Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 71 Sebesar Kelingking


__ADS_3

Revan mengerjap perlahan. Karena terkena pantulan sinar matahari yang mulai meninggi. Di raba nya kasur di sampingnya. Tapi kosong tak ada siapa - siapa. Dia pun terduduk di atas ranjang sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk itu.


Revan terduduk sambil bertelanjang dada. Hanya bagian bawa nya saja yang di balut oleh selimut. Dia tersenyum simpul. Bayangan indah tadi malam bersama wanita yang kini menjadi istrinya itu pun menari - nari di pikirannya. Wajah nya pun merona seketika ketika membayangkan kejadian semalam.


Revan pun beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Sementara Aira kini tengah menyiapkan sarapan pagi bersama mbok sum. Dia terlihat begitu antusias dan cekatan membantu mbok sum menyiapkan sarapan.


Saat dirinya akan menaiki tangga menuju kamarnya. Terlihat Revan tengah keluar dari kamarnya dengan pakaian santai dan segar. Revan melihat istrinya yang tengah berdiri di ujung tangga rumah itu.


" Selamat pagi." sapa Aira saat melihat suaminya turun dan berdiri di hadapan nya. Revan mengecup kening Aira dengan lembut.


" Selamat pagi juga sayangku." jawabnya dengan senyum merekah di bibirnya.


Mbak Aminah yang tengah membersihkan ruang tengah rumah itu pun, tersenyum malu melihat kelakuan tuannya dan istri barunya itu. Aira pun mencubit pinggang Revan dengan gemas. Sementara yang di cubit hanya tersenyum senang.


" Kamu itu ya, gak punya malu atau gimana. Liat tuh di ketawain sama mbak Aminah." seru Aira.


" Biar saja. Mbak Aminah juga pernah muda seperti kita. Iya kan mbak??." tukas Revan dengan santai nya. Mbak Aminah yang mendengar ucapan Revan pun hanya tersenyum mengiyakan tuannya itu.


Mereka berdua pun berjalan menuju meja makan yang ada tak jauh dari ruang tengah. Revan mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang ada disana. Aira pun ikut duduk di sampingnya.


Revan pun langsung mengangkat cangkir yang berisi kopi hitam tanpa gula yang setiap pagi selalu dia minum saat sarapan. Di cecapnya kopi itu perlahan sambil sesekali di ciumi nya aroma dari dalam cangkir yang masih mengepul itu.


" Hemmm ... Kenapa pagi ini kopi ini terasa begitu sangat nikmat ya?." gumam Revan sambil meminum kopi nya kembali.


Mbok sum yang mendengar itu pun tersenyum dan mendekat.


" Karena kopi yang tuan muda minum saat ini adalah buatan nona muda, tuan. Makanya rasanya sedikit berbeda." jelas mbok sum sambil melirik ke arah Aira. Aira hanya tersenyum mendengar ucapan mbok sum.


" Oohh yaaa??. Benarkah?. Pantas rasanya berbeda dengan biasanya." ujar Revan.


" Kamu lebay deh." jawab Aira sambil menggigit roti yang ada di hadapan nya.


" Sungguh sayang. Aku tidak berbohong. Rasanya memang berbeda dengan biasanya. Terima kasih ya. Kopi buatan kamu sungguh sangat enak sekali." seru Revan sambil menatap wajah istrinya dengan lembut. Aira pun mengangguk mengiyakan.


" Kalau kamu suka, setiap hari akan aku buatkan kopi seperti itu." tukas Aira.


" Boleh. Kamu nyonya di rumah ini sekarang. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan. Asal jangan bawa laki - laki lain masuk ke rumah ini. Aku akan mencincangnya sampai halus nanti." ujar Revan. Aira hanya tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


" Aku serius!." seru Revan dengan tatapan tajam nya.


