdiri di belakang cucu nya itu.


" Kalian kenapa gak kasih tau dulu kalau mau kesini. Ayo masuk. Jangan berdiri di depan pintu." ajak nenek Aira.


Aira dan Revan pun memasuki rumah yang besar itu. Kinanti telah kembali dari dapur sambil membawa sayur yang tadi di masaknya.


" Mama masak apa?." tanya Aira ketika melihat mama nya kembali dari belakang.


" Aira .. Kamu kesini nak. Sama siapa kamu kesini?." tanya Kinanti senang dan langsung memeluk putri sulungnya itu.


" Aira kesini sama Revan ma. Itu dia di ruang tamu sama nenek." jelasnya.


Kinanti pun berjalan menuju ruang tamu. Dia langsung tersenyum saat melihat Revan. Revan pun beranjak dari duduknya dan langsung mencium punggung tangan ibu dari kekasihnya itu.


" Nak Revan. Bagaimana kabarmu nak?." tanya Kinanti.


" Alhamdulillah seperti yang mama lihat. Revan selalu sehat." jawabnya senang.


" Kalian pasti belum makan kan. Ayo kita makan malam bersama. Tapi mohon maaf ya Van. Hanya sekedarnya." ujar Kinan.


" Kita sudah makan kok ma barusan." sahut Aira dari dalam rumah.


" Sungguh." tanya Kinanti.


Revan pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu.


" Lain kali kalau mau kemari bilang dulu. Biar kita masak yang enak buat kamu." tukas nenek Aira. Mereka semua pun tertawa mendengar ucapan neneknya itu.


Kinanti dan ibu nya masuk kedalam dan duduk di meja makan. Lalu mereka pun makan malam. Sementara Revan dan Aira berpindah duduk di ruang tengah yang berada di depan meja makan.


Aira dan Revan tengah asyik menonton televisi dan berbincang - bincang. Kinanti tersenyum melihat putri nya tampak bahagia dan senang itu. Dia berharap, putri nya akan terus seperti itu selamanya.


Setelah mama dan neneknya telah selesai makan. Mereka pun ikut bergabung dengan Revan dan Aira duduk di ruang tengah. Gelak tawa Aira memecah di rumah itu yang selama ini sunyi sepi.


" Santi belum pulang nak?." tanya mama nya kepada Aira.


" Belum ma. Katanya sih besok baru pulang." jawab Aira.


" Berarti kamu tidur sendiri di rumah." tanya mama nya khawatir.

__ADS_1


" Iya. Sama siapa lagi memang nya." ujarnya.


Mama nya melirik ke arah Revan. Kinanti merasa ada yang ingin di utarakan oleh lelaki yang di cintai anaknya ini.


" Revan. Katakan, apa yang ingin kamu katakan?." seru Kinanti kepadanya. Revan pun tercekat mendengar ucapan calon ibu mertua nya itu.


" Mama tau darimana kalau Revan ingin bicara sesuatu." tanya Aira heran.


" Insting seorang ibu." jawab nenek Aira sambil menatap cucu kesayangannya itu.


Revan menghela nafas nya. Terdengar sangat berat sekali nafasnya itu. Dia begitu gugup dan takut untuk menyampaikan niat baiknya itu. Dia takut kalau ibu mertua nya itu akan menolaknya dan mengusirnya pergi.


" Ada apa nak?." tanya Kinanti yang melihat wajah gugup Revan.


" Begini ma. Sebelumnya Revan mau meminta maaf terlebih dahulu. Mungkin ini akan terkesan mendadak dan buru - buru. Tapi bagi Revan, ini waktu yang sangat tepat." jelasnya bertele - tele. Aira pun berdecak menatap wajah Revan. Revan sempat memandang wajah kekasihnya itu.


" Hari minggu besok orang tua dan keluarga Revan akan datang kesini ma." Jelas Revan.


" Untuk apa mereka kesini. Apa ada masalah?." tanya Kinanti bingung.


" Bukan ma. Bukan ada masalah. Tapi mereka datang untuk melamar Aira menjadi istri Revan." jelas Revan.


Kinanti dan ibu nya pun tersentak mendengar ucapan Revan. Mereka begitu kaget.


" Mama ... Nenek ... Kalian baik - baik saja kan." tanya Aira takut saat melihat mama dan neneknya diam membisu.


Nenek dan mama nya mengangguk secara bersamaan.


" Apa ini tidak terlalu cepat Revan?." tanya mama nya Aira.


" Apa kamu serius Revan?." tanya nenek Aira.


" Revan sangat serius nenek. Revan tidak berniat main - main atau bercanda." jelas Revan.


" Apa orang tua dan keluarga kamu sudah tau akan status Aira?." tanya Kinan takut.


" Sudah ma. Mereka semua sudah tau. Dan mereka tidak mempermasalahkan itu." jawab Revan berbohong. Padahal jelas - jelas ayahnya sangat menentang hubungan mereka. Tapi tidak mungkin Revan menceritakan perihal tersebut.


