Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 4 Aira ( 1 )


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa aku melakukan aktivitas sehari - hari. Bangun pagi, membantu santi membuat sarapan di dapur, mandi lalu sarapan bersama dengan Santi dan suaminya, Akbar.


Walau kehidupan mereka sangat sederhana, makan masakan sederhana, aku tak pernah melihat Santi dan Akbar mengeluh soal kehidupan rumah tangga mereka. Akbar selalu memakan masakan sederhana buatan istrinya dengan ikhlas dan tatapan penuh syukur.


Yah .. Bisa di bilang Santi jauh lebih dewasa dari umurnya sekarang. Dulu sebelum menikah, Santi anak yang sangat manja. Setiap pekerjaan rumah dia tidak pernah mengerjakannya. Mulai dari mencuci piring sampai mencuci pakaian pribadi nya masih dilakukan oleh mamaku.


Mama ku selalu membela dan memanjakan Santi. Kata mama, itu penebusan rasa bersalah mama sewaktu Santi masih kecil. Kedua orang tua ku bercerai saat Santi masih berusia 8 bulan dan aku masih berusia 7 tahun.


Awalnya keluarga ku harmonis selayaknya keluarga lainnya. Dari aku kecil hingga aku remaja, aku tinggal di rumah nenek di pinggiran kota yang tak jauh dari rumah ayahku.


Tiba - tiba sore itu, nenek mengajakku berkunjung ke rumah ayahku. Biasanya mama dan ayah yang akan datang mengunjungiku setiap akhir pekan. Tapi ini sudah hampir 3 minggu, mereka tak datang mengunjungiku.


Aku sangat merindukan mama dan ayahku kala itu. Aku sempat memiliki rasa iri pada Santi yang masih bayi dan merasa di sisihkan oleh kedua orang tua ku. Selama seminggu ini, banyak tetangga dan saudara jauh yang tiba - tiba datang ke rumah nenek.


Pernah aku tak sengaja mencuri dengar percakapan mereka. Kalau ayahku telah menikah lagi secara diam - diam di belakang mama ku. Aku yang saat itu masih berusia 7 tahun, tak mengerti apa arti dan maksud pembicaraan mereka para orang dewasa.


Setiap kali aku ingin mendekat pada mereka dan bertanya, nenek selalu tersenyum dan menatapku dengan tatapan kasihan. Aku melihat senyum nenek kala itu penuh dengan kesedihan. Tapi aku terlalu kecil dan naif untuk memahami semuanya.


Saat kami tiba di rumah ayahku, aku langsung datang menghambur di pelukan mamaku yang saat itu sedang menyusui Santi di kamar. Mama sedikit terkejut melihat kedatangan kami yang tiba - tiba.


" Dimana bayu, ayahnya Aira Kinan?." tanya nenek dengan nada sedikit ketus kepada mama.


" Ayah nya Aira masih belum pulang melaut, buk." jawab mama sedikit bingung melihat ekspresi nenek ku yg dingin dan marah.


Ayahku memang seorang nelayan kala itu. Rumah kami dulu berada di pinggir pesisir pantai yang mayoritas mata pencaharian mereka adalah seorang nelayan.


" Ada apa buk sebenarnya." tanya mama bingung. Nenek menghela nafas panjang.


" Nanti saja kalau suami mu datang kita akan bicara." jawab nenek.


Aku yg merindukan suasana rumah ayah yang lama tak ku kunjungi, langsung berlarian kesana kemari memainkan mainan lamaku yang tertinggal disana. Ditatap lah aku oleh nenek dan saat aku menoleh nenek tersenyum lagi memandangku.


Terdengar suara tangisan Santi yang masih bayi di kamar. Mama mencoba menggendong Santi, tapi tangisan Santi tak kunjung diam. Nenek menghampiri mama di kamar dan mencoba menggendong Santi yang masih menangis.


" Kinan, badan Santi panas. Apa dia sudah di bawa ke dokter untuk di periksa??." tanya nenek kaget saat memegang tubuh santi yang panas. Mama tersenyum kecut lalu menunduk.


" Kinan tidak punya uang buk, untuk membawa Santi ke dokter. Karena mas Bayu belakangan ini tak mendapat ikan di laut." jawab mama ragu - ragu. Nenek langsung menitikkan air mata. Dan menangis sekencang - kencangnya.


Aku yang tadi bermain di ruang tamu sampai berlari ke kamar menghampiri nenek yang tiba - tiba menangis. Mama yang tak kuasa melihat nenek yang tiba - tiba menangis, pun ikut menangis juga. Mama selama ini hidup kekurangan di rumah itu, tapi tak pernah berani mengadu atau mengeluh kepada nenek.


Nenek duduk terdiam menatap anaknya dan cucunya itu. Mata nya masih sembab oleh air mata yang jatuh tadi. Mama masih menyusui Santi di ruang tamu.


" Nenek ... Aira lapar nek. Aira mau makan." jelas ku polos tak berdosa. Mama memandangi ku dan kembali menitikkan air mata. Di hapusnya butiran bening hangat itu dengan cepat.

