
Seharian ini Aira hanya menghabiskan waktu di kamar saja. Bahkan makan siang pun juga di kamar. Dia tidak menyentuh sedikit pun makanan yang di sajikan mbok Sum. Rasanya sangat malas sekali melihat makanan itu. Dia hanya makan salad buah dan yang di bawa mbok Sum.
Dari pagi kerja nya hanya rebahan saja di atas kasur. Revan pun tak meneleponnya seperti biasa yang dia lakukan. Mungkin dia sibuk. Pikir Aira.
Sore hari setelah dia selesai mandi. Aira berjalan menuruni tangga rumah tersebut. Di lihatnya mbak Aminah tengah mengelap semua perabotan yang ada di rumah tersebut. Aira tersenyum melihat itu.
" Mau saya bantu mbak?." tanya Aira yang kini berdiri di depan mbak Aminah. Mbak Aminah yang tidak menyadari kedatangan nona muda nya itu pun merasa tersentak kaget. Untung saja vas bunga di tangannya tidak jatuh ke lantai.
" Nona. Tidak perlu non. Sudah mau selesai kok. Nona istirahat saja. Kan lagi tidak enak badan." tukas mbak Aminah.
" Seharian ini aku sudah istirahat mbak. Bosen kalau hanya rebahan terus." jawab Aira.
" Kalau begitu aku mau ke taman belakang rumah. Bosen di kamar terus." ujar Aira lalu beranjak menuju taman belakang. Mbak Aminah yang melihat hanya tersenyum.
*****
Di taman belakang, Aira berjalan menyusuri pinggir kolam renang yang besar itu. Di ujung kolam renang terdapat hamparan bunga berwarna - warni. Begitu sangat indah dan sejuk di pandang. Dia pun duduk di salah satu kursi yang ada disana. Matanya masih menatap ke arah bunga - bunga warna - warni itu.
Aira pun mengingat masa lalu nya dulu saat hidup bersama mantan suaminya, Arga. Dulu jangan kan dia bisa bersantai seperti ini. Kehidupan nya dulu dan sekarang berbalik 180°. Sifat Arga yang begitu kasar dan egois. Bertolak belakang dengan Revan yang begitu perhatian dan memanjakannya.
Tanpa terasa air mata nya mulai mengalir dari sudut matanya. Dia pun langsung menyeka air mata tersebut. Takut ada yang melihat. Dia tersenyum menatap bunga - bunga itu. Menyimpan kegetiran hatinya sendirian.
Baginya, kebahagiaan ini masih tidak sempurna. Karena restu dari Ayah Revan belum datang padanya. Dia begitu takut kalau nanti nya, keluarga Revan tidak menerima pernikahannya dengan suaminya tersebut dan memaksa memisahkan mereka berdua dengan cara apapun.
__ADS_1
Karena yang Aira tau, Ayah Revan termasuk orang yang sangat gigih dalam pendirian. Buktinya saja saat Revan pergi meninggalkan rumah. Dia sama sekali tidak mencari atau mendatangi Revan untuk membujuk atau untuk merayu anak bungsunya itu. Dia tetap pada pilihannya untuk menolak kehadiran Aira sebagai orang yang di cintai putra nya.
Aira menghela nafasnya. Terdengar suara mbok Sum yang memanggil namanya dari dalam rumah tersebut. Aira pun beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri assisten rumah tangga nya itu.
" Ada apa mbok?." tanya Aira saat memasuki rumah. Dia melihat Revan baru saja masuk dari arah pintu depan.
" Sayang. Kamu sudah pulang?." tanya Aira menghampiri suaminya itu. Revan tersenyum melihat istrinya itu.
" Sedang apa kamu?." tanya Revan ketika melihat Aira bersama mbok Sum.
" Ahh enggak. Aku habis dari taman belakang. Bosen di kamar terus." jawab Aira.
" Oohh gitu. Kasian istri ku bosen ya nungguin aku pulang kerja." ujar Revan sambil mencubit kedua pipi wanita itu dengan gemas. Aira mencubit pinggang suaminya.
