
Di saat kita semua, Aku, nenek, Santi, mama dan Bian sedang berkumpul di ruang tamu. Beberapa kali Revan menghubungi ponsel Aira. Tapi berhubung ponsel tersebut berada di kamar, jadi tak ada jawaban dari pemiliknya.
Hati Revan semakin gusar saat melihat tak ada satu pun panggilan darinya yang di terima oleh kekasihnya itu. Dia teringat akan kejadian semalam.
Apakah Aira masih marah?!. Atau dia sungguh - sungguh dengan ucapannya kemarin?. Enggak. Ini gak boleh terjadi. Aku harus ketemu dengannya. Aku harus menyakinkan dia bahwa aku bisa membujuk papa dan kak Reihan untuk menerima nya. Aaahhh kenapa aku jadi se frustasi ini. Gumam Revan dalam hati nya.
Jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore. Dia meraih tas dan ponselnya itu. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan tempat kerjanya tersebut.
Di dalam perjalanan dia begitu risau. Dia takut Aira benar - benar ingin berpisah dengan nya. Dia tidak siap dengan segala kemungkinan terburuknya.
Saat menuju rumah Aira. Revan melihat ada toko bunga di pinggir jalan dekat rumah nya. Dia pun meminggirkan mobilnya dan berhenti tepat di depan toko bunga itu.
Begitu banyak bunga yang di jual di sana. Ia ingin membeli bunga lili. Tapi apakah Aira suka lili??. tanya nya dalam hati. Dia melihat mawar disana. Dia yakin semua perempuan suka dengan bunga mawar. Akhirnya dia membeli beberapa tangkai bunga mawar merah muda yang di rangkai dengan beberapa bunga lavender, akar dan daun disana membentuk sebuah bucket bunga yang sangat cantik.
Setelah selesai Revan membawa bucket bunga itu ke dalam mobil. Dia menaruh bucket bunga itu dengan hati - hati di samping nya. Dia tersenyum sendiri melihat bunga di sampingnya.
" Kenapa kamu sungguh norak sekali sih, Van. Kamu yakin Aira akan suka dengan bunga ini?!. Seharusnya kamu berikan dia bunga deposito yang banyak. Bukan bunga beginian. Bodohnya aku ... " gumam Revan sendirian di dalam mobil. Dia tak berhenti merutuki kebodohannya.
Mobilnya telah sampai di depan gang rumah Aira. Revan memarkirkan mobilnya. Dia masih memandangi bucket bunga tersebut. Dia enggan untuk membawa bucket itu. Dia takut Aira semakin ilfeel dengan sikapnya itu.
Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar. Lalu dia mengambil bucket yang ada di samping nya lalu membawa nya menuju rumah Aira.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Aira, banyak tetangga Aira melihat nya dan berbisik membicarakannya. Ada yang memuji ketampanannya, ada yang mencibir sikap noraknya dan masih banyak lagi. Namanya aja ibuk - ibuk tetangga. Pasti rumpi nya itu gak tahan.
Dia telah sampai di depan rumah Aira. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya lagi. Dia memutuskan untuk melangkah menuju halaman rumah Aira. Terlihat pintu rumahnya terbuka lebar. Ada banyak sandal disana. Mungkin ada tamu, pikir Revan.
" Assalamualaikum ... " seru Revan mengucap salam dari luar.
" Waalaikumsalam ... " semua orang di rumah itu serentak membalas salam itu.
Santi pun berdiri melihat siapa tamu yang datang itu. Dia melihat Revan tersenyum ke arahnya dan membawa bucket bunga mawar yang lumayan besar dan sangat cantik.
" Mas Revan ... Ayo masuk mas." seru Santi sambil tersenyum melihat kelakuan pacar kakaknya yang sedikit norak tapi lucu itu.
" Iya terima kasih san. Apa ada tamu." tanya Revan penasaran melihat banyak sandal di depan rumah.
" Masuk aja. Ntar juga tau." tukas Santi.
Revan pun melepas sepatu nya dan mengikuti langkah Santi masuk ke dalam ruang tamu.
" Siapa san?." tanya mama nya.
" Calon mantu." jawabnya singkat sambil melirik ke arah kakaknya.
Aira terlonjak kaget mendengar ucapan Santi. Dia pun segera bangun dari tidurnya. Dan Revan pun telah masuk ke dalam ruang tamu. Di situ dia melihat ada mama nya Aira dan juga nenek nya.
