Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 5 Aira ( 2 )


__ADS_3

Semenjak mama dan ayah berpisah, aku dan Santi di asuh oleh nenek dan tante ku. Sedangkan mama bekerja di salah satu pabrik rokok di daerah rumah.


Aku mulai terbiasa hidup tanpa ayah. Sering ayah datang untuk sekedar menengok diriku dan adikku. Tapi nenek selalu menyuruhku masuk ke kamar. Aku dan Santi tidak boleh bertemu ayah sama sekali.


Aku pernah bertanya sekali kepada nenek. Kenapa ayah tidak boleh menemui ku maupun Santi. Nenek hanya bilang, kalau ayah kesini itu berniat jahat. Dia akan menyakiti mama, Santi dan diriku. Makanya dia tidak boleh bertemu.


Karena banyak yang bercerita kepada nenek. Kalau semenjak ayah dan mama berpisah, ayah tidak pernah bekerja lagi. Tapi kehidupan ayah terlihat jauh lebih baik dari dulu saat bersama mama. Mulai dari memiliki mobil mewah pada jamannya, memiliki gudang dan toko beras yang besar di pasar, sampai penampilan ayah pun berubah. Ayah memakai kalung emas di leher nya yang besar serta cincin emas banyak di jarinya. Desas desus yg ber edar dan sampai di telinga nenek adalah bahwa ayah selama ini menjadi simpanan janda terkaya di dekat rumahnya.


Karena ayah ingin merebut hak asuh atas diriku dan Santi, makanya dia melakukan itu untuk mendapatkan banyak uang. Dan benar saja. Suatu hari ada tukang pos datang mengirim surat ke rumah nenek. Surat dari pengadilan agama. Di dalam surat itu, ayah menuntut hak asuh diriku dan Santi harus jatuh di tangan nya.


Mama yang sepulang bekerja menerima dan membaca surat itu langsung menangis. Dia tidak ingin berpisah dengan Santi dan diriku. Dia tidak mau anak - anaknya tinggal dan hidup dengan ibu tiri.


Tapi mama harus menyerah pasrah saat hakim mengetok palu bahwa hak asuh atas diriku jatuh kepada ayah. Sementara Santi masih bayi. Dia masih sangat memerlukan mama. Mama menangis menatap ku saat aku di gendong ayah paksa untuk di ajak pulang ke rumah nya.


Aku menangis sepanjang perjalanan. Ayah membelikan aku banyak mainan dan makanan. Tapi aku sangat tidak ingin itu rasanya. Aku ingin bertemu mama dan Santi.


Sesampainya di rumah besar di depan jalan raya besar itu, ayah memarkirkan mobilnya dan menggendong ku turun. Di sana ada perempuan yg usia nya di atas mama ku sedikit, sedang duduk di teras rumah menunggu kedatanganku dan ayah.


Perempuan itu tersenyum manis melihatku. Dan dia berbicara dengan sangat lembut terhadapku. Aku mulai merasa nyaman dengan nya. Ayah langsung menyuruh ku memanggil perempuan itu dengan sebutan bunda.


Aku pun menurut, aku membiasakan memanggil perempuan itu yg ku ketahui namanya Nuri, dengan panggilan bunda. Bunda nuri sangat baik padaku. Mengajakku bermain, menyuapi aku, memandikan aku, dan membacakan aku dongeng sebelum tidur.


Keesokan pagi nya, aku terbangun dari tidurku yang lelap semalam. Aku turun dari ranjangku dan membuka pintu kamar ku. Rumah itu sepi sekali. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapa pun. Lalu aku memanggil manggil nama ayah. Tak ada jawaban. Aku pun berjalan ke arah dapur. Rumah ini sungguh sangat besar.


Dapur rumah ini ada di belakang rumah. Saat aku sampai di dapur, ku lihat bunda sedang masak disana dan di bantu oleh perempuan tua, mbok yem, pembantu di rumah itu. Aku langsung merengek memanggil nama bunda.


