
Hari sudah menjelang petang. Atmaja dan cucunya tengah menonton televisi di ruang keluarga. Sementara Amanda sedang membantu mbok sum di dapur. Terlihat Revan turun dari tangga mengenakan jaket dan membawa kunci mobilnya. Dia baru saja mendapat pesan dari toko perhiasan yang kemarin dia datangi bersama Aira. Pegawai toko perhiasan itu mengabari kalau pesanan cincin Revan telah selesai dan siap di ambil.
Atmaja menatap wajah putra nya tersebut. Revan hanya diam dan berlalu pergi. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang menyala dan berlalu pergi. Ayah dua anak itu pun menghela nafas panjang dan berpikir keras. Sampai kapan anaknya itu kembali seperti dulu.
Revan melajukan mobilnya dengan cepat. Tak selang berapa lama dia pun sampai di toko tersebut. Pramuniaga disana pun tersenyum saat melihat Revan. Revan pun menyerahkan nota yang di bawa nya kepada pramuniaga itu.
" Tuan Revan tunggu sebentar, akan kami ambilkan pesanan anda." seru salah satu pramuniaga disana. Revan pun mengangguk mengiyakan. Sambil menunggu pesanannya diambil, Revan pun berkeliling melihat deretan perhiasan yang terpajang cantik di etalase toko tersebut. Pandangan Revan pun tertuju pada salah satu gelang emas yang bertabur batu permata disana. Dia pun tersenyum melihat gelang itu.
" Mbak saya mau lihat gelang itu." pinta Revan sambil menunjuk gelang yang sedari tadi di lihatnya. Pramuniaga disana pun mengambil gelang tersebut dan meberikannya kepada Revan.
" Gelang itu model terbaru di toko kita tuan. Hanya ada satu. Sengaja khusus di buat hanya satu unit." jelas pramuniaga disana.
" Gelang ini sungguh cocok di pakai Aira. Modelnya pun simple." gumam Revan dalam hati sambil memandangi gelang tersebut.
" Bungkus yang ini sekalian mbak." jelas Revan. Pramuniaga disana pun menaruh gelang tersebut dalam suatu kotak yang cantik lalu memasukkannya ke dalam paper bag. Revan mengeluarkan debit card nya untuk membayar perhiasan yang di beli nya tadi.
" Ini tuan cincin pesanan anda." ujar pramuniaga yang tadi mengambilkan cincin Revan di dalam dan membuka kotak perhiasan itu dan menunjuk kan sepasang cincin yang tempo hari Aira pilih. Revan tersenyum melihat cincin itu. Setelah selesai, Revan pun beranjak dari toko tersebut.
Saat di tengah perjalanan dia menghubungi nomor telepon Aira. Tapi nomor tersebut sedang tidak aktif. Revan pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah Aira.
Sementara Aira dirumah tengah duduk di atas tempat tidurnya. Dia pun duduk dengan kaki di tekuk dan wajahnya di sandarkan di atas lutut tersebut. Wajah Revan masih terbayang di matanya. Dia sudah berusaha melupakan lelaki itu sekuat tenaga. Tapi yang ada malah bayang - bayang lelaki itu selalu hadir disana.
" Kenapa kamu tega sama aku Van?." gumam Aira lirih.
" Kamu bawa aku terbang jauh kelangit luas. Tapi kamu juga yang melepas dan menghempaskan aku begitu saja." imbuhnya. Dia tidak menangis. Karena dia sudah sangat lelah dari kemarin menangis terus.
Tookk .. Tookk .. Tookk ..
Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Aira menoleh ke arah pintu.
" Mbak ... Ayo makan dulu mbak. Mbak dari tadi pagi belum makan sama sekali loh. Nanti sakit mbak." Seru Santi dari luar pintu.
__ADS_1
" Mbak gak laper dek." jawab Aira yang masih tak beranjak dari duduknya. Santi menghela nafas mendengar jawaban dari kakaknya itu.
Revan pun tiba di rumah Aira. Rumah itu terlihat sepi dengan pintu rumah yang terbuka lebar. Saat berdiri di depan pintu depan, terlihat televisi yang ada di ruang tamu itu menyala. Saat Revan akan mengetuk pintu rumah tersebut, Santi tiba - tiba keluar dari dalam dan tercekat saat melihat Revan yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
" Mas Revan." seru Santi. Revan pun tersenyum dan langsung masuk begitu saja tanpa di persilahkan oleh tuan rumah.
" Ada apa mas kesini?." tanya Santi.
" Aira ... Ada dimana?." tanya Revan lirih.
" Ada di kamar. Dari tadi pagi sampai sekarang mengurung diri di kamar gak keluar sama sekali." jawab Santi. Revan pun terdiam mendengar ucapan Santi. Santi menatap wajah lelaki di depannya.
" Mas .. " seru Santi. Revan menoleh ke arah Santi.
" Sebenarnya gimana sih perasaan mas Revan sama mbak Aira?." tanya Santi kesal.
" Mas Revan beneran cinta gak sih sama mbak Aira?." imbuh adik iparnya itu. Revan pun tersenyum mendengar pertanyaan Santi.
" Tanpa kamu bertanya pun, kamu sudah tau jelas jawaban nya Santi." ujar Revan.
