
Tak terasa Aira tertidur hingga sore hari. Perlahan dirinya mulai mengerjap dan membuka matanya. Di regangkan pinggang dan otot - ototnya yang kaku.
Dia begitu terperanjat saat melihat jam yang ada di dinding.
" Rasanya aku hanya sebentar tertidur. Kenapa sudah sore saja. Gawat sebentar lagi Revan pulang kerja. Aku harus segera mandi." gumamnya lalu berlari menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
15 menit kemudian, Aira keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di tubuhnya. Lalu dia membuka lemari pakaian. Tapi dia baru saja ingat, jika pakaiannya masih berada di tas koper yang ada di samping lemari.
" Hhaaiiisss baju - baju ku saja belum aku rapikan. Bisa - bisa nya aku tertidur dengan nyenyaknya. Dasar kamu ini pemalas Aira!." gumamnya sambil membuka koper dan mengambil baju yang ada di dalamnya.
Setelah selesai memakai baju, Aira mengangkat koper miliknya dan mengambil baju di dalam nya satu per satu lalu di tata nya di dalam lemari besar yang ada di sana.
Saking sibuknya, sampai - sampai Aira tak mendengar suara mobil milik suaminya yang tengah memasuki halaman rumah mereka.
Revan membuka pintu yang ada di ruang tamu dan berjalan sambil mencari keberadaan istrinya itu.
" Eehh tuan muda sudah pulang." sapa mbak Aminah saat melihat Revan berada di meja makan.
" Aira dimana mbak?." tanya Revan.
" Nona muda ada di kamarnya tuan. Dari siang belum keluar." jawab mbak Aminah.
" Baiklah. Aku akan susul dia." tukas Revan lalu beranjak menuju kamar tidurnya.
Revan membuka pintu kamar dengan perlahan. Terlihat aiwra tengah merapikan bajunya yang berada di dalam koper miliknya. Revan tersenyum melihat itu. Ide usil nya pun muncul. Dia ingin memberi kejutan untuk istrinya itu.
Revan melangkah perlahan sambil berjinjit mendekat ke arah Aira yang berdiri disamping ranjang. Dan ...
__ADS_1
Doorr ...
Revan langsung memeluk tubuh Aira dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di leher Aira. Aira berjingkat kaget saat tubuhnya tiba - tiba di peluk dari belakang.
" Sayang kau mengagetkanku!." seru Aira sambil memegangi dadanya yang berdetak cepat karena kaget. Revan hanya tersenyum melihat istrinya itu.
" Kamu sedang apa sih?." tanya Revan.
" Beresin baju. Dari kemarin gak sempat terus." jawab Aira yang masih melipat baju - bajunya. Revan melepas pelukannya dan duduk di ranjang yang ada di depan istrinya berdiri. Di tatapnya wajah Aira dalam - dalam. Lalu sebuah senyum mengembang di bibirnya.
" Kenapa kamu tersenyum begitu?. Mengejek ya." seru Aira sambil melirik ke arah Revan.
" Tidak. Aku hanya senang saja. Pulang kerja bisa melihat wajah istri ku yang cantik ini. Rasanya capek yang tadi menumpuk langsung hilang seketika saat melihatmu." jawabnya. Aira tersenyum mendengar ucapan revan.
" Dasar gombal!!." tukas Aira.
" Revan!. Lepasin. Aku mau beresin baju ini loh. Gak selesai - selesai nanti." tukas Aira dengan meronta - ronta. Tapi Revan semakin mengencangkan pelukannya.
" Gak mau. Aku merindukan mu. Aku gak akan lepasin." seru Revan sambil terus mendekap tubuh Aira. Aira pun akhirnya menyerah dengan sikap suaminya itu. Dia pun mengusap kapala lelaki yang kini menjadi suaminya itu dengan lembut.
Revan pun memejamkan matanya menikmati setiap belaian lembut dari istrinya tersebut. Rasanya lelah dalam tubuhnya hari ini langsung menghilang saat tangan Aira membelainya.
" Mau aku buatkan sesuatu?." tanya Aira. Revan membuka matanya dan mendongak menatap wajah istrinya.
" Aku mau anak." jawab Revan. Aira pun berdecak dan tergelak mendengar ucapan suaminya.
" Kita kan baru menikah." ujar Aira
__ADS_1
" Lalu?." tanya Revan.
" Kamu kan doker kandungan. Seharusnya kamu lebih tau dan paham maksud aku. Mana mungkin bisa jadi anak dalam waktu dua hari saja. Kamu itu yang benar saja." jelas Aira.
Revan sangat paham dengan apa yang di ucapkan istrinya. Dia tersenyum melihat wajah Aira yang cemberut.
" Jadi kamu mau punya anak?." tanya Revan.
" Perempuan mana yang gak mau punya anak." jawab Aira.
" Baik lah. Kalau begitu besok kamu ke rumah sakit. Aku akan lepas IUD dalam rahim kamu." ujar Revan.
Aira begitu tercekat mendengar ucapan Revan. Dia baru tersadar jika selama ini ada alat kontrasepsi IUD yang tertanam dalam rahimnya. Semenjak dia melahirkan anak keduanya, dia pun menggunakan alat kontrasepsi itu agar memberikan jarak kelahiran untuk anaknya.
" Bagaimana kamu bisa tau. Kalau aku memakai IUD?.". tanya Aira heran.
" Seperti katamu, aku kan seorang dokter kandungan. Jadi aku tau sesuatu apa yang ada di dalam rahim kamu." jawab Revan sambil mengusap perut Aira.
" Apa kamu bisa merasakan keberadaan nya?." tanya Aira. Revan menatap wajah Aira lalu mengangguk.
" Apa itu sakit?." tanya Aira. Revan mengangguk mengiyakan.
" Sedikit." jawab lelaki itu. Aira langsung memeluk tubuh Revan dengan erat. Dia merasa bersalah kepada Revan. Revan tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.
" Maaf kan aku. Aku gak bermaksud menyakitimu. Aku sungguh lupa dengan hal itu." jelas Aira. Revan menarik tubuh Aira lalu meletakkan kedua tangannya di pipi wanita itu. Lalu di cium nya kening istrinya dengan lembut dan dalam.
" Kamu gak salah. Jangan seperti itu. Kamu mau kan memiliki anak denganku?." tanya Revan sambil menatap wajah Aira. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
__ADS_1
" Besok kita lepas ya." ujar Revan. Aira pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Revan. Aira pun memeluk tubuh suaminya dengan erat. Ada rasa bersalah disana. Tapi sungguh dia tidak bermaksud menyakiti perasaan suaminya. Dia sungguh lupa akan kontrasepsi IUD itu.