Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 61 Hal Keren


__ADS_3

Sepulangnya dari kantor properti, kami berdua mampir di salah satu supermarket untuk membeli beberapa makanan ringan untuk Bian. Aku meminta Revan untuk mengantarku pulang ke rumah. Selain untuk berganti pakaian, juga mengabari Santi kenapa tidak pulang ke rumah semalam.


" Waahh waahh .... Lihat, siapa ini yang tengah berbelanja." sapa seorang wanita saat melihatku.


" Rani!!." gumam ku lirih. Rani tersenyum licik kepadaku. Revan yang tengah memilih sabun dan perlengkapan mandi lainnya tak melihat keberadaan kami saat ini. Karena aku berada di rak tempat makanan ringan.


" Kelihatannya lagi banyak duit nih. Laku berapa semalam?." cibirnya sambil melirik keranjang belanjaan ku yang penuh oleh makanan ringan untuk Bian.


" Jaga ucapanmu ya Rani!." dengus ku kesal. Dia malah tertawa puas melihat ku yang tengah kesal itu. Tanpa banyak mulut, aku pun beranjak pergi meninggalkan dia. Aku pun tengah malas meladeni mulutnya yang tajam itu. Namun sepertinya Rani masih belum puas mencibirku barusan. Dia pun mencoba menghalangi langkahku yang akan beranjak pergi.


" Minggir aku mau lewat!." seru ku.


" Kemana sih?. Buru - buru amat. Kita kan sebagai mantan tetangga sudah lama tak bertemu. Kita ngobrol - ngobrol aja dulu." tukasnya dengan tersenyum licik. Aku hanya meliriknya kesal.


" Apa jangan - jangan, kamu sedang buru - buru karena di tunggu sama pelanggan mu yang lain?." ujarnya. Telinga ku terasa panas mendengar ucapan omong kosongnya yang semakin lama semakin kurang ajar itu.


" Sayang. Kamu sudah beli snack nya?." suara Revan membuyarkan obrolan panas antara aku dan Rani. Rani menoleh seketika ke arah Revan. Revan pun tercekat dan mengerutkan dahi nya tanda tak suka dengan kehadiran Rani disana.


" Revan!. Kalian ..." seru Rani kaget dan menatap ku dan Revan bergantian.


" Iya sayang. Aku sudah selesai. Ayo!!." ujarku pada Revan. Rani semakin mendelik tak percaya dengan ucapan yang di dengarnya barusan.


" Oohh iya Ran, kenalin ini suami baru aku. Maaf ya, kita gak ngundang kamu ke acara pernikahan kita. Takut ganggu sih. Soalnya kamu kan biang keributan. Udah dulu ya. Waktu ku akan terbuang sia - sia kalau disini terus meladenimu." tukas ku lalu pergi beranjak meninggalkan Rani yang masih membeku tak percaya itu. Tak lupa aku menggandeng tangan Revan supaya hatinya lebih terbakar lagi.


" Rasain!!. Mati kutu kan kamu." gumam ku dalam hati. Aku pun tersenyum puas melihat ekspresi wajah Rani yang kaget itu.


" Akhirnya aku bisa tersenyum jahat!!." gumamku lagi.


Revan masih memperhatikan wajah ku yang tersenyum sendirian.


" Rani ngomong apa aja sama kamu?." tanya nya sambil terus menatapku.

__ADS_1


" Apapun yang di omongin sama dia, gak penting bagiku. Aku sudah puas membalasnya. Kamu lihat kan, gimana ekspresi wajahnya saat aku memanggilmu ' sayang ' tadi." ujarku senang. Revan mengangguk mengiyakan mendengar ucapan ku.


" Tapi sayang, Aku suka dengan panggilan itu. Suara mu terdengar sexy saat memanggil ku begitu. Terus panggil aku begitu ya." pinta Revan sambil tersenyum melihat ke arah ku. Aku hanya melirik tajam ke arah nya.


" Ayolah!!." rengeknya.


" Nanti kalau kita sudah menikah!." ujarku lalu berlalu pergi menuju kasir untuk membayar semua belanjaan yang ada di keranjang yang ku bawa. Revan hanya mengekor di belakangku dengan wajah sedikit kesal karena permintaan nya tak ku penuhi.


*****


Bian berlari ke arahku saat mengetahui kehadiran ku di depan pintu rumah yang terbuka itu. Bian langsung memeluk kaki ku dengan erat dan meminta aku menggendongnya.


