
Revan baru saja keluar dari ruang operasi. Terlihat beberapa percikan darah menempel pada baju operasi yang dia kenakan. Revan melepas baju tersebut di ruang ganti dan mencuci tangannya dengan disenfektan lalu membilasnya dengan sabun dan air.
Setelah selesai berganti pakaian dia pun keluar dari ruangan tersebut menuju ruang kerja nya. Saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Terlihat seseorang tengah duduk di sebuah bangku yang ada di lorong tersebut. Revan menghentikan langkahnya saat melihat orang itu yang tak lain adalah Sheila.
Sheila menoleh ke arah Revan yang tengah berjalan ke arah nya. Di lihatnya raut wajah Revan yang mulai tak ramah itu. Revan berjalan lurus melewatinya tanpa bersuara sama sekali. Sheila pun dapat mencium wangi parfum yang menempel pada tubuh lelaki itu.
" Revan. Bisakah kita bicara sebentar?." tanya Sheila. Revan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang menatap Sheila yang berdiri di belakangnya itu.
" Gak ada yang perlu di bicarakan lagi." tukas Revan.
" Sebentar saja." pinta Sheila. Revan pun menghela nafasnya.
" Sepuluh menit." seru Revan kepada Sheila. Sheila pun mengiyakan ucapan Revan.
Kini mereka duduk di bangku yang ada di lorong tersebut. Sheila masih bingung untuk mengutarakan apa yang ingin di ucapkannya tadi.
" Kamu tinggal dimana sekarang?." tanya Sheila membuka suara.
" Kamu gak perlu tau aku tinggal dimana. Ayo cepat!. Gak usah basa - basi. Katanya ada yang mau di omongin." tukas Revan kesal.
" Seberapa besar cinta mu sama Aira?." tanya Sheila. Revan menoleh ke arah Sheila. Mencoba memahami maksud ucapan mantan kekasihnya itu.
" Seberapa besar cinta mu padanya?. Sehingga kamu rela melepas kan semuanya demi dia. Apakah dia begitu berarti nya bagimu hingga kamu rela menentang keputusan papa mu hanya demi dia?." Sheila menumpahkan semua yang ada di hatinya kepada Revan. Revan masih terdiam. Dia menghela nafasnya berulang - ulang.
" Apa yang di milikinya sehingga kamu bisa menyerahkan seluruh cintamu kepadanya?. Apa istimewa nya dia di banding aku Revan?. Sehingga kamu lebih memilih dia daripada aku. Kamu tau, seumur hidup aku hanya suka pada satu laki - laki. Dan laki - laki itu kamu. Hanya kamu Revan. Hanya kamu." jelas Sheila sambil sesekali menyeka air mata yang jatuh di pipi nya.
Revan hanya diam seribu bahasa. Baginya, dia tidak harus menjawab semua pertanyaan dari Sheila untuk nya. Revan melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
" Sudah 10 menit. Aku rasa sudah tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan. Dan aku tidak perlu menjawab semua pertanyaan kamu barusan. Karena kamu sudah tau jawabannya. Satu hal yang harus kamu tau. Kamu dan Aira itu beda. Dia jauh lebih pantas mendapat apa yang tidak bisa kamu miliki. Karena memang dia pantas mendapatkannya dan kamu tidak. Lain kali sebelum bertanya, bercermin lah dahulu. Agar kamu tidak malu kemudian." jelas Revan lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Sheila yang masih duduk disana.
Revan berjalan cepat menuju ruang kerjanya sambil sesekali mendengus kesal mendengar ucapan Sheila barusan.
" Apa dia tidak punya cermin?. Beraninya dia bicara seperti itu. Sudah jelas dia dan Aira itu berbeda. Masih saja tidak bisa terima kenyataan." gumam Revan kesal sambil melangkah kan kakinya dengan cepat.
Setelah sampai di ruangan kerjanya. Dia merapikan meja kerjanya. Diambilnya tas ransel yang di bawah meja kerjanya. Revan pun keluar kembali dari ruangannya dan bersiap pulang untuk menemui kekasihnya itu.
Revan masih tinggal dan menginap di hotel yang tempo hari dia pesan. Dia tidak berencana pulang kembali ke rumahnya walaupun ayahnya sudah tidak ada disana. Rencana nya dia akan menjual rumah lama nya dan akan tinggal di rumah yang baru di belinya nanti setelah menikah dengan Aira.
Beberapa hari yang lalu dia sempat pulang ke rumah lamanya. Hanya pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian dan mobilnya disana. Dia begitu kerepotan kalau harus pergi kemana - mana tanpa mobilnya itu.
Di tengah perjalanan dirinya membeli martabak manis dan martabak telur untuk Aira. Karena dia tau, Aira begitu menyukai makanan itu.
Sesampainya di rumah kontrakan Aira. Terlihat pintu rumah tersebut terbuka lebar. Bian dan Santi tengah duduk di ruang tamu meninton televisi.
" Waalaikumsalam. Mas Revan. Silahkan masuk mas." jawab Santi lalu mempersilahkan Revan masuk.
" Mbak Aira masih mandi. Tunggu sebentar ya mas. Bentar lagi juga selesai." tukas Santi. Revan pun mengangguk mengiyakan.
Dia memberikan bungkusan plastik kepada Santi berisi martabak yang tadi dia beli.
" Selalu saja merepotkan mas Revan." ujar Santi sungkan.
" Hanya martabak. Gak repot kok. Itu juga makanan kesukaan Aira." jawab Revan.
Santi masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkusan plastik yang di beri Revan. Pintu kamar Aira terbuka. Dia sudah berganti pakaian.
__ADS_1
" Ada siapa?." tanya Aira sambil menyisir rambutnya yang basah habis keramas.
" Siapa lagi kalau bukan pacarmu." jawab Santi. Aira pun beranjak menuju ruang tamu saat mendengar kehadiran kekasihnya itu.
" Sudah lama?." tanya Aira.
" Baru saja." jawab Revan.
Aira duduk di samping Revan yang tengah bermain dengan Bian disana.
" Jadi kapan kita mengurus surat ke kantor urusan agama?." tanya Revan kepada Aira.
" Buru - buru amat. Rumah saja belum selesai." jawab Aira.
" Sudah selesai. Tinggal ke notaris saja. Paling lusa aku dan mas Azis ke notaris." tukas Revan.
" Apa kamu yakin?." tanya Aira kembali ragu.
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Karena kamu selalu saja ragu - ragu dengan rencana pernikahan kita." jawab Revan kesal.
" Aku tidak ragu - ragu. Baiklah. Besok kita pergi ke KUA. Kita urus semua nya." jelas Aira. Revan pun tersenyum simpul. Aira hanya berdecak melihat kelakuan kekasihnya itu.
" Puas??." tanya Aira sebal. Revan tersenyum sambil mengangguk mengiyakan ucapan Aira.
" Aku sudah tidak sabar. Semoga semua nya lancar." tukas Revan.
" Aaammmiiiieeeennn .... " jawab Aira dan Santi yang datang dari dalam dan mendengar percakapan kedua kakaknya itu. Revan tergelak mendengar itu.
__ADS_1
Rasanya senang sekali melihat apa yang di inginkan akan segera terwujud. Tembok besar yang semula menjadi penghalang diantara keduanya, kini seakan sirna dengan sendirinya. Semoga di permudah ke depannya.