
Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Revan berpamitan pulang kepada Aira. Santi dan Akbar pun tak terlihat keluar lagi setelah masuk tadi. Mungkin mereka sudah tidur. Pikir Revan.
Revan masih menatap wajah perempuan itu yg berdiri di depan pintu. Enggan rasanya dia pergi meninggalkan dia dengan kondisi pikiran dan fisiknya yang sekarang.
" Kenapa masih diam?!. Pulang sana." usir Aira yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.
Revan tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu.
" Jangan bilang kamu mau nginep yaa. Gak ada tempat untukmu disini. Bisa di grebek orang sekampung entar." tukas Aira.
" Gak apa - apa. Paling juga di kawinin." jawab Revan menggoda.
" Sudah sana pulang. Sudah malam ini. Gak enak sama tetangga." cibir Aira.
" Iya bawel. Jangan lupa obatnya di minum." ucap Revan sambil menarik pipi wanita itu.
Revan pun berlalu pergi meninggalkan rumahnya. Tapi Aira masih saja berdiri di depan pintu. Dia menyandarkan tubuhnya di sana. Dia hirup udara dalam - dalam dan di hembuskannya kasar.
Hawa dingin pun mulai merasuki tubuhnya. Dia beranjak pergi dan menutup pintu rumah dan di kuncinya rapat. Dia menuju kamarnya. Badannya sangat lengket oleh keringat. Ingin rasanya dia mengguyur tubuhnya itu. Tapi tubuhnya enggan beranjak dari kasur itu.
Di rebahkan tubuhnya disana. Hari ini cukup melelahkan dan menguras emosi nya. Dia mencoba memejamkan matanya. Matanya terasa panas sekali. Karena tadi usai menangis.
Dia bangkit kembali dari tempat tidurnya. Di carinya tas miliknya itu. Setelah mencharge ponselnya dia pun meminum obat yang di berikan dokter di rumah sakit tadi.
Setelah itu dia berganti pakaian dan beranjak ke tempat tidur kembali. Matanya mulai mengantuk. Dan akhirnya dia pun terlelap dalam lautan mimpi - mimpi nya.
*****
Setelah sampai di rumah nya, Revan beranjak menuju kamarnya. Tubuhnya sudah gatal terkena keringat. Dia ingin segera mandi agar tubuh nya segar kembali.
Setelah selesai mandi, diraihnya ponsel miliknya untuk menelepon kekasihnya itu. Tapi tak ada jawaban sama sekali.
" Apa dia sudah tidur." gumamnya.
Di taruhnya ponselnya itu di atas meja dan dia pun menuju lemari untuk berganti pakaian tidur. Dan dia pun merebahkan tubuhnya lalu terlelap.
Keesokan pagi nya terdengar suara pintu di ketok samar - samar. Revan pun menarik selimutnya kembali dan meringkuk di dalamnya.
Tok .. tok .. tok ...
" Tuan muda .. Ini sudah siang. Apa anda tidak pergi bekerja." seru mbk Aminah mencoba membangunkan Revan dari tadi.
Sudah hampir 20 menit mbk Aminah berteriak dan mengetok pintu kamar tuannya itu. Tapi tak kunjung ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
Pembantu itu turun kembali menuju dapur. Mbok sum yang melihat teman kerjanya itu turun dengan wajah bingung.
" Kenapa kamu minah?!." tanya mbok sum.
" Anu .. Itu mbok .. Tuan muda aku panggil - panggil tapi gak nyaut. Apa dia sudah berangkat tanpa sepengetahuan kita ya." jelasnya.
" Gak mungkin ah. Wong mobilnya aja masih ada di garasi. Tuan muda pasti kecapean makanya tidurnya pules gak denger waktu di bangunin." tukas mbok sum.
Mbok sum melihat jam di dinding. Sudah pukul tujuh pagi tapi tuannya belum turun juga. Mereka tidak berani lagi membangunkan majikannya itu. Takut kena marah.
Revan masih meringkuk di atas kasur. Kamarnya masih gelap. Karena tirai kamarnya belum terbuka. Jadi cahaya matahari masih tertutupi tirai tebal disana.
Satu jam kemudian. Tubuh nya mulai menggeliat meregangkan otot - ototnya yang kaku. Dia masih bermalas - malasan di atas kasur. Dia berpikir ini masih pagi.
Matanya mulai mengerjap perlahan. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Dia menatap ke arah jendela kamarnya yang masih tertutup rapat. Dia menatap ke arah jam di dinding.
Matanya begitu membelalak kaget saat melihat hari sudah siang. Dia loncat dari kasurnya dan membuka tirai jendela nya. Matahari sudah terang benderang disana.
Kemudian dia berlari ke kamar mandi dan bergegas mandi disana. Tak butuh waktu lama dia pun keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
Setengah berlari dia menghampiri para pembantu nya di dapur.