__ADS_1


" Kamu masak apa hari ini Kinan." tanya nenek. Mama hanya menggelengkan kepala.


" Lalu kamu sudah makan??." tanya nenek lagi. Mama masih menggelengkan kepala nya. Nenek tercekat dan menghela nafas panjang.


" Dari kapan kamu belum makan??." tanya nenek menahan tangisnya. Mama semakin sesenggukan di tanya nenek saat itu.


" Dasar bodoh. Sudah tau kamu disini kelaparan masih aja bertahan disini." dengus nenek sambil menangis.


" Apa kamu gak kasian sama bayi kamu itu hah. Dia juga butuh nutrisi. Kalau ibunya aja kelaparan, lalu apa yg ada di dalam Asi mu itu. Hanya angin, itu yang akan menyebabkan anakmu masuk angin nanti." omel nenek sambil menatap mama, anaknya itu penuh dengan rasa iba.


Aku hanya menatap mama dan nenekku bergantian dan bingung, kenapa mama dan nenek menangis terus dari tadi. Apa mereka sakit, gumamku. Nenek mengambil dompet dalam tas nya. Lalu mengambil uang puluhan ribu dan memberikannya kepadaku.


" Aira, tolong nenek belikan telur di toko seperempat yaa. Sama beli mie instan sekalian." ucap nenek kepada ku. Aku sangat girang saat mendengar kata mie instan. Karena pada jaman aku dulu makan mie instan itu termasuk makanan istimewa dan mewah.


Aku sedikit berlari saat pergi ke toko tadi. Setelah selesai aku pulang ke rumah dengan hati - hati. Takut telur yang aku beli jatuh dan pecah.


Nenek berkutat di dapur memasak mie instan untukku dan menggoreng telur dadar buat mama. Lalu dari pintu belakang ada yang membuka, dan itu ayah ku. Ayah kaget setengah mati melihat aku dan nenek datang.


" Loh ibuk, sejak kapan ibuk datang?." tanya ayahku sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan nenek.


" Gak usah salaman. Tangan ku kotor terkena telur." sahut nenek kasar. Ayah tersenyum kecut mendengar.


" Waaahhh .... Ayah dapat kepiting banyak." Seru ku saat melihat kepiting di dalam bak yang ayah bawa dari laut tadi. Ayah tersenyum kepadaku.


" Ayah mandi dulu yaa, nanti ayah buatin kepiting asam manis yang enak." jawab ayah. Aku pun bersorak sorai.


Setelah ayah selesai mandi dan berganti pakaian, nenek menyuruh ayah duduk di ruang tamu. Aku yg saat itu lagi duduk di ruang tamu memakan mie instan pun langsung di suruh nenek masuk kedalam. Aku pun menurut dan masuk kedalam.


" Gimana hasil tangkapan kamu Bayu??. Dapat banyak." tanya nenek berbasa - basi.


" Yah ... Alhamdulillah ibuk, seperti yang ibuk lihat tadi. Kadang dapat banyak, kadang sedikit." jawab ayah. Nenek menghela nafas panjang.


" Bayu. Ibuk boleh bertanya??." tanya nenek. Ayah pun mengangguk tanda mengiyakan.


" Seminggu ini banyak tetangga ibuk dan saudara jauh ibuk datang dan membicarakan kamu." jelas nenek. Ayah dan mama pun sedikit kaget mendengar pernyataan nenek. Ayah dan mama masih terdiam mendengarkan nenek dengan seksama.


" Mereka bilang .... Kalau kamu ... Punya istri lagi dan punya anak dari perempuan itu." tukas nenek mencoba menahan emosi. Bagai di sambar petir. Mama begitu kaget dan syok mendengar perkataan nenek. Air mata mama tak terbendung lagi. Di tatapnya ayah lekat - lekat oleh mama. Ayah hanya menunduk dan memejamkan mata. Mencoba menenangkan diri dan ingin mencari pembelaan.


" Mas ... !!! Apa itu benar mas!!! Apa yg di katakan ibuk itu benar mas !!!." tanya mama yang mulai histeris. Ayah menghela nafas panjang dan kepala nya manggut manggut.


" Itu benar." jawab ayah pasrah tak bisa berkilah. Mama yg mendengar itu langsung emosi, lalu memukul badan ayah, menjambak rambut ayah, bahkan mama menampar pipi ayah.


Ayah hanya diam seribu bahasa dan tak membalas. Nenek mencoba menenangkan mama. Di tarik nya tangan mama dan di peluknya mama ke pelukan nenek. Ayah masih duduk terdiam.

__ADS_1


" Sudah berapa lama kamu menghianati anakku." tanya nenek sambil memeluk mama yang masih menangis histeris.


" Sudah berapa lama ********." bentak nenek mulai habis kesabarannya dan perih hatinya melihat anak kandungnya mendapat perlakuan seperti itu.


" Sudah lima tahun buk." jawab ayah jujur.


Plaaakkk ....