" Iya iya. Aku akan ingat semua itu. Apa yang kamu suka dan tidak kamu sukai." jawab Aira mengalah. Karena kalau tidak seperti itu, ini akan menjadi perdebatan yang panjang untuknya. Karena dia sudah tau sifat cemburu nya Revan seperti apa.


Mereka pun sarapan dengan tenang. Walaupun sesekali Revan terlihat menggoda sang istri dengan candaan yang menggoda dan membuat gelak tawa di keduanya.


Tak bisa di pungkiri, raut wajah bahagia terpancar di keduanya. Bagi Revan, ini kebahagiaan yang selama ini dia impikan. Semenjak kepergiaan ibunya, dia merasa hidupnya tidak akan pernah bahagia lagi.


Walaupun ini bukan pernikahan pertama bagi Aira. Tapi Revan adalah cinta pertama yang selalu melekat di hatinya. Banyak sekali harapan Aira di pernikahan nya kali ini. Dia pun berjanji akan selalu membuat lelaki yang kini menjadi suaminya tidak akan membuat kesedihan untuk lelaki itu. Dia akan memberikan kebahagiaan yang selama ini di inginkan Revan. Kebahagiaan yang seutuhnya. Hanya untuk Revan.

__ADS_1


*****


Setelah sarapan, Aira pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidurnya pun berbunyi. Di raihnya dompet tersebut. Ada nama Santi di layar ponsel tersebut.


" Assalamualaikum. Iya dek, ada apa?." sapa Aira saat mendengar suara dari balik ponselnya itu.


" Gak ada apa - apa mbak. Mbak Aira sibuk ya." tanya Santi.


" Enggak kok." jawab Aira.


" Oohh gitu. Ohh iya ya. Di rumah mas Revan kan ada pembantu. Mana mungkin mbak Aira sibuk. Paling juga sibuk sama mas Revan. Hehehehe .... " goda Santi dengan gelak tawa yang khas dari perempuan itu.


" Iihhhh ngomong apa sih kamu. Pagi - pagi sudah bicara yang enggak - enggak." jawab Aira malu dengan wajah yang merona.


" Halah. Kayak gak pernah jadi pengantin baru aja. Mbak, berapa ronde semalam?." tanya Santi usil yang sekaligus penasaran dengan kegiatan baru kakak nya itu.


" Apa sih??. Kamu itu, masih pagi juga sudah ngeres aja pikirannya. Masak sana buat anak dan suami mu. Jangan kepo deh dengan rumah tangga orang." tukas Aira malu.


Santi yang mendengar ucapan kakaknya itu hanya tertawa terbahak - bahak. Dia menganggap kakaknya begitu sangat lucu sekali. Maka dari itu dia suka sekali menggoda kakaknya.


" Ada perlu lagi gak?. Kalau gak, mbak tutup nih." dengus Aira.


" Eehh tunggu dulu mbak. Gitu aja marah. Aku kan cuma bercanda. Gitu aja marah." jelas Santi.


Revan membuka pintu kamar dan mendapati istrinya duduk di sofa sambil berbincang dengan seseorang di balik ponselnya.


" Santi." jawab Aira lirih.


Santi yang mendengar suara Revan pun tertawa senang. Dia sudah membayangkan bagaimana kemesraan kakak dan kakak iparnya itu.


" Sudah ahh nanti di sambung lagi. Mbak masih beres - beres nih." ujar Aira lalu mematikan ponselnya.


Revan masih memeluk tubuh istrinya dengan manja. Sambil sesekali mengecup pipi dan leher wanita itu.


" Iihh kamu ini apaan sih. Sudah sana aku mau beres - beres dulu. Jangan ganggu." seru Aira sambil menggeser tubuh Revan.


Aira akan beranjak dari duduknya, tapi Revan meraih pinggang istrinya itu hingga terduduk di pangkuannya. Kini Revan mengeratkan pelukannya.


" Kamu kenapa galak gitu sih sayang. Apa kamu gak mau berduaan denganku. Kita kan baru saja menikah." seru Revan sambil memeluk tubuh Aira.


