
Keesokan harinya, matahari mulai menampakkan sinarnya. Aira masih terlelap di atas tempat tidur dengan nyenyak. Revan yang baru saja selesai berganti pakaian dengan rapi menghampiri tempat istrinya terbaring.
" Sayang. Sayang bangunlah. Sudah pagi." seru Revan sambil menggoyang bahu istrinya dengan lembut. Tapi Aira hanya menggeliat dan enggan membuka matanya.
Revan menghela nafasnya saat melihat istrinya semakin meringkuk di bawah selimut.
" Sudah lah. Aku bisa terlambat kalau sampai menunggunya bangun. Mana ada jadwal operasi pagi lagi." gumam Revan sambil mengusap pucuk kepala istrinya dan memberi beberapa kecupan di sana.
Revan pun beranjak dari kamarnya menuju dapur untuk menemui mbok Sum. Terlihat mbok Sum dan mbak Aminah sedang membuatkan sarapan untuk para tuan dan nona muda rumah ini.
" Mbok." seru Revan saat berada di depan pintu dapur.
" Iya tuan. Apa Ada yang tuan butuhkan?." tanya mbok Sum sambil memperhatikan penampilan tuannya yang sudah rapi di pagi hari.
" Saya ada operasi pagi. Aira masih tidur. Nanti kalau dia bangun tolong bilangin suruh kabari aku ya." tukas Revan.
" Baik tuan. Apa tuan tidak sarapan terlebih dahulu." tanya mbok Sum.
" Enggak usah mbok. Gak keburu nanti. Saya sarapan di rumah sakit saja." ujar Revan lalu pergi meninggalkan dapur menuju halaman depan dan berlalu pergi dengan mobilnya.
Aira menggeliat saat cahaya matahari mulai menyinari wajahnya melalui jendela besar yang terbuka setengah itu. Dia meraba - raba kasur yang ada di samping nya. Kosong. Matanya langsung terbuka saat tak mendapati suaminya di sana.
Di lihat nya jam di dinding. Pukul setengah 7. Aira langsung berdiri menghampiri kamar mandi. Saat di ketuk, tak ada jawaban dari dalam sana. Aira pun langsung membuka pintu kamar mandi dan kosong tak ada siapa pun. Dia pun berjalan keluar kamar dengan pakaian tidur yang masih melekat di tubuhnya mencari keberadaan suaminya itu.
" Mbok liat mas Revan gak?." tanya Aira saat melihat mbok Sum tengah menata meja makan.
" Nona muda sudah bangun. Tuan Revan sudah berangkat kerja tadi pagi - pagi sekali. Katanya ada operasi pagi. Nona di suruh menghubungi ponsel tuan kalau sudah bangun. Begitu pesannya." jelas mbok Sum.
" Kenapa gak bangunin aku kalau berangkat kerja. Dasar nyebelin!!." tukas Aira lalu beranjak meninggalkan meja makan dengan sebal. Dia kembali lagi ke kamarnya. Di raihnya ponsel yang ada di atas meja. Lalu menekan nomor ponsel milik suaminya.
Nomor yabg anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.
" Iihhh nyebelin!!!." Aira mematikan panggilannya dan menaruh kembali ponsel tersebut di atas meja dengan kasar.
" Nyuruh - nyuruh telepon tapi malah gak aktif." dengus nya kesal. Dia pun beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Aira menuju meja makan untuk sarapan. Perutnya sudah sangat lapar sekali. Di lihatnya hidangan di atas meja makan. Begitu menggugah selera siapa saja yang melihat.
Tanpa lama - lama Aira pun mengambil nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya. Dia pun mengambil ayam bakar dan udang goreng yang ada disana. Dia pun mulai melahap hidangan itu dengan lahap.
Tapi di tengah - tengah dirinya makan, tiba - tiba perutnya terasa seperti di aduk - aduk. Dia sampai menggembungkan mulutnya dan berlari menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
" Nona ada apa lari - lari." tanya mbak Aminah yang kaget saat melihat nona muda nya berlari menuju kamar mandi.
Huueeeekkkk ... Huuuueeeeeekkk ...
Terdengar dari luar kamar mandi suara Aira memuntahkan semua makanannya. Mbak Aminah pun tersentak saat mendengar suara nona muda nya dari dalam kamar mandi.
