
Setelah bertemu dengan Sheila, Aira bergegas menuju poli kandungan. Dia membuka pintu ruangan tersebut, terlihat sudah ada beberapa ibu hamil yang akan memeriksakan kandungan nya duduk menunggu di temani oleh suami mereka masing - masing.
" Selamat pagi bu, Boleh lihat kartu registrasinya?." tanya salah seorang perawat saat melihat kedatangan Aira.
Aira menyerahkan kertas tersebut dan duduk di ruang tunggu yang ada disana. Terlihat beberapa perawat berbisik dan memandang ke arahnya. Mungkin perawat yang tadi di beri tahu Revan sudah memberitahu teman - teman nya kalau dia istri seorang dokter tampan yang ada di dalam.
Revan duduk dengan tenang. Walaupun hatinya sedang gelisah. Sejak kemarin Revan bilang ada calon anak mereka di dalam perutnya itu. Dia begitu berharap. Karena dia memang sangat menginginkan kehadiran buah hati yang akan menjadi alasan kebahagiaan dan kesedihannya kelak.
Satu per satu perawat memanggil nama para pasien yang akan periksa kehamilan mereka. Aira tersenyum melihat perut gendut para calon mama tersebut. Membayangkan kalau perutnya juga akan gendut seperti itu.
" Loh nyonya Revan, sedang apa disini?." tanya dokter Radit saat baru memasuki ruangannya. Dia langsung duduk di samping istri sahabatnya itu.
Aira yang merasa canggung dengan panggilan itu pun hanya tersenyum malu. Dia tak begitu kenal dengan lelaki di sampingnya ini. Karena mereka bertemu pun hanya satu kali. Saat dirinya dan suaminya menikah.
" Mau periksa kandungan." jawab Aira.
Radit begitu terkesiap mendengar ucapan Aira. Dia langsung tergelak dengan senyum yang lebar. Dia sangat senang mendengar berita itu.
" Jadi kalian akan memiliki anak?." tanya Radit tak percaya. Aira hanya tersenyum.
" Kurang ajar dia!. Kenapa dia tak memberi tahu ku tentang kabar baik ini. Awas kamu ya!." ujar Radit kesal lalu berdiri dan berjalan menuju ruangan kerja Revan.
Aira hanya mengernyit kan keningnya. Dia tak begitu mengerti akan ucapan lelaki itu. Radit tanpa mengetuk pintu pun langsung membuka pintu ruangan sahabatnya itu. Revan yang sedang memeriksa pasien nya hanya melirik sebal melihat kelakuan temannya itu. Selalu saja begitu. Tak ada sopan santun nya.
" Hei keterlaluan kamu ya!. Kenapa ada kabar sebaik itu tak memberitahuku?. Kamu pikir aku ini apa, hah?." Radit mendengus kesal.
Pasien yang sedang di periksa oleh Revan pun hanya melongo melihat dokter yang baru masuk itu bicara nyerocos dengan nada mengajak bertengkar. Revan mendelik kesal.
" Jaga bicara mu!. Attitude mu dimana?. Datang tidak mengetuk pintu, sekarang malah ngomong gak berguna begitu. Keluar sana!. Aku sedang ada pasien!." ujar Revan kesal.
Radit tak memperdulikan ucapan sahabatnya itu. Dia meminta penjelasan langsung dari mulut sahabatnya itu. Perawat disana sudah khawatir kalau Revan akan marah melihat dokter Radit tidak keluar dari ruangan itu.
" Eehhmm dokter Radit silahkan keluar dulu. Dokter Revan sedang ada pasien." bisik lirih perawat itu. Radit menoleh ke arah perawat itu dengan tatapan tajam. Perawat itu pun menunduk saat melihat tatapan dokter Radit.
" Mohon maaf ya bu. Kalian harus menyaksikan drama seorang dokter." tukas Revan dengan senyum kepada pasiennya itu.
__ADS_1
Pasien tersebut tak mempermasalahkan itu. Dia begitu terkesima dengan senyum tampan dokter tersebut. Sambil mengelus perutnya, pasien tersebut berharap anaknya kelak bisa memiliki wajah setampan dokter yang memeriksanya tersebut.
Revan melirik ke arah Radit yang masih berdiri di samping perawat yang ada disana.
Cih, tak mau keluar juga rupanya. Bikin kesal saja. gumam Revan dalam hati.
Setelah selesai memeriksa pasien itu dan pasien itu pun telah keluar ruangan. Radit langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Revan. Sedangkan Revan masih tak perduli dan memeriksa rekam medis para pasiennya.
Radit mengetuk meja di hadapannya dengan jari nya. Revan mendongak mendengar itu. Di tatapnya wajah sahabatnya itu dengan tatapan dingin tak bersahabat.
" Apa?!." tanya Revan kesal. Radit tergelak mendengar itu.
