
Aira baru selesai mandi dan kembali ke kamarnya. Santi menatap kakaknya dari belakang. Tampak wajah kakaknya itu sedikit murung. Dia tau kalau kakaknya saat ini sedang gelisah akan kelanjutan hubungan nya dengan Revan.
" Mbak ... Sarapan dulu gih. Udah aku siapin loh." seru Santi dari balik pintu kamar Aira.
" Iya sebentar. " Sahut Aira.
Santi melangkah ke arah ruang tamu sambil membawa piring nasi dan lauk untuk sarapan kakaknya itu.
Aira keluar dari kamarnya. Tampak Bian tengah terlelap di kamarnya yang tidak di tutup itu. Aira melihat Santi duduk lesehan di ruang tamu sambil menonton televisi. Dia menghampiri adiknya yang duduk disana.
" Kamu udah sarapan dek." tanya Aira.
" Sudah mbak. Tadi bareng mas Akbar." jawabnya. Aira pun mengambil piring nasi dan menyendok lauk di piring yang lain.
Aira menyuap nasi dan memasukkan ke dalam mulutnya. Santi menatap wajah kakaknya itu. Tangannya mengusap lengan tangan kakaknya lembut. Aira menoleh menatap adiknya itu.
" Mbak ... Aku minta maaf yaa. Tadi malam .... Aku gak bermaksud menguping pembicaraan mbak dengan mas Revan." tukas Santi hati - hati. Dia takut kakaknya ini marah. Aira mengulum senyum pada adiknya.
" Menurutku .... Mas Revan itu serius dengan ucapannya mbak." serunya.
" Aku tau dek. Tapi gimana dengan keluarga nya." jawab Aira sambil mengaduk lauk di piringnya.
" Positif thinking aja mbak. Aku yakin keluarga mas Revan pasti setuju dengan hubungan kalian. Mbak Aira kan cantik, lembut dan pengertian." puji Santi untuk menenangkan kakaknya itu.
Aira hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Santi. Hatinya getir dan sesak menahan semuanya.
" Sabar ya mbak .... Semua pasti akan baik - baik saja. Semua akan indah pada waktunya." ucap Santi. Aira mengangguk mengiyakan ucapan adiknya.
Dia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Rasanya dia sudah tidak bernafsu untuk makan. Di taruhnya piring di depannya.
" Kenapa gak di habisin sarapannya?." tanya Santi. Aira menggelengkan kepalanya.
" Sudah kenyang dek." jawab Aira.
Santi menatap wajah kakaknya. Dia tau kalau kakaknya tidak memiliki nafsu untuk makan.
Aira beranjak pergi masuk ke belakang untuk menaruh piringnya ke belakang.
" Jangan lupa obatnya di minum." seru Santi kepada kakaknya.
" Iya bawel." jawab Aira lalu masuk ke dalam.
Santi menggeliat di lantai depan televisi.
" Aaahhh kok jadi mengantuk gini sih. Jadi males nyuci kan jadinya. Bian kok gak bangun - bangun sih. Ikut bobok bareng Bian aahh ... " tukasnya sambil mematikan televisi dan beranjak pergi ke kamar.
Dia melihat pintu kamar kakaknya udah tertutup. Berarti kakaknya sudah berada di dalam.
Aira telah meminum obatnya. Dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Di raihnya ponselnya itu. Tak ada pesan apapun dari Revan.
" Apa dia marah." gumam Aira dalam hati.
Dia memainkan sebuah game yang berada di tangannya. Hampir sepuluh menit berlalu, rasa kantuknya pun datang. Di matikan ponselnya itu dan dia mulai terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
*****
Revan telah selesai dengan operasi pasiennya. Dia berjalan menuju ruang ganti pakaian. Dan berganti baju disana.
Setelah selesai dia pun keluar menuju ruangan nya. Jam sudah menunjukkan jam makan siang. Perutnya pun sudah terasa lapar. Tadi pagi dia juga tidak sarapan sama sekali.
Revan berbelok menuju kantin dan membeli sebungkus roti sobek dan sebotol air mineral. Setelah itu dia kembali ke ruangan nya.
" Dok tadi di cariin sama Prof. Harry." ucap perawat yang ada di ruangan nya.
" Ada apa ya." tanya Revan.
" Kurang tau dok. Katanya dokter di tunggu di ruangannya." jelasnya.
" Ok. Sebentar lagi saya kesana." jawab Revan.
Dia masuk ke dalam ruangan nya dan duduk di kursi kerjanya. Di buka lah roti yang di beli nya tadi lalu memakan roti tersebut dengan lahapnya.
" Di cariin Prof. Harry tuh." seru Radit saat memasuki ruang Revan. Revan hanya mengangguk mengiyakan ucapan Radit.
" Ada apa yaa. Tumben banget Prof. Harry mencari ku." tanya Revan sambil terus mengunyah roti nya.
" Entah lah." jawab Radit.
Setelah selesai makan Revan menuju ruang Prof. Harry. Terlihat seorang lelaki paruh baya sedang berkutat di balik laptopnya. Revan mengetok pintu ruangannya sebelum masuk. Terdengar suara menyuruhnya masuk.