" Nona. Nona apakah baik - baik saja?." seru mbak Aminah sambil mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu. Tapi suara Aira masih saja terdengar memuntahkan makanan yang masuk kedalam perutnya barusan.
Aira memuntahkan semua apa yang masuk ke dalam perutnya. Dia sampai mengernyit katika cairan berwarna kuning dan asam keluar dari mulutnya. Dia terduduk dengan lemas di lantai kamar mandi. Rasanya perutnya begitu kosong dan tubuhnya lemas seketika.
Dia pun menekan tombol yang ada di closet duduk tempat dia muntah tadi. Aira membuka pintu kamar mandi dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Mbak Aminah masih berdiri di depan kamar mandi menunggu nona muda nya keluar. Wajahnya begitu khawatir saat melihat nona muda nya keluar dengan wajah pucat.
" Nona baik - baik saja kan?." tanya mbak Aminah khawatir. Aira mengangguk mengiyakan ucapan wanita itu.
" Terima kasih mbak." tukas Aira.
Mbak Aminah pun menuntun Aira menuju kamar. Saat berada di tengah - tengah tangga, mereka berpapasan dengan mbok Sum yang baru selesai membersihkan kamar majikannya.
" Nona?. Minah kenapa dengan nona Aira?." tanya mbok Sum kaget saat melihat wajah pucat nona mudanya.
" Saya tidak tau. Tiba - tiba nona muda muntah - muntah. Dan wajahnya langsung pucat begini. Saya mau mengantar nona ke kamarnya untuk beristirahat." jelas mbak Aminah.
" Sudah biar saya saja. Kamu panggilkan dokter untuk memeriksa nona muda." ujar mbok Sum.
" Gak usah mbok. Saya baik - baik saja. Mungkin masuk angin atau kecapekan. Gak usah panggil dokter mbak." tukas Aira kepada kedua assisten rumah tangganya itu.
" Baiklah nona. Mari saya antar ke kamar." ujar mbok Sum. Aira mengangguk.
" Aminah buatkan teh manis hangat untuk nona muda." pinta mbok Sum. Mbak Aminah pun kembali ke dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk nona mudanya.
__ADS_1
Aira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mbok Sum menarik selimut yang baru di lipatnya dan membalutkan di tubuh nona nya. Mbok Sum juga mematikan AC yang ada di kamar tersebut. Sebagai ganti nya, mbok Sum membuka kaca jendela besar yang ada di sana agar kamar nona muda nya ada pertukaran udara nya.
" Nona ingin sesuatu?." tanya mbok Sum.
" Tidak mbok. Terima kasih banyak." ujar Aira.
Terlihat mbak Aminah membuka pintu kamar dengan membawa nampan berisi cangkir teh manis hangat untuk nona nya.
" Silahkan teh nya nona." ujar mbak Aminah.
Aira meraih cangkir tersebut dan meminumnya sedikit. Lalu meletakkan kembali di atas meja.
" Saya baik - baik saja mbok, mbak. Kalian tak perlu khawatir. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi." tukas Aira.
" Baiklah nona. Kalau ada apa - apa jangan sungkan panggil kami." tukas mbok Sum.
" Iya." jawab Aira.
Para assisten rumah tangga itu pun keluar dari kamar majikannya dan menutup pintu kamar dengan rapat.
" Mbok, apa tidak ada yang aneh dengan nona muda?." tukas mbak Aminah saat menuruni tangga rumah tersebut.
" Aneh gimana maksud mu?." tanya mbok Sum.
" Jangan - jangan nona muda sedang hamil muda. Saya dulu waktu hamil muda juga begitu. Setiap pagi selalu muntah - muntah." jawab mbak Aminah.
" Setiap perempuan itu gak sama kalau hamil. Mungkin nona kecapekan. Kemarin kan seharian nona pergi ke rumah adiknya. Bisa jadi kan nona muda salah makan kemarin." ujar mbok Sum.
" Tapi kalau hamil bagaimana?." tanya mbak Aminah.
" Bagaimana apanya?. Yah itu justru bagus lah. Setiap orang yang sudah menikah pasti menantikan hadirnya anak." tukas mbok Sum.
" Benar juga mbok. Semoga ini kabar baik untuk kita semua." ujar mbak Aminah.
" Aammmiinnn." sahut mbok Sum.
__ADS_1