
Aira masih belum sadarkan diri. Revan telah selesai dengan transfusi nya. Tubuhnya masih lemah, pandangannya juga berkunang - kunang. Dia juga masih terbaring di samping Aira.
Aira pingsan sudah hampir 2 jam. Para tim medis masih terus memantau perkembangannya. Revan melirik ke arah perempuan itu.
Wajahnya sudah tidak pucat seperti tadi. Sudah ada rona di kedua pipinya. Tapi matanya masih enggan untuk terbuka.
Dahi aira mulai bergerak. Kesadarannya telah berangsur kembali. Revan menarik lengan bajunya yang di gulung tadi. Dia tidak ingin perempuan ini gelisah dan tau kalau dia yang telah mendonorkan darahnya tadi untuknya.
Mata Aira mulai mengerjap perlahan dia mengamati dinding rumah sakit yang berwarna putih. Di lihatnya sekitar. Revan mengusap pipinya lembut.
" Aku ada dimana ini?!." tanya Aira sambil menatap sekeliling.
" Di rumah sakit. Kalau masih pusing, rebahan aja dulu." jawab Revan.
" Kamu kok ada disini?!." tanya Aira lagi saat melihat Revan berada di samping nya.
" Aku kerja di sini." jawab nya sambil tersenyum. Tangannya masih mengusap pipi Aira dengan lembut.
Aira coba bangkit dari tidurnya dan mendudukan dirinya di bed IGD.
Perempuan itu melihat tangannya telah terpasang infus dan ada selang satu lagi yang mengalir darah dari kantong darah yang tergantung disana.
Aira tidak hanya menerima transfusi darah dari Revan semata. Dia juga menerima donor dari dokter andin, teman sejawat dengan Revan.
Terasa nyeri pada telapak tangannya. Mungkin bius yang tadi di suntikkan oleh dokter jaga sudah mulai memudar.
" Apa sangat sakit?!." tanya Revan. Aira mengangguk mengiyakan.
" Tanganmu terluka cukup dalam dan parah. Dokter terpaksa menjahit luka itu." tukas Revan.
" Aku akan panggilkan dokter nya dulu. Agar kamu di beri obat penahan rasa sakit." imbuhnya.
Revan berjalan menuju ruang dokter jaga. Kepalanya sedikit pusing saat di buat berjalan. Perawat yang tau langsung memapah nya dan menyuruhnya untuk duduk.
Revan menginstruksikan agar perawat dan dokter disana untuk merahasiakan kalau Revan tadi mendonorkan darahnya pada Aira.
Revan beralasan, kalau dia tidak ingin perbuatan baiknya itu di ketahui siapa - siapa kecuali yang ada di ruang IGD itu.
Dokter jaga memeriksa kondisi Aira yang mulai stabil. Tekanan darah dan denyut nadi nya pun kembali normal.
Aira di suruh menunggu satu jam lagi kalau kondisi nya baik - baik saja dia di perbolehkan pulang ke rumah.
__ADS_1
Revan meminum susu yang di berikan perawat disana sebagai tambahan tenaga agar pusing nya Revan membaik.
Aira membaringkan tubuhnya lagi. Dia menunggu keberadaan Revan yang tak muncul kembali dari balik tirai.
Setelah kondisi Revan mulai stabil. Dia kembali menghampiri Aira yang terbaring di bed IGD.
" Kamu darimana aja. Aku takut." seru Aira saat melihat Revan kembali.
" Abis dari toilet. Sudah gak tahan." jawabnya berbohong.
Ada dua orang laki - laki yang tiba - tiba membuka tirai bed Aira. Dua orang itu pengawas dan kepala keamanan di pabrik Aira bekerja.
Mereka bersyukur Aira baik - baik saja. Aira hanya tersenyum mendengar penuturan dua orang tadi yang panjang kali lebar itu.
Revan terus melirik ke arah pengawas Aira yang sedari tadi tangannya memegang bahu Aira dan sesekali memegang tangan Aira.
Perasaan tidak suka dan cemburu pun hinggap di hatinya. Dia tidak suka wanita nya di pegang pria lain. Revan mencoba menahan amarahnya dan kekesalannya.
Tangannya sudah terkepal menahan geram. Aira menyadari perubahan wajah Revan yang tampak jelas. Tapi dia tidak tahu apa yang membuat lelaki itu terlihat kesal sekali.
Setelah dua orang laki - laki itu pergi meninggalkan Aira sendiri disana. Revan pun duduk di samping bed Aira.
" Kamu kenapa?!." tanya Aira tak mengerti.
" Masih tanya kenapa lagi?!. Memang kamu gak tau apa kesalahanmu?!." seru Revan kesal.
