
Revan membawa Aira duduk di sebuah taman kecil di tengah kota. Aira masih menundukkan pandangannya, menatap batu batu kecil yang di pijaknya.
Revan melirik dan menghela nafas ber ulang - ulang. Seakan dia ikut sebal melihat perempuan di sampingnya jadi lemah seperti ini.
" Sampai kapan kamu akan rapuh begini?!." tanya Revan sambil menggeser layar ponselnya. Aira melirik sekilas ke arahnya.
Dia tidak bermaksud membuat lelaki di sebelahnya menjadi tidak nyaman. Dia mendongakkan wajahnya menatap langit malam di atasnya.
" Maaf." jawabnya sambil mencoba tersenyum pada Revan. Revan menatap wajah Aira, walaupun perempuan itu tersenyum saat ini. Tapi terlihat sangat terpuruk di matanya.
" Maaf, karena kamu harus menyaksikan salah satu drama dalam kehidupanku." jelas Aira sambil menatap wajah Revan. Dia tau kalau lelaki di sebelahnya telah kesal.
" Sudah cukup kamu menangisi lelaki itu. Dia tampak sehat dan baik - baik saja tanpa mu." tukas Revan kesal sambil meremas botol air mineral yang telah habis di minumnya.
" Aku tau. Apa aku tampak sangat menyedihkan tadi." tanya nya.
" Hmm .." Revan hanya bergumam lirih.
Aira tersenyum melihat kelakuan Revan yang masih sama seperti dulu. Dulu kalau dia kesal, wajah dia selalu seperti sekarang ini.
Aira gemas dan mengacak - acak rambut lelaki di sampingnya.
Revan tergelak dan mencengkeram tangan Aira.
" Kamu tau, tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh kepalaku kecuali kedua orang tua ku dan kakak ku." jelasnya mengingatkan Aira.
Aira berusaha menarik tangannya. Tapi Revan masih menahan tangan itu. Di tatapnya wajah Aira dalam - dalam. Aira mulai gelagapan dengan tatapan tajam Revan.
" Hanya kamu. Hanya kamu dari dulu yang ada disini." jelasnya lagi sambil membawa tangan Aira dan menempelkan pada dada bidangnya.
Aira menunduk dan mencoba menarik tangannya. Tapi genggaman Revan masih kuat menahan tangan perempuan itu.
" Jangan pergi lagi ,Ra. Aku mohon jangan lari lagi dariku." tukas lelaki itu lembut dan sendu. Jantung Aira berdetak tak karuan mendengar ucapan Revan.
" Tapi aku ... " Revan menutup bibir Aira dengan telunjuknya. Seketika Aira menghentikan ucapannya.
" Aku tidak perduli akan semuanya. Tentang masa lalu mu, status mu atau apa pun itu." jelasnya kesal. Pikirannya mulai frustasi. Karena perempuan di depannya ini selalu berkilah saat membahas masalah hidupnya.
" Kamu bisa mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku van." tukas Aira menggenggam tangan Revan yang dingin itu.
" Tapi aku hanya mau kamu." jawab Revan cepat.
" Jangan bodoh kamu. Kamu membuang semua kupu - kupu yang cantik hanya demi seekor lebah jahat yang buruk ini." jelas Aira masih menatap wajah lelaki di sampingnya.
" Apa kata orang tua mu kalau kau memilihku." tanya Aira memastikan.
" Aku tidak perduli. Aku tidak perduli jika seluruh dunia menghinaku. Asal aku tetap bersama mu." jelasnya.
Aira tersenyum sinis. " Kamu pikir ini sinetron, hah. Kamu pikir ini drama korea. Kamu bisa ngomong begitu dengan Pede nya." jawab Aira sambil menahan tawa.
" Hidup ini tak seindah drama korea. Walaupun kita memang hidup di atas panggung kehidupan." tukas Aira lagi.
Aira mendengus kesal menatap lelaki itu. Revan masih terdiam tak bergeming.
" Aku akan memperjuangkan semua nya." jawab Revan lirih tapi mantap. Aira menoleh ke arah Revan.
" Apa yg kamu bilang?!." tanya Aira tak mengerti.
" Aku akan memperjuangkan semua nya. Semua tindakanku kepadamu kedepannya." jawabnya.
" Untuk apa?!." tanya Aira frustasi.
" Untuk hidup bersama mu." jawabnya sambil tersenyum.
" Jangan konyol, Van. Kamu gak tau, mas Arga meninggalkanku karena apa. Karena aku tidak bisa memberinya anak." jelas Aira setengah berteriak.
" Jangan sama kan aku dengan lelaki brengsek itu, Ra." jawab Revan tak kalah berteriak di depan perempuan itu.
" Kamu bukan gagal menjadi seorang ibu. Karena aku tau, kamu pernah melahirkan dua bayi dalam rahimmu itu." jelasnya merendahkan intonasi suaranya.
" Apa?!. Kamu tau darimana aku pernah hamil dan melahirkan?!." tanya Aira sambil menatap wajah Revan.
