Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 6 Aira ( 3 )


__ADS_3

Pagi menjelang siang, mama, nenek, mbok yem dan juga aku tiba di rumah perempuan itu. Rumah itu nampak sepi. Mobil ayah pun tidak ada disana. Mama yang sedang menggendong Santi pun tampak celingukan melihat sekitar rumah itu.


Mama langsung memencet tombol bel yang ada di depan pagar. Tak ada tanggapan.


" Kok sepi. Perempuan itu sedang keluar ya." mbok yem bertanya lirih.


" Seperti nya gak ada orang mbok." jelas nenek yang masih celingukan.


Tiinn ... Tiinn ...


Kami semua menengok ke belakang sumber suara klakson mobil itu.


Itu mobil ayah, gumamku.


Nenek memegang tanganku erat - erat saat melihat mantan menantunya itu turun dari mobil.


" Aira, mbok yem. Kenapa kalian ada di luar?. Dan ibuk ... Ibuk dan Kinan ada apa kesini." tanya ayah yang sambil mengelus pipi Santi.


" Biarkan kami masuk dulu. Aku akan jelaskan di dalam." jawab mama kesal. Ayah melangkah maju, lalu memencet bel disana. Juga tak ada tanggapan.


" Kemana nuri mbok." tanya ayah kesal.


" Saya ... Saya tidak tau tuan." jawab mbok yem. Ayah mengambil kunci pagar cadangan yang ada di mobil lalu membukanya.


Setelah kami semua masuk ke dalam rumah. Ayah masuk ke dalam mencari istrinya tersebut. Tapi tak ada tanda - tanda bahwa istrinya itu ada di rumah. Ayah lalu duduk di sofa ruang tamu. Di depannya ada nenek dan mama duduk di sana.


" Tega kamu mas." seru mama kepada ayah sebelum ayah membuka mulutnya.


" Kemana saja kamu hah. Apa kamu tau, apa yang di lakukan istri barumu itu kepada anakmu." tanya mama kesal dan langsung menitikkan air mata.


" Kamu ngomong apa sih. Kenapa dengan nuri. Dia sayang sama Aira. Bahkan dia menganggap Aira seperti anaknya sendiri." jawab ayah.


" Bohong !!. Lihat punggung Aira mas. Lihat !!!." bentak mama sambil menujuk punggungku. Ayah menatapku. Aku masih beringsut dan sembunyi di belakang tubuh nenek. Nenek masih memegangi tanganku. Ayah melambaikan tangannya. Aku di mintanya untuk mendekat. Aku menatap ayah takut.


" Sana Aira. Tunjukan pada ayahmu, apa yg telah di lakukan istrinya kepadamu, nak." jelas nenek lembut. Aku berjalan ke arah ayah. Ayah mencium tangan dan pipiku.


Ayah terkejut saat melihat ada memar di pelipisku. Aku menatap wajah ayah lekat - lekat. Ayah lalu membuka kaosku, dan di lihatnya sekujur punggungku ada memar dan salur luka cambukan yg sampai membuat tubuhnya ngilu.


" Astaghfirullah, ini kenapa Aira. Siapa yang melakukan ini padamu." tanya ayah kaget tak percaya melihat luka yang sangat banyak disana.


" Siapa lagi pelakunya kalau bukan istri mu itu." jawab mama kesal. Ayah menggelengkan kepala.


" Bohong !!. Aku tidak percaya dengan mu. Tidak mungkin nuri tega melakukan ini pada Aira. Dia sayang sama Aira. Aku tau itu." jelas ayah tak percaya.


Ayah tampak menitikkan air mata. Di elusnya pipiku lalu di cium berulang kali.


" Tapi itu semua memang kelakuan nyonya besar, tuan." seru mbok yem yang masih berdiri di samping mama. Ayah menatap mbok yem, lalu menatap ku dalam - dalam.


" Aira, Aira lihat mata ayah. Aira harus jujur sama ayah, siapa yang membuat tubuh aira sampai seperti itu. Siapa yang memukul Aira." tanya ayah tegas dan menatap mataku mencari kebenaran disana. Aku menatap mata ayah,


" Bunda nuri yang melakukan nya ayah." jawabku jujur. Ayah langsung memeluk tubuhku dan menangis sejadinya. Aku tau, hati ayah pasti hancur saat itu.