" Aku memang gak tau apa salahku." jawab Aira setengah berbisik. Karena dia masih di ruang IGD jadi dia tidak berani berbicara keras takut mengganggu pasien lainnya.
Revan mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya. Aira memegang lengan Revan mencoba mencari jawaban dari kekasihnya itu. Revan menghela nafas panjang dan menatap wajah Aira. Di cubitnya gemas hidung perempuan itu. Aira hanya memekik lirih sambil memegangi tangan Revan.
" Lain kali kamu begitu lagi, aku tidak akan memaafkanmu." ucap Revan.
" Ada apa sih?!. Kalau kamu gak enak hati denganku, coba kasih tau aku. Dimana salahku. Jangan kamu suruh aku menerka - nerka sendirian. Aku gak tau dimana letak salahku." jelas Aira masih memegangi tangan Revan.
" Aku gak suka dengan kedua orang itu tadi. Berani nya dia, tangannya memegang tubuhmu sembarangan begitu." jawabnya sambil cemberut.
Aira tercekat mendengar ucapan Revan. Dia tidak tau kalau kekasihnya itu sedang kesal karena cemburu ada yang menyentuh dirinya tadi. Aira pun tersenyum melihat kelakuan Revan.
" Kenapa kamu tersenyum?!. Kamu suka kan di pegang - pegang begitu dengannya." tukas Revan setengah berteriak.
Aira membungkam bibir Revan dengan telapak tangannya yang dibalut dengan perban itu. Revan menatap wajah Aira. Aira menggelengkan kepalanya kepada nya.
__ADS_1
" Kecilkan suara mu Revan." seru Aira lirih.
" Aku gak ada perasaan apa - apa dengan pak waluyo. Dia itu pengawasku. Dia sudah memiliki istri dan anak. Kamu kalau mau cemburu itu kira - kira dong." jelas Aira lagi.
Revan melototkan matanya mendengar ucapan Aira barusan. Dia sangat kesal mendengar ucapan Aira seakan menganggap hal barusan suatu hal yang remeh.
Aira sadar lelakinya itu kini di hinggapi rasa cemburu hebat. Penjelasaan sepertinya tak akan mempan untuknya.
" Jadi kamu anggap ini semua itu hal yang wajar?!. Kamu keterlaluan." tukas Revan. Dia tergelak mendengar ucapan Aira yang membuatnya tambah kesal.
Aira menghela nafas panjang dan menarik lengan Revan agar lebih mendekat lalu mengecup bibir lelaki itu sekilas.
Revan tertegun melihat kelakuan Aira yang sangat agresif itu menurutnya.
" Aku gak ada hubungan apa - apa dengan lelaki siapa pun kecuali kamu." jelas Aira dengan nada lembut kepada Revan. Tangannya pun menyentuh bibir Revan yang baru di kecupnya itu dengan lembut.
" Kamu percaya kan sama aku." tanya Aira kepada Revan. Tatapan mata perempuan itu berubah sendu. Tangannya masih bergerak mengelus bibir merah Revan.
Seperti terkena sihir. Amarah yang meluap dalam dirinya tadi, tiba - tiba lenyap seketika entah kemana. Senyum pun tersungging di bibirnya.
Di tatapnya wajah kekasihnya itu lekat - lekat. Direngkuh nya kepala perempuan itu dalam pelukannya. Aira memejamkan matanya dalam dada bidang kekasihnya itu.
" Jangan pernah tinggalin aku. Aku gak mau kehilangan kamu." ucap Revan lirih sambil membelai rambut Aira yang tertutup oleh kerudung.
Aira mengangguk mengiyakan permintaan Revan. Sesaat kedua nya masih larut dalam perasaan masing - masing.
Perawat yang berada di ruang IGD itu tak sengaja dari tadi melihat adegan demi adegan dua sejoli yang di mabuk cinta.
Perawat itu pun menutup mulutnya yang menganga tak percaya menyaksikan kemesraan mereka.
Dokter Revan bukannya pacar dokter Sheila, yaa. Kok sama perempuan itu mesra begitu. Jangan - jangan dokter Revan selingkuh. Dan perempuan itu selingkuhannya dokter Revan. Aku gak boleh tinggal diam. Dokter Sheila harus tau kelakuan pacarnya ini. Aku gak nyangka dokter Revan bisa sekejam itu mengkhianati dokter Sheila. Gumam perawat itu dalam hati.
Perawat itu masih mengamati pasangan itu dari kejauhan. Dasar perempuan gatel. Perempuan perebut laki orang. Ingin ku jambak - jambak saja itu perempuan. Heeemmm gemas nya .... Tukas perempuan itu lagi dalam hati.
~ **Happy reading ~
Hai readers ...
Tolong kasih like, komen, serta vote nya yaaa ....
Agar penulis makin semangat menulis ceritannya** ...
__ADS_1