
Cukup lama Aira kehilangan kesadarannya. Badannya terus mengejang dan berubah menjadi dingin untuk beberapa saat. Bibir nya pun kini berubah menjadi biru keunguan. Revan dan dokter disana masih terus melakukan upaya penanganan. Revan sangat cemas dan panik dengan kondisi Aira saat ini.
Revan melepas alat bantu pernafasan yang terpasang di hidung istrinya. Dia pun memberikan bantuan nafas melalui mulut wanita itu secara langsung. Dia tak perduli dengan tatapan para dokter dan perawat disana. Yang dia pikirkan adalah keselamatan nyawa istrinya.
" Aira cepat sadarlah. Ayo bangun sayang." seru Revan sambil sesekali melakukan CPR di dada istrinya.
Dan .....
Aira langsung berteriak dengan keras saat kesadarannya kembali. Dia terbatuk - batuk sambil memegangi dadanya yang terasa panas. Semua yang ada di dalam ruangan itu pun akhirnya bisa bernafas dengan lega.
" Sayang kamu gak apa - apa kan?." tanya Revan sambil mengusap wajah istrinya yang basah oleh keringat dingin.
" Revan. Aku takut." ujar Aira lalu memeluk tubuh suaminya itu. Revan menghela nafasnya dengan kasar. Dia begitu ketakutan sekali saat melihat istrinya seperti itu.
" Ada aku disini. Kamu jangan takut ya." tukas Revan. Kinanti mengambilkan handuk kering dan bersih. Revan meraih handuk itu lalu mengusap semua keringat yang membanjiri wajah istrinya.
" Permisi dok, saya akan menensi ulang tekanan darah nyonya Aira." ujar salah seorang perawat. Revan pun mengiyakan dan menggeser posisi nya untuk memberi ruang untuk perawat disana agar lebih leluasa memeriksa istrinya.
" Tekanan darahnya 170/100. Denyut nadi 90." ujar perawat itu.
" Dok, apa perlu kita menghubungi dokter Radit?." tanya salah seorang dokter muda disana. Dia takut kalau Aira akan mengalami hal seperti ini lagi.
" Tidak perlu. Ada aku disini. Kalian tolong resepkan obat magnesium sulfad dan berikan dosis 25mg per 10 menit. Kalau sudah bawa kemari obatnya." ujar Revan kepada dokter disana. Dokter disana pun beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan meresepkan obat yang di minta oleh Revan.
Revan menambah dosis obat penurun tekanan darah dan anti kejang untuk istrinya. Sebenarnya ini kewenangan temannya Radit. Karena dia yang bertanggung jawab penuh untuk pemeriksaan Aira. Tapi Revan tidak mau mengganggu waktu istirahat temannya itu. Jadi dia sendiri yang akan meresepkan obat dan mengawasi penggunaan obat tersebut kepada Aira.
Kinanti masih memeluk tubuh putrinya itu. Wajahnya begitu pias saat melihat putrinya tadi seperti itu. Revan mengusap kepala istrinya.
" Apa Aira baik - baik saja Van?." tanya Kinanti.
" Semoga saja ma." jawab Revan.
" Tadi dia kenapa bisa kejang seperti itu?." tanya Kinanti.
__ADS_1
" Itu lah yang bernama pre eklamsia ma. Jika tekanan darahnya semakin naik dan tak terkontrol. Ibu hamil akan mengalami kejang dan berdampak pada kehilangan nyawa. Itu yang aku khawatir kan dari kemarin. Apalagi tubuh Aira sekarang sedang tidak baik dengan adanya komplikasi pada jantung nya. Itu akan memperburuk kestabilan tubuhnya." jelas Revan. Aira hanya menangis di pelukan mama nya ketika mendengar Revan berkata seperti itu. Kinanti mengusap kepala anak nya dengan lembut.
" Sayang. Kamu lihat kan. Kondisi kamu tidak baik saat ini. Jadi mama mohon kamu turuti saja omongan Revan dan para dokter ya." ujar Kinanti membujuk Aira.
" Enggak ma. Aku gak mau kehilangan anakku. Aku gak bisa kehilangan dia." tukas Aira sambil terus menangis.
" Lalu kalau aku kehilangan kamu bagaimana?. Kamu tidak merasakan perasaanku, hah!. Kamu bisa kehilangan nyawa kamu jika kamu terus nekat mempertahankan anak itu." tukas Revan geram. Dia mulai kesal dengan keegoisan istrinya yang terus mempertahankan anak dalam kandungannya.
" Dia anakku!!. Bukan anak itu!!." seru Aira tak terima mendengar Revan menyebut bayi dalam perutnya dengan sebutan anak itu.
" Aku tidak perduli dia anak siapa. Yang paling penting itu keselamatan nyawa kamu saat ini. Kenapa kamu gak ngerti - ngerti sih. Aku disini memperjuangkan keselamatan kamu." tukas Revan.
" Aku gak perduli dengan nyawaku. Aku hanya ingin anakku lahir dengan selamat dan hidup!." ujar Aira. Kinanti dan Revan menghela nafas bersamaan. Mereka tau Aira adalah anak yang paling keras kepala. Segala keinginan nya sangat sulit untuk di elak.