" Tapi aku mau beres - beres baju ku dulu. Lihat tuh baju ku masih di dalam koper begitu. " tunjuk Aira kepada koper yang ada di depan lemari pakaian yang ada disana.


" Nanti saja beres - beres nya. Nanti aku suruh mbok sum sama mbak Aminah yang beresin." ujar Revan.


" Kamu itu ya. Kalau sudah ada mau nya saja manis sekali." dengus Aira. Revan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


" Sayang aku boleh tanya gak?." tanya Revan.

__ADS_1


" Apa?!." seru Aira.


" Semalam ... Eehh semalam ... Apa kamu merasa aneh atau gimana gitu?." tanya Revan ragu - ragu. Aira berpikir tentang pertanyaan suaminya ini.


" Apa maksudmu?. Aku tidak mengerti." tukas Aira tak mengerti. Revan menghela nafasnya secara kasar. Dia menatap wajah Aira dengan lesu.


" Apa sih?. Aku gak ngerti dengan apa yang kamu ucapin?. Ngomong yang jelas gak usah muter - muter." seru Aira.


" Apa kamu puas dengan service ku semalam?." tanya Revan dengan tegas sambil menutup matanya agar tak melihat wajah Aira. Aira seketika membeku mendengar pernyataan itu. Wajah Revan pun berubah menjadi merah karena menahan malu.


" Kenapa kamu bertanya begitu?." tanya Aira.


" Sudah jawab saja. Gak usah muter - muter." jawab Revan dengan nada frustasi.


Aira pun memiliki ide untuk menggoda suaminya itu.


" Eehhmmm gimana ya sayang. Sebenarnya aku sih gak mau bahas soal ini. Berhubung kamu menanyakan hal ini. Ya sudah aku akan jawab." jelas Aira. Revan pun mendengar kan dengan seksama.


" Semalam .... Aku ....." jawab Aira sambil menggelengkan kepalanya dan menunjukkan jari kelingkingnya ke arah Revan. Revan mengerutkan dahi nya melihat maksud tangan aira.


" Masa' punya aku segitu?. Yang benar saja. Jangan bercanda kamu sayang." ucap Revan tak percaya. Aira pun tersenyum mendengar ucapan Revan dan berlalu pergi.


" Kamu harus banyak belajar ya sayangku." tukas Aira sambil menepuk - nepuk bahu suaminya. Tanpa pikir panjang, Revan langsung mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur.


" Revan apa yang mau kamu lakukan." seru Aira sambil meronta - ronta minta di turunkan.


" Aku cuma mau membuktikan omonganmu saja sayang. Apa benar hanya sebesar kelingking tanganmu saja." tukas Revan sambil berjalan menuju ranjang tempat tidurnya. Aira yang mendengar itu pun langsung terkejut dan terus meronta minta lelaki itu menurunkan tubuhnya.


" Revan lepaskan aku. Kamu ini mau apa?. Revan malu ahh di lihat mbok sum sama


mbak Aminah." seru Aira.


" Perduli amat sama mereka. Mereka juga pasti ngerti. Kita kan pengantin baru. Sudah deh jangan banyak alasan. Kamu diam saja dan nikmati permainan kita hari ini." ujar Revan sambil membuka baju dan celana nya. Revan mengambil remote yang ada di atas meja dan menekan tombol untuk menutup gorden.


Dan akhirnya film yang bermuatan tentang adegan kemesraan dan keromantisan pun terjadi.


******


Hai readers ...


Mohon maaf ya karena baru bisa update ...


Karena author lagi diserang flu berat. Apalagi sekarang lagi ada virus covid - 19 yg sudah masuk di negara kita. Jadi author sibuk pergi ke dokter untuk chek up dan segalanya. Tapi Alhamdulillah hasil nya negatif. Jadi author bisa nulis lagi deh.


Mohon maaf yaa ...


Terima kasih semuanya ....

__ADS_1


__ADS_2