" Mbok kenapa gak bangunin sih." tanya Revan kesal dan menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.
" Ya sudah mbok saya buru - buru." tukasnya lalu berlalu pergi.
Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat. Ada jadwal operasi jam 9 pagi untuknya. Saat dia melirik ke pergelangan tangannya. Dia mendengus karena dia lupa memakai arlojinya karena terburu - buru tadi.
Setelah tiba di rumah sakit, dia berjalan cepat menuju ruangannya. Setelah melakukan check clock dia pun menghampiri perawat yang duduk di mejanya.
" Rekam medis pasien yang akan operasi hari ini mana sus." tanya Revan.
" Ada di meja kerja dokter. " jawabnya.
" Kesiangan ya dok." tanya perawat itu.
" Iya." jawabnya singkat lalu masuk kedalam ruangan kerjanya.
Di lihat nya ada tumpukan rekam medis para pasiennya yang akan di periksa hari ini. Di carinya rekam medis pasien yang akan operasi hari ini. Dia keluar dari ruangannya.
" Sus, saya ada jadwal operasi hari ini. Dalam satu jam saya belum kembali, rekam medis di ruangan saya tolong di alihkan ke ruang dokter Radit ya." pesannya. Perawat disana mengiyakan permintaan Revan.
Revan pun berlalu menuju ruang operasi yang ada di lantai 4. Saat memasuki lift, dan pintu lift akan tertutup terlihat sebuah tangan terulur untuk mencegah pintu lift tertutup.
__ADS_1
Sheila dan temannya pun masuk ke dalam lift yang di tumpangi Revan. Senyum mengembang di bibir Sheila. Rekan rekan nya sesama dokter yang ada di lift itu pun berdehem menggoda Sheila dan Revan yang ada disana. Mereka belum tau kalau hubungan percintaan mereka telah usai berminggu - minggu yang lalu.
" Eheem dokter Revan tambah hari tambah cakep aja." seru dokter mira teman Sheila. Revan hanya tersenyum sekilas mendengar ucapan teman sejawatnya itu.
" Gimana gqk tambah ganteng, orang dokter Sheila kan selalu memperhatikan nya." imbuh teman lainnya.
Lift yang berisi tujuh orang tenaga medis itu pun mulai riuh. Sheila tampak senyum - senyum malu di depan temannya itu. Sesangkan Revan hanya diam tak bergeming. Angka di lift sudah menunjukkan angka 4 dan pintu lift terbuka. Revan keluar dari lift itu tanpa kata.
" Dokter Revan itu sangat dingin yaa. Dokter Sheila kok betah sih sama cowok kayak gitu." tanya temannya lain.
" Namanya juga cinta. Ya betah aja dong. Tapi kalau sama pacar nya ya gak mungkin gitu kali." sahut dokter mira. Mereka pun tergelak dalam tawa.
Sheila hanya tersenyum kecut mendengar ucapan teman - temannya itu. Hatinya perih saat menangkap kebenarannya. Lelaki itu sudah bukan miliknya lagi. Dia sudah menjadi orang asing di matanya.
" Dokter Sheila parfum dokter Revan itu apa sih. Sumpah wanginya enak banget. Tadi aku ada di sampingnya rasanya pengen nemplok aja di tubuhnya." jelas dokter mira. Yang lain juga ikut menimpali ucapan teman Sheila itu.
Sedangkan Sheila hanya diam dan berjalan menuju ruang nya itu. Hatinya masih tak terima melihat lelaki yang selama hampir lima tahun bersamanya berpindah ke lain hati.
Dia begitu kesal mengingat kejadian kemarin di lorong IGD itu. Bisa - bisanya Revan membuang dirinya demi perempuan biasa seperti itu. Kurang apa dirinya coba.
Dia ingin sekali memeluk tubuh bidang mantan kekasihnya tadi. Dia sangat rindu akan aroma parfum dan tubuh lelaki itu. Walaupun dulu Revan selalu dingin terhadapnya, setidaknya dia masih bisa dekat dan mencium parfum maskulin lelaki itu.
" Aku akan merebut kamu kembali van. Aku tidak rela kau bersama dengan nya." gumam Sheila dalam hatinya.
~ **Happy reading ~
Maaf ya readers ...
Episode kali ini lebih pendek dari sebelumnya ...
Karena author lagi gak enak badan soalnya ...
Maklum pergantian cuaca ...
Sebenarnya tadi tidak ingin up ...
Tapi mumpung dapat inspirasi jadi harus segera di up sebelum kelupaan ...
Tetap dukung author yaaa ..
Jangan lupa like, komen, dan vote nya yaaa ..
Terima kasih dan selamat malam semua** ....
__ADS_1