__ADS_1
Revan menghela nafas panjang. " Lima tahun lalu, setelah aku kembali dari pendidikan ku di luar negeri. Aku langsung datang ke kota ini dan bekerja di rumah sakit kamu melahirkan anakmu yang pertama. Waktu itu aku masih menjadi konsultan dokter." jelasnya sambil menatap wajah Aira.
" Salah satu dokter yang merawatmu, Dokter wisnu, Kamu pasti masih ingat. Dia dokter yang merawatmu dan membantumu melakukan operasi caesar pada dirimu dan bayimu." Revan mencoba mengingat kejadian lima tahun yang lalu.
Aira terdiam. Dia masih ingat betul dengan hari itu.
" Dokter wisnu datang padaku untuk mengkonsultasikan keadaanmu padaku. Di situ aku tau bahwa kamu telah berkeluarga dan mengandung buah cinta lelaki tadi." Revan menghela nafas panjang.
" Awalnya aku tak percaya itu kamu. Karena aku hanya membaca rekam medis yang di berikan dokter wisnu. Di situ, di rekam medis itu tertulis namamu dan juga tanggal lahirmu. Aku menghampirimu di ruang perawatan. Tapi kamu saat itu sedang tertidur pulas akibat mengkonsumsi obat yang telah di berikan perawat disana." Revan setengah tersenyum mengingat kejadian itu.
" Kamu tau, Bagaimana perasaanku saat itu?!." tanya Revan pada Aira. Aira menggelengkan kepalanya.
" Hancur, Ra. Aku hancur hari itu. Melihat orang yang aku cari selama ini dan bertemu saat dia sudah menjadi milik orang lain." jelasnya mulai serak dan berat suaranya.
" Ingin waktu itu aku meresepkan obat yang akan membuatmu dan bayimu tidur untuk selamanya. Tapi karena aku masih mencintai mu, Ku urungkan niat itu." ujarnya setengah tertawa. Aira tersenyum mendengar penuturan Revan.
" Waktu kamu di meja operasi, kamu tidak sadar kan kalau aku ada disana saat itu." tanya Revan menoleh ke arah Aira. Aira menggelengkan kepalanya.
" Semua dokter disana kaget saat melihatku masuk ke ruang operasi. Mereka pikir aku akan menggantikan dokter wisnu. Padahal aku hanya ingin menyaksikan perempuan yang aku cintai selama ini berjuang melawan maut." jelasnya lagi.
" Ku lihat wajahmu yang pucat, nafasmu yang berat akibat suntikan anastesi yang di berikan untukmu. Dokter wisnu menyayat demi sayatan lapisan perutmu pun aku tau. Sampai akhirnya bayimu lahir kedunia ini. Bayi laki - laki yang putih bersih dan tampan itu, aku sempat menggendongnya. Aku menggendongnya seperti aku menggendong anakku sendiri. Padahal jelas - jelas itu darah daging lelaki yang menikahimu." jelas Revan pada Aira dan Aira mulai menitikkan air mata nya.
" Setelah hari itu, aku pun langsung menyerah dan berjanji tak akan mengganggu hidupmu lagi. Aku pun mulai membuka hati untuk perempuan lain." tukasnya sambil menatap Aira dan mengusap air mata di pipi Aira.
Aira mengusap air mata nya. " Dan kamu berhasil?!." tanya Aira penasaran.
" Awalnya aku mencoba belajar mencintainya. Aku terus belajar menaruh namanya dan dirinya di hatiku. Tapi semakin aku belajar dan aku memaksa, semakin terasa menyakitkan untukku dan dia." jawab Revan.
" Siapa?!." tanya Aira sambil menatap wajah Revan.
Revan menoleh ke arah Aira. " Namanya Sheila." jawab Revan sekilas.
" Nama yang cantik. Pasti orangnya juga cantik." seru Aira. Revan pun tersenyum.
" Kamu benar. Sheila memang cantik dan baik. Dia dokter spesialis syaraf yang sama di rumah sakit tempatku bekerja. Tapi aku sudah selesai dengan dirinya. " jelas Revan.
" Kenapa?!." tanya Aira sambil menatap wajah Revan.
" Lalu, kamu sekarang ingin bersamaku dan telah meninggalkan Sheila itu." tanya Aira terperanjat mendengar ucapan Revan.
Laki - laki itu hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Aira.
" Jahat. Kamu sungguh jahat van." jawab Aira sambil memukul lengan lelaki itu.
" Mungkin orang akan berkata aku jahat. Tapi itu lebih baik daripada aku harus terus berbohong dan berpura - pura terus mencintainya." jelasnya.
Aira berdecak kesal melihat kelakuan Revan. " Aku tau kamu hanya beralasan sehingga kamu bisa menutupi keegoisanmu itu." tukas Aira.
Revan tersenyum. " Yaah aku tidak perduli semua orang menganggap aku kejam dan tega. Aku hanya ingin yang terbaik saja." jawabnya singkat.