" Aku seharian ini banyak kerjaan sayang. Pasien ku banyak sekali. Banyak juga yang harus aku tangani." jawabnya sambil memeluk tubuh istrinya untuk duduk di sofa ruang tengah. Aira pun menurut. Dia kini duduk di pangkuan lelaki itu.
Revan membelai rambut istrinya dengan lembut. Aira menyandarkan kepala nya pada dada bidang lelaki itu. Entah mengapa dia ingin sekali bermanja - manja dengan suaminya saat ini. Apalagi saat mencium bau parfum suaminya yang bercampur dengan keringat seharian bekerja. Menjadi obat penenang tersendiri untuk dirinya.
Aira mulai menciumi setiap jengkal leher suami nya itu. Revan begitu terkesiap melihat itu. Tidak biasanya istrinya seperti ini.
" Sayang kamu kenapa aneh begini sih?." tanya Revan. Aira hanya terdiam. Dia masih sibuk dengan leher suami nya.
" Tumben - tumben nya kamu manja seperti ini. Dan ini kenapa kamu cium - cium aku seperti ini. Biasanya kamu selalu menolak jika aku peluk ketika pulang kerja." tanya Revan heran. Aira merasa kesal dengan ocehan suaminya itu. Dia pun beranjak dari duduk nya dan berdiri di depan lelaki itu.
__ADS_1
" Serba salah sama kamu itu ya!. Gini salah, gitu salah!. Salah - salahin saja terus aku!. Kamu memang gak pernah cinta sama aku!." tukas Aira kesal setengah berteriak lalu pergi menaiki tangga menuju kamar.
" Dia kenapa sih?. Kenapa marah?. Aku kan hanya bertanya." tanya Revan bingung. Dia pun langsung berdiri dan pergi menyusul istrinya yang mulai ngambek gak jelas itu.
Saat membuka pintu kamar. Di lihatnya istrinya itu tengah berdiri di depan jendela besar yang ada di kamarnya itu. Aira pura - pura tidak melihat kedatangan suaminya itu. Dia masih cemberut dan menatap ke arah luar jendela. Revan menghela nafas saat melihat tingkah istrinya yang gak biasa itu.
" Sayang kamu kenapa sih?." tanya Revan lembut sambil memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Tapi Aira langsung menepis tangan itu dan berjalan menuju tempat tidurnya. Revan semakin tak mengerti dengan istrinya saat ini.
Aira duduk di atas tempat tidur dengan wajah masih cemberut dan tangan di lipat di atas perut nya. Revan menatap sejenak tingkah istrinya itu. Mencoba mencari tau letak kesalahannya sampai istrinya ngambek seperti itu.
" Sayang." seru Revan menyerah. Karena dia sama sekali tak mengerti dimana letak salah nya. Dia kan hanya bertanya tadi.
" Gk usah panggil - panggil aku. Sana pergi. Aku gak butuh kamu!." tukas Aira jutek dan acuh. Revan yang merasa bingung pun berjalan ke arah kamar mandi. Tubuhnya sudah gatal akibat keringat seharian menempel di kulitnya.
" Mending aku berendam air hangat dulu. Nanti baru bujuk dia lagi." gumam Revan dalam hati.
Saat Revan masuk kedalam kamar mandi. Aira semakin kesal di buat nya. Di lempar nya pintu kamar mandi dengan bantal yang ada di atas tempat tidur.
" Dasar egois!!!. Gak peka banget sih!!!. Nyebelin!!!." teriak Aira sambil terus melempar bantal ke arah sana. Setelah semua bantal berhasil terlempar. Dia pun meringkuk di atas tempat tidur sambil menangis sejadinya.
Entah mengapa dia begitu sangat kesal. Dia merasa gak di anggap dan gak di perhatikan oleh Revan.
" Hiks hiks ... Kamu jahat. Kamu sudah gak cinta aku lagi. Aku benci kamu. Hiks hiks ... " ujar Aira sambil terus menangis di atas tempat tidur.
__ADS_1