
Revan mengetuk pintu depan rumahnya. Tampak sepi. Karena sekarang memang sudah tengah malam. Tadi dirinya ada rapat dengan para dokter senior di sebuah hotel. Setelah itu dia kembali lagi ke rumah sakit. Karena salah satu pasiennya dalam keadaan emergency dan butuh penanganan segera.
" Kok malam tuan pulangnya?." sapa mbak Aminah saat membuka pintu.
" Iya mbak. Ada operasi mendadak." jawab Revan sambil melangkah ke dalam rumahnya.
" Mau saya buatkan kopi atau teh?. Atau tuan mau makan barang kali?." tanya mbak Aminah. Revan menggelengkan kepala.
" Gak usah mbak. Saya udah makan tadi. Mbak Aminah silahkan istirahat saja. Saya juga mau langsung tidur." jawab Revan sambil berjalan menuju kamarnya.
Rumah itu sekarang hanya di huni oleh beberapa orang saja. Dua tahun yang lalu mbok Sum sudah pergi meninggalkan dunia ini karena faktor usia juga karena sakit diabetes yang sudah lama di idapnya.
Jadi hanya tinggal mbak Aminah dan suaminya pak Aziz. Dan sekarang di tambah lagi Perawat Ita yang bertugas menjaga Attar selama di tinggal Revan bekerja.
Sebelum memasuki kamarnya. Revan menuju kamar bocah yang menjadi alasannya untuk melanjutkan hidup nya ini. Terlihat Attar tidur dengan pulas sambil memeluk robot ultraman yang di sukainya itu.
Revan duduk di tepi tempat tidur anak yang wajahnya mirip dengannya itu. Di usapnya kepala Attar dengan lembut. Revan terus menatap wajah pulas malaikat kecilnya itu. Di bawah bantal Revan melihat sebuah buku gambar milik Attar.
Revan begitu terenyuh saat melihat gambar yang di buat anaknya itu. Sebuah gambar keluarga kecil. Ada gambar dirinya, bocah kecil itu dan sang mama. Revan menatap wajah polos Attar yang tertidur.
" Kamu pasti rindu mama ya nak?. Maafin Papa ya. Karena keegoisan Papa kamu jadi berpisah dengan mama." ujar Revan sambil memeluk dan menciumi pipi Attar.
Revan menghela nafasnya dengan berat. Gambaran lima tahun lalu saat dia mengusir Aira keluar dari ruangan tempatnya di rawat pun berputar kembali di hadapannya. Bahkan wajah terakhir istrinya pun masih di ingat dengan jelas oleh otaknya.
Revan mengusap air matanya yang kembali menetes. Di ciumnya pucuk kepala Attar dengan lembut dan dalam. Setelah itu dia pun membalutkan selimut sampai leher Attar dan beranjak pergi dari kamar bocah itu.
Revan membuka pintu kamar tempatnya tidur. Terlihat dengan jelas potret gambar dirinya dan Aira terpasang dengan besar di dinding kamar itu. Revan berjalan mendekat ke arah foto itu.
" Kamu tau sayang. Berat bagiku dan Attar hidup tanpa kamu. Sangat berat. Tapi aku dan Attar harus melewatinya. Aku dan Attar sangat mencintaimu. Kami sangat mencintaimu. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu di rumah ini bahkan di dalam hati kita. Attar sangat merindukan mu. Begitu pun diriku. Seharusnya kamu tidak pergi. Aku yang salah. Seharusnya kamu menghukumku dengan hukuman yang lain. Bukan dengan cara ini. Bukan dengan pergi dari dunia ini. Ini sungguh berat sayang. Sangat berat Aira ...." Revan jatuh terduduk sambil menangis di depan foto besar itu.
Dia masih sangat menyesali kejadian saat itu. Setiap kali dia merindukan istrinya dia selalu seperti itu. Menangis dan terduduk di depan foto besar itu.
" Maaf. Maaf kan aku!. Maaf kan semua kesalahan ku!. Aku tidak sanggup jika seperti ini terus. Aku tidak sanggup mengatakan kepada Attar jika suatu saat dia tau dan bertanya alasan kamu pergi. Maafkan aku Aira!. Maaf!." isaknya dalam tangis.
Malam itu hanya terdengar suara isak tangis dalam kamar itu. Entah sampai jam berapa Revan seperti itu. Tidak ada yang tau.
.
.
__ADS_1
.
*****
.
" Papa bangun!. Papa!." rengek Attar sambil terus menggoyang tubuh Revan yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Revan mengerjapkan matanya perlahan. Terlihat sinar matahari sudah sangat terang memasuki kamarnya itu. Revan menoleh ke arah bocah yang membangunkannya itu.
" Papa sakit?." tanya Attar.
" Hmmm, Enggak. Kenapa?." tanya Revan seraya beranjak duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur.
" Kok Papa tidur terus dari tadi. Aku pikir Papa sakit." ujar Attar sambil memegang dahi Revan. Revan tersenyum melihat wajah menggemaskan Attar.
