
Setelah di rasa adegan kakaknya dengan kekasih nya telah usai. Santi melangkah kan kaki nya menuju ruang tamu.
Dia melihat wajah kakak nya dan lelaki nya itu tampak merona. Aira berlagak tak terjadi apa - apa di kedua nya.
" Kenapa kalian masih diam disini?!. Gak ada yg ambil air wudhu apa?!. Apa telinga kalian itu tak mendengar suara adzan di masjid, hah.? " ucap nenek membuyarkan ketiga orang itu disana.
" Santi lagi dapet nek. Jadi libur gak sholat." tukas Santi.
Aira masuk ke dalam segera sebelum neneknya mengomel kembali. Nenek nya memandang ke arah Revan. Revan pun sedikit canggung.
" Apa kamu juga menstruasi juga?!." tanya nenek pada Revan.
" Tidak nek." jawabnya.
" Lalu kenapa masih diam di situ. Ayo cepat ambil wudhu." seru nenek.
Revan pun berdiri dan masuk ke dalam untuk mengambil air wudhu. Tampak Aira di sana sedang berwudhu.
Kinanti telah menggelar sebuah tikar besar di ruang tamu itu. Lalu Santi pun membawa sebuah sarung bersih milik suaminya kepada Revan.
" Ini mas sarung nya. Itu bersih kok. Baru ambil dari lemari." ujar Santi.
" Terima kasih. Boleh aku pinjam kamar nya. Buat ganti celana ini." tukas Revan.
" Boleh. Mas Revan ganti di kamar mbak Aira saja. Sebelah sini kamarnya." tunjuk Santi.
Revan pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut. Di lihatnya sekeliling kamar kekasihnya itu. Sangat sederhana. Hanya ada ranjang yang cukup untuk satu orang, sebuah lemari dan kipas angin disana.
Setelah berganti sarung, dia menuju ke belakang untuk berwudhu. Lalu setelah itu dia menuju ke ruang tamu. Disana terlihat ada tiga perempuan sedang menunggu nya. Revan tersenyum melihat ketiga perempuan itu.
" Kamu jadi imam ya. " pinta nenek.
" Saya nek." tanya Revan.
" Iya lah. Siapa lagi?. Kita bertiga kan perempuan." jelas nenek.
Revan menarik nafas dan membuangnya. Lalu dia maju kedepan kami bertiga. Dia telah siap mengimami sholat maghrib kita.
Seelah ucapan salam kita semua pun berdoa. Terdengar suara dzikir dari mulut nenek. Ku lihat Revan juga menadahkan kedua tangannya. Entah apa yang dia pinta dalam bait doa nya. Semoga ada namaku terselip di barisan doa nya.
Aku pun menadahkan kedua tanganku. Ku lantunkan semua keinginanku pada Yang Maha Kuasa. Termasuk keinginanku untuk bersama nya. Ku tatap punggung nya dari belakang. Dia lelaki yang aku ingin saat ini. Lelaki yang ku cinta sejak dulu.
Selesai sholat, aku, mama, dan Santi berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Nenek menemani Revan dan Bian di ruang tamu sambil menonton film kartun kesukaan bian.
Aku
" Revan orang nya baik ya." seru mama.
" Baik gimana maksud mama?." tanyaku.
" Ya baik. Kan kelihatan dari muka nya cara dia bicara itu semua sangat baik dan sopan." ujar mama memuji.
" Mas Akbar juga baik ma." tukas Santi iri karena mama memuji calon mantu nya ketimbang yang sudah menjadi mantu.
" Kalau itu gak usah di tanya." jawab mama menyenangkan hati Santi.
" Ohh ya ngomong - ngomong suami mu pulang jam berapa dek. " tanya ku heran.
" Dia lembur. Katanya sih pulang malam. Entah jam berapa." jawabnya.
" Oohh pantesan. Biasanya jam segini dia kan sudah pulang." ujar ku.
" San, kalau sayur nya sudah mateng di bawa ke depan langsung aja." pinta mama.
Santi membawa panci sayur asem yang telah matang ke depan. Mama mengambil nasi yang ada di rice cooker lalu memindahnya ke dalam wadah tempat nasi dan membawa nya ke depan.