Kinanti terdiam menatap wajah anaknya. Sementara Aira sekarang tengah duduk sambil menundukkan pandangannya.


" Aira sayang. Bagaimana menurut kamu nak?. Semua keputusan ini ada di tangan kamu. Toh nanti nya kamu sendiri yang akan menjalani nya." tanya Kinanti. Aira masih diam membisu.


" Aira. Kamu katakan saja apa yang ada di hati dan pikiran mu saat ini. Agar kita semua tau apa ada yang mengganjal disana. Mumpung belum terlambat." jelas neneknya. Aira menatap wajah orang yang ada di ruang tengah itu.


Revan pun terdiam dan menatap ke arah nya. Terdengar dia menghela nafas panjang.


" Nenek .. Mama ... Bolehkah Aira bersama membangun semua impian dan harapan Aira yang selama ini sempat terkubur dengan lelaki yang Aira cintai." tanya Aira kepada nenek dan mama nya itu.


Semua orang yang ada di ruang tengah itu pun tersenyum menatap Aira. Terlebih lagi Revan. Dia sungguh tidak percaya kalau kekasihnya itu akan berbicara yang sangat menyentuh hati itu.


Kinan melebarkan tangan nya, dan Aira pun menghambur ke pelukan ibu nya itu. Kinanti menitikkan air mata haru mendengar anaknya akan berbahagia kembali dengan lelaki yang di cintai nya itu. Aira pun terisak dalam pelukan mama nya. Mereka berdua saling menangis dan berpelukan.


" Mama akan selalu mendukung mu nak. Mama sangat mencintaimu." jelas Kinanti. Kinanti melepas pelukannya dan mencium kedua pipi anak perempuan nya itu.


" Baiklah Revan. Jadi kapan orang tua mu kesini." tanya nenek Aira.


" Hari minggu nenek. Kemungkinan sore." jawab Revan.

__ADS_1


" Kalau gitu, mulai besok kita harus siap - siap Kinan." tukas ibu nya itu.


" Iya ibuk. Besok Kinan akan panggil saudara - saudara semua untuk membantu mempersiapkan semua." jawab Kinanti.


" Ma acara nya sederhana saja. Jangan terlalu mencolok dan berlebihan. Aira malu ma." tukas Aira.


" Malu untuk apa. Besok itu kan hari yang bahagia untuk mu dan Revan." ujar Kinanti.


" Iya ma, sederhana saja. Tidak usah berlebihan dan terlalu mewah. Revan juga kurang suka." jelas Revan.


" Baiklah kalau begitu. Berapa orang yang akan hadir Revan." tanya Kinanti.


" Tidak banyak kok ma. Paling ya keluarga dan teman terdekat Revan. Mungkin 10 orang." jawab Revan.


" Ya sudah kalau begitu." ujar Kinanti.


" Apa Santi tau nak?." tanya mama nya.


" Belum. Aira belum kasih tau dia. Besok saja kalau dia pulang." jawab Aira.


" Mulai malam ini kamu tidur disini saja. Gak usah balik lagi ke rumah mu itu. Santi kan juga tak ada di rumah. " jelas nenek nya.


" Tapi nek, baju kerja Aira di rumah. Besok Aira kerja nya gimana." tukas aira.


" Besok pagi aja di ambil." jawab neneknya.


" Iya besok pagi aja di ambil. Besok aku akan mengantarmu bekerja." tukas Revan.


" Aku tidak tega melihat dirimu di rumah sendirian. Aku takut ada apa - apa nanti. Apalagi kaki mu baru saja sembuh." jelas Revan.


" Kenapa kaki mu nak." tanya Kinan khawatir sambil melihat kaki putri nya itu. Terlihat bengkak dan memar disana.


" Tidak apa - apa kok ma. Aira hanya terkilir saja.Ini sudah baikan kok. Tinggal bengkak dan memar nya saja." tukas Aira.


" Makanya kamu itu yang hati - hati nak." seru Kinanti. Aira hanya tersenyum mendengar omelan mama nya itu.


Mereka pun berbincang - bincang panjang lebar. Sampai akhirnya Revan pun harus berpamitan pulang. Aira mengantar Revan sampai teras depan.


" Kamu hati - hati di jalan ya Van." seru Aira.


" Iya sayang. Besok pagi aku kesini lagi buat antar kamu kerja." jawabnya.


" Iya sudah sana pulang." tukas Aira.


Revan berdehem dan mengusap pipi nya. Aira tau apa yang di maksud oleh kekasihnya itu.


" Jangan gila deh Van. Kalau mama atau nenek lihat gimana. Bisa di sembur aku nanti." jelas Aira.


"Tidak ada yabg lihat. Tenang aja deh." seru Revan.


" Gak mau. Cepat sana pulang." ujar Aira.


Dengan berat hati Revan pun beranjak pergi meninggalkan kekasihnya itu.


~ **Happy reading ~


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaa readers** ...

__ADS_1


__ADS_2