
Berita Revan mengalami kecelakaan sudah menyebar ke seluruh rumah sakit tempatnya di rawat. Dokter Anne paling merasa bersalah dan menyesal setengah mati. Karena dapat telepon dirinya, Revan dan Aira langsung pergi menuju rumah sakit dan mendapat kecelakaan.
Dokter Anne masih menatap bayi mungil yang sedang koma tersebut. Dia sungguh iba terhadap bayi itu. Banyak doa yang dia panjatkan. Agar bayi itu segera melewati masa kritisnya. Dan kedua orang tuanya segera sadar dan pulih kembali.
Sama halnya dengan dokter Anne, Radit sahabat sekaligus rekan kerja Revan pun begitu cemas dan tak percaya jika temannya itu akan mengalami musibah seperti itu. Dia tadi menyempatkan diri untuk melihat kondisi Revan beserta istrinya yang baru selesai dan keluar dari ruang operasi.
Kedua orang itu masih dalam keadaan kritis dan belum sadarkan diri. Diantara keduanya, keadaan Revan lah yg paling mengkhawatirkan. Ada pendarahan hebat di kepalanya akibat benturan keras saat kecelakaan tadi. Tulang rusuk sebelah kirinya pun patah tiga. Radit mengusap punggung tangan sahabatnya itu.
" Kamu harus kuat. Kamu harus melawan semua ini. Attar menunggu mu. Dia butuh papa nya." bisik Radit ke telinga Revan. Tapi lelaki itu hanya diam tak merespon apapun. Hanya suara alat - alat medis yang terhubung di tubuh sahabatnya itu yang berbunyi. Radit pun keluar dari ruangan itu dan kembali menuju ruangan nya sendiri.
Wajah Sheila tampak murung sekali. Sejak mendengar berita Revan dan Aira mengalami kecelakaan tadi malam, gadis itu langsung berdiam diri di meja kerjanya. Entah apa yang di pikirkannya. Dia tampak menghela nafasnya berulang kali dengan berat. Ingin sekali dia menemui lelaki itu di ruang ICU. Tapi dia tidak enak jika kesana dan bertemu dengan keluarga Revan atau Aira.
Atmaja menatap tubuh anak kesayangannya yang tengah terbaring dan terpejam itu. Hatinya sungguh hancur saat menatap Revan nya dalam keadaan seperti ini. Baru saja hubungan nya dan putra nya itu membaik. Tapi mengapa harus ada kejadian seperti ini. Ada rasa ketakutan di wajah lelaki paruh baya itu. Dia takut anak kesayangannya itu akan terpejam selamanya dan pergi meninggalkan nya untuk selama - lamanya.
__ADS_1
Di usap nya kepala anaknya dengan perlahan. Kepala putra nya kini tertutup dengan perban. Dokter terpaksa mencukur habis seluruh rambut Revan karena lelaki itu akan menjalani operasi di bagian kepalanya. Tempurung kepala lelaki itu tadi di sayat dan di buka untuk melakukan penanganan pada otak sebelah kanannya yang cedera dan mengalami pendarahan terus menerus.
Atmaja tak tahan melihat kondisi anaknya saat ini. Lelaki itu pun menangis sejadinya di samping tubuh anaknya saat ini. Ada banyak penyesalan di dalam dirinya. Dia begitu keras terhadap anak kesayangannya ini. Bahkan bayangan dirinya dulu pernah menampar putra bungsunya saat berdebat dengannya soal Aira pun berputar di hadapannya.
Dia menangis menyesali sikap dan perbuatannya. Seandainya dia menerima Aira tanpa berdebat dengan putra nya ini. Seandainya dia merestui hubungan anaknya dulu. Dia akan memiliki banyak waktu dan tak akan berpisah dengan anak kesayangannya itu. Reihan mengusap bahu ayahnya. Mencoba menenangkan sang Papa.
" Pa. Kita doakan semoga Revan cepat sadar dan pulih kembali." ujar Reihan. Atmaja pun mengangguk mengiyakan. Di usapnya air matanya yang membanjiri pipinya itu.
Kini Atmaja pun beralih ke bed sebelah Revan. Disana terlihat Aira tengah berbaring tak jauh berbeda dengan putra nya saat ini. Terlihat Kinanti mengusap wajah putrinya dengan linangan air mata di pipinya. Kinanti mengusap air matanya saat melihat Atmaja berdiri di depan tirai pemisah antara bed Revan dan Aira.
" Iya. Mereka akan baik - baik saja." jawab Atmaja optimis. Atmaja mendekat ke arah Aira. Di usapnya pucuk kepala wanita yang kini sudah dia akui sebagai menantunya itu. Air mata lelaki itu pun berderai kembali. Ada rasa penyesalan yang sama saat melihat Aira yang terbaring seperti itu.
Dada lelaki itu terasa sesak sekali. Bagaimana tidak, saat dirinya tengah cemas dengan kondisi cucunya saat ini. Tiba - tiba anak dan menantunya itu mengalami musibah seperti ini. Seorang perawat memasuki ruangan itu. Mereka meminta untuk tidak mengganggu pasien kembali. Karena Revan dan Aira membutuhkan istirahat pasca operasi tadi.
__ADS_1
*****
" Ada pendarahan dan cedera serius di otak sebelah kanan dokter Revan. Kami tadi sudah mencoba menutup pendarahan itu. Walaupun berhasil tapi kami masih meragukan cedera serius yang di alaminya." jelas dokter spesialis bedah kepada Atmaja dan Kinanti sebagai wali dari Revan dan Aira.
" Sesuai gambar CT scan yang terlihat. Cedera ini begitu besar. Maka saat ini saya katakan. Jika dokter Revan mengalami kelumpuhan otak." imbuh dokter itu. Hati Atmaja dan Kinanti begitu terhenyak mendengar itu.
" Kita tidak tau kapan persisnya dokter Revan akan sadar kembali. Hanya keajaiban dan doa - doa keluargalah yang bisa menolongnya. Kalau pun nanti dokter Revan sadar kembali. Mungkin dia akan mengalami kelumpuhan di anggota tubuhnya. Jadi keluarga semua. Saya harapkan untuk terus berdoa dan bersabar dalam hal ini." jelas dokter itu dengan berat hati. Kinanti dan Atmaja langsung berwajah pucat dan lemas mendengar penjelasan dokter itu.
" Lalu dengan Aira?. Bagaimana kondisi Aira?." tanya Kinanti lemas.
Dokter mengambil CT scan milik Aira dari dalam amplop coklat rumah sakit itu. Dokter itu membaca hasil CT scan itu sesaat. Atmaja dan Kinanti masih mengamati air muka dokter tersebut.
" Nyonya Aira kondisi nya tidak seburuk dokter Revan. Walaupun ada memar di kepalanya tapi tidak sampai melukai dan membuat cedera di sana. Kita tunggu sampai nyonya Aira sadar. Baru nanti kita bisa lihat hasil dari operasi yang di lakukan nyonya Aira tadi. Karena ini berhubungan dengan kepala. Jadi saya tidak bisa memastikan dengan tepat untuk saat ini." ujar dokter itu.
__ADS_1
" Kemungkinan untuk Revan sembuh berapa dok?." tanya Atmaja.
" Mungkin hanya 30% pak." jawab dokter itu. Atmaja menghela nafasnya berat. Sangat berat sekali.