Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 7 Sebuah Rasa


__ADS_3

Hari ini pengambilan rapor kenaikan kelas. Nenek yang mengambil raporku. Dari dulu, mama selalu absen untuk menghadiri kegiatan apapun di sekolah. Bukannya dia sengaja, tapi memang dia tidak bisa. Perusahaan tempatnya bekerja sangat ketat dan disiplin. Kalau ada karyawan yang izin atau cuti pun konsekuensinya adalah pemotongan upah.


Mama sangat butuh uang untuk menghidupiku dan Santi. Terlebih lagi, sudah hampir lima tahun lebih ayah tidak mengirim uang lagi. Entah dia pergi kemana. Apa masih hidup atau sudah tiada. Tak pernah mengirim kabar.


Kami para siswa, menanti para orang tua di luar kelas dengan harap - harap cemas. Karena naik atau tidak naik kelas di tentukan hari ini. Terlebih lagi untukku. Aku takut kalau prestasi ku menurun dan aku tidak dapat beasiswa lagi. Karena kalau di lihat dari hasil ulangan akhir semester kemarin ada beberapa nilai mata pelajaranku yang turun.


Dini menghampiriku yang tengah duduk di depan bangku taman.


" Sendirian aja. Biasanya couple an." tanyanya. Aku mengerutkan dahi. Aku mengerti apa yang dia maksud.


Yaa selama ini semua teman - temanku tau, kalau aku selalu berada di sisi revan. Bukannya apa - apa, aku hanya minta dia menjadi guru privat aku tentang beberapa mata pelajaran yang tak ku mengerti. Aku juga butuh laptop dia untuk mengerjakan tugas.


" Mungkin dia ada di perpus." aku menjawab pertanyaan dini. Dini menyodorkan permen karet yang di ambil dari saku bajunya.


Pada jaman itu, permen karet sangat booming buat anak kalangan abg seperti kita. Kalau udah mengunyah permen karet, entah darimana datangnya, kita itu akan terlihat sangat keren dan seperti anak yang sangat gaul.


" Aku naik kelas apa enggak yaa... " ucap dini was - was.


" Pasti naik. Nilai ulangan kamu bagus - bagus kemaren." jawabku.


" Masih bagusan kamu." sanggah dini.


" Kamu gak cemas apa." tanyanya lagi. Aku menoleh ke arahnya.


" Heeemmm Aku tidak hanya cemas. Tapi aku takut." jawabku.


" Takut kenapa." tanyanya cepat.


" Aku takut tidak dapat beasiswa lagi. Kasian mama ku din. Dia sudah sangat pusing mengurusku dan Santi. Dengan beasiswa itu, setidaknya aku sedikit meringankan beban di pundaknya." jawabku. Dini menatapku lekat - lekat. Di peluknya tubuhku dari samping.


" Aku harap kamu dapat rangking 1." ucapnya. Aku tersenyum. Aku tau dini hanya menghibur ku. Aku tidak mungkin rangking satu. Aku tidak mungkin bisa menggeser Revan untuk turun dari podium prestasinya. Sangat mustahil mengalahkan anak se jenius dia.


Dari jauh, terlihat nenek menghampiriku. Aku melambaikan tanganku. Aku bersalaman mencium tangan nenekku, begitupun dini. Aku langsung merebut buku rapor di tangan nenek.


" Pelan - pelan dong." jawab nenek. Aku lihat nilai - nilaiku di sana. Cukup baik tak ada yang merah. Dan saat ku lihat kolom peringkat, ternyata aku peringkat 4. Naik satu angka dari semester pertama. Aku tersenyum girang. Dini pun ikut memelukku. Tiba - tiba nenek menjewer telingaku.


" Kata wali kelasmu, di kurangi ngomong saat pelajaran berlangsung. Kamu sering kedapatan asyik ngobrol sama dini di dalam kelas saat pelajaran berlangsung." jelas nenek. Aku mengadu kesakitan. Dan dini hanya cengar cengir melihat nenek.