Revan tersenyum canggung lalu mengulurkan tangan nya memberi salam kepada dua perempuan itu. Kinanti, mama Aira tersenyum melihat Revan yang datang. Aira melongo melihat Revan membawa bucket bunga di tangannya.
" Revan ... Itu bunga buat siapa?!." tanya Aira heran.
" Ya buat kamu lah nduk. Masa' buat nenek." sahut nenek Aira menggoda.
Revan tersenyum malu mendengar godaan dari nenek Aira. Aira tersenyum garing melihat tingkah Revan yang semakin hari semakin aneh itu.
" Ini ... Bunga buat kamu." ucap Revan sambil memberi bucket bunga kepada Aira.
__ADS_1
Terlihat Santi menahan tawa nya melihat adegan itu. Nenek Aira pun tergelak menahan tawa menyaksikan kemesraan cucu nya ini.
" Huusss ... Santi bikin minum sana. Ada tamu kok di anggurin." tukas mama nya mencairkan suasana agar Revan dan Aira tidak canggung.
" Heemmm nak Revan ini dari mana." tanya mama Aira melihat penampilan Revan yang masih rapi dengan kemeja.
" Oohh saya baru pulang dari rumah sakit, tante." jawabnya gugup.
" Kok tante. Mama. Panggil mama. " ujar nenek Aira. Kinanti, Aira, dan Revan tercekat mendengar ucapan neneknya itu.
" Buk .... " seru kinanti pada ibu nya itu. Tatapannya mengisyaratkan jangan memaksa kehendak anak begitu.
Nenek Aira terdiam melihat tatapan Kinanti. Revan pun tertunduk. Begitu pun Aira. Dia merasa tidak nyaman dengan ucapan neneknya tadi.
Santi keluar dari dalam membawa nampan berisi minuman dingin untuk Revan dan menaruh minuman itu di hadapan lelaki yang masih menunduk itu.
" Ayo di minum dulu, Van." seru mama Aira.
" Iya tan .... Eehh Ma. " jawab Revan gugup.
Santi, Kinan, dan Aira menatap Revan secara bersamaan. Terlihat nenek Aira terkekeh dengan ucapan Revan.
" Nah begitu dong. Ini baru sip." tukas nenek Aira sambil mengacungkan dua jempol tangannya kepada Revan.
Santi menatap wajah kakaknya. Mencari tau ada apa gerangan. Tapi kakaknya menggelengkan kepalanya tak mengerti.
Revan mengambil gelas itu dan meminum hingga separuh gelas. Sebenarnya dia tidak haus. Tapi tiba - tiba saja tenggorokannya kering mendengar ucapan nenek Aira tadi.
Jantung nya berdebar kencang. Dia menarik nafas berusaha menenangkan hati dan pikirannya.
" Tadi siang. Kalau bukan Santi yang telepon dan mengabari kalau Aira terluka, mama dan nenek mungkin tak akan kesini." tukas Kinanti mulai membiasakan diri dengan Revan.
" Ooohh begitu." jawabnya singkat.
" Lalu kamu kapan melamar Aira, Van?!." tanya nenek Aira tiba - tiba. Revan tercekat mendengar ucapan nenek Aira itu. Dia seakan mendapat serangan yang telak mengenai dadanya secara langsung.
Kinanti menyenggol kaki ibunya itu. Nenek Aira melirik dan mencibir kelakuan anaknya itu. Santi saling berpandangan dengan kakaknya. Nenek sungguh membuat ku malu. Gumam kedua cucu nya itu.
" Insha Allah nanti setelah kakak saya pulang dari luar kota akan saya rundingkan dengannya Nek." jawab Revan gugup. Keringat dingin mulai menghinggapi tubuhnya.
" Jangan lama - lama pacaran. Gak baik. Nanti timbul fitnah dah dosa." ucap nenek Aira.
Kinanti menghela nafas dia tak percaya dengan sikap ibunya yang tak terarah itu.
Nenek Aira berdiri dan melangkah menuju ke belakang. Dia ingin ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Sebentar lagi maghrib pun menjelang.
" Jangan ambil hati ucapan nenek. Maklum beliau sudah sepuh. Jadi omongannya kadang ngelantur." jelas mama Aira lalu menyusul ibunya ke dalam.
Revan mengangguk mengiyakan ucapan calon ibu mertua nya itu. Santi pun mengajak Bian untuk masuk ke dalam. Dia tidak ingin mengganggu kakaknya dan kekasihnya itu.