" Bian. Mamara kangen banget sama kamu. Bian sudah makan." tanya ku sambil menggendong Bian.


" Sudah." jawabnya. Dia menciumi pipiku dengan penuh sayang. Revan yang melihat itu pun di buat iri dengan kelakuan Bian.


" Bian, oom juga dong di cium begitu." seru Revan. Tapi Bian hanya tersenyum malu - malu dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku.


" Mbak Aira, mas Revan." seru Santi. Aku tersenyum melihat Santi yang keluar dari dalam rumah. Revan menaruh dua plastik besar berisi makanan ringan untuk Bian ke lantai. Santi yang melihat itu pun berdecak.


" Gak apa - apa. Buat Bian." jawab Revan. Revan lalu duduk di ruang tamu yang tak ada kursinya itu. Aku pun masuk kedalam kamarku untuk berganti pakaian.


" Mbak, semalam mbak kemana kok gak pulang ke rumah?. Kata mama, mbak gak ada di rumah nenek." tanya Santi yamg mengikuti ku dari belakang dan masuk ke dalam kamarku.


" Aku tidur di hotel sama Revan." jawabku jujur.


" Hah?!. Hotel?!." tanya Santi kaget. Aku pun mengangguk mengiyakan ucapan Santi. Santi menatapku tak percaya. Aku tau, santi pasti berpikiran yang tidak - tidak tentang ku.


" Kamu jangan pikiran macem - macem. Aku gak ngapa - ngapain disana. Revan pergi dari rumahnya. Lalu kita cari hotel buat dia tidur. Gak mungkin kan, aku bawa dia menginap di sini. Saat aku mau pulang, eehh tiba - tiba hujan deras. Akhirnya aku juga ikut nginep disana." jelasku pada Santi. Santi masih diam menatapku.


" Dan satu lagi. Jangan bilang mama atau siapa pun kalau aku tidur di hotel dengan Revan. Bisa - bisa aku di gunduli nanti sama mama." tukas ku. Santi mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


" Kenapa mas Revan pergi dari rumahnya mbak?." tanya Santi penasaran. Aku menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Santi.


" Panjang ceritanya. Inti nya dia pergi dari rumahnya demi aku. Dia juga ingin secepatnya menikah." ujarku.


" Menikah?. Tanpa restu orang tua nya?." tanya Santi lagi.


" Benar. Dia bilang, ingin segera menikah denganku walau tanpa restu papa nya." jawabku.


" Mbak yakin dengan itu semua?." tanya Santi ragu - ragu.


" Entahlah. Aku juga gak bisa nolak keinginan dia. Dia sudah berbuat banyak untuk hubungan kita. Bahkan meninggalkan semuanya hanya demi aku." ujarku lesu.


" Mas Revan meninggalkan semuanya, mbak?." tanya Santi tak percaya.


" Iya. Semuanya. Rumah, mobil, dan lain - lainnya." jawabku.


" Keren!!." seru Santi.


" Keren katamu?. Keren apanya?. Bodoh iya." tukasku.


" Ya keren dong. Itu baru laki - laki jantan." ujar Santi senang.


" Terserah kamu lah." jawabku kesal lalu beranjak menuju ruang tamu menyusul keberadaan Revan dan Bian.


Terlihat mereka berdua memakan snack yang barusan di beli dengan sangat lahap. Terlebih lagi Bian. Dia begitu sangat senang. Revan hanya tersenyum melihat Bian.


" Kamu mau makan apa?. Kamu kan belum makan siang." tanya ku saat duduk di sebelah Revan.


" Nanti saja. Aku masih belum lapar." ujarnya sambil memakan keripik kentang.


" Santi hari ini gak masak mbak. Kalau mau makan, pesan online saja ya." tukas Santi sambil membuka bungkusan snack yang lain lalu memakannya.

__ADS_1


Aku mengiyakan ucapan Santi. Terlihat Revan begitu senang berada di dekat Bian. Senyum dan tawa nya tak henti - henti nya tercetak di wajah tampannya itu. Aku yang melihatnya pun begitu sangat senang.


" Tetaplah tersenyum seperti itu Revan. Jangan bersedih lagi. Masih ada aku dan Bian disini yang selalu menyayangimu. " gumamku dalam hati sambil terus menatap wajah tampan itu.


__ADS_2