Nenek menampar pipi ayah dengan sangat keras." Kurang ajar kamu yah. ******** kamu yah. Tega - tega nya kamu menyakiti anakku seperti ini. Kurang apa anakku selama ini hah. Kurang apa dia !!!. Dia sudah memberikan anak yang lucu dan sehat buatmu. Dia rela kelaparan dan hidup serba kekurangan demi bersama mu. Dan ini balasan kamu kepada anakku hah!!." maki nenek.


Suara nenek sangat keras saat memaki ayah, di tambah lagi tadi mama yg sempat menangis histeris membuat para tetangga berhamburan keluar untuk melihat. Sekarang teras rumah kami menjadi penuh oleh warga. Menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi mereka yang nantinya akan bergosip.


Aku yang sedari tadi mengintip dari balik kelambu ruang tengah menjadi ciut dan takut. Melihat mama menangis seperti itu. Melihat nenek yang tiba - tiba galak seperti nenek sihir menurutku. Mie instan yang tadi ku makan, ku taruh di atas meja. Aku sudah tidak bernafsu memakannya.


" Sekarang kamu pilih mana. Tinggalkan perempuan sundal itu atau tinggal kan anakku." tanya nenek dengan nada emosi.


" Maaf buk. Saya tak bisa meninggalkan dia. Dan saya juga tak bisa berpisah dengan Kinan." jawab ayah. Nenek tertawa geli melihat jawaban ayah.


" Jadi maksud kamu, kamu ingin bersama dengan Kinan dan mendua dengan dia, begitu." tukas nenek.


" Oooohh ... Sangat manis sekali mulut mu itu bicara hah. Punya apa kamu, mau memadu anakku hah. Tampangmu saja tidak ganteng, uang tidak gablek, dan sekarang kamu ingin berpoligami. Aku sebagai ibu nya Kinan sangat berkeberatan jika anakku harus di madu oleh lelaki ******** sepertimu." jelas nenek merendehkan ayah.


" Kinan, cepat kemasi pakaian mu dan anakmu. Mulai sekarang kamu dan anak - anakmu akan tinggal di rumah ibuk. Ibuk tidak rela kamu di lecehkan oleh ******** satu ini. Dan kamu Bayu. Kamu tidak perlu repot - repot untuk menalak Kinan. Karna Kinan sekarang bukan istrimu lagi. Aku tidak sudi punya mantu ******** sepertimu. Dan satu lagi aku dan Kinan akan menggugat kamu di pengadilan. Karna aku tau, kamu tidak mampu untuk mengurus surat cerai Kinan. Buat makan sehari - hari aja kamu kebingungan. Apalagi buat beli surat cerai." jelas nenek.


Mama masuk ke kamar dan mengemasi pakaiannya dan pakaian santi. Di usapnya pipi Santi yang masih lelap tertidur. Mama masih menangis sesenggukan sambil memasukkan baju ke dalam tas. Aku menghampiri mama.


" Mama .... " tukas ku di depan pintu kamar. Mama menoleh ke arah ku. Di peluknya tubuhku erat - erat oleh mama. Mama menangis sejadinya sambil memelukku.


" Mama kenapa menangis terus. Apa mama sakit." tanyaku polos. Mama masih memelukku. Dan mama pun mengangguk,


" Iya sayang. Mama sakit nak. Mama sangat sakit ... " jawab mama masih menangis. Aku terdiam mendengar jawaban mama. Mama mengusap air matanya dan tersenyum kepada ku.


" Aira ... Mulai saat ini Aira jangan nakal ya nak. Aira gk boleh minta mainan dan jajan terus ya. Aira gk boleh cari - cari ayah lagi. Karena kita akan pergi. Dan gak ketemu ayah lagi. " jelas mama.


" Ayah gak ikut kita pergi ma." tanyaku. Mama menggelengkan kepala. Lalu menciumi pipiku lembut.


Setelah mama mengemasi bajunya, aku nenek, mama dan santi pergi meninggalkan rumah ayah. Ayah hanya duduk terdiam menatap kita keluar dari rumahnya. Para tetangga menatap kita yang keluar dari rumah ayah dengan tatapan tajam dan iba. Nenek dan mama tak memperdulikan ketika ada tetangga yang bertanya kita mau pergi kemana.


Nenek menyetop sebuah taxi untuk kita tumpangi. Aku duduk dalam pangkuan nenek. Mama menggendong Santi. Di dalam taxi mama masih menangis sesenggukan dan menggendong Santi erat. Kulihat wajah mama, mama tampak sangat sedih dan kacau. Aku kembali menatap wajah nenek, nenek terlihat menghela nafas panjang ber ulang - ulang sambil ber istigfar berulang kali.


Air mata nenek keluar lagi. Tangan mungil ku tiba - tiba menyentuh pipi nenek dan mengusap butiran bening hangat itu. Nenek mendekap ku erat dan menciumi ku lekat - lekat. Semua tampak pilu di dalam taxi itu.


~ Happy reading ~

__ADS_1


__ADS_2