Setelah semua orang masuk. Hanya tinggal mereka berdua disana dan duduk berhadapan. Aira yang sedari tadi menahan kesal akhirnya di beri kesempatan untuk melampiaskan.
Bucket bunga yang di beri Revan di pukul kan ke arah Revan dengan gemas. Revan pun mengadu kesakitan.
" Ngapain sih kamu kesini. Bikin rusuh aja." ujar Aira sebal.
__ADS_1
" Kamu itu yang kenapa. Aku telepon puluhan kali kenapa gak kamu jawab." tukasnya sinis.
" Ponselku lagi di charge di kamar. Ya mana ku tahu kamu telepon. " jawab Aira.
" Ya sudah kalau begitu. Kita impas. Sama - sama tidak tahu." seru Revan.
" Terus tadi kamu ngapain panggil mamaku dengan panggilan mama, hah. Kamu pikir dia itu mama mu." tukas Aira kesal.
" Iya. Sebentar lagi beliau akan jadi mama ku juga." jawab nya.
Aira mendengus kesal. Di tatapnya wajah lelaki ini dengan sinis.
" Jangan mengharap ya. Memang siapa yang mau jadi istrimu. PeDe banget." seru Aira kesal.
Revan menatap wajah Aira. Dia hanya memastikan kalau Aira tak bersungguh - sungguh dengan ucapannya.
" Apa kamu gak mau menikah denganku?!." tanya nya serius.
" Enggak. Aku gak mau. Kamu nikah aja sama siapa tuh, oohh iya si Sheila mantan kamu itu." ujar Aira bercanda. Tapi di tanggapi lain oleh lelaki di depannya ini.
" Kamu kenapa bahas soal dia lagi sih." tanya Revan mulai kesal.
" Kenapa kamu marah?!. Kalau kamu tak cinta, kenapa mesti marah. Berarti kamu masih ada perasaan dengannya. " tukas Aira.
Revan mulai geram dengan ucapan Aira yang terus saja memojokannya. Dia ingin sekali membungkam mulut kekasihnya ini selamanya. Agar dia tak membahas perihal Sheila lagi.
" Tuh kan. Kamu diam berarti kamu beneran masih cinta dengannya." seru Aira.
" Udahlah. Kamu kembali aja sama dia. Gak usah kamu datang kesini lagi." imbuhnya menggertak Revan.
Revan mulai kesal dan langsung menarik tubuh Aira agar mendekat lalu mencium bibir perempuan itu dengan kasar. Aira meronta untuk melepas kan dekapan Revan tapi tenaga Revan terlalu kuat.
Santi akan mengambil sesuatu di ruang tamu. Saat membuka tirai pembatas ruang tamu, dia melihat adegan kakak dan kekasihnya itu. Dia melangkah mundur mengurungkan niatnya. Tapi dia masih berdiri di balik tirai tersebut.
Ciuman Revan cukup kasar saat Aira meronta tadi. Setelah Aira mulai meregangkan tenaga nya. Ciuman Revan pun berganti lembut dan penuh gelora. Aira pun telah di buat terlena oleh lumatan bibir lelaki itu.
Cukup lama mereka berpagut dalam kemesraan itu. Revan pun melepas ciuman nya. Terlihat nafasnya pun memburu tak beraturan. Begitu pun Aira. Nafasnya terdengar tersengal menahan gelora asmara yang tadi di tuangkan oleh Revan.
Revan merapikan rambut Aira yang terjuntai di wajahnya dan menyelipkan di belakang telinganya. Revan mendekatkan wajahnya dan mencium kening Aira dalam - dalam. Aira pun memejamkan matanya merasakan kehangatan setiap sentuhan dari kekasihnya ini.
" Aku mencintai mu. Sungguh sangat mencintaimu." Bisik Revan tepat di telinga Aira. Perempuan itu pun tersenyum mendengar ucapan Revan dan mengecup bibir lelaki itu sekilas.
Ingin rasanya dia melanjutkan kemesraan tadi. Tapi tidak enak kalau ada yang melihat. Padahal Santi dari tadi berdiri di balik tirai dan memperhatikannya dengan seksama.
Santi mengusap wajahnya kasar. Wajahnya merona. Dia begitu merindukan suaminya sekarang. Mas cepet pulang. Aku kangen. Gumam Santi dalam hati.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Tolong dukung author terus yaaa ...
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya ..
Selamat berlibur panjang readers** .....
__ADS_1