
Atmaja sering memberikan buku atau potongan artikel - artikel tentang apapun untuk di baca sekaligus di diskusi kan dengan Kinanti. Itulah yang membuat Kinanti dan Atmaja memliki daya tarik tersendiri di mata mereka.
" Kinan!!." seru seorang gadis cantik dengan rambut yang selalu di kepang dua itu. Kinanti yang namanya di panggil pun menoleh dan tersenyum ke arah gadis itu.
" Ifah. Kamu sudah pulang dari les?." tanya Kinanti. Gadis cantik itu pun tersenyum. Namanya Asifah. Dia teman bermain Kinanti dari kecil. Mereka pun juga satu sekolah dan selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
Walaupun Ifah anak dari keluarga berada tapi dia bukan seorang gadis yang sombong. Dia seorang gadis yang sangat baik dan ramah. Dia sering membantu orang yang membutuhkan apapun pertolongan darinya. Dia pun menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan yang tak jauh dari rumahnya dengan uang tabungan nya sendiri.
Ifah merupakan anak tunggal dari seorang yang cukup terpandang di kampung mereka. Ayah Ifah seorang Mantri di kampung tersebut. Sedangkan ibu Ifah seorang wakil camat di kampung tersebut. Ibu dan ayahnya begitu menyayanginya. Apapun yang di inginkan Ifah, mustahil tidak terwujud.
" Ehh ada mas Atmaja. Tidak kuliah mas?." tanya Ifah dengan tersipu malu. Atmaja tersenyum melihat gadis itu.
" Susah pulang." jawab Atmaja.
Entah sejak kapan, Ifah menaruh hati dengan Atmaja. Dia begitu senang saat bertemu lelaki itu. Karena memang Atmaja terkenal tampan di antara teman - teman mereka dan kalangan para pemuda di kampung tersebut.
Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama. Saat Atmaja mengajak Kinanti untuk pergi jalan - jalan ke pasar malam atau sekedar jajan wedang ronde maupun bakso. Kinanti selalu mengajak Ifah.
Bukan apa - apa, Kinanti sendiri pun sedikit takut dan malu kalau hanya jalan berdua dengan Atmaja. Apalagi kalau mendengar gosipan para tetangga yang bukan - bukan untuknya. Maka dari itu, untuk menghindari hal - hal yang seperti itu. Kinan selalu mengajak Ifah kemana pun mereka pergi. Dan Atmaja pun tak merasa keberatan dengan itu.
Saking seringnya mereka bertemu, akhirnya menumbuhkan benih - benih cinta di antara ketiga nya. Kinanti melihat Atmaja sebagai lelaki yang tegas, bijaksana, dan hangat. Dia pun mulai menaruh hati dengan laki - laki itu.
__ADS_1
" Aku suka dengan mas Atmaja." tukas Ifah kepada Kinanti suatu hari itu. Kinan yang sedang duduk di hamparan rumput yang hijau pun langsung menoleh ke arah gadis yang tersipu malu itu.
" Kinan, bantu aku untuk bilang ke mas Atmaja. Aku malu jika harus mengatakannya sendiri." pinta Ifah kepada sahabatnya itu.
Kinanti hanya diam tak bergeming. Seperti ada yang melempar kepalanya dengan ribuan batu. Sakit. Rasanya sangat sakit sekali saat mendengar ucapan Ifah kala itu.
" Kinan kamu kenapa?. Kenapa kamu diam aja?." tanya Ifah saat melihat sahabatnya itu hanya diam memandangnya.
" Eehh enggak. Aku gak apa - apa kok." ujar Kinanti menepiskan senyum di bibirnya.
" Gimana?. Kamu akan membantu ku kan?." tanya Ifah penuh harap. Mata gadis itu begitu berbinar saat membicarakan tentang Atmaja. Kinanti pun mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
" Iya. Aku akan bantu kamu." jawab Kinanti.
Akhirnya suatu sore yang sangat cerah. Kinanti meminta Atmaja untuk menemui nya di suatu tempat biasa mereka bertemu. Atmaja yang kala itu pun merasa senang saat tau Kinanti memintanya bertemu hanya berdua saja. Dia juga ada suatu hal yang akan di bicarakan dengan gadis itu.
Terlihat gadis itu duduk di sebuah hamparan rumput yang hijau dengan rambut panjang terurai. Atmaja pun tersenyum saat melihat Kinanti sudah datang menunggunya.
" Kinan." seru Atmaja kepada gadis itu. Kinanti pun menoleh ke arah lelaki yang memanggilnya. Atmaja datang dengan membawa setangkai mawar merah yang baru di belinya tadi saat perjalanan untuk menemui gadis itu.
