
Semenjak hari itu, hari dimana Aira pergi, Revan jadi sering murung sendirian di dalam kamarnya sambil menatap potret besar gambar dirinya dan Aira yang terpajang di dinding kamar itu.
Semua terasa berubah setelah kepergian istrinya itu. Hidupnya tidak seindah dan semenyenangkan saat dia bisa melihat wajah dan senyuman Aira. Untung ada Attar di tengah - tengah keluarga itu.
Harapan dan alasan Revan untuk bertahan melanjutkan hidup hanya karena bayi mungil itu yang kian hari kian lucu dan menggemaskan. Yang selalu membuat alasan Revan untuk tersenyum kembali walaupun dirinya sangat enggan untuk tersenyum setelah kepergian Aira.
Revan pun menjalani pengobatan dan segala macam terapi agar dia dapat berjalan kembali. Dengan satu alasan, dia ingin bermain bola dengan Attar. Keinginan nya untuk sembuh semakin hari semakin meningkat dan membaik.
Hampir setiap minggu pun dia selalu meminta datang ke tempat peristirahatan terakhir istrinya itu. Dia selalu duduk lama disana dengan sebucket bunga mawar merah tanda dia masih begitu mencintai wanita yang sudah tiada itu.
Revan selalu bercerita apapun dia samping gundukan tanah itu. Soal pengobatan nya dan perkembangan anak laki - laki mereka yang kian hari kian aktif dan lucu itu. Tak jarang pun Revan menangis di samping pusara Aira untuk menyesali kejadian yang membuat istrinya itu pergi meninggalkan dunia ini.
Rasa bersalah dirinya kepada wanita itu sungguh sangat besar sekali. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri tentang kecelakaan yang menimpa wanita yang di cintainya itu. Dia masih belum bisa merelakan kepergian Aira.
.
.
.
.
5 tahun kemudian ....
Revan kini sedang duduk di meja makan sambil menatap ke layar ponselnya dan sesekali menikmati kopi pahit tanpa gula yang selalu dia minum saat sarapan.
__ADS_1
Terdengar suara rengekan bocah laki - laki itu dengan di iringi suara perempuan yang mencoba menenagkannya itu. Itu adalah suara perawat Ita. Dia yang selalu merawat Attar dari bayi hingga sekarang.
Revan tersenyum melihat wajah cemberut bocah laki - laki yang sangat mirip sekali dengan dirinya itu.
" Kenapa jagoan papa pagi - pagi sudah cemberut seperti itu?." tanya Revan saat melihat wajah Attar yang duduk di meja makan.
" Aku sebel sama mbak Ita!. Aku masih ngantuk sudah di suruh bangun!. Aku gak mau ngomong sama mbak Ita!." tukas Attar sebal.
Perawat Ita yang mendengar itu pun hanya tersenyum sambil membawa sepatu sekolah Attar dan duduk berjongkok memakaikannya di kaki bocah tampan itu.
" Gak boleh gitu dong nak!. Kalau kamu gak di bangunin mbak Ita nanti kalau kamu terlambat sekolah gimana?. Bisa di marahi bu guru dong!." jelas Revan sambil menaruh selembar roti di atas piring Attar.
" Mau selai rasa apa?. Coklat atau stroberi?." tanya Revan.
" Coklat aja!." jawabnya dengan wajah masih cemberut.
" Attar kan bisa gak usah masuk sekolah!. Lagian Pa setiap hari sekolah. Kan bosen!." protesnya dengan wajah menggemaskan itu. Revan tergelak mendengar jawaban anaknya.
" Bukannya sekolah itu menyenangkan ya?. Kamu bisa bertemu dengan teman - teman mu. Kamu bisa bermain bersama mereka." ujar Revan sambil menaruh kembali roti yang sudah di olesi selai coklat di piring Attar.
" Enggak!. Aku gak suka sekolah!." jawab Attar kesal. Dia mengambil roti di atas piring dan memakannya dengan wajah cemberut.
" Katakan pada papa, kenapa kamu gak suka sekolah?." tanya Revan.
" Aku selalu di ledekin sama Noval dan Rio di sekolah. Dia bilang aku gak punya mama. Aku gak mau sekolah pokoknya!." ujar Attar dengan kesalnya.
__ADS_1
Revan menghela nafasnya secara perlahan. Di tatapnya wajah Attar lekat - lekat. Dia tersenyum melihat tingkah anaknya yang semakin hari semakin membuat nya harus ekstra bersabar itu. Revan beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping bocah laki - laki itu. Di usapnya kepala Attar dengan lembut.
" Sayang dengerin Papa. Attar bukannya tak punya mama. Tapi mama Attar sudah pergi jauh sekali. Mama juga selalu tau apa yang kita lakukan disini. Mama pasti sedih sekarang melihat Attar gak mau sekolah seperti saat ini. Attar gak mau kan buat mama sedih?. Katanya Attar sayang sama mama." bujuk Revan.
Attar terdiam. Dia sepertinya mengerti dengan apa yang di ucapkan Revan. Dia menatap wajah Revan dengan lekat - lekat.
" Apa mama tau, kalau aku suka di ledekin sama Noval dan Rio?." tanya nya dengan wajah menggemaskan. Revan tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
" Iya mama tau. Mama tau segalanya. Karena Mama selalu bersama dengan kita." jawab Revan.
" Kata Papa mama pergi jauh. Kok sekarang selalu bersama kita?. Berarti mama gak pergi jauh dong. Mama sembunyi ya Pa!." tanya Attar. Revan menciumi pipi gembil bocah itu.
" Kamu yang sabar ya. Kalau temen - temen kamu ledekin kamu. Kamu bilang aja. Mama ku sedang pergi jauh. Dan Attar gak boleh main pukul ya dengan mereka. Papa gak mau dengar dari bu guru lagi soal anak Papa yang berantem sama temen - temen kamu lagi. Bisa kan nak?." pinta Revan. Attar mengangguk mengiyakan.
" Sudah kamu habiskan sarapan kamu. Setelah itu kita berangkat ke sekolah." ujar Revan sambil mengusap kepala Attar.
Anak itu pun menurut. Dia terlihat menghabiskan roti dan susu di dalam gelas sampai tak bersisa. Setelahnya Revan pun mengantar Attar ke sekolah sekalian dia berangkat ke rumah sakit untuk melayani pasien - pasiennya itu.
Hampir tiga tahun Revan kembali lagi bekerja di rumah sakit itu. Dia pun selalu menyempatkan waktu luang di tengah - tengah kesibukannya sebagai petugas medis sekaligus ayah tunggal untuk anaknya yang sekarang mulai bisa melakukan protes jika dia terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk dirinya bermain bola bersama.
Revan sudah bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian Aira. Dengan adanya Attar disisinya saat ini. Sudah cukup mengobati kerinduan dirinya kepada sang istri. Apalagi kalau di lihat - lihat, kelakuan Attar yang suka ngambek itu menurun dari sang mama.
Revan sudah sampai di ruangannya. Terlihat para perawat sudah sibuk menyiapkan rekam medis dan peralatan untuk memeriksa pasiennya. Revan duduk di meja kerjanya. Disana ada foto mendiang sang istri dan bocah laki - laki tampan yang sedang tertawa dalam gendongannya.
Di usapnya foto wanita yang selalu terlihat cantik di mata Revan itu. Setiap pagi dia selalu mengamati kedua foto yang ada di mejanya itu sebelum memulai aktivitasnya. Kedua foto itu ibarat vitamin tidak langsung untung dirinya agar terus bersemangat melayani pasien - pasien yang membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
" Kamu tau, anak mu pagi ini ngambek lagi. Dia seperti dirimu. Dikit - dikit ngambek." ujar Revan sambil menatap foto istrinya itu. Dia menghela nafasnya berulang kali. Lalu meminta perawat untuk memanggil satu persatu pasien yang sudah menunggunya di luar.