Tapi yang aku alami pagi ini sungguh berbeda 180° dari kemarin. Bunda nuri menatap ku tajam penuh rasa benci. Aku masih menatap ke arah nya sambil terdiam.


" Sudah bangun kau rupanya, hah." seru bunda lantang sambil mengangkat dagu ku.


Aku yang masih tidak mengerti arti mimik wajah dan nada suaranya itu pun masih merengek minta di buatin susu coklat hangat. Karena sewaktu aku tinggal di rumah nenek, setiap aku bangun tidur selalu minum susu coklat hangat.


" Bunda, aku mau minum susu coklat hangat." rengekku.


" Apa kamu bilang, susu coklat hangat. Di sini tidak ada susu coklat hangat." bentaknya. Aku mulai menangis kencang saat keinginanku tak terpenuhi.


" Heh setan kecil, di kasih tau malah nangis. Kamu pikir, kamu itu siapa disini hah." dengusnya.


Aku sedikit terdiam dan terisak saat melihat orang di depan ku ini. Sungguh perempuan yg kemarin ku anggap sangat baik berubah menjadi nenek sihir yang aku sering lihat di televisi.


" Sini ikut aku. Ada pekerjaan buat kamu. Jangan jadi anak manja kamu ya. Kamu tinggal disini ini tidak gratis. Jadi kamu jarus bekerja." jelas perempuan itu dan menyeretku ke arah kamar mandi.


Aku yang di seretnya langsung menangis dan berteriak memanggil nama ayah.


" Ayah kamu gak ada. Jadi kamu gak usah teriak - teriak disini. Disini ini bukan hutan, yang kamu bisa teriak sesukamu itu." jelas nya sambil menoyor kepala ku ber ulang - ulang.


Aku masih menangis dan menatap perempuan nenek sihir itu.


" Cepet bersihkan kamar mandi ini dengan bersih. Sikat semua lantai dan dinding kamar mandi ini. Jangan lupa kloset semua ini harus di sikat sampai bersih." jelas nya sambil menunjuk semua dinding, lantai dan kloset kamar mandi.


" Kamu tidak boleh keluar dari sini dan tidak boleh makan kalo pekerjaan kamu belum selesai. Mengerti !!!." jelasnya. Aku pun mengangguk takut.


Aku pun mulai melakukan apa yang di perintah oleh perempuan itu. Ku sikat semua lantai dan dinding dengan tanganku yang mungil. Aku sungguh sangat tidak biasa dengan pekerjaan ini.


Biasanya di rumah nenek, saat aku bangun tidur ada segelas susu coklat hangat dan nasi telur ceplok di atasnya, dan aku langsung sarapan dengan nya. Tapi disini, bangun tidur aku malah menyikat kamar mandi yg lumayan besar menurut ku.


Dengan malas dan lemah aku menyikat kamar mandi itu. Baju ku basah saat aku menyikat kamar mandi ini. Karena aku sedikit bermain - main dengan air di dalam bak kamar mandi.


Setelah kurang lebih satu jam, perempuan nenek sihir itu membuka kamar mandi dan memeriksa pekerjaan ku. Bagi ku yang tidak pernah melakukan tugas berat seperti ini, ini sudah sangat bersih.


Tapi tidak untuk perempuan nenek sihir ini. Saat dia membuka pintu kamar mandi, aku tengah asyik bermain air dan sabun.


" Heh setan kecil. Di suru menyikat kamar mandi malah mainan air dan sabun." seru perempuan itu sambil menjewer telingaku dari belakang.

__ADS_1


Aku sontak kaget dan ketakutan di buatnya. Aku menangis menahan sakit di telingaku yang di tarik keras olehnya.


" Sudah kau kerjakan perintahku tadi, hah." dengusnya.


" Ampun bunda, Aira sudah menyikat semua apa yang di kata bunda. Telinga Aira sakit bunda." rengekku sambil menangis.


" Ini yang kamu bilang sudah hah. Lantai masih kotor, dinding masih kotor dan lihat itu kloset juga masih kotor." bentaknya sambil menjewer telingaku dan menoyor kepala ku.