" Hei!. Kenapa kamu begitu sih?. Aku kan hanya ingin penjelasan mu soal berita kehamilan istrimu itu." ujar Radit.
" Banyak alasan. Sekali lagi kamu begitu, ku cekik lehermu itu." tukas Revan kesal. Radit tertawa mendengar ucapan sahabatnya.
" Sus, panggil istri dokter Revan di depan. Aku mau lihat calon anak mereka." ujar Radit kepada perawat yang ada disana. Revan hanya menghela nafasnya melihat kelakuan temannya itu.
Perawat yang ada di dalam ruangan itu pun keluar. Mengambil rekam medis milik Aira lalu memanggil nama perempuan itu untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Aira hanya terdiam dan menatap wajah para dokter yang ada di sana. Wajah Revan tampak kesal. Jadi Aira hanya diam memandang suaminya.
" Jangan kaku begitu lah sama istri sendiri." seru Radit saat melihat wajah temannya itu. Revan menghela nafasnya.
" Terserah kamu lah." ujar Revan menyerah.
Perawat disana memeriksa tekanan darah Aira dan menimbang berat badan Aira. Setelah selesai, perawat disana membantu Aira untuk naik dan tidur di bed yang ada di sana. Karena Revan akan melakukan USG pada istrinya itu.
" Eeiitttsss ... Sesuai prosedur yang ada, istri mu gak boleh di periksa langsung olehmu. Harus di limpahkan kepada dokter lain agar tidak terjadi kesenjangan sosial." ujar Radit.
Revan berdecak kesal menatap temannya itu. Radit tersenyum menang dan menepuk bahu temannya itu.
" Dulu kamu pernah membantu pemeriksaan sampai istriku melahirkan. Kali ini, aku juga akan membantu istrimu. Biar sama - sama adil. Sekaligus aku juga mau bayar hutang kebaikan kepada mu." jelas Radit.
" Baiklah. Tapi jangan macam - macam sama istriku. Jangan pegang aneh - aneh." ancam Revan. Radit tergelak mendengar itu.
__ADS_1
" Tenang aja bro." jawab Radit. Radit berjalan menuju bed pemeriksaan.
" Nyonya Aira. Kita mulai ya ..." jelas Radit. Aira hanya mengangguk tersenyum.
Perawat disana membuka baju Aira di bagian perut nya dan Radit mengolesi nya dengan gel. Terasa dingin di kulit nya. Di tekannya perut Aira bagian bawah dan di putar - putar dengan stick. Terlihat sebuah kantung janin di layar USG itu.
Revan yang duduk di samping istrinya itu turut melihat apa yang ada di layar USG itu dengan cemas. Saat terlihat sebuah kantung hitam dalam perut istrinya senyuman di bibirnya terlihat. Di ciumi nya kening istrinya dengan lembut. Membuat perawat disana dan Radit temannya itu menahan senyum.
" Hei jangan pamer kemesraan di sini!!." seru Radit. Revan dan Aira tersenyum.
" Yap sudah terlihat kan. Itu tadi kantung janin nya sudah terlihat. Tapi ya gitu masih sangat kecil sekali. Perkiraan usia kandungan sekitar 4 minggu." jelas Radit.
" Selama ini ada flek atau merasakan sakit di perut bagian bawah?." tanya Radit kepada Aira.
" Tidak dok." jawab Aira.
" Bagus kalau begitu. Tolong di jaga baik - baik ya bayi dalam kandungan nya nyonya Aira. Dan untuk suaminya, tolong jangan berhubungan suami istri dulu. Karena usia kehamilan yang masih muda sangat rentan keguguran." jelas Radit sambil melirik ke arah Revan. Revan tergelak mendengar itu.
" Saya akan beri vitamin dan penguat kandungan." ujar Radit.
" Baik dok. Terima kasih." jawab Aira. Revan mengambil beberapa lembar tissue dan untuk membersihkan sisa gel yang ada di perut istrinya. Radit yang melihat itu menggelengkan kepala nya.
" Hei jangan pamer kemesraan!!." teriak dokter Radit kepada temannya itu.
" Biar saja. Kamu iri kan?." tanya Revan.
" Awas kamu ya!!." ujar Radit sambil menulis resep untuk Aira. Sementara Revan mengusap kepala istrinya lembut.
" Kamu senang?." tanya Revan.
" Iya. Senang sekali. Aku akan jadi ibu." jawab Aira. Revan tersenyum.
" Sayang. Aku mencintaimu." bisik Revan di telinga istrinya. Aira yang mendengar itu pun tersenyum. Radit hanya berdehem saat melihat kelakuan suami istri itu.
Dasar!!. Cuma nya bisa pamer saja. dengus Radit sebal.dan juga bahagia melihat temannya telah mendapatkan ke bahagiaanya.
__ADS_1