Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 120 Terasa Dekat


__ADS_3

Saat Aira di tinggal oleh Kinanti dan Atmaja untuk berbicara dengan dokter. Aira membuka kembali matanya. Dia beranjak dari tidurnya dan duduk. Aira masih mengamati sekeliling ruangan itu. Entah mengapa tangannya mulai bergerak dan membuka tirai yang tertutup di sebelahnya.


Terlihat wajah Revan yang tengah terpejam belum sadar dari koma nya. Aira pun turun dari ranjang tempat tidur nya. Kepalanya terasa berat sekali. Bahkan dia sampai jatuh terduduk di lantai karena keseimbangan tubuhnya belum pulih dan kepalanya yang begitu pusing.


Untuk beberapa saat dirinya pun kembali mencoba berdiri dan berjalan menuju bed tempat Revan tertidur. Di amati wajah suaminya itu dengan seksama. Dia tidak asing dengan wajah lelaki itu. Tapi saat dia mencoba mengingat kembali kepalanya terasa begitu sakit sekali. Aira kembali jatuh terduduk di lantai.


" Aaaarrrrrgggghhhh ..." teriak Aira sambil memegangi kepalanya yang sakit dan terasa berputar - putar itu.


" Nyonya!." teriak salah satu perawat yang tadi mendengar teriakan suara Aira dan menghampiri tubuhnya yang jatuh terduduk di lantai. Perawat itu pun mendekat dan membantu Aira untuk bangun dari duduknya.


" Ayo nyonya saya bantu berdiri." ujar perawat itu. Aira menepis tangan perawat itu dengan kasar.


" Pergi!!. Jangan pegang aku. Pergi!!." teriak Aira yang tidak ingin di sentuh oleh perawat itu. Perawat itu pun mundur lalu berlari keluar untuk meminta bantuan.


Tak lama kemudian perawat itu pun masuk dengan salah satu dokter yang ada disana. Dokter itu pun mendekat ke arah Aira. Aira masih duduk sambil memegangi kepalanya yang perlahan rasa sakitnya itu menghilang. Aira menatap dokter itu dengan wajah takut.


" Nyonya!. Apa nyonya baik - baik saja?." tanya dokter itu. Aira pun masih tidak bergeming.


" Nyonya ayo saya bantu berdiri. Nyonya harus kembali istirahat." ujar dokter itu.


" Istirahat?." tanya Aira seakan tak mengerti dengan ucapan itu. Dokter itu pun tersenyum dan mengangguk.


" Iya istirahat. Tidur di sini." jawab dokter itu sambil menunjuk ke arah bed tempat tidur miliknya. Aira menoleh ke arah yang di tunjuk dokter itu.

__ADS_1


" Gak mau. Aku kalau di situ kepalanya sakit terus." ujar Aira menolak. Dokter itu pun tersenyum mendengar ucapan Aira.


" Nanti di kasih obat. Biar gak sakit kepalanya." jelasnya. Perawat itu pun merasa lucu dengan sikap Aira yang seperti anak kecil. Baru pertama kali ini dia melihat pasien yg mengalami Amnesia. Sungguh lucu pikirnya.


" Ayo berdiri. Kalau duduk di situ terus nanti sakit. Lantai nya kan dingin." ujar dokter itu. Aira memegang lantai yang di dudukinya. Dia pun langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju bed rumah sakit itu untuk duduk bukan berbaring.


Aira menatap tubuh Revan yang terbaring di sebelahnya. Dokter itu pun menatap ke arah bola mata Aira.


" Nyonya kenal dengan dia?." tanya dokter itu memastikan. Aira menggelengkan kepala nya.


" Dia sakit?." tanya nya.


" Iya." jawab dokter itu.


" Dia kecelakaan. Kepalanya sakit. Seperti nyonya. Tuh." jawab dokter itu sambil menunjuk perban yang membalut kepala Aira.


Aira memegangi perban yang melekat di kepalanya. Lalu dia melihat perban yang ada di kepala Revan. Aira menatap wajah Revan dengan seksama. Lalu kepalanya terasa sakit kembali. Dokter dan perawat di sana pun langsung menutup tirai yang menghubungkan bed tempat Revan berbaring. Perawat itu pun membantu Aira untuk berbaring kembali. Dokter pun menyuntikkan obat pereda rasa sakit ke selang infus yang masih melekat di tangan Aira.


*****


Kinanti duduk di samping tempat tidur putrinya. Dia menatapi wajah putrinya dengan seksama. Tadi sekembali dirinya dari ruang dokter. Dokter yang tadi membantu Aira pun bercerita tentang Aira yang duduk terjatuh di lantai saat melihat Revan terbaring. Wanita itu pun mengusap kepala anaknya lembut.


Kinanti menatap jam di dinding. Hari sudah semakin sore. Saatnya dirinya harus pulang ke rumah. Karena kalau malam, anggota keluarga pasien di larang untuk menemui pasien yang ada di dalam ruangan. Takut mengganggu waktu istirahat para pasien.

__ADS_1


Saat keluar dari ruangan terlihat mbak Aminah dan suaminya berada di luar ruangan. Kinanti pun menghampiri mereka. Kini giliran mbak Aminah dan suaminya yang berjaga malam ini.


" Saya tinggal ya. Titip Aira sama Revan. Kalau ada apa - apa cepat hubungi saya." ujar Kinanti sebelum pergi meninggalkan anak dan menantunya itu.


" Iya buk. Ibuk tidak usah khawatir lagi." jawab mbak Aminah.


Kinanti pun berlalu pergi dari rumah sakit. Berjalan melewati lorong demi lorong dan menghilang di antara belokan yang ada di rumah sakit itu.


*****


Saat tengah malam, Aira kembali terbangun dari tidurnya. Dia menatap langit - langit ruangan itu. Aira pun kembali menoleh ke arah tirai tempat Revan terbaring.


Aira beranjak bangun dari tidurnya dan turun dari atas tempat tidur nya. Dia membuka tirai itu lagi. Di lihatnya wajah Revan dengan seksama. Aira mulai berjalan mendekat ke arah suaminya yang belum tersadar itu.


Di lihatnya perban yang membalut kepala lelaki itu. Aira memegang kepalanya juga yang terbalut dengan perban. Dia teringat akan ucapan dokter tadi siang. Dokter itu bilang kalau lelaki yabg di lihatnya itu sakit nya sama seperti dirinya. Aira memegang tangan Revan. Lalu kembali memegang kepala lelaki itu.


" Hai!. Kamu gak pusing tidur terus?. Kepala ku pusing kalau tidur terus." ujar Aira mengajak Revan yang terpejam bicara.


" Kamu siapa?. Apa aku kenal kamu?. Sepertinya aku kenal kamu. Tapi aku lupa." ujar Aira yang kini duduk di kursi samping Revan terbaring.


Banyak sekali yang di bicara kan Aira saat itu. Aira merasa begitu dekat dengan lelaki yang sedang terpejam itu. Sampai - sampai Aira pun tertidur sambil terduduk di samping Revan terbaring.


Perawat pun begitu kaget saat melihat bed tempat tidur Aira kosong. Dan perawat itu pun terkesiap saat melihat tubuh perempuan itu tengah tertidur sambil terduduk di samping Revan terbaring. Perawat pun keluar memanggil dokter dan meminta bantuan dokter disana.

__ADS_1


__ADS_2