" Dan kamu puas?!." tanya Aira.
" Belum. Karena perempuan yang aku mau masih terus menolak ku." jawabnya sambil menatap mata Aira tajam.
Aira menatap nya lekat - lekat. Ada perasaan frustasi di mata lelaki itu.
" Kembali lah pada perempuan itu. " seru Aira dan mulai berdiri dari duduknya.
Revan menarik tangan Aira, dan membuat perempuan itu jatuh terduduk di pangkuan lelaki itu.
Revan melingkarkan tangannya pada pinggul Aira dan membenamkan wajahnya pada bahu perempuan itu.
Jantung Aira berpacu lebih cepat dari biasanya. Seperti ingin meloncat dari tempatnya.
Revan memejamkan matanya dan mencoba menikmati kenyamanan di pangkuan nya itu.
Aira menggeliat mencoba menarik tubuhnya dari dekapan lelaki itu.
Kenapa dia jadi mesum begini sih?! .Tukas Aira dalam hati.
" Lepasin aku van. Gak enak di lihat orang. Nanti di kira kita berbuat mesum lagi." seru Aira.
__ADS_1
" Biarin. Paling kita cuma di kawinin." jawabnya asal.
Aira terperanjat dan menarik tubuhnya agar menjauh dari lelaki itu.
" Dasar gila kamu ya .. " seru Aira sambil menatap sinis ke arah Revan.
Revan hanya tersenyum.
" Jadi kita sekarang ... " belum selesai Revan berkata Aira sudah menyela nya.
" Gak!!. Jangan mimpi kamu." jawab Aira kesal.
Revan berdecak kesal menatap Aira. Sungguh kepala batu perempuan ini. Pikir Revan.
" Terus hubungan kita gini - gini aja gitu tak ada kemajuan." tanya Revan sebal.
" Hubungan apa maksud mu?!. Memang aku mau memiliki hubungan dengan mu." jawab Aira sambil mencibir lelaki didepannya.
" Udah ayo pulang. Udah malam nih. Pikiranmu sudah merayap kemana - mana. Aku jadi merinding." seru Aira sambil mengusap lengannya.
" Gak mau !!." jawabnya singkat.
" Terserah kamu. Aku bisa naik taksi pulang." ancam Aira sambil melingkarkan tangannya di pinggangnya.
Revan menatap wajah Aira gusar. Dia masih tidak mendapatkan jawaban apapun dari perempuan itu.
" Besok kita ketemu lagi kan." tanya Revan pada Aira. Aira melirik ke arah Revan.
Entah mengapa lelaki ini terlihat seperti anak kecil. Dia merasa seperti baru merasakan jatuh cinta.
" Heh kenapa kamu diam. Jawab kalo orang lagi ngomong itu." tanya Revan kesal.
" Pulang aja belum udah minta ketemu lagi. " jawab Aira kesal.
" Ok kita pulang. Tapi besok kita ketemu lagi ya." pinta Revan.
" Kita lihat besok." jawab Aira singkat.
" Aku mencintai mu." bisik Revan lirih ke telinga Aira saat mereka beranjak dari taman tadi.
Aira hanya terdiam mendengar pernyataan cinta dari lelaki di sampingnya itu.
Mereka pun pergi meninggalkan taman tadi dan beranjak pulang mengantar Aira pulang terlebih dahulu.
Saat sudah sampai di depan gang rumah Aira, Aira ingin membuka sealtbel nya tapi macet. Revan melepas sealtbel yang melingkar di tubuhnya.
Dia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Aira. Wajah mereka pun hanya berjarak beberapa inci saja. Sedangkan desahan nafas Aira pun terasa hangat.
Mata mereka tak sengaja bertemu. Aira menatap wajah Revan. Tercium bau parfum yang sangat maskulin pada tubuhnya.
Revan menatap bibir Aira gemas. Ingin sekali dia ******* bibir sexy perempuan itu. Aira menatap sinyal mesum pada mata Revan. Di dorongnya tubuh Revan hingga terjerembab ke belakang.
Revan meringis kesakitan mengusap kepalanya yang membentur kemudi mobil itu. Huh rasain itu. Gumam Aira kesal.
Aira mencoba membuka sealtbel itu dan akhirnya berhasil juga. Lalu dia turun dan di ikuti Revan dari sebelah.
" Udah sampai sini saja. Kamu gak usah mengantarku ke depan rumahku." pinta Aira.
Revan mengangguk. Aira melambaikan tangan melepas kepergian laki - laki itu.
Revan melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah itu. Di dalam mobil dia tergelak sendiri.
Bagaimana bisa dia memiliki rasa ingin mencium bibir Aira. Tapi bibir perempuan itu sangat menggoda. Pikir nya. Dia tersenyum puas dan bakalan tidur nyenyak nih.
~ **Happy reading ~
*Buat para readers ...
Tolong kasih komentar, like dan vote nya yaaa ...
Agar author semakin semangat mengupdate tulisannya*** ...
__ADS_1