" Lihat apa yang kamu lakukan, baju basah dan bermain sabun. Kamu pikir sabun itu tidak di beli pakai uang hah." bentaknya lagi.


" Sini ikut." di tariknya tanganku sambil menjewer telingaku keluar kamar mandi. Dia menyeretku keluar ke arah gudang di belakang rumah.


Mbok yem yang melihat tuannya melakukan itu berlari mengejar tuannya.


" Jangan tuan, jangan lakukan itu pada nona kecil. Dia masih kecil tuan. Dia masih tidak tau apa - apa. Nanti bagaimana kalo tuan bayu datang dan melihat anaknya begini tuan." jelas mbok yem kepada perempuan itu.


" Halah gak usah ikut campur mbo yem. Mas bayu masih pulang nanti sore. Dia gak bakal tau kalo gak ada yang lapor. Dan kamu ya mbok yem, aku yang bayar kamu kerja disini, jadi kamu gak usah belain dia. Kamu mau aku pecat, hah." jelas perempuan itu. Mbok yem menatap ku iba lalu beranjak pergi. Aku masih menangis di sana.


" Kamu diam disini. Jangan nangis lagi. Dan kamu kalo sampek berani mengadu ke ayah kamu, lihat apa yang aku lakukan kepada mu. Mengerti !!." bentak nya sambil membanting pintu gudang dan menguncinya dari luar.


Aku semakin histeris melihat pintu di kunci. Aku takut kegelapan. Dan di gudang ini gelap, tanpa lampu. Sinar matahari pun yang masuk hanya sedikit. Hanya melewati celah jendela kecil di pojok atas dinding. Ku panggil nama mama, nenek, Santi, ayah dan tante kartika lirih.


Aku melihat sekeliling gudang dengan takut. Aku duduk menekuk lututku di balik pintu gudang yang di kunci itu. Ku panggil nama mama terus menerus, hingga aku lelah dan tertidur di sana dengan terisak.


Entah berapa lama aku di kunci di sana, tiba - tiba terdengar kunci pintu di buka. Aku langsung mengerjapkan mataku dan langsung berdiri. Benar pintu ini terbuka. Perempuan nenek sihir itu mendekap tangannya mengawasi aku puas.


" Gimana setan kecil, puas kamu tinggal disini." serunya sok lembut. Aku menunduk ketakutan. Dan menggelengkan kepala ku. perempuan itu tersenyum sinis menatapku.


" Keluar kamu." perintahnya. Aku masih diam takut kepadanya.


" Oohh kamu betah tinggal di dalam gudang ini. Baiklah, aku akan menuncinya kembali." jelasnya. Aku yang mendengar itu langsung menatap perempuan itu memelas meminta ampunannya.


" Enggak bunda. Aira gk mau disini. Aira takut disini bunda. Aira takut gelap." jawabku takut.


" Makanya ayo keluar. Di suruh malah diam aja." tukasnya sinis. Aku melangkah keluar, badanku lemas karena aku belum makan dari pagi.


" Sekarang cepet mandi. Lalu makan sana." perintahnya. Aku mengangguk menurut.


Setelah aku mandi, aku langsung menuju meja makan. Mbok yem yang melihatku duduk di meja makan, dia berjalan ke arahku lalu mengambil piring untukku.


" Biar dia ambil sendiri mbok. Jangan di biarkan manja dia. Heh kamu kalo mau makan ambil sendiri, dan makan sendiri. Gak usah manja deh." jelas perempuan itu.


Mbok yem beranjak pergi meninggalkan aku. Aku mengambil nasi di meja, dan saat mau mengambil ikan goreng, di rebutnya piring ikan itu.


" Eeehhh enak aja mau makan ikan goreng. Nih kamu makan ini aja." jelasnya sambil mengambilkan tahu dan sambal. Aku menatap piring di depanku. Aku gak suka makan tahu. Biasanya di rumah nenek, aku makan telur ceplok atau gak ayam goreng.


" Malah diam. Di suruh makan itu ya makan, gak malah diam gitu." bentaknya.