Aku pun menyusul mama dan Santi ke depan. Kita bersiap untuk makan malam bersama. Menu makan malam ini masakan rumahan yang sederhana. Tapi di jamin bikin ketagihan.
__ADS_1
" Ayo kita makan." seru Santi bersemangat.
Nenek menjewer telinga Santi. Dan dia pun mengadu kesakitan.
" Ayo silahkan di makan van. Maaf ya hanya seadanya. " tukas mama.
" Tidak apa - apa kok Ma. Ini aja sudah cukup. Revan malah ngerepoti jadinya." ujarnya.
Mama melirik ke arah ku. Mama memberi kode kalau aku di suruh mengambilkan makanan buat Revan.
Kuraih sendok nasi dan ku ambilkan nasi lalu menuangkan ke piring yang ada di depan Revan.
" Segini cukup?." tanya ku.
" Iya cukup." jawabnya.
Lalu aku mengambilkan sayur asem yang baru matang itu dan mengambilkan pepes ikan tongkol dan sambel buat Revan.
" Kok cuma segitu?!. Tambah lagi van." tukas nenek.
" Segini sudah cukup kok nek." ucap nya sungkan.
" Jangan sungkan. Anggap aja ini rumah mu sendiri. Dan kami ini keluarga mu." jelas mama hangat kepada Revan.
Revan tersenyum dan mengangguk. Lalu dia melanjutkan makan malam bersama kita. Dia begitu lahap memakan makanan nya. Seakan dia belum makan dari seminggu yang lalu.
Setelah selesai makan malam. Mama dan nenek berpamitan untuk pulang. Revan menawarkan diri untuk mengantar mereka. Tapi mama dan nenek menolak. Akhirnya aku memesankan taksi online untuk mereka.
Setelah semua pulang. Santi masuk kedalam untuk menidurkan Bian yang mulai rewel karna mengantuk.
Tinggal Revan dan Aira berdua duduk di ruang tamu. Aira merasa canggung harus berdua dengan Revan kembali. Dia malu mengingat kejadian tadi. Jangan sampai kejadian tadi terulang kembali. Mau di taruh di mana ini muka ku. Gumam nya dalam hati.
Revan merasakan gelagat aneh dalam diri Aira. Berulang kali dia menangkap wajah Aira yang tampak gelisah.
" Kamu kenapa?. Ada yang sakit?." tanya Revan memastikan kondisi perempuan itu baik - baik saja.
Revan menatap wajah sendu Aira. Alis nya yang begitu tebal dan tajam. Matanya sedikit sipit dan sayu. Hidung nya tidak begitu mancung dan bibirnya yang mungil dan merah merekah.
Revan tercekat saat memandang bibir wanita itu. Tenggorokannya seakan kering di buatnya. Ingin rasanya dia ******* dan mencumbu kembali bibir itu. Seperti tak ada puas nya ketika mencumbu bibir kekasihnya itu.
Aira yang menyadari perilaku Revan. Pun kontan mencubit dada Revan tepat di ****** nya dengan sangat keras.
" Aaaaaaaaahhhhh .... " teriaknya kesakitan.
Aira mendengus kesal melihat tatapan mesum lelaki itu. Sedangkan Revan masih menggosok bekas cubitan Aira yang menyisahkan pedih di kulit nya itu.
" Kamu apa - apa an sih. Sakit tau." tukas nya meringis kesakitan.
" Sukurin. Salah sendiri mesum." ujarnya kesal.
" Yang mesum itu siapa."
" Pakai nanya lagi. Kamu tadi liat apa hah. Dasar laki - laki mesum." cibir Aira.
" Enak aja kalo ngomong. Kalau aku mesum, pacar ku sudah banyak. Aku juga bakal gonta ganti pacar dan sering tidur bersama dengannya. Nyata nya saja, ciuman pertama ku juga sama kamu. Apa nya yang mesum." jelas nya. Aira tercekat mendengar ucapan Revan barusan.
Dia menatap wajah Revan lekat - lekat. Memandangi lelaki yg tengah mengusap - usap dadanya dengan wajah cemberut.
" Jadi .... Jadi ... Ciuman pertama mu sama ... Aku .... " tanya Aira.