" Ini untukmu." jelas Atmaja. Kinanti menatap wajah lelaki itu lekat - lekat. Sedangkan Atmaja hanya menatapnya dengan senyum.
__ADS_1
" Sejak lama aku ingin memberitahumu soal perasaanku. Tapi baru sekarang aku memberanikan diriku." tukas Atmaja. Kinanti masih diam tak bergeming.
" Kinan, maukah kamu menjadi kekasihku?." tanya Atmaja.
" Aku sejak lama memendam perasaan terhadapmu. Aku ingin menjadi seorang lelaki yang kamu cintai sebagai kekasih. Bukan sebagai kakak. Kamu mau kan menerima perasaanku ini?". tanya Atmaja lagi sambil menatap wajah ayu Kinanti. Kinanti hanya diam tak bersuara.
Dia ingin sekali berkata, Aku juga mempunyai perasaan yang sama terhadapmu. Tapi dia sudah terlanjur berjanji kepada Ifah. Kalau dia akan membantu Ifah untuk menyatakan perasaan nya. Dia tidak ingin mengkhianati sahabat sejak kecilnya itu.
" Kinan kenapa kamu diam saja. Kamu mau kan menerima ku menjadi kekasihmu?." tanya Atmaja lagi. Kinanti menepiskan senyum di bibirnya. Gadis itu meraih bunga yang di berikan lelaki itu. Atmaja pun tampak senang melihat apa yang di lakukan gadis itu. Lalu tiba - tiba Kinanti membuang setangkai mawar tersebut ke tanah. Atmaja begitu terkesiap melihat itu.
" Mas Atmaja. Kau salah paham terhadapku. Aku sedikit pun tidak pernah menaruh hati terhadapmu. Aku hanya menganggap mu sebagai kakak dan teman. Tidak lebih." jawab Kinanti. Atmaja tercekat mendengar ucapan gadis itu. Seperti ada yang menyayat di hatinya. Atmaja terdiam menatap wajah Kinanti.
" Lalu?. Untuk apa kau mengajak ku bertemu berdua?. Lalu?. Apa maksud semua perhatian dan arti senyuman dan sorot matamu selama ini terhadapku?. Kamu mempermainkanku hah?." tanya Atmaja tak terima cinta nya di tolak mentah - mentah. Kinanti menatap wajah Atmaja dengan senyuman sinis.
" Itu bukan salahku. Itu salah mu sendiri. Kenapa kamu menyalah artikan semuanya?. Kenapa kamu menggunakan perasaanmu?." ujar Kinanti dengan ketus. Atmaja begitu terkesiap mendengar itu. Dia pun begitu kecewa dan marah dengan ucapan Kinanti.
Tidak pernah sekalipun Kinanti berbicara seperti itu kepada siapa pun. Dia tidak pernah berkata kasar ataupun menyakiti perasaan orang selama ini. Apalagi kepada lelaki di hadapannya ini. Dia tidak pernah berpikir sedikit pun untuk berkata kasar di hadapan lelaki yang di cintainya ini. Tapi dia sudah berjanji dengan Ifah. Dia berjanji untuk membantu gadis itu menyatakan perasaannya kepada Atmaja. Jadi dia sendiri yang akan mengubur perasaannya itu dalam - dalam terhadap lelaki ini.
" Baik. Baiklah jika seperti itu. Kurasa kita tidak punya alasan untuk bertemu lagi kelak." ujar Atmaja. Kinanti begitu terkesiap mendengar itu. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Dia ingin selalu melihat lelaki yang di cintainya ini.
" Aku tidak akan menemui mu lagi. Aku tidak akan meminta mu untuk bertemu denganku lagi. Terima kasih. Terimah kasih Kinan. Terima kasih kau telah menghancurkan hatiku." ujar Atmaja lalu beranjak pergi dari sana. Kinanti menoleh ke arah Atmaja. Lelaki itu sudah melangkah pergi membawa kekecewaan dan sakit hati penolakan darinya. Kinanti jatuh terduduk di tanah. Dia menangis sejadinya disana. Dia menangisi kepergian lelaki yang di cintainya itu. Dia menangis sambil memukul - mukul dadanya yang terasa begitu sesak rasanya.
__ADS_1
" Mas Atmaja. Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu. Aku sungguh tak bermaksud menyakitimu. Tapi aku juga menyayangi Ifah sahabatku. Aku tidak ingin membuatnya kecewa dan bersedih. Maafkan aku mas. Maaf." ujar Kinanti sambil terus menangis.
Tapi Atmaja sudah menghilang dari pandangan matanya. Lelaki itu sudah pergi jauh dari hadapannya dengan membawa luka dan sakit hati yang telah dia berikan.