" Papa gak sakit sayang. Papa kan dokter. Mana bisa Papa sakit. Kalau Papa sakit nanti yang ngerawat orang sakit di rumah sakit siapa hayo?." jelas Revan bercanda. Attar tertawa mendengar ucapan ayahnya.
" Kamu sudah makan nak?." tanya Revan saat melihat jam di dinding kamar itu yang menunjukkan pukul 9 pagi.
" Sudah dong. Tadi buk Minah buatin aku nasi goreng sosis. Enak loh Pa. Aku sampai minta tambah." ujar bocah itu. Revan tergelak lalu menciumi pipi Attar dengan gemas.
" Hehehe ..." Attar hanya tertawa.
" Pa .."
" Heemm .." Revan sudah tau apa yang akan di minta anaknya ini. Dia kalau ingin sesuatu pasti merayu seperti ini. Persis sekali dengan Aira.
" Beliin lego tayo Pa." rengek Attar.
Tuh kan ada aja yang diminta. Hadeeuuuhh .... gumam Revan dalam hati.
" Ya Pa ya. Pa!. Ayolah Pa. Beliin lego tayo." rengek Attar. Revan menghela nafasnya.
" Papa mandi dulu ya. Masak kita beli mainan Papa masih bau begini." ujar Revan.
" Ok!. Aku tunggu ya. Papa jangan bohong ya!. Cepetan kalo mandi. Nanti tutup toko nya." seru Attar gak sabar.
" Gak bakal tutup tokonya. Papa mandi dulu. Kamu siap - siap sama mbak Ita." ujar Revan.
__ADS_1
Bocah itu pun keluar dari dalam kamar Revan menuju kamarnya sendiri. Revan hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya itu yang semakin lama semakin luar biasa itu.
.
.
.
*****
Sesampainya Revan dan Attar di sebuah mall. Bapak dan anak itu pun langsung menuju toko mainan yang ada di dalam mall tersebut. Di sana banyak sekali mainan yang siap membuat anak - anak kecil nangis jejeritan saat melihat nya. Attar pun begitu.
Bocah itu seakan lupa dengan tujuan utamanya untuk membeli mainan lego tayo yang di inginkannya. Revan hanya bisa mengusap dada nya saat melihat anak semata wayangnya yang terus merengek meminta mainan lain selain lego tayo itu.
Alhasil, dengan usaha Attar yang sedari tadi merengek, merayu hingga berguling - guling di lantai, mainan yang di inginkannya tadi berhasil di milikinya. Satu set lego tayo, Tobot X keluaran terbaru, dan robot mainan Avenger berhasil di milikinya.
Bocah itu tersenyum tiada henti - henti nya saat melihat satu per satu mainan itu di masukkan ke dalam paper bag. Revan menggelengkan kepala nya melihat kelakuan anaknya itu.
" Sudah puas?." tanya Revan saat menggendong tubuh bocah itu yang sedari tadi terlihat bahagia itu.
Attar pun tersenyum sambil mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. Revan berulang kali hanya bisa menghela nafasnya.
" Pa, laper!. Mau makan ayam mekdi!." pinta Attar. Revan mendesah mendengar rengekan anaknya lagi.
" Gak boleh. Papa gak suka kalau kamu makan makanan cepat saji seperti itu. Kita makan yang lain saja. Gak sehat itu." tukas Revan langsung menolak.
" Aaahhh tapi aku mau ayam mekdi!!!." Attar mulai berteriak dan menangis. Sampai - sampai setiap orang yang berpapasan dengan mereka selalu melihat dengan tatapan tajam
" Hei sudah jangan nangis!. Kamu itu selalu saja seperti ini. Kalau minta apa - apa harus di turuti. Sudah diam!. Nanti mainannya Papa kasih orang loh ya kalau gak berhenti nangis." ujar Revan dengan nada ancaman.
Alih - alih bocah itu diam. Tapi malah semakin mengeraskan suara tangisannya. Revan hanya menghela nafasnya dan memejamkan matanya menahan emosinya agar dia jangan sampai membentak anak semata wayangnya itu.
" Attar udah dong diam nak!. Jangan nakal seperti ini dong!. Tadi Papa udah beliin apa yang kamu mau. Sekarang kamu juga harus nuruti apa yang Papa bilang dong. Makanan itu gak sehat sayang. Nanti kamu bisa sakit kalau makan makanan seperti itu. Kita makan yang lain saja ya. Nanti Papa beliin es krim kalau kamu diem dan nurut." ujar Revan membujuk Attar.
" Es krim nya dua ya Pa!." pinta Attar.
" Iya. Kita beli 2 es krim. Kalau perlu beli sama tokonya biar kamu puas makannya." ujar Revan.
Attar pun terdiam. Bocah itu menghapus air matanya yang mengalir di pipinya tadi. Revan tergelak melihat anaknya itu segampang itu dibujuknya hanya dengam es krim.
__ADS_1