Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 140 Mama Aku Rindu


__ADS_3

Sore ini lumayan mendung. Walau tidak ada tanda - tanda akan hujan. Tapi angin sedari tadi sudah berhembus cukup kencang.


Sebuah langkah berjalan menapaki sebuah tempat perkuburan yang sunyi. Dengan tangan membawa sebucket bunga mawar merah yang masih sangat segar.


Lelaki itu tersenyum saat tiba di salah satu gundukan tanah yang mengering dan di penuhi bucket bunga yang mulai layu dan mengering itu.


Dengan duduk berjongkok di usapnya nama yang tertulis di pusara perkuburan itu. Serasa teduh di dalam hati saat menyentuh batu nisan itu.


" Ma. Attar rindu Mama!." ujar lelaki dengan senyum getirnya.


Dialah Attar yang sudah beranjak dewasa dan tumbuh dengan sangat baik berkat sang ayah. Bocah lucu yang menggemaskan dulu itu kini telah berubah menjadi seorang lelaki tampan dengan tubuh yang tinggi tegap seperti sang ayah. Sangat mirip seperti ayahnya.


Kini Attar sudah berusia 19 tahun. Selama itu pula dia belum pernah bertemu dengan wanita yang melahirkan nya. Selama ini dia hanya melihat wajah sang ibunda dari potret yang selalu dia pasang di samping tempat tidurnya.


Potret sang ibu juga terpasang dengan besar di dinding ruang tengah rumah yang mereka tempati. Begitu pun di kamar sang ayah. Potret sang ibu tidak pernah lepas dari dinding ruangan itu walau sedetik.


" Mama. Aku pernah bercerita kan kepadamu. Soal impianku dan mimpi - mimpi ku." ujar Attar sambil membenarkan duduknya yang tadinya jongkok sekarang sudah bersimpuh di samping makam sang ibunda.


" Aku ingin seperti Papa. Aku ingin menjadi dokter menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan pertolongan. Dan mencintai satu wanita dalam hidupnya." jelas Attar dengan senyum di bibirnya.


" Ma. Mama tau?. Selangkah lagi impianku akan menjadi kenyataan. Itu semua pasti berkat doa Mama disurga kan?." Attar terus berbicara seolah gundukan tanah itu bisa mendengar dan menjawabnya.


" Aku ... Aku lulus seleksi mendapat beasiswa kuliah kedokteran di berlin Ma. Aku satu - satu nya siswa dari negara ini yang lulus tes tersebut." ujarnya dengan bangga. Senyum pun masih terus tersungging di bibirnya.


" Aku seneng banget saat mendapat berita itu. Tapi ... " tiba - tiba wajahnya berubah sedih.


" Aku harus pergi meninggalkan Papa sendirian di sini. Apalagi aku tidak bisa bertemu dengan Mama setiap minggunya." ujarnya sedih.


" Papa bilang dia baik - baik saja kalau aku pergi. Papa menyuruhku untuk meraih apa yang aku ingin. Tapi aku tau kalau Papa berbohong. Dia pasti sedih dan kesepian jika aku pergi." jelasnya bingung.


" Ma. Mama tau gak?. Setiap malam Papa selalu menangis di depan foto Mama. Aku jadi gak tega jika harus meninggalkan Papa sendiri disini. Aku egois tidak Ma jika pergi melanjutkan kuliah di berlin?. Apa aku mengundurkan diri saja ya dari beasiswa itu?." gumamnya ragu - ragu.


" Mama aku sungguh bingung harus bagaimana?." desah nya frustasi.


Attar menatap sekeliling tempat perkuburan itu. Sangat sunyi. Hanya dia seorang diri. Attar pun menatap langit yang mulai gelap oleh awan mendung.


" Sudah mau turun hujan Ma. Attar pulang dulu ya. Attar sayang Mama. Sangat sayang sekali sama Mama." tukas Attar sambil mencium batu nisan sang mama lalu beranjak pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang ibunda.


.

__ADS_1


.


.


*****


Sebuah motor sport memasuki halaman rumah bergaya minimalis itu. Di sana pun sudah ada sebuah mobil yang terparkir rapi di garasi rumah itu. Attar pun tersenyum saat melihat mobil itu.


Dengan langkah semangat pun dia memasuku rumah itu. Saat dia memasuki rumah itu tiba - tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Attar menghela nafas lega karena dirinya sudah sampai rumah ketika hujan turun.