Revan terdiam dan hanya melirik ke arah wanita itu. Dia masih jengkel Aira tiba - tiba mencubit nya tanpa alasan itu.
" Revan kamu gak bercanda kan?." tanya Aira.
" Kamu percaya atau enggak, aku gak perduli." jawabnya.
Aira mengulurkan tangan nya untuk menyentuh dada Revan. Revan yang masih takut dada nya di cubit lagi, memalingkan tubuhnya membelakangi Aira.
__ADS_1
Aira memeluk tubuhnya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Di hirupnya aroma tubuh lelaki itu dalam - dalam. Revan tersenyum melihat Aira yang menempel - nempel di punggung nya.
Dia membalik kan badannya dan wajah mereka bertemu saling pandang. Wajah mereka begitu dekat dan sangat dekat. Terlihat Aira memejamkan matanya dan Revan akhirnya mencumbu kembali bibir mungil itu dengan lembut.
Aira pun membalas ciuman itu dengan lembut. Ciuman mereka begitu lembut hingga membuat kedua nya begitu dalam terbuai. Tak ingin rasanya mereka mengakhiri kenikmatan sesaat hasrat ini.
Setelah cukup lama dan cukup puas dengan hasrat mereka. Revan melepas ciuman itu. Tampak nafasnya begitu tersengal. Begitu pun Aira. Nafasnya terdengar tidak teratur.
Kedua nya saling pandang dan tersenyum. Revan membetulkan letak rambut Aira.
" Bibir mu begitu manis. Aku begitu kecanduan dengan bibirmu ini." ujar Revan.
Aira tergelak mendengar ucapan Revan. Dia pun menatap wajah Revan tepat di bibir nya. Lalu Aira mengusap bibir merah Revan dengan jempol tangan nya.
Revan pun menikmati usapan demi usapan jemari tangan kekasihnya hatinya itu.
" Ayo kita menikah." ucap Revan.
Aira menghentikan jemarinya. Dia menatap mata Revan. Lalu tersenyum kepadanya.
" Apa kamu yakin mau menikah denganku?!." tanya Aira.
" Sangat yakin." jawabnya mantap.
" Rasa ku sudah tidak sama dengan rasa perempuan - perempuan di luar sana yang masih perawan loh. Rasaku sudah tidak legit lagi." ujar Aira setengah berbisik ke arah telinga revan.
Revan tergelak mendengar ucapan kekasihnya itu.
" Kamu yang ngomong kenapa aku yang merinding ya." tukas Revan.
Aira menepuk dada Revan kesal.
" Ya habis kamu ngomongin begituan. Heh asal kamu tau ya. Aku ini laki - laki normal. Kalau kamu ngomong gitu lagi jangan salah kan aku kalau aku akan nekat sama kamu." jelasnya.
" Emangnya kamu bisa?. Kamu kan tidak berpengalaman." cibir Aira.
" Tidak berpengalaman bukan berarti tidak bisa kan." jawab Revan menggoda.
Aira tergelak mendengar ucapan Revan itu.
" Kapan kakak mu pulang?." tanya nya sambil memainkan cincin di jari lelaki itu.
" Mungkin besok atau lusa. Kenapa?. Kamu sudah tidak sabar ya." seru nya.
" Aku takut van." tukas Aira.
" Apa yang kamu takutkan?." tanya nya.
" Ya ... Takut aja." jawab Aira.
Revan menggenggam tangan Aira lalu mengecupnya.
" Kamu gak perlu takut. Kita akan hadapi semua ini sama - sama."
" Apa kamu mencintai ku?." tanya Aira.
" Iya. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." jawab Revan sambil mengecup tangan Aira kembali.
" Sudah malam. Kamu pulang sana. Gak enak sama Santi. Pacaran mulu." seru Aira.
" Santi pasti juga mengerti. Dia kan pernah muda juga." sanggahnya.
" Kita ini sudah tua Revan." tukas Aira.
" Kamu aja kali yang tua. Aku enggak." jawabnya sambil tersenyum.
" Aku pulang dulu ya. Jangan lupa di minum obat nya. Nanti sampai rumah aku telepon." jelas Revan.
__ADS_1
Aira tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan Revan. Lelaki itu pun pergi meninggalkan rumahnya.