
Hari itu Aira berhasil lolos dari kejaran Revan. Dia tersenyum puas karena dapat mengelabui lelaki itu. Aira langsung meluncur ke rumah neneknya untuk bertemu dengan mamanya disana.
Sudah hampir 3 bulan dia tak bertemu ibu yang melahirkannya itu. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau video call.
Aira mampir dulu ke pedagang buah dekat rumah neneknya. Dia membeli buah semangka yg lumayan besar dan buah anggur kesukaan mama nya itu. Setelah nya dia langsung ke rumah nenek nya itu.
" Assalamualaikum." sapa Aira.
" Waalaikumsalam." jawab mereka serentak yg ada di sana. Aira bersalaman kepada nenek nya dan mama nya. Rumah neneknya tampak rame. Ada tante dan para sepupu Aira disana.
" Kamu bawa apa aja sih, Ra." tanya mamanya. Aira tersenyum.
" Hanya buah kok ma. Ini Aira beliin buah anggur kesukaan mama." jawab Aira sambil membuka bungkusan buah tersebut.
" Kamu udah makan, Ra." tanya mamanya sambil melihat Aira memotong buah semangka.
" Tadi pagi sih udah." jawab Aira sambil terus memotong.
" Loh tadi katanya pergi reuni an. Kok gak makan juga sih mbak." