Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 12 Mencari cara


__ADS_3

Ceklek !!


Suara pintu rumah di buka. Aira melenggang menuju kamarnya. Rumah itu masih sepi. Karena santi dan keluarga kecilnya masih di rumah neneknya.


Di rebahkannya tubuhnya pada ranjang kecil miliknya. Pikirannya masih melayang. Dia menatap langit - langit rumah itu. Terngiang di dalam otak nya ucapan Revan.


Dia menarik nafas panjang dan di pejamkannya matanya. Sekelebat muncul wajah tampan Revan yang sedang tersenyum. Lelaki itu tidak berubah sama sekali. Wajahnya selalu memancarkan aura yang memikat.


" Apa yang ada di pikiranmu sih, Ra??." ucapnya lirih. Di raih nya guling yang ada di pinggir ranjang dan di peluknya erat - erat. Terdengar bunyi pesan masuk dalam ponselnya.


**To : Aira


Sampai kapan kamu akan menghindar dariku, Ra. Kamu tau aku. Aku tak akan menyerah begitu saja**.


Aira menatap layar ponsel tersebut. " Dasar kepala batu." dengusnya kesal. Aira pun mengetik balasan untuk Revan.


**To : Revan


Dasar kepala batu !!


Ok kita lihat saja, sampai sejauh mana kamu menemukanku. Kalau pun kita akan bertemu kembali, aku tak mau berbicara dengan mu lagi**.


Aira mengirim balasan tersebut sambil tersenyum sinis.


Sementara Revan yang ada di rumahnya. Di baca nya balasan pesan dari Aira. Dia tersenyum membaca pesan itu.


" Kita lihat nanti." gumam Revan gemas.


Revan berjanji pada dirinya sendiri. Nanti kalau dia bertemu dengan Aira kembali tak akan di lepaskannya perempuan itu. Tak akan ...


Keesokan harinya ...


Hampir seminggu Revan tidak masuk kerja. Hari ini hari senin. Saat nya dia memulai aktivitas kembali. Dia tiba di rumah sakit dan memarkirkan mobil nya.


Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu. Sesampainya di poli kandungan dia masuk ke ruangannya. Seketika itu ada seorang perawat masuk dan memberikan tumpukan map rekam medis para pasien yang sudah mengantri di sana. Revan menghembuskan nafas nya.


" Ayo semangat Revan. Liburanmu telah selesai. Gumamnya dalam hati.


" Sus, dokter Radit ada praktek hari ini?." tanya Revan kepada perawat tersebut sebelum keluar meninggalkan ruangannya.


" Dokter Radit lagi tugas di ruang operasi dok. Baru masuk 15 menit yang lalu." jawab perawat tersebut.


" Oohh ya sudah kalo gitu. Makasih ya sus." jelas Revan sambil masih membolak balik rekam medis pasien - pasiennya.


Satu persatu pasien masuk ke dalam ruangan kerjannya itu. Yaahh sebagai seorang dokter kandungan adalah bukan cita - cita Revan. Dia bercita - cita sebagai arsitek. Tapi terpaksa di kubur dalam - dalam olehnya. Dia ingin melanjutkan tugas mulia mama nya yang telah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.

__ADS_1


Setelah mama nya pergi akibat kanker ganas yang di deritanya. Revan berjanji pada dirinya untuk melanjutkan cita - cita mama nya itu.


Mama nya adalah seorang petugas medis. Gaya hidupnya pun juga sehat. Tak pernah dia melihat mama nya mengkonsumsi makanan cepat saji atau makanan instant.


Setiap hari mama nya selalu memasak sendiri makanan yang akan di makan olehnya dan papa nya tersebut. Papa nya dulu pernah bercerita selepas kepergian mama nya.


Mama nya pernah hamil lagi saat Revan masih ber umur 3 tahun. Tetapi kondisi janin itu tidak sehat dan harus di keluarkan dengan cara terminasi. Mungkin saat melakukan kuret pada waktu itu, para tim dokter kurang jeli dan kurang bersih. Sehingga darah kotor masih tersisa di rahim mama nya itu.


Setelah 10 tahun berlalu, mama nya sering mengeluh sakit pada bagian panggul dan sering menstruasi walaupun itu bukan periode yang semestinya. Akhirnya mama nya memeriksakan diri ternyata positif kanker rahim dan sudah memasuki stadium 3.


Hampir setahun mama nya menyembunyikan sakit itu. Tapi pada akhirnya dia harus kalah dan menyerah. Sejak saat itu lah, Revan ingin melanjutkan cita - cita mama nya.


Jam makan siang pun tiba. Tapi Revan masih memeriksa pasiennya. Ada beberapa pasien lagi yang masih antri di depan. Dari sekian banyak dokter kandungan. Revan adalah dokter yang paling populer.


Selain memiliki wajah tampan, yang bisa membuat para ibu hamil berdoa agar anak mereka kelak bisa mirip dengannya. Dia juga dokter yang sangat cekatan dan telaten kepada setiap pasiennya.


Walau pun dia selalu menampakkan wajah dingin dan acuhnya itu. Tak membuat para pasien berpindah untuk tak memeriksakan bayi mereka pada nya.


" Dok, waktunya Lunch nih !!." ajak dokter Radit yang masih melihat sahabatnya memeriksa pasien.


" Duluan aja. Aku selesai in ini dulu." jawab Revan sambil memutar stick Ultrasonologi pada perut mama muda disana.


Terlihat dari layar USG seorang bayi mungil 24 minggu yang bergerak aktif dalam rahim mama muda itu. Revan melirik ke arah pasiennya itu. Terlihat suami pasien yang terus menggenggam tangan istrinya itu dan terus tersenyum melihat pergerakan bayi mereka yang aktif di dalam perut.


Revan tersenyum melihat keintiman keluarga kecil di hadapannya ini.


" Seperti yang terlihat, bayi ibu kondisinya sangat baik dan aktif. Jangan lupa vitaminnya terus di minum ya. Jangan stress, dan banyak makan sayur dan buah." jelas Revan sambil menulis resep obat dan vitamin yang harus di minum oleh bumil ini.


" Dan bapak sebagai suami harus selalu siaga ya pak. Jaga kehamilan ibu dengan baik. Usahakan ibu jangan sampai stress dan memikirkan sesuatu yang berat - berat. Kontrol makanan dan minuman yang di konsumsi ibu. Jangan terlalu makan makanan manis dan asin." imbuh Revan sambil menyodorkan buku periksa kehamilan dan resep pada perawat di samping ibu muda tersebut.


Di hela nya nafas panjang. Dia mulai memijit bahu nya yang sedikit pegal. Perawat itu masuk kembali ke ruangan dan merapikan bed yang ada di ruang periksa.


" Masih ada lagi sus." tanya Revan memastikan.


" Masih ada dua pasien lagi dok." jawab perawat itu. Revan mengangguk dan menekan tombol nomer antrian selanjutnya.


Setelah semua pasien telah habis di periksa semua. Revan berdiri dari kursinya dan mengambil tumbler miliknya di atas meja dan mengisi dengan air mineral yang telah tersedia di sana. Hampir setengah isi nya habis di minumnya.


Dia sangat haus dan lapar. Tapi semua temannya sudah pergi makan siang dan hanya tinggal dirinya seorang saja yang belum. Dia beranjak keluar dari ruangan. Saat dia ingin melenggang keluar dari poli kandungan. Salah seorang perawat memanggil namanya.


" Iya sus, ada apa." tanya Revan. Perawat itu menyodorkan rantang makan yang di pegangnya.


" Maaf dok, ini ada titipan dari dokter Sheila. Tadi dia datang kesini. Tapi kembali lagi setelah tau dokter masih memeriksa pasien. Jadi makanannya di titipin ke saya." jelas perawat itu. Seketika wajah datar dan dingin Revan muncul.


" Sus, kamu kembalikan saja makanan itu. Dan bilang pada dokter Sheila, tak perlu repot - repot mengirim makanan lagi kesini." jelas Revan lalu beranjak pergi meninggalkan perawat itu yang masih berdiri disana.

__ADS_1


" Ada apa dengan mereka??. Apa mereka sedang bertengkar." gumam perawat itu lirih dan pergi menuju poli syaraf untuk mengembalikan rantang makan itu kepada pemiliknya.


Kantin rumah sakit sedikit lenggang. Karena jam makan siang sudah lewat. Dia mengambil roti dan memesan kopi hitam tanpa gula kepada pramuniaga disana. Revan mengambil ponselnya dari saku kemeja dan mengirim pesan ke Aira.


**To : Aira


Sudah makan siang kah**??


Dia menghela nafas panjang. Setelah kopi pesanannya selesai. Revan menarik salah satu kursi yang tersedia di sana. Di makan lah roti tersebut sambil memainkan tangannya untuk melihat - lihat media sosialnya.


" Makan roti saja tak akan membuatmu kenyang dalam waktu yang lama." ujar suara didepannya itu. Revan mendongakkan wajahnya ke sumber suara tersebut.


Sheila menarik kursi di hadapannya dan duduk disana. Di taruh rantang makan itu di depan Revan. Revan menghentikan aktivitas makannya dan mendengus kesal.


Sheila membuka rantang makan itu satu persatu. Terlihat di sana ada ayam balado dan tumis pare kesukaannya. Sheila menatap wajah Revan yang di alihkan ke samping.


" Nih makanlah. Aku tau kamu belum makan siang." ujar Sheila. Revan menoleh dan menatap wajah Sheila datar. Tanpa berkata satu kata pun dia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Sheila sendiri disana.


Sheila yang melihat Revan berlalu pergi hanya diam tak bersuara. Air matanya mulai menetes pelan. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan lara di hatinya.


" Ternyata di serius ingin mengakhiri semuanya." batin Sheila.


Revan berjalan menuju ruangannya. Hatinya dongkol setengah mati. Kehadiran Sheila tadi langsung merusak mood nya. Dia membanting tubuhnya di kursi kerjanya. Di raih tumbler miliknya itu dan di minum sampai habis isi nya.


Dia melirik jam yg ada di dinding. Masih pukul 2 siang. Dia menghela nafas panjang. Di pejamkannya matanya. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


Dokter Radit mengetok pinggiran meja kerjanya. Di buka nya mata Revan. Di lihatnya dokter Radit membawa dua gelas es kopi kesukaan Revan. Es kopi hitam gula aren.


" Kamu ada masalah." tanya Radit teman satu kampus dan satu kerjaan dengan nya itu. Revan memainkan sedotan es kopinya itu. Dia mulai menceritakan kronologi kejadian yg di laluinya mulai dari awal hingga akhir.


Dokter Radit mendengar kan cerita Revan dan sesekali membenarkan kacamatanya. Hanya Radit teman terdekat Revan. Dia sering menceritakan masalah yang menimpanya kepada bapak satu anak tersebut.


Dokter Radit sudah menikah 2 tahun yang lalu dan sudah memiliki seorang putri yang lucu dan menggemaskan. Radit pula yang sering menasehatinya untuk jujur pada hatinya. Karena hubungan tak akan bertahan lama kalau di dasari oleh kebohongan. Begitu ucap Radit kepada Revan selama ini.


" Lalu ??. Apa rencanamu selanjutnya." tanya Radit. Revan mengangkat bahunya.


" Sekedar saran aja ya bro. Cewek kalau semakin di kejar dia akan semakin berlari." jelas Radit padanya.


" Maksudmu aku harus berhenti begitu." tanya Revan lesu. Radit tergelak melihat kawannya satu ini.


" Buat dia penasaran, nanti dia juga akan mendekat. Setelah itu kamu bisa menangkapnya dengan telak." jawab Radit. Revan memikirkan usul temannya ini.


Bibir Revan lalu menyunggingkan senyum.


" Ide yg bagus bro." seru Revan sambil meminum es kopinya itu. Radit menepuk dadanya tanda dia bangga akan ide cemerlangnya tersebut.

__ADS_1


~ Happy reading ~


__ADS_2