
Sepulang dari jalan - jalan, Atmaja, Reihan, Amanda dan Kirana pun kembali pulang di kediaman Revan. Saat mereka pulang, mobil Revan sudah tidak ada di garasi rumahnya.
" Revan ada dimana, mbok?." tanya Atmaja ketika memasuki rumah. Mbok sum yang membuka kan pintu untuk majikannya itu hanya terdiam.
Atmaja melirik ke arah mbok sum. Mbok sum masih terdiam dan menunduk.
" Dia pergi menemui perempuan itu lagi?." tanya Atmaja masih menatap mbok sum.
" Saya kurang tau tuan. Tuan muda tidak bicara mau pergi kemana. Selesai makan, tuan muda langsung pergi begitu saja." jawab mbok sum hati - hati.
Atmaja menghela nafasnya. Lalu beranjak menuju kamarnya. Reihan dan Amanda yang melihat itu pun hanya bisa berdecak dan menghela nafas masing - masing.
" Mas, sampai kapan kita disini?." tanya Amanda saat berada di dalam kamarnya. Reihan pun menghela nafasnya. Dia menatap ke arah istrinya yang tengah menghapus riasan wajahnya di dekat meja rias.
" Aku tidak bisa cuti lama - lama." imbuh Amanda lagi saat dirinya tak mendengar jawaban apapun dari suaminya itu.
" Nanti aku bicara dulu dengan papa." jawab Reihan. Amanda pun mengangguk lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Reihan menyandarkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Dia juga bingung harus bagaimana. Adiknya dan ayahnya tengah bersitegang.
*****
Sementara Revan sekarang tengah berada di rumah Aira. Dia tengah bermain dengan Bian. Terlihat tawa riang Bian dan Revan di ruang tamu rumah itu. Aira pun tersenyum saat melihat pemandangan itu.
" Seru banget sih dek. Main apa sama oom?." tanya Santi ikut nimbrung juga di ruang tamu tersebut. Revan tersenyum melihat Santi.
" Bian suka gak sama es krim?." tanya Revan.
" Suka oom." jawab Bian polos.
__ADS_1
" Kalau gitu, ayo kita beli es krim." ujar Revan. Bian pun mengangguk senang. Revan pun Mengisyaratkan matanya ke arah Aira. Aira pun beranjak berdiri.
" Kunci motormu mana?. Kita naik motor saja." tukas Revan. Aira pun masuk ke dalam untuk mengambil kunci motor yang ada di kamarnya.
" Ayo kita berangkat." seru Revan sambil menggendong Bian.
Revan, Aira dan Bian pun pergi ke supermarket terdekat mengendarai motor milik Aira. Mereka bertiga tampak bahagia. Layaknya keluarga kecil yang harmonis.
Seusai membeli es krim dan beberapa snack untuk Bian, mereka pun kembali pulang ke rumah Aira. Sebelum mereka pulang tadi, mereka mampir ke sebuah toko kue yang ada di dekat rumahnya dan membeli beberapa kue untuk Santi di rumah.
Revan telah memarkirkan motor Aira di teras rumahnya. Aira dan Bian pun masuk sambil membawa dua kantong besar plastik makanan. Santi dan Akbar yang sedang duduk di ruang tamu pun menoleh dengan heran.
" Banyak banget mbak. Beli apa aja itu?." tanya Santi sambil membuka tas plastik itu. Di lihat nya di dalam plastik itu berisi aneka macam snack dan permen disana.
" Bian minta apa aja sama oom?." tanya Santi sambil menatap ke arah putra kecilnya itu. Bian yang ketakutan bersembunyi di balik kaki Revan yang baru memasuki rumah tersebut.
" Bian gak minta apa - apa kok. Aku sengaja beliin buat Bian. Biar bian puas makan nya. Iya kan Bian." ujar Revan sambil menggendong tubuh mungil itu.
" Ini buat aku mbak?. Terima kasih banyak loh mbak, mas Revan." ujar Santi sambil membuka kotak kue tersebut. Revan mengangguk mengiyakan ucapan Santi.
Bian makan es krim dengan lahapnya. Hingga es krim itu belepotan di mulut dan bajunya. Revan tersenyum melihat kelakuan Bian. Setelah puas memakan es krim dan snack. Akhirnya Bian tertidur dengan pulas.
Akbar menggendong putranya tersebut untuk tidur di kamarnya. Santi pun berjalan di belakang suaminya. Tinggal Aira dan Revan yang berada di ruang tamu tersebut.
" Kamu gak pulang?." tanya Aira. Revan menoleh ke arah Aira.
" Kenapa kamu mengusirku?." tanya Revan balik.
" Aku lelah. Aku ingin tidur." jawab Aira sambil sesekali menguap. Matanya pun terlihat berair menahan kantuk.
__ADS_1
" Tidur aja kalau kamu lelah. Aku akan disini menunggu mu sampai kau terbangun nanti." tukas Revan. Aira menatap lekat - lekat wajah lelaki itu. Revan juga menatap wajah perempuan di sebelahnya itu.
" Sampai kapan kamu akan menghindar dari keluarga mu begini?." tanya Aira. Revan terdiam. Hanya terdengar suara helaan nafasnya.
" Sampai kapan aku akan jadi pelarianmu untuk menghindari Keluarga mu itu?." imbuh Aira. Revan mengerutkan dahi nya memandang wajah Aira.
" Pelarian?. Kenapa kamu berpikir kalau aku menjadikanmu sebuah pelarian?." tanya Revan.
" Lalu apa." seru Aira.
Revan mencerna kalimat yang Aira ucapkan padanya. Dia menghela nafas nya.
" Mau kamu apa sekarang?." tanya Revan tiba - tiba dengan suara datarnya. Dia mulai tampak kesal dengan perempuan di sebelahnya itu.
" Tidak ada. Aku tidak mau apa - apa." jawab Aira. Revan yang sudah kesal pun langsung beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan rumah itu.
" Revan kamu mau kemana?." seru Aira sambil memanggil namanya. Tapi sedikit pun tak di hiraukan oleh lelaki itu. Revan pun menuju mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Entah mengapa dia merasa sangat kesal dengan ucapan Aira padanya. Dia seperti ini kan karena membela kekasih nya tersebut. Kenapa malah di tuduh sebagai pelarian.
Ya memang dia tengah berlari dari keputusan ayahnya. Tapi itu semua karena dia mencintai dirinya. Rasa - rasanya seperti tak di hargai sama sekali perjuangan dirinya kepada Aira.
" Kenapa mencintaimu sungguh sesulit ini." dengus Revan kesal. Mobilnya masih melaju kencang. Entah dirinya mau kemana saat ini. Pikiran nya sedang kalut.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa ...
__ADS_1
Terima kasih** ....