Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 76 Peristirahatan Terakhir


__ADS_3

Malam itu juga semua urusan kepulangan jenazah nenek langsung di urus dan di bawa pulang. Mama dan tante kartika ikut dalam mobil ambulance yang membawa tubuh nenek. Sementara Santi dan suami nya satu mobil bersama ku dan Revan.


Dalam perjalanan menuju rumah nenek, air mata ku tak henti - henti nya mengalir. Kenangan indah bersama nenek berputar di dalam pikiranku. Revan terus menggenggam tangan ku menguatkan. Santi di bangku belakang pun juga begitu. Suara isak tangis nya masih lirih terdengar. Akbar suaminya hanya memeluk dan mengusapnya lembut. Agar Santi bisa lebih tenang.


Saat rombongan mobil ambulance datang. Rumah nenek sudah ramai di padati oleh tetangga dan sanak saudara. Tadi saat mengurus kepulangan nenek di rumah sakit, Oom Anto suami tante Kartika menghubungi anak - anak dan para saudara nenek yang lain. Mereka semua mendapat kabar kalau nenek sudah pulang kepangkuan Sang Maha Pencipta.


Isak tangis para keluarga dan tetangga dekat yang mengenal nenek pun tak terelak kan. Mama dan tante kartika saling memeluk satu sama lain berusaha menguatkan. Kini tubuh nenek yang mulai kaku telah terbujur di atas pembaringan dengan tutup kain. Lantunan surat Yaasin pun menggema memenuhi ruang tamu tempat tubuh nenek di baringkan.


Revan menuntun ku untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Sedetik pun dia tak berpaling dariku. Karena dia tau, aku salah satu orang yang sangat kehilangan nenek selain mama. Karena nenek selalu menyayangiku lebih besar dari siapa pun.


Aku dan Revan duduk di ruang tamu di samping tubuh nenek. Revan mengambil buku kecil berisi surat - surat tahlil dan doa - doa lalu membaca nya di sampingku. Aku masih terdiam dan menatap tubuh nenek yang tertutupi kain dengan nanar. Berharap ada suatu keajaiban.


Sesekali Revan melirik ke arah ku sambil mengusap tanganku dengan lembut. Aku pun masih tak bergerak dari tempat ku. Jenazah nenek akan di makam kan besok pagi. Karena sekarang hari sudah semakin larut.


Para tetangga yang berdatangan ke rumah silih berganti sambil mengucapkan bela sungkawa nya. Mama dan tante kartika berusaha tegar saat para tetangga datang bertakziah.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi rumah nenek masih ramai akan para tetangga dan saudara nenek yang mendengar kabar duka kepergian nenek. Mereka semua datang dan menyesali kepergian nenek yang secepat itu.


" Mungkin ini sudah takdir. Mungkin ibuk lebih bahagia di sana. Kita doakan saja agar ibuk bisa beristirahat dengan tenang dan khusnul khatimah." hanya itu yang ku dengar dari mulut mama saat para saudara menanyakan perihal kepergian nenek yang mendadak dan secepat itu.


Tante Kartika menyuruh Revan membawa ku masuk ke kamar. Karena aku terlihat lelah sekali. Revan pun mengangguk mengiyakan. Tapi aku menepis tangan Revan yang berusaha menarikku agar beristirahat ke dalam kamar.


" Aku masih mau disini, Van. Aku masih ingin bersama nenek." tukas ku pada Revan.


Revan hanya menghela nafasnya saat mendengar penolakan ku. Dia pun menyandarkan kepalaku di dada nya lalu mengusap nya dengan lembut. Sambil beberapa kali memberikan kecupan di pucuk kepala ku.

__ADS_1


Entah mengapa dada Revan terasa begitu sangat nyaman sekali. Hingga tanpa sadar aku pun memejamkan mata dan terlelap. Revan yang sedang membaca surat Yaasin pun mulai menyadari kalau aku mulai memejamkan mata.


Dengan perlahan Revan mengangkat tubuh ku untuk tidur di dalam kamar. Kini Revan sudah merebahkan tubuhku di kamar mama yang ada di sana. Mama yang melihat Revan mengangkat tubuhku pun mengikuti Revan dari belakang.


" Kamu istirahat lah juga Revan. Temani Aira. Kamu juga pasti lelah." seru mama.


" Revan gak lelah kok ma." jawab Revan.