" Iya iya nek. Aku janji gak bakal gitu lagi. Tapi ini di lepasin dong. Malu nek di lihatin temen - temenku." jawabku sambil melirik sekitar, banyak teman - temanku yang berbisik - bisik melihatku. Nenek pun melepas tangannya.


" Ya sudah nenek pulang dulu. Kamu mau ikut pulang apa masih ingin disini." tanya nya.


" Aku disini dulu ya nek." pintaku.


" Ya sudah. Nenek pulang dulu ya. Kasian santi di rumah nenek titipin ke tetangga." jelas nenek. Aku mengangguk. Aku puas melihat hasil rapor ku. Tak sia - sia selama ini aku harus kena semprot Revan kalo lagi mengerjakan tugas dan mengajari aku.


Revan berjalan di lorong sekolah. Aku dan dini memanggilnya. Dia menghampiri kami. Aku tampak sumringah melihatnya. Berkatnya aku bisa mendapat peringkat 4.


Saat di mendekat pada kami, aku langsung memeluk lengannya kuat. Revan tercekat melihat ku. Sementara dini malah senyum - senyum.

__ADS_1


" Makasih ya van. Makasih banget. Aku gak tau harus gimana untuk menebus semua kebaikan kamu." ujarku sambil terus memeluk lengannya. Revan menepiskan tanganku yang nempel di lengannya. Dia tersenyum risih. Aku langsung melonjak kaget.


" Maaf van, aku tadi gak sengaja. Aku terlalu seneng, jadinya kebablasan deh. " tukasku malu sambil menggaruk telingaku yang sebenarnya tak gatal. Revan mengangguk, dan dini melihat kami berdua senyum - senyum.


" Kamu kenapa din." tanya Revan.


" Kalian berdua pacaran yaa. Hayoo ngaku." tanya dini menyelidik. Seketika itu aku dan Revan membantah dugaan dini. Revan terlihat salah tingkah dan pergi meninggalkan kami. Dini melihat sikap lucu Revan langsung tertawa terbahak - bahak.


Entah sejak kapan, aku menaruh rasa kagum yang amat sangat kepadanya. Bagiku Revan itu istimewa. Dia pintar, tapi tak sombong untuk berbagi. Dia kaya, tapi tak segan untuk membantu sesama. Dia lumayan tampan, tapi tak malu tuk bergaul dengan semua anak - anak yang biasa - biasa saja.


Kalau berbicara tentangnya tak akan pernah ada habisnya. Semua kelebihan ada padanya. Aku senang berada di dekatnya. Lebih ke arah nyaman tepatnya.


Selama liburan kenaikan kelas, aku menghabiskan masa - masa liburanku untuk membantu nenek di rumah. Mulai mencuci baju hingga menjaga santi. Santi sekarang sudah mau memasuki sekolah dasar. Dia mulai ku ajari membaca, menulis, dan berhitung.


Tapi yang namanya santi, setiap kali di ajari dia selalu berlari keluar untuk bermain. Serasa hidup dia itu hanya untuk bermain terus. Saat duduk sendirian menjaga santi bermain. Entah mengapa aku mulai merindukan Revan. Ingin sekali aku ngobrol dengan nya. Revan pernah meminta nomor telepon ku. Tapi aku yang hidup pas - pas an ini mana punya telepon genggam layaknya teman - teman ku. Mana berani aku meminta mama membelikan hal semacam itu. Untuk makan saja kita kurang. Apalagi membeli barang yang sangat mahal pada saat itu.


Aku menghela nafas. Ku panggil Santi dan ku ajak pulang ke rumah. Karena waktu udah tengah hari. Waktunya santi makan dan tidur siang. Karena nanti sore harus pergi mengaji.


Dua minggu pun berlalu. Saatnya kembali lagi bersekolah. Aku sudah naik ke kelas 8. Aku harus lebih giat lagi belajar. Karena pelajaran sudah semakin bertambah sulit.