" Kalau mas Revan beneran cinta sama mbak Aira, tolong bahagiakan dia. Jangan sakiti dia." jelas Santi. Revan serasa mendapat angin segar dari ucapan Santi. Santi benar, dia harus memperjuangkan cinta nya.
" Boleh aku menemui mbak mu?." pinta Revan.
" Masuk aja. Mbak Aira dari tadi pagi belum makan. Siapa tahu kalau mas Revan yang bujuk dia mau makan." jelas Santi. Revan pun langsung beranjak masuk ke dalam rumah tersebut dan menghampiri kamar Aira.
Tookk .. Tookk .. Tookk ...
Pintu kamar nya kembali di ketuk. Aira berdecak kesal. Apa Santi tidak bisa di ajak ngomong pake bahasa manusia, gumamnya dalam hati. Pintu kamar itu pun kemabali di ketuk. Kali ini ketukannya sedikit lebih keras.
" Sudah aku bilang aku gak la ... par." Aira tercekat saat melihat Revan yang ada di balik pintu kamarnya. Seketika itu Aira langsung menutup pintu kamar tersebut. Tapi tangan Revan berhasil menahan pintu tersebut. Terjadi lah aksi dorong mendorong pintu kamar.
__ADS_1
" Mau apa lagi kamu kesini, hah. Apa kamu tuli, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." seru Aira sambil berusaha menutup pintu tersebut. Tapi tangan Revan begitu kuat menahan pintu kamar tersebut.
" Aku ingin bicara dengan mu Aira. Tolong jangan tutup pintu nya." jelas Revan. Tenaga Aira pun tak sebanding dengan Revan. Akhirnya pintu kamar tersebut berhasil di buka oleh Revan.
" Mau apa lagi. Pergi dari sini. Pergi ... " seru Aira. Revan yang melihat Aira begitu pun langsung memeluk tubuh perempuan itu. Aira meronta - ronta dan berusaha melepas pelukan Revan. Tapi semakin dia bergerak, tubuh Revan semakin kuat mendekapnya.
Aira pun terpaksa diam tak bergerak. Dia sudah letih mencoba melepaskan diri dari Revan. Revan yang merasa tubuh kekasihnya itu diam pun perlahan melepas pelukannya. Di tatapnya wajah perempuan itu. Sedikit pucat dan sendu. Ada kantung mata yang besar dan hitam disana.
" Apa yang ingin kamu bicarakan?. Cepatlah. Setelah itu pergilah." ujar Aira datar. Revan pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku nya. Lalu dia membuka kotak tersebut. Di dalam kotak tersebut terdapat sepasang cincin yang tempo hari Aira pilih.
Aira tertegun melihat cincin itu. Dia lalu menatap wajah Revan.
" Apa maksud mu Revan?." tanya Aira tak mengerti.
" Kamu tentu ingat dengan cincin ini." seru Revan. Aira pun terdiam.
" Menikah lah dengan ku Aira." ujar Revan. Aira pun menatap wajah Revan dengan tatapan tajam.
" Asal kamu bilang iya. Aku gak perduli lagi dengan keluarga ku Aira. Aku akan meninggalkan mereka demi kamu." jelas Revan.
" Jangan gila Revan." tukas Aira.
" Apanya yang gila. Justru aku bisa gila Aira jika tak bersama dengan mu. Aku mencintai mu. Aku ingin sekali bersama denganmu." jawab Revan.
" Katakan kalau kau juga mencintai ku. Katakan Aira." pinta Revan. Aira pun hanya terdiam. Walau bibirnya berkata tidak, tapi hatinya berkata lain. Dia juga sangat mencintai lelaki tersebut.
" Ayo kita menikah. Kalau perlu sekarang juga ayo kita pergi ke penghulu. Kita minta mereka menikah kan kita sekarang juga." ujar Revan. Aira semakin pilu saat mendengar Revan berkata seperti itu.
" Pulang lah Revan. Aku tidak ingin melihatmu." tukas Aira. Revan menarik lengan Aira dengan kuat. Sehingga sekarang tubuhnya dan tubuh Aira begitu dekat. Tidak ada lagi jarak diantara mereka. Tanpa pikir panjang, Revan pun ******* bibir Aira dengan keras. Aira pun menolak dan meronta. Tapi sekali lagi, semakin Aira bergerak Revan pun semakin kuat mencium bibirnya. Akhirnya Aira pun diam dan mengikuti setiap gerakan bibir revan. Dia pun membalas ciuman lelaki itu. Revan yang tadi nya memejamkan matanya, dia pun membuka mata tersebut. Ketika melihat Aira yang membalas lumatan bibirnya. Dia pun menikmati kembali bibir perempuan itu.
Ciuman mereka pun begitu menghanyutkan. Kedua insan itu pun begitu menikmati setiap lumatan bibirnya. Saat merasa ciuman keduanya mulai panas, Revan pun melepas ciuman bibirnya. Dia takut kalau nanti nya dia semakin tak bisa mengendalikan nafsu nya itu. Di lihatnya Aira masih terpejam. Revan mengusap bibir perempuan itu dengan lembut. Lalu mengecupnya sekilas. Aira membuka matanya di lihat nya lelaki itu tersenyum menatapnya. Dia pun membuang muka nya ke segala arah untuk mengalihkan rasa malu nya itu. Revan pun langsung mendekap wanita itu dengan erat. Aira pun memeluk pinggang lelaki itu dengan erat.
__ADS_1
~ **Happy reading ~
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa** ...