Nuri turun dari taxi dan menenteng banyak paper bag. Wajahnya tampak kaget saat melihat mobil ayah ada di halaman rumahnya. Dia langsung masuk kedalam. Dia begitu sangat terkejut saat mendapati mama dan nenek duduk di sofa depan ayah.


Wajah ayah merah padam menahan amarahnya. Dia memasang wajah malaikatnya saat bertemu ayah.


" Darimana kamu nuri." tanya ayah kasar. " Aku .. Aku habis dari jalan - jalan." jelasnya.


" Mengapa mereka ada disini mas." tanya nya sinis. Ayah berdiri menatap istrinya itu.


" Apa yang kamu lakukan selama ini terhadap anakku, hah." tanya ayah. Wajah nuri tampak santai. Sedikit pun dia tak bergeming.


" Ooohhh itu ..." jawabnya santai.


" Itu karena anakmu sendiri yang nakal. Makanya aku memberi sedikit hukuman padanya." jelasnya. Mama yg mendengar itu tak terima lalu berdiri menjambak rambut perempuan itu dari belakang.


" Dasar perempuan iblis, manusia gak punya hati, berani kamu menyentuh anakku dengan tangan kotormu itu hah." jelas mama murka.


Perempuan itu mengadu kesakitan dan berteriak memanggil ayah untuk meminta bantuan. Ayah hanya berdiri diam menatapnya.


" Akan ku bunuh kamu karena telah berani memukul anakku." mama masih menjambak rambut perempuan itu sambil setengah menyeret ke belakang dan membenturkan kepala perempuan itu ke tembok ber ulang - ulang. Ayah langsung menarik perempuan itu sebelum mama bertindak tanpa batas.


Perempuan itu mendorong tubuh ayah hingga terjengkang ke belakang.


" Laki - laki gak berguna. Aku memang menyiksa anakmu. Karna aku benci dengannya." jelas perempuan itu setengah berteriak.

__ADS_1


Mama menyerang perempuan itu tapi di halangi oleh nenek dan mbok yem. Mereka tak ingin mama bertindak lebih jauh lagi yang nantinya akan membuat dia menyesal. Ayah berdiri dan menampar perempuan itu sangat keras. Ayah menjambak rambut perempuan itu.


" Dasar perempuan setan. Ku remukkan kepalamu saat ini juga, hah. Beraninya kau memukul anakku. Aku saja ayahnya tidak berani menyentuh kulitnya." jelas ayah marah saat mendengar pengakuan perempuan itu.


Mbok yem dan nenek menarik lengan ayah, tapi ayah menepisnya kasar. Saat tangan ayah sedikit kendor menjambak, perempuan itu menendan ayah hingga mundur beberapa langkah. Perempuan itu lari keluar rumah dan meminta bantuan para tetangga.


Sekarang kami semua berada di rumah Pak RT. Tadi perempuan itu meminta bantuan para tetangga untuk melindunginya. Karena dirinya merasa terancam. Tetangga pun memanggil Pak RT untuk menyelesaikan permasalahan ini.


" Sekarang mas bayu mau nya seperti apa." tanya Pak RT. Ayah sudah menjelaskan semua kronologinya disana. Ayah mendengus kesal.


" Saya mau Perempuan ini di adili pak. Dia telah melakukan penganiayaan kepada anak saya." jelas ayah.


" Aku juga tidak sudi punya suami pengecut dan bodoh sepertimu." seru perempuan itu angkuh.


" Kau ingat bayu, kamu hanya lelaki sampah sebelum aku mengangkat derajatmu itu. Kau datang padaku hanya membawa baju yang kau pakai. Dan keluar dari rumahku juga tanpa membawa apapun. Kau itu kere bayu. Aku yang menjadikanmu seperti raja." hina perempuan itu.