Setiap kenaikan kelas, pasti semua anak sekolah mendapat sepatu baru, tas sekolah baru, atau buku tulis baru. Tapi tidak dengan ku. Semua yang ku pakai sama seperti semester pertama dulu. Tak ada yang baru. Bahkan buku tulisku pun masih menggunakan yang lama. Aku gak berani meminta mama suatu hal yang lebih. Aku gak mau membebaninya.


Saat tiba di halaman sekolah, ku parkirkan sepedaku di tempat biasa. Terlihat sepeda dini juga sudah ada di sana. Aku memasuki sekolah, semua siswa berkumpul di depan mading sekolah.


Di sana ada pengumuman kelas baru buat para siswa. Pihak sekolah mengacak tempat duduk kita lagi. Saat ingin mendekati mading, seseorang menarik tangan ku.


" Revan ... " seru ku kaget.


" Disini kelasmu." jelasnya sebelum aku sempat menjawab.


" Kita satu kelas lagi." tanyaku. Dia mngangguk mengiyakan. Aku tersenyum girang. Ku lihat kiri dan kanan, dimana dini. Seakan Revan tau apa yang sedang aku cari. Dia menghela nafas panjang,


" Dini gak sekelas dengan kita. Dia ada di kelas sebelah." jelasnya.


" Yaaahhh .... Aku duduk dengan siapa dong." tanyaku lesu. " Yah kamu cari teman lagi lah. Masih banyak tuh teman - teman. Emang teman mu hanya dini doang." jawabnya sambil menunjuk anak - anak yang mulai duduk di bangku mereka masing - masing.


Aku mencari teman yang kiranya mau duduk denganku. Tapi mereka semua songong. Tidak ada yang mau duduk sebangku dengan ku. Aku pun menghela nafas panjang. Akhirnya aku duduk di bangku kosong di belakang sendiri.


Revan yang duduk di bangku urutan ketiga memandangku. Di tariknya tanganku, dia menyuruh ku duduk sebangku dengan nya. Aku pun menolak. Tapi dia terus menarik tanganku. Adegan tarik menarik masih berlangsung sengit.


Akhirnya ketika aku mulai ingin mengalah dan ingin berdiri, Revan malah menarik tanganku dengan kuat. Kami berdua jatuh terjerembab di lantai. Kepalaku terbentur kaki meja, sangat sakit sekali. Sedangkan Revan langsung jatuh ke lantai dan kepalanya membentur lantai sekolah dengan keras. Dia meringis kesakitan. Tapi untung tak ada yang terluka. Semua siswa yang melihat adegan ini bersorak sorai.


" Ciiyyyeeee ... Cuuiitt cuuiiittt .... " teriak mereka sekelas kompak. Revan mendudukkan badannya dan masih memegangi kepalanya yang nyeri. Ku pukul dada Revan karena membuat kita jatuh ke lantai. Dia meringis menepis tanganku. Kami duduk berhadapan di lantai, dan kami pun tersenyum menatap satu sama lain.


" Dasar bodoh." cibirnya lalu tersenyum.


Saat aku duduk sebangku dengannya, banyak anak - anak perempuan di kelas kami yang menatap kita sinis. Aku pernah sedikit mendengar, mereka menyebutku munafik lah, perempuan gatel lah, atau hanya mencari sensasi. Aku diam saja mendengar ejekan mereka itu. Bagiku tidak penting harus meladeni cibiran mereka. Hanya buang - buang waktu.


Suatu ketika, saat aku mengerjakan tugas sekolah seperti biasa di kelas dengan Revan, ada seorang kakak kelas datang ke kelas kami lalu dia memberikan Revan sebuah surat. Kakak kelas tadi menatapku dengan tatapan sinis. Seakan dia ingin bilang dengan tatapannya itu.

__ADS_1


Siapa sih loh, berani banget deket - deket Revan.


Revan hanya terdiam dan menatap surat itu di depannya. Kakak kelas itu pun pergi meninggalkan kelas. Entah mengapa, aku kesal melihat surat yang ada di depan Revan itu.


" Tuh dapat surat tuh. Kenapa di anggurin aja sih." seruku dengan nada kesal. Revan tak bergeming.