" Sudah istirahatlah nak. Di luar sudah banyak orang yang membantu. Besok masih banyak acara yang harus di selesaikan." jelas mama sedikit memaksa. Akhirnya Revan pun menuruti ucapan mama. Mama pun keluar meninggalkan kami berdua dan menutup pintu rapat.


Kini Revan telah berbaring di samping ku. Tak butuh waktu lama, dia pun ikut terlelap dalam mimpi di samping ku.


Keesokan pagi nya ...


Samar - samar terdengar suara ribut - ribut di luar. Ada suara isak tangis kembali. Banyak suara yang di tangkap oleh pendengaran Aira. Dia ingin sekali membuka matanya. Tapi mata nya sangat berat sekali. Perlahan dia mulai mengerjap sambil menyesuaikan cahaya yang masuk di dalam retina mata nya. Akhirnya pengelihatannya terbuka sempurna dalam beberapa waktu. Dia pun memandangi sekitar. Di lihatnya samping nya sudah kosong. Revan sudah bangun terlebih dulu. Dia pun langsung melonjak turun dari tempat tidur saat kesadarannya kembali dengan utuh.


" Sayang kamu sudah bangun?." seru Revan saat melihatku.


" Kenapa kamu gak bangunin aku sih." ujarku kesal karena tidak ada yang membangunkan ku.


" Aku tadi sudah membangunkan mu. Tapi kamu tidak merespon sama sekali. Maka nya aku biarin aja kamu tidur." jawab Revan.


" Huh! Alasan !." sungutku kesal lalu masuk ke dalam rumah untuk mandi menyegarkan tubuhku.


Selesai mandi dan berganti pakaian yang ada di sini aku pun duduk kembali di samping mama yang tengah memperhatikan para tetangga yang bertugas merawat jenazah nenek melakukan tugas nya.

__ADS_1


Mama sudah terlihat tegar daripada tadi malam. Walaupun masih terlihat dengan jelas raut wajahnya yang begitu bersedih dan merasa kehilangan itu. Aku memeluk lengan mama. Mama mengusap kepalaku lembut.


" Nenek terlihat begitu cantik ya Ma." tukas ku sambil memandang wajah bersih nenek.


" Iya. Nenek mu begitu sangat cantik. Doakan nenek mu agar mendapat tempat yang indah di sisi Allah." ujar mama. Aku pun mengangguk mengiyakan ucapan mama.


Setelah semua selesai. Jenazah nenek di bawa ke masjid terdekat untuk di shalat kan. Setelah selesai, kami semua pun mengantar tubuh nenek menuju tempat pembaringan terakhir nenek. Santi terlihat memeluk tubuh mama dan terisak kembali saat melihat tubuh nenek di turunkan di liang lahat. Revan yang berada di samping ku dengan setia memeluk tubuhku dan menguatkan ku.


Kami pun kembali dari tempat pemakaman menuju rumah nenek. Disana para tetangga sudah memasak makanan untuk kami sekeluarga yang tengah berduka. Mereka semua tau, kami sekeluarga pasti belum ada yang menyentuh makanan sejak berita kepergian nenek.


Tante Kartika membantu para tetangga untuk menyajikan makanan untuk kami semua. Revan mengambil gelas kosong lalu menuangkan teh hangat yang berada di teko dan memberikannya kepadaku.


" Terima kasih." ujarku saat meraih gelas yang di bawa Revan.


" Ayo kita makan. Dari tadi kamu belum makan." ajak Revan kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala ku.


" Kamu saja yang makan. Aku masih kenyang." jawabku.


" Nanti kamu sakit sayang. Ayo!. Aku yang suapin deh." bujuk Revan.


" Aku masih kenyang Revan. Jangan memaksa aahh." jawabku lalu masuk ke dalam kamar.


Revan menghela nafasnya dengan berat. Akbar yang melihat semua kelakuan ku hanya menepuk bahu Revan agar dia lebih sabar menghadapi sifat ku.


Revan dan Akbar pun duduk di teras dengan para saudara yang lain. Mereka semua makan sambil ngobrol satu sama lain. Karena banyak saudara yang belum mengenal Revan. Karena pada acara pernikahan kami kemarin banyak yang tidak hadir.

__ADS_1


Hari semakin siang. Tapi aku masih berada di dalam kamar mama bersama dengan Santi dan Bian. Revan membuka pintu kamar sambil membawa piring berisi makanan untuk ku. Aku sudah berusaha menolak. Tapi Revan tetap saja memaksa. Akhirnya aku pun membuka mulutku dan mengisi perutku dengan makanan itu walau pun terasa sangat malas sekali.


__ADS_2