" Aira gak suka tahu bunda." jelasku pelan.


" Kan aku sudah bilang, kamu disini itu gak boleh manja. Makan juga gak boleh pilih - pilih. Masih untung di kasih makan kamu itu." bentaknya sambil menoyor kepala ku. Aku menarik piringku dan mulai memakan apa yg ada di piring itu. Aku makan sambil menitikkan air mata.


Ayah ... Ayah dimana. Kapan ayah pulang. Aira takut ayah. Gumamku dalam hati.


Saat sore menjelang petang, Bayu, ayah biologis ku, datang dari meninjau gudang beras. Perempuan nenek sihir itu menyambut suaminya dengan senyum sumringah.


" Dimana Aira, bun." tanya ayah pada istri barunya itu, yg di nikahi secarah siri.


" Ada di kamar. " jawabnya lembut. Perempuan itu berakting memegangi pinggangnya, seolah ada yang tidak enak disana. Padahal tidak kenapa - kenapa.


" Kamu kenapa bun??. " tanya ayah melihat istrinya. Perempuan itu hanya tersenyum. Ayah mengerutkan dahi nya.


" Apa Aira nakal hari ini, atau dia menyusahkanmu. " tanya ayah selidik.

__ADS_1


" Aku gak apa - apa kok mas. Aira kan masih kecil, jadi wajar kalau dia nakal." jawabnya memasang wajah malaikatnya. Ayah mendengus kesal.


Aku pura - pura tidur di ranjang. Ayah membuka pintu kamar ku dan masuk ke dalamnya. Ayah duduk di samping ku, dan mengusap rambutku lembut. Ingin aku mengadu ke ayah atas apa yang di lakukan istri barunya itu. Tapi aku takut. Aku takut perempuan itu membuangku ke kandang buaya atau ke tempat yg jauh dan lebih menyeramkan.


Makan malam pun tiba, perempuan itu membangunkan aku secara kasar. Dia menyuruh ku ikut makan malam bersama. Saat aku tiba di ruang makan, ku lihat ayah sudah duduk menunggu disana. Ayah tersenyum melihat ku.


" Aira ... Hari ini Aira nakal yaa." seru ayah saat aku duduk di sana. Perempuan itu duduk di sebelahku, dan tiba - tiba dia mencubit pahaku. Aku menatap nya takut. Perempuan itu menyunggingkan senyum yang sangat manis.


" Aahh mas. Aira kan masih kecil. Wajar kalau dia agak sedikit nakal." jelas nya sambil mencubit pahaku lagi. Aku sedikit beringsut menahan perih di pahaku. Ayah menghela nafas panjang.


" Aira bunda nuri sudah mau mengurus semua keperluan kamu. Seharusnya kamu bersikap baik dong. Jangan tambah membuat bunda semakin susah." perintah ayah.


" Iya ayah. Maafkan Aira." jawabku. Perempuan itu mengambilkan aku nasi dan lauk ayam goreng dengan manis.


" Aira sayang, ayo dong di makan. Ini kan ayam goreng kesukaan kamu." serunya manis. Aku memakan makanan itu dan bersikap nurut.


Setelah makan malam, ayah mengajakku menonton televisi. Perempuan itu berdiri di belakang ayah dan melotot ke arah ku. Aku pun beringsut mundur. Aku beralasan kalau aku sudah ngantuk. Ayah mengantarku ke kamar dan menutup pintu kamar. Aku naik ke atas ranjang tapi aku belum ingin tidur.


Mama ... Nenek ... Aira kangen .... Gumamku dalam hati.


Hari demi hari pun berlalu. Setiap hari nya pun aku di perlakukan tidak baik disana. Di suruh ini lah, di suruh ini lah. Belum lagi kalau aku melakukan kesalahan. Perempuan itu tak segan - segan untuk memukulku, mencubit atau menghukumku dengan hukuman yang berat bagiku.


Aku sudah mulai terbiasa dengan perlakuan buruk perempuan itu. Hari itu, ayah akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari karena ada saudara ayah yang memiliki hajat. Perempuan itu tidak ikut, Karena malas katanya. Setelah ayah pergi. Perempuan itu duduk di sofa depan televisi.


Aku yang baru saja selesai mengepel lantai rumah mengambil minum di dapur. Dan tiba - tiba terdengar suara orang jatuh dari arah ruang keluarga.


" Airaaaa ...... " teriak Perempuan itu. Aku berlari kecil menuju sumber suara. Ku lihat perempuan itu duduk tersungkur di lantai


ruangan itu yang sedikit basah karena baru selesai di pel.


Aku menghampiri perempuan itu takut. Perempuan itu langsung melotot menatap ku. Aku hanya menunduk takut. Perempuan itu berdiri dan mengambil sebuah kemoceng di atas meja, dan menarikku serta memukuli punggungku. Aku sontak menangis karena kesakitan.


" Dasar anak setan gak tau di untung. Kamu mau membunuh aku hah. Kamu sengaja kan membuat lantai itu basah agar aku terjatuh." bentaknya sambil terus memukul punggungku tanpa ampun.


" Ampun bunda ... Aira gak sengaja bunda. Sungguh Aira gak sengaja." jelasku menangis. Mbok yem terlihat berlari dari dapur dan berusaha menolongku.


" Ya Allah tuan, sadar tuan. Nona kecil tidak sengaja tuan. Maafkan dia tuan." jelas mbok yem sambil menarik tangan perempuan itu.


Perempuan itu kalap dan tak terima karena mbok yem membelaku.Di pukullah mbok yem dengan kemoceng yang sama saat memukulku. Pukulan itu terkena leher dan wajah mbok yem. Mbok yem langsung berdiri, dan menampar perempuan itu.


Plaaakkk ....


Terdengar sangat keras sekali tamparan mbok yem.


" Babu sialan. Berani kamu menampar ku hah." teriak perempuan itu murka. Aku bersembunyi di belakang mbok yem.


" Kamu perempuan iblis. Beranimu hanya dengan anak kecil. Kalau kamu berani hadapi aku." jawab mbok yem. Perempuan itu berdiri dan menjambak rambut mbok yem. Mbok yem pun gak mau kalah. Di jambak pula rambut perempuan itu dan mereka tampak bergelut. Setelah puas menjambak dan mencakar - cakar perempuan itu. Mbok yem menarikku keluar rumah. Perempuan itu tampak menyumpahi dengan sumpah serapah. Mbok yem tak menggubrisnya.


Saat di tengah perjalanan, mbok yem merapikan rambut dan bajunya yg awut - awutan.


" Non Aira, non Aira tau rumah mama non Aira dimana?" tanya mbok yem. Aku pun mengangguk. Mbok yem mencegat ojek yg kebetulan lewat. Kami menuju rumah nenek. Aku anak yang cukup cerdas. Sehingga aku selalu menghafal setiap jalan yang aku lalui.


Setelah sampai di depan rumah nenek. Mamaku tampak menggendong Santi. Aku langsung berlari menghambur ke arah nya. Mama sangat senang dan kaget saat aku datang. Di peluknya aku.


" Aahhh sakit." pekik ku. Mama menatapku tajam dan melihat ke arah mbok yem.


" Saya mengantar nona muda tuan." kata mbok yem. Mama membuka bajuku dan dilihatnya punggungku memar dan berdarah membekas suatu cambukan.


" Astaghfirullah hal adzim. Siap yang tega melakukan ini kepadamu" teriak mama. Mbok yem akhirnya menjelaskan semua apa yang aku alami selama ini.


Mama dan nenek menangis memelukku bersamaan. Aku pun juga ikut menangis.


" Aku tidak terima anakku di aniaya begini." tukas mama.

__ADS_1


" Tuan bayu tidak ada di rumah saat ini. Besok baru kembali nyonya. Besok aja kita kesana. Kita bongkar semua kebusukan perempuan iblis itu." jelas mbok yem.


~ Happy reading ~


__ADS_2