" Dari mana kamu?." tanya Revan saat melihat anaknya baru pulang saat hampir petang.


" Papa. Tumben Papa sudah pulang?." tanya Attar dengan senyum di wajahnya.


" Di tanya malah balik tanya." seru Revan sambil menjewer telinga Attar.


" Aaduuuhh Pa sakit tau. Kalau telinga ku jadi lebar seperti telinga gajah gimana?." rengek Attar. Revan tergelak sambil melepaskan jewerannya.


" Biarin. Nanti Papa taruh kebun binatang sekalian." ejek Revan. Attar pun tersenyum mendengar itu.


" Kamu darimana, hah?. Hampir gelap baru sampai rumah. Kelayapan mulu." ujar Revan sambil mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Attar pun ikut duduk juga disana.


Revan sampai melotot mendengar ucapan sang anak.


" Kamu ... Kamu punya pacar?." tanya Revan kaget.


" Enggak!." jawab Attar santai.


" Lalu?. Katanya habis apel. Kalau bukan apel pacar lalu apa?." tanya Revan.


" Aku habis apelin Mama." jawab Attar santai. Revan menghela nafasnya lalu tersenyum dan mengusap kepala anaknya itu.


" Kamu curhat apa lagi sama Mama mu?. Pasti jelek - jelekin Papa ya." selidik Revan.


" Rahasia. Papa kepo deh." jawabnya santai.


Revan dan Attar selalu seperti itu jika bersama. Seperti kakak dan adik. Revan dari dulu selalu menerapkan sistem keterbukaan terhadap anaknya. Berlaku juga untuk anaknya. Apapun yang di lakukan Papa nya Attar juga harus tau. Apapun itu.


" Pa." panggil Attar.

__ADS_1


" Apa?." tanya Revan.


" Attar batalin beasiswa yang di berlin itu ya." ujar Attar. Revan mengernyit kan keningnya.


" Loh kenapa nak?. Bukannya kamu pengen banget kuliah disana?." tanya Revan.


" Aku kuliah disini saja juga gak apa - apa. Yang penting bisa sama Papa terus." jawabnya santai. Revan mengusap kepala Attar.


" Karna itu kamu mau kubur impian besar kamu?." tanya Revan.


" Bukan begitu Pa. Kalau aku pergi Papa pasti sendirian disini." jelas Attar.


" Papa baik - baik saja nak. Berapa kali Papa bilang sama kamu. Gak usah pikirin Papa." ujar Revan.


" Papa gak bohong kan?." tanya Attar menyelidik. Revan menggelengkan kepala sambil tersenyum.


" Papa gak bohong." jawab Revan.


" Papa sih, Kenapa Papa gak nikah lagi aja dulu. Jadinya kan ada yang ngurusin." tukas Attar.


" Gak ada yang cantik seperti Mama mu." jawab Revan bercanda.


" Halah bohong. Paling Papa takut kan." tukas Attar.


" Takut?. Takut apa?." tanya Revan tak mengerti.


" Papa takut di gentayangi arwah Mama kalau sampai nikah lagi." jawab Attar sambil berlari menuju kamarnya agar tak kena jeweran sang ayah.


" Dasar anak bandel." tukas Revan sambil tertawa melihat kelakuan anaknya itu.


Revan menatap foto wajah Aira yang ada di ruang tengah. Dia tersenyum.


" Aku akan selalu menepati janji ku padamu untuk selalu melindungi dan menjaganya. Tapi aku tak bisa menghentikan setiap mimpi dan impian - impian nya." ujar Revan.


" Aku harap kamu mengerti itu. Biarkan dia meraih apapun yang di inginkannya. Biarkan dia meraih apa yang dia impikan. Kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing dan berdoa saja." imbuh Revan.


" Sayang. Tolong jaga dia saat dia nanti jauh dari pengawasanku. Ijinkan dia meraih semua impiannya. Kamu ingin kan melihatnya selalu bahagia." tukas Revan.


" Aku selalu mencintai mu sayang. Selalu." ujar Revan sambil menatap wajah Aira dalam bingkai foto besar itu.

__ADS_1


Walaupun tubuhnya sudah lama mati. Tapi rasa cinta nya tetap tumbuh di dalam hati. Selalu begitu hingga maut mencabut nyawa yang bersemayam di dalam raga ini.


__ADS_2