" Kalau kamu penasaran, buka aja sendiri. Aku males." jawabnya masih sambil mengetik tugas pelajaran sejarah yang kita kerjakan dari tadi. Aku memakan permen karet yang di kasih Revan tadi. Aku yang penasaran, akhirnya meraih surat itu dan membukanya. Yaapp seperti dugaan semula. Itu surat cinta.


***Dear revan ...


Haaii revan .. Mungkin kamu sudah kenal aku sebelumnya. Aku sheren, anak kelas 9C . Sudah lama aku memperhatikanmu. Saat kamu ada di perpustakaan atau saat sedang bermain bola basket pada jam istirahat. Aku ingin mengenal kamu lebih dekat. Aku harap kamu memahaminya. Ini nomer ponsel aku. Catat yaa 08227686**** . Aku tunggu sms dan telepon darimu.


Nb: Aku tidak menerima penolakan*** !!!


Begitulah isi dalam surat tersebut. Aku tadi membaca surat tersebut cukup keras agar Revan mendengarnya. Tapi ekspresi Revan handa datar saja.


Tak ada tanda - tanda tertarik atau apa kek. Aku menghela nafas panjang. Terasa ada yang nyeri di dadaku. Aku menatap wajah Revan yang masih mengetik tugas itu. Sudah 4 orang yang mengirim surat cinta kepadanya. Tapi tak satu pun di respon olehnya.


" Van ... " seruku sambil memainkan bolpoin di jariku.


" Hmmmm ... " jawabnya sambil terus mengetik.


" Tipe pacar kamu seperti apa sih." tanyaku sambil masih menatapnya. Dia melirikku sambil terus mengetik tugas.


" Gak tau." jawabnya singkat. Aku berdecak kesal.


" Kamu ini. Masih sekolah juga mikir pacaran mulu. Gak ada manfaatnya tau." jelasnya lagi.


" Ck!! Kamu ini terlalu kaku. Katanya yaa masa seperti kita ini mulai pacaran. Yaa walaupun masih cinta cinta monyet." seruku mengingat - ingat sebuah artikel dalam majalah yang ku baca.


" Kamu tuh monyetnya." jawab Revan sambil mencubit pipiku. Aku memonyongkan bibirku.


Setibanya aku dirumah, aku masih memikirkan surat tadi siang. Apakah Revan akan menghubungi kakak kelas itu yaa.. gumamku dalam hati. Hari itu aku beteeee banget. Rasanya malas untuk berbuat apapun.


Mama menatapku yg masih duduk termenung di teras rumah. Mama menghampiriku yang tengah duduk sambil membawa buku. Tapi sedari tadi tak ku baca sama sekali buku itu. Mama membelai rambutku lembut. Aku tersentak kaget melihat mama sudah duduk di depanku.


" Kamu lagi mikirin apa." tanya mama lembut. Aku menunduk dan terdiam.


" Lagi mikirin pacar." tanya mama lagi. Aku tercekat dengan pertanyaan mama. Mama tersenyum kepadaku, lalu memelukku dari samping. Di sandarkannya kepala ku di dadanya. Tangan mama masih mengusap lembut pangkal kepalaku.


" Ra ... Mama boleh minta tolong gak." tanya mama kepadaku.


" minta tolong apa ma." jawabku.


" Mama minta aira fokus ke sekolah dulu yaa. Jangan fokus ke lain - lain yang dapat mengganggu pelajaran kamu." jelas mama. Aku masih terdiam.


" Mama ingin, Aira belajar yang rajin. Mama ingin Aira jadi anak yang pintar. Jangan main pacar pacaran dulu ya sayang." jelas mama lagi. Aku mengangguk perlahan. Mama mencium pangkal rambutku. Dan masih memeluk erat tubuhku.


Aku mengerti apa maksud mama. Aku tidak akan membuat mama kecewa. Aku akan menuruti apa pun keinginan mama. Aku akan membuat mama bangga memiliki anak sepertiku. Aira janji ma.

__ADS_1


~ Happy reading ~


__ADS_2