" Permisi prof, Ada apa mencari saya." tanya Revan saat memasuki ruangan nya.
" Duduk dulu van. " seru Prof. Harry saat melihat Revan berdiri di depannya. Revan pun duduk di kursi depan meja kerja professor itu.
" Iya Prof. " jawabnya singkat.
" Kamu gak sibuk kan." tanya nya lagi.
" Enggak Prof. "
" Baiklah kalau gitu. Saya ingin bertanya kepadamu. Tapi ini masalah pribadi. Tak ada sangkut pautnya dengan kerjaan atau profesi kamu." jelasnya. Revan mengangguk mengiyakan.
" Hubungan kamu dengan Sheila bagaimana." tanya nya menyelidik.
Revan menghela nafas nya. Dia paham sekarang. Kenapa Prof. Harry mencari nya.
" Saya .... Sudah tidak memiliki hubungan spesial dengannya. Kami sekarang berteman biasa." jawab Revan.
Tampak professor itu mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
" Kenapa kamu putus?. Bukannya kamu sudah lama menjalin hubungan dengannya?." tanya nya lagi.
" Ada sesuatu hal yang tidak bisa saya jelaskan disini. Karena bagi saya itu suatu hal yang pribadi." jawab Revan tegas.
" Ok. Saya minta maaf. Saya gak bermaksud menekan kamu untuk berbicara." jelasnya.
" Menurut saya, Sheila itu anak yang baik. Jadi .... Sayang kalau harus di sia - sia kan begitu saja. Apalagi ayahnya salah satu donatur terbesar di rumah sakit ini. Apa kamu yakin melepas dia begitu saja." pungkasnya.
__ADS_1
" Iyaa .... Saya yakin. Karena sekarang saya dan dia sudah berbeda paham dan pemikiran. Dia pantas mendapat lelaki yang jauh lebih baik dari saya." jelas Revan.
Professor Harry menghela nafas nya dan kembali menatap wajah Revan. Dia tau kalau lelaki di hadapannya ini memiliki sifat yang keras.
" Sudah tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, Prof. " tanya Revan.
" Iya tidak ada. Kamu bisa kembali ke ruanganmu." jawabnya.
Revan pun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruangan professor tersebut. Dalam perjalanan menuju ruangannya, Revan tak henti - henti nya mengumpat dan merutuki mantan kekasihnya itu.
Dia sudah sangat geram kepada perempuan itu. Revan yakin, kalau bukan dari mulut perempuan itu. Darimana professor Harry sampai tau kalau dia dan Sheila sudah tidak bersama.
" Jangan sampai aku bertemu dengan nya sekarang. Bisa ku remas itu mulut perempuan licik itu." ucap Revan dalam hati.
*****
Aira terbangun dari tidur nyenyaknya. Ada suara berisik di luar. Dia berdecak mendengar kebisingan itu. Setelah menggeliat di atas kaaurnya, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Saat keluar dari kamarnya dia melihat mama nya, Kinanti, sedang memotong buah melon di dapur.
" Mama ... " ucap Aira. Mama nya menoleh dan tersenyum ke arah nya. Aira memeluk dan mencium pipi mamanya.
" Kamu sudah bangun." seru mama nya.
" Kapan mama kesini ?!. Sama siapa kesini?!." tanya nya.
" Sama aku dong. Memang mau sama siapa lagi." jawab perempuan tua di belakangnya.
" Nenek ... " seru Aira. Nenek nya pun tersenyum. Aira memeluk neneknya. Dia sangat rindu dengan kedua wanita di hadapannya ini.
" Bagaimana tanganmu. Apa masih sakit?." tanya nenek nya sambil mengangkat tangan Aira.
" Sedikit nek. Nanti di kasih obat juga sembuh." jawabnya.
" Mama sama nenek kesini siapa yang kasih tau?." tanya Aira penasaran.
Mama nya mencubit lengannya. Aira mengadu kesakitan.
" Kamu itu ya. Udah tau tangannya sampai terluka seperti itu , masih saja merahasiakan sama mama. Untung tadi Santi telepon dan memberi tahu. Kalau gak gimana mama tahu kalau anak mama ini sedang sakit." tukas mama nya sambil memeluk tubuh Aira.
" Iihh mama. Aira kan sudah besar. Mama gak usah khawatir begitu lah." jawabnya.
" Tetep aja. Kamu kan tetep anak mama. Kalau ada apa - apa gimana. Aira denger mama. Jangan pernah kamu merahasiakan apapun dari kita. Kita ini kan keluarga. Kita akan selalu membantu semua apa masalah mu." jelas mama. Aira pun mengangguk mengiyakan ucapan mama nya.
Aira memeluk tubuh mama nya itu. Mama nya pun mengelus rambut anaknya itu.
~ **Happy reading ~
Jangan lupa like, komen, dan vote yaaa ....
Oohh iyaa ...
Kunjungi novel terbaru author ya. Judulnya " Big Is Beauty " ...
__ADS_1
Ayo ramaikan semua novel author dengan like, komen, dan vote yaaa ...
Terima kasih** ....