
Pagi itu, Revan menepati janji nya untuk menjemput Aira. Masih sangat pagi sekali saat itu. Bahkan Aira pun terlihat menguap berulang kali di samping kekasihnya itu.
" Kamu tidur jam berapa semalam?. Keliatannya kok masih ngantuk banget." tanya Revan.
" Entah lah. Tadi malam aku keasyikan ngobrol dengan mama hingga tengah malam." jawab Aira.
Revan memarkir mobilnya di tempat biasa dia parkir. Sementara Aira sudah turun di depan gang rumahnya. Dia pun berjalan terlebih dahulu di depan. Karena dia hanya ingin berganti pakaian seragam kerja nya.
Revan tak keluar dari dalam mobilnya. Dia masih duduk di belakang kemudi menunggu kekasihnya itu. Tak lama kemudian, terlihat Aira keluar dari gang rumahnya dengan pakaian seragam kerja nya itu.
" Yuk Van." ajaknya saat masuk ke dalam mobil Revan.
Revan pun melaju kan mobilnya meninggalkan tempat tadi.
" Nanti kamu pulang jam berapa?." tanya Revan.
" Seperti kemarin." jawab Aira sambil bercermin di sebuah cermin kecil yang di ambil dari dalam tas nya itu. Revan hanya melirik ke arah kekasihnya itu. Terlihat Aira mengoles wajahnya dengan pelembab dan mengusap nya dengan bedak. Serta memakai lipstik warna nude di bibirnya.
" Setiap hari kamu kerja dengan penampilan seperti ini." tanya Revan. Aira membenarkan pertanyaan Revan itu. Revan berdecak kesal mendengar pengakuan kekasihnya itu.
" Kamu berdandan untuk siapa disana?. Apa untuk mandor dan pengawasmu itu." gusar Revan. Aira mengerutkan dahinya. Seakan dia mengerti sekarang. Kalau lelaki di sebelahnya itu tengah cemburu. Aira pun tersenyum jahil. Dia mempunyai ide untuk mengerjai lelaki itu.
" Iya lah. Siapa tau mereka ada yang tertarik dengan ku." goda Aira. Revan mendengus kesal lalu menarik beberapa lembar tissue di sampingnya dan menyodorkan ke arah Aira.
" Hapus make up mu itu!." perintah Revan.
Aira hanya diam dan menatap ke arah Revan yang tengah kesal itu. Revan menoleh sekilas ke arah Aira yang masih diam itu. Aira memang sengaja diam hanya untuk memancing emosi kekasihnya itu. Dia ingin tau seberapa besar rasa cemburu lelaki ini.
" Kenapa kamu masih diam aja. Cepat hapus!!." perintah Revan setengah berteriak.
" Aku tidak mau." jawab Aira pura - pura menolak. Wajah Revan pun bertambah kesal di buatnya.
" Kalau kamu gak mau hapus, aku gak akan mengantarmu ke tempat kerja." tukas Revan.
" Lalu kamu mau bawa aku kemana, hah." tanya Aira menantang.
__ADS_1
" Ke rumah ku." jawab Revan seketika. Aira pun menoleh seketika ke arah Revan.
" Memang kamu berani." tanya Aira mengejek.
" Kita lihat saja. Aku akan membuktikan semua ucapanku barusan." jawab Revan sambil menyeringai di samping Aira.
Aira pun langsung panik dan mengambil beberapa lembar tissue di samping Revan dan mulai menghapus bibirnya dengan tissue tersebut. Aira melirik kesal kepadanya. Sementara Revan tersenyum dengan menang.
" Kok hanya bibirnya. Bedak nya enggak?." tanya revan.
" Enggak. Aku kalau gak pakai bedak jelek. Nanti kulitku berjerawat kalau kena debu pabrik." jawab Aira. Revan mengangguk memahami alasan perempuan nya itu.
Mereka pun terdiam sampai di tempat kerja Aira. Terlihat sudah mulai banyak karyawan yang berdatangan di sana.
" Kamu hati - hati ya. Aku pergi dulu." seru Aira. Revan menarik tangan Aira saat Aira hendak menarik handle pintu mobil tersebut. Aira menoleh ke arah Revan. Terlihat Revan menunjuk pipi sebelah kiri nya. Dia ingin Aira mencium pipi nya itu.
Aira mendengus kesal. Tanpa pikir panjang Aira pun memajukan badan nya dan hendak mencium pipi lelaki iti. Tapi tiba - tiba Revan memalingkan wajahnya menghadap Aira. Dan akhirnya yang tadinya Aira hanya akan mencium pipi Revan. Ternyata malah mencium bibir Revan.
Aira begitu terkesiap melihat wajah kekasihnya itu ada di hadapannya. Aira hendak menarik wajah nya dari sana. Tetapi Revan malah memegang tengkuk Aira dan ******* lembut bibir perempuan itu. Aira mencoba mendorong tubuh Revan menjauh. Revan melepas ciumannya dan menatap Aira yang masih diam itu. Dan kembali mengecup sekilas bibir perempuan itu.
" Sebagai semangat pagi. Biar gak ngantuk." jawab Revan sambil mengusap bibir Aira.
Aira pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam kawasan pabrik tempatnya bekerja. Revan yang berada di dalam mobil masih memandangi Aira yang tengah berjalan dari belakang. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.
" Sepertinya hariku akan menyenangkan." gumam Revan lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
*****
**To : Kak Rei
" Van nanti kamu jangan lupa jemput Papa. Awas kalau kamu lupa**."
Begitu lah isi pesan masuk yang barusan Revan buka dari ponselnya itu. Revan menghela nafas nya saat selesai membaca pesan itu.
" Mau kopi bro?." tanya Radit yang tengah berdiri di depan pintu ruangan Revan sambil membawa dua gelas kopi instan itu.
__ADS_1
Revan mengangguk dan Radit pun mulai mendudukan dirinya di kursi depan kawannya itu. Revan meraih kopi yang di bawa Radit dan meniupnya lalu meminumnya itu.
" Kau sudah dengar berita belum?." tanya Radit. Revan mengankat alis nya sebelah menatap ke arah Radit.
" Kau jangan bergosip disini. Aku tidak menerima ghibah di ruangan ku." jelas Revan. Radit tersenyum mendengar ucapan temannya itu.
" Tapi ini tentang mantan kekasih mu itu. Apa kamu tak ingin mendengar?." tukas Radit. Revan tersenyum sinis lalu menggelengkan kepalanya dan memasang wajah datar ke arah Radit.
" Baiklah kalau kamu tak mau dengar. Aku tidak memaksa." seru Radit sambil meminum kopi nya tadi. Revan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya dan menggoyang - goyangkan kursi tersebut.
" Gimana persiapan pertunanganmu?." tanya Radit memecah keheningan.
" Sudah siap semua." jawab Revan.
" Besok minggu aku akan ajak istri ku datang ke tempat mu. Aku ingin menyaksikan bagaimana kau melamar gadis pujaanmu itu." jelas Radit sambil tertawa.
" Apa yang kau tertawakan?." tanya Revan sebal.
" Tidak. Aku hanya membayangkan wajah gugupmu saat melamar Aira nanti." jawab Radit. Revan berdecak lalu tersenyum.
" Kau senang melihat ku sengsara ternyata. " tukas Revan. Radit pun tersenyum mendengar ucapan Revan itu.
" Tapi itu tidak seberapa teman. Nanti pada saat kau ijab qabul, aku yakin kau akan langsung menangis di buatnya." jelas Radit.
" Kalau itu kau. Aku gak mungkin seperti itu." jawab Revan sambil melempar pulpen ke arah Radit. Radit masih terkekeh di buatnya. Dia mengingat ingat kejadian pada saat dia melangsungkan pernikahan dengan istrinya. Tangannya gemeteran saat ijab qabul berlangsung. Apalagi pada saat tangannya memegang tangan ayah mertuanya. Dia langsung nangis di buat nya.
Dua orang di ruangan itu masih tertawa lepas mengingat kejadian pada saat itu. Itulah hal absurd yang di alami Radit pertama kali dalam hidupnya. Dan dia berharap temannya kelak akan bernasib sama dengannya itu.
Tapi Revan selalu mengelak saat Radit menyumpahinya saat itu. Dia berkata tidak akan seperti kawannya itu yang cemen.
" Ok! Kita lihat besok." seru Radit.
~ **Happy reading ~
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaa readers ...
__ADS_1
Mohon maaf ya update mungkin akan sedikit terlambat. Karena author lagi di serang flu berat nih. Bawaannya pengen rebahan mulu. Mungkin efek terkena obat juga paling yaa** ...