
Tak berapa lama, mereka pun menuju sebuah hotel yang cukup terkenal di kota tersebut. Fasilitas di hotel tersebut pun sangat baik dan lengkap.
Revan berjalan ke arah resepsionis untuk reservasi kamar hotel. Aira hanya berjalan di belakangnya.
" Selamat malam, Selamat datang di hotel xxx. Ada yang bisa saya bantu?." ucap salah satu pegawai resepsionis dengan ramah saat melihat Revan berdiri di depan mejanya.
" Selamat malam. Saya mau reservasi kamar untuk 3 hari." ucap Revan kepada pegawai resepsionis yang masih muda dan cantik itu.
" Bisa saya lihat kartu tanda penduduknya, tuan." tanya wanita itu. Revan mengambil dompet di balik jaketnya dan mengambil kartu tanda pengenalnya.
Pegawai hotel tersebut terlihat mengutak atik komputer di hadapannya untuk memasukkan nama Revan dalam list reservasi hotel tersebut. Revan memberikkan debit card nya kepada pegawai tersebut untuk membayar.
" Ini kunci nya tuan. Silahkan. Kamar anda ada di lantai 3. Selamat malam. Semoga malam anda menyenangkan." tukas pegawai itu sambil menyerahkan kunci kamar kepada Revan. Revan pun tersenyum dan meraih kunci tersebut.
" Sudah?." tanya Aira. Revan mengangguk mengiyakan dan beranjak dari meja resepsionis itu.
" Ya sudah kalau begitu. Aku akan pulang sekarang. Kalau ada apa - apa, telepon aku saja." tukas Aira sambil melambaikan tangannya.
" Hei tunggu!. Kamu menginap saja disini bersama ku. Ini sudah malam. Nanti kalau ada orang jahat gimana." jelas Revan.
Aira menoleh ke arah Revan yang berdiri di belakangnya itu. Dia melirik tajam ke arah lelaki itu.
" Kalau aku menginap disini, akan lebih bahaya lagi." tukas Aira sebal. Revan terkekeh melihat Aira. Saat dirinya akan beranjak keluar dari hotel tersebut. Tiba - tiba hujan turun dengan sangat deras sekali. Aira mendongak ke atas menatap langit yang memancarkan kilat menyambar - nyambar.
__ADS_1
" Apa aku bilang. Kamu menginap disini saja. Di kasih tau ngeyel sih." ujar Revan mengejek sambil berkacak pinggang di belakang Aira.
Aira menatap kesal lelaki itu. Dia pun mendengus kesal dan beranjak masuk ke dalam hotel meninggalkan Revan yang masih berdiri di lobby hotel tersebut.
Revan berjalan cepat menyusul kekasihnya yang tengah kesal itu. Mereka berjalan menuju ke arah lift hotel tersebut. Revan menekan angka 3 tempat kamar nya yang sudah di reservasi.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift tersebut. Tampak sepi. Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift tersebut. Tiba - tiba Aira merasakan hawa dingin menyeruak membuat bulu kuduknya berdiri. Aira mengusap tengkuknya dan bergidik.
" Kenapa?." tanya Revan saat melihat kelakuan Aira yang absurd itu.
" Aku tiba - tiba merinding. Jangan - jangan ada hantu di sekitar kita." ucap Aira sambil celingukan takut.
" Ada - ada saja. Cuma perasaan mu saja." tukas Revan.
Tiingg ...
" 2033. Di sebelah mana ya." gumam Revan sambil terus mencari nomor kamar nya.
" Itu dia." seru Aira sambil menunjuk salah satu pintu kamar. Revan menoleh ke arah yang di tunjuk Aira lalu tersenyum. Mereka pun menghampiri pintu kamar tersebut. Revan membuka kamar tersebut dengan kunci yang berbentuk seperti card itu.
Klik ...
Pintu kamar pun terbuka. Lalu Revan menaruh kunci tersebut di tombol lampu dekat pintu kamar. Dan byaarr ... Lampu kamar pun menyala dengan sangat terang.
__ADS_1
Aira yang berdiri di depan pintu pun merasa takjub dengan kamar hotel yang di sewa Revan. Kamar nya sangat bagus sekali.
" Wwuuuuaaaahhhhh ... Bagus banget." seru Aira takjub. Revan tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Lelaki itu melepas tas dan jaketnya. Lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sangat empuk itu. Sementara Aira masih melakukan room tour pada kamar hotel tersebut.
Aira membuka pintu kamar mandi di sana. Dia tak henti berdecak kagum Kamar mandi hotel tersebut sungguh sangat bagus sekali. Revan yang melihat itu pun tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Dia pun memiliki ide untuk menggoda wanita itu.
" Sayang .... " panggil Revan dengan sangat manja. Aira yang namanya di panggil pun langsung menoleh ke arah Revan. Revan yang tengah berbaring di atas ranjang pun memiringkan badannya dan tersenyum menggoda ke arah Aira. Aira terdiam dan menatap wajah lelaki itu.
" Kamu sedang apa disana?. Kemarilah." tukas Revan sambil menepuk - nepuk kasur di sebelahnya.
" Tidak. Aku disini saja." tukas Aira sambil masih berdiri di depan kamar mandi.
" Sampai kapan kamu akan berdiri di situ?. Cepat kemari." seru Revan. Tapi Aira masih diam tak bergerak. Revan pun beranjak dari tempat tidurnya pun berjalan menuju Aira berdiri. Revan pun sudah berdiri di depan perempuan itu. Aira pun menunduk terdiam. Dia sangat canggung berada di kamar hotel berdua saja dengan Revan.
Revan menarik tangan Aira dan memeluk tubuh perempuan itu. Aira tercekat melihat kelakuan kekasihnya itu.
" Apa kamu takut?." tanya Revan di sela - sela dekapannya itu.
" Tidak. Aku hanya canggung saja." jawab Aira.
" Canggung??." tanya Revan heran. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
Revan melepas pelukannya. Dia menatap wajah Aira lekat - lekat lalu tertawa terbahak dengan sangat keras. Aira pun heran tak mengerti. Kenapa tiba - tiba Revan tertawa.
__ADS_1
" Memangnya kita mau ngapain?. Sampai kamu canggung begitu, hah." tanya Revan sambil menarik hidung Aira gemas. Aira pun menunduk malu. Lalu dia memeluk tubuh lelaki itu. Untuk menyembunyikan rasa malu nya. Revan pun membalas pelukan kekasihnya itu. Cukup lama mereka berpelukan. Rasanya mereka enggan untuk melepas kan tubuh mereka satu sama lain.
Malam ini begitu dingin karena hujan mengguyur deras di luar hotel. Tapi suasana di dalam kamar itu sangat hangat sekali.