Dokter jaga disana pun masuk kedalam ruang perawatan Aira sambil membawa ampul obat dan alat suntik yang masih terbungkus rapi. Revan mencuci tangannya dengan cairan alkohol yang ada disana. Lalu dia mengambil sarung tangan yang ada di dalam tas nya dan memakainya.
Di ambillah ampul obat tersebut dan di suntikkan ke dalam alat suntikan tersebut. Revan meraih tangan Aira dan di buka saluran selang untuk memasukkan obat melalui nadi nya itu.
Terlihat Aira mendesis kesakitan. Ketika obat itu di suntikkan dan melewati pembuluh darahnya, rasanya panas dan seperti di silet dengan pisau yang sangat tajam. Revan menyuntikkan obat itu secara perlahan. Revan sambil menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Memberikan jarak 10 menit untuk setiap 25mg obat yang masuk ke dalam tubuh istrinya.
Di perhatikan wajah istrinya dengan seksama. Aira memejamkan matanya sambil menahan panas di tubuhnya akibat obat yang di suntikkan itu. Bayi di dalam perutnya pun juga bereaksi akan adanya obat itu di dalam tubuh Aira. Perut Aira terasa semakin kencang karena bayi di dalam perutnya pun bergerak sangat aktif. Mungkin dia juga merasakan panas akibat obat itu.
Revan menyuntikkan obat itu lagi kedalam tubuh Aira saat waktu yang di tentukan sudah lewat. Aira mendesis lagi. Panas di tubuhnya kembali dia rasakan. Kinanti sampai mengusap kening anaknya yang basah oleh keringat akibat obat itu.
Tiba - tiba tubuh Aira bereaksi kembali. Aira mengeluarkan darah segar di bagian hidung dan telinga nya. Kinanti begitu terkesiap melihat adanya banyak darah disana.
" Ya Allah nak?. Kamu kenapa?." teriak Kinanti saat melihat darah segar itu. Revan menoleh ke arah istri nya. Dia pun menghentikan memberikan obat itu kepada istrinya disana. Aira hanya terdiam sambil mengusap darah yang keluar di hidungnya.
" Jangan di tekan. Tutup pakai tissue ini." ujar Revan sambil menyodorkan tissue kepada istrinya itu. Kinanti mengelap darah yang keluar dari telinga putrinya.
" Dok, kenapa keluar darah seperti ini?." tanya doktet jaga itu dengan cemas.
" Tubuh nya tidak menerima reaksi obat. Panggil perawat kesini. Suruh mereka membawa cairan alkohol untuk membersihkan dan menghentikan pendarahannya." ujar Revan kepada dokter yang masih terlihat muda itu.
__ADS_1
" Apa darahnya masih keluar ma?." tanya Revan.
" Sepertinya sudah enggak Van. Apa Aira baik - baik saja?." tanya Kinanti khawatir.
" Entahlah Ma." jawab Revan sambil mengusap darah di hidung istrinya itu. Aira menatap wajah lesu suaminya. Di pegang nya tangan suaminya itu. Revan menatap wajah istrinya sekilas. Lalu dia menepis tangan istrinya perlahan dan berjalan menjauhi wanita itu.
Revan mengambil ponsel nya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Terlihat dua orang perawat dan dokter jaga disana memasuki ruangan. Revan menghubungi nomor ponsel Radit temannya. Lama sekali tak ada jawaban dari Radit. Sekarang masih pukul dua dini hari. Terang saja Radit temannya itu tidak menjawab. Karena dia masih terlelap dalam mimpinya di rumah.
" Hallo."
" Hallo. Ada apa Van?." tanya Radit saat mendengar suara Revan.
" Maaf aku ganggu waktu istirahat mu. Ada hal penting yang harus aku katakan padamu." jawab Revan.
" Apa?. Bicaralah!." ujar Radit. Terdengar Revan menghela nafasnya.
" Aku menyetujui pengambilan bayi dalam kandungan Aira. Aku akan tanda tangan. Secepatnya kamu bisa melakukan terminasi itu." ujar Revan mantap.
" Kamu serius?." tanya Radit terkejut.
" Iya." jawab Revan singkat.
" Apa alasannya?. Tidak mungkin kamu menyetujui keputusan itu secepat ini." tanya Radit ragu.
" Aira baru saja menagalami kejang. Dan saat aku memberikan obat magnesium sulfad tubuhnya mengeluarkan reaksi. Hidung serta telinga nya mengeluarkan darah segar. Aku takut Dit. Aku takut akan banyak komplikasi lagi pada tubuhnya jika tidak segera di tangani." jelas Revan.
" Apa?. Separah itu kondisi istri mu Van?. Ok, satu jam lagi aku akan tiba di rumah sakit. Kamu benar. Kalau tidak di tangani dengan cepat, istri mu bisa tidak tertolong." ujar Radit.
" Cepatlah!. Aku tunggu di rumah sakit." tukas Revan lalu mematikan panggilan telepon nya.
Dia masih memandang pintu ruangan tempat istrinya di rawat. Dia menghela nafasnya dengan berat. Ada banyak yang menghantui pikirannya.
Aku akan melakukannya Aira. Aku akan mengeluarkan bayi itu secepatnya. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Aku tidak perduli jika kamu marah padaku nantinya. Aku hanya ingin kamu selamat. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Aku tidak bisa
__ADS_1