" Kalau kau mau memperpanjang masalah ini, tidak apa - apa. Aku tidak takut. Aku akan berbicara dengan pengacaraku untuk menyiapkan semuanya. Dan sekarang kau bukan apa - apa bagiku. Tinggal kan semuanya yang telah aku beri. Mobil, uang, perhiasan dan semua itu milikku. Kamu hanya gembel bermodal sandal jepit saat datang ke rumahku." jelas perempuan itu. Ayah mengepalkan tangannya menahan emosi.


" Baik. Aku juga gak sudi punya istri keji sepertimu. Aku kembalikan semua yang kamu berikan." jawab ayah sambil melempar dompet, perhiasan yang di pakai dan kunci mobil di hadapan perempuan itu.


" Permisi Pak RT, saya sudah tidak ada urusan dengan perempuan licik ini." jelas ayah sambil beranjak pergi. Yang di ikuti oleh nenek, mama, aku dan mbok yem.


Saat di persimpangan, ayah meminta pamit pada kami. Ayah memberikan segepok uang pada mama. Katanya itu untuk membeli kebutuhan aku dan Santi.


" Darimana kamu punya uang sebanyak ini. Bukannya kamu sudah ..." mama tak melanjutkan ucapannya. Ayah tersemyum mwndengar itu.


" Aku sudah mengambil semua uang nuri yang ada di lemari." jelas ayah sambil menunjukkan saku bajunya yg gendut itu. Ada beberapa lembar uang disana.


" Kinan, aku titip Aira dan Santi ya. Jaga dan rawat dia baik - baik. Nanti setiap bulannya aku akan mengirimi uang." jelas ayah.


" Kau mau pergi kemana lagi bayu." tanya nenek.


" Tidak tau ibuk. Aku akan mencari pekerjaan lain." jawab ayah. Ayah berjongkok kepadaku.


" Aira, kamu jaga mama dan adek Santi yaa. Jangan nakal yaa kalo di rumah nenek. Ayah mau pergi kerja dulu." jelas ayah. Aku pun mengangguk mendengarnya. Ayah pun pergi entah kemana.


Mbok yem pun berpamitan juga kepada kita. Katanya dia akan pulang ke kampung halamannya.


Semenjak kejadian itu, aku tinggal di rumah nenek lagi. Aku tinggal di sana sampai aku besar dan menikah dengan mas Arga.


Kalau aku mengingat lagi kejadian itu, aku suka menangis sendiri. Aku bersyukur dan lega karena aku bisa berkumpul dengan mama, Santi dan nenek lagi.


Saat aku memasuki jenjang SMP, aku sedikit kesulitan mendapatkan teman. Karena kata kebanyakan teman - temanku, aku ini tidak asyik. Aku lebih suka bermain bola basket di lapangan bersama anak laki - laki disana daripada duduk ngerumpi di kantin sekolah.


Entah mengapa, sejak pertama memasuki sekolah ini dan melihat lapangan basket disana, aku sangat ingin sekali disana. Aku akhirnya mengikuti ekstrakulikuler basket saat disuruh memilih jajaran ekskul oleh wali kelasku.


Aku meminta izin mama dan nenek saat mengutarakan keinginanku mengikuti basket. Nenek awalnya tidak setuju. Karena bagi nenek, permainan bola basket itu hanya untuk anak laki - laki. Aku membujuk nenek dan akhirnya aku di perbolehkan.


Jadwal ekskul basket jatuh pada hari rabu sore. Semua siswa yg mengikuti hadir di lapangan. Ternyata tidak hanya aku anak perempuan disana. Disana ada banyak anak perempuan yang ikut dari kelas lain. Anak perempuan yang ikut ekskul basket hanya ada aku dan dini.


Dini teman sebangku ku di kelas. Entah mengapa aku cocok duduk sebangku dengan nya. Dini juga sama seperti ku. Ibu dan ayahnya berpisah saat dia kecil. Tapi dini seorang anak tunggal, dia tidak memiliki adik. Aku sering bermain ke rumah nya. Dan dia juga sering bermain ke rumahku. Dia sangat senang bermain dengan Santi.


Sebelum ekskul di mulai, para anggota ekskul melakukan pemanasan dahulu. Setelah melakukan pemanasan, kamu pun beristirahat sejenak dan pelatih ekskul mengabsen kami satu per satu.


" Aira Fahira ... " panggil pelatihku. Dan aku mengacungkan tangan.


" Kamu panggalannya siapa? Ira atau fahira." tanya pelatihku.


" Aira pak." jawabku.


" Ok. Aira kamu hari ini kebagian jadwal mengambil bola basket di gudang, dan setelah selesai nanti mengembalikan lagi bolanya ke gudang kembali. " jelas pelatihku.


" Saya sendirian pak." tanyaku.


" Kenapa?. Kamu takut." tanyanya. Aku mengangguk.


Aku masih trauma karena pernah di kunci di gudang oleh Perempuan nenek sihir itu dulu. Pelatihku menghela nafas.


" Revan Ega Pranata .. " sebut pelatihku. Si punya nama mengacungkan tangan nya.


" Nama panggilan kamu siapa." tanya pelatihku.


" Revan pak. " sahutnya.


" Kamu Revan, hari ini kamu bantu Aira mengambil bola di gudang. Dan nanti pulangnya kamu bantu balikin lagi ke gudang." jelasnya.

__ADS_1


Aku dan Revan berjalan menuju gudang samping sekolah. Disana tempat menaruh peralatan olah raga. Salah satunya bola basket. Saat tiba di depan gudang, aku hanya berdiri.


" Heh melamun aja. Ayo ambil bolanya." jelas Revan.


" Aku menunggu di luar aja ya van." jawabku gugup.


" Enak aja. Enggak kamu juga masuk." tukasnya. Aku berdecak kesal.


Revan Ega Pranata. Dia anak kelas sebelah. Anak kelas 7A. Sedangkan aku anak kelas 7B. Di sekolah ku, sistem pembelajarannya semester pertama dan kedua tidak sama. Semester pertama kita akan di bagi ke kelas sesuai nomer induk siswa. Tapi nanti setelah semester kedua, kita akan di acak oleh hasil rapor masing - masing.


" Van, kamu gak takut apa disini." tanyaku saat masuki gudang . Revan yg sibuk mengumpulkan bola dalam troli pun menoleh.


" Takut apa emangnya." jawabnya singkat.


" Katanya ya van, di gudang ini itu ada hantunya." jelasku sambil bergidik ngeri.


" Itu hanya omong kosong." sela nya tak percaya. Aku mengerutkan dahiku. Menatap dia lekat - lekat. Sombong sekali sih anak ini, gumamku dalam hati. Setelah bola terkumpul, kami pun keluar dari gudang.


Ekskul pun berlangsung. Setelah pelatihku memberikan penjelasan soal dasar - dasar dan tehnik bermain basket, kami pun di bagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 siswa.


Aku ada di kelompok lain. Sementara dini berada satu kelompok dengan Revan. Dan kami pun di suruh bertanding antar kelompok untuk melihat seberapa kemampuan kita. Kelompok Revan yg pertama kali bermain melawan Raka dan teman satu kelompok nya. Semua yang hadir di sana ramai bersorak sorai. Saat ku lihat - lihat, ternyata Revan jago sekali bermain basket.


Semua anak perempuan yang ikut ekskul pun berteriak memanggil namanya untuk memberi dukungan. Aku melihat Revan bermain basket dengan kagum.


Aku harus minta bantuan dia untuk mengajariku nih, ujarku dalam hati. Karena aku ingin brmain basket se jago dia.


" Permainan kamu tadi bagus banget." tukasku sambil memberikan dua jempol padanya. Revan menoleh ke arah ku lalu tersenyum.


" Terima kasih." jawabnya.


" Kamu jago main basket, belajar dimana." tanyaku.


" Belajar dari buku dan lihat di televisi." jawabnya.


" Aku juga sering nonton pertandingan basket di televisi, tapi kemampuanku masih biasa aja tuh." jelasku.


Revan tersenyum dingin padaku. Di dorongnya troli menuju gudang samping sekolah. Ekskul kamu sudah berakhir 10 menit yang lalu. Dan kami harus mengumpulkan dan mengembalikan bola ini ke asalnya tadi. Hari sudah senja, suasana di gudang tampak sangat menyeramkan ketimbang tadi. Aku memegangi leherku.


Rasanya bulu kudukku berdiri semua. Revan masuk ke dalam gudang sendirian. Sedangkan aku menunggu di luar.


" Van ... Sudah belum naruh bolanya." panggil ku sambil mengelus lenganku. Tapi tak ada jawaban dari dalam gudang. Ku buka pintu gudang yang hanya terbuka setengah. Aku masuk perlahan sambil mencari keberadaan Revan. Tapi dia tak ada disana. Dia seperti hilang di telan bumi. Aku berbalik dan melangkah keluar.


Ketika baru beberapa langkah seperti ada yang memegangi bahuku dari belakang. Aku tercekat, keringat dingin mulai mengucur. Ku beranikan diriku menengok ke belakang. Dan ....


" Aaaaaaaaaaaahhhhhhh ...." teriakku sekencang - kencangnya.


Aku berlari keluar sambil menutup mataku. Terdengar suara cekikikan di belakangku.


" Revan ... Kamu ... " bentakku kepadanya yang masih tertawa lepas disana.


" Ekspresimu jelek sekali tadi." jelasnya sambil terus tertawa. Aku mengerucutkan bibirku. Ku pukul lengannya keras sekali.


" Aaauuww ... Sakit tau." pekiknya sambil mengelus lengannya. Dia masih memegangi topeng yang tampak menyeramkan itu.


" Kamu nemu dimana itu." tanyaku menunjuk topeng itu.


" Aku nemu di dalam." jawabnya lalu memakai kembali topeng itu dan mencoba menakut nakuti aku.


" Gak lucu tau van. Jantungku hampir copot tadi." dengusku Dia masih tersenyum puas habis menakuti aku.


Kami berjalan menuju lapangan untuk mengambil tas dan keluar menuju pintu gerbang luar. Disana ada sebuah mobil sedan yang sudah menanti seseorang. Revan melirik ke arah mobil itu. Tampak sopir pribadi keluar sambil membuka pintu mobil.


" Kamu pulang naik apa, Ra." tanya nya.


" Aku bawa sepeda kok. Tuh .. " aku menunjuk sepeda di parkiran yang tinggal sendiri disana.


" Ooohh .. Aku pulang dulu ya Ra." jelasnya lalu masuk ke dalam mobil itu. Aku melambaikan tanganku. Dia pun berlalu pergi.


Anak orang kaya dia rupanya, gumamku.


Setelah kejadian di tempat ekskul itu, aku mulai akrab dengan Revan. Kami sering bermain basket saat jam istirahat tiba. Memasuki semester kedua pun tiba. Kita semua di acak dan di masukkan ke kelas bedasarkan hasil rapor. Aku satu kelas dengan Revan.


Revan anak yang sangat pandai. Dia menjadi juara umum pada semester pertama. Sedangkan aku harus puas dengan peringkat 5. Yaaa setidaknya aku masih masuk kedalam peringkat 5 besar. Karena peringkat 1 sampai 5, berhak mendapat beasiswa gratis dari sekolah. Jadi aku sedikit membantu mama soal biaya pendidikan yang cuma - cuma ku dapatkan.


Berada satu kelas dengannya sungguh hal luar biasa. Aku jadi sering bertukar pikiran dalam pelajaran dengannya. Revan sering membantuku dan mengajari pelajaran yang kadang tak ku pahami. Aku sering meminjam laptopnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Karena pada saat itu, barang seperti laptop sangat mahal harganya. Untuk pergi ke warnet pun aku tak berani minta mama uang lebih. Aku menggunakan uang jajanku untuk mengerjakan tugas.

__ADS_1


Untuk menghemat pengeluaran, aku sering pinjam laptop Revan. Dan Revan tak pernah pelit kepadaku. Saat pulang sekolah atau istirahat, aku kerjakan tugasku dulu lalu ku masukan dalam flasdisk milikku untuk di print out di warnet terdekat.


~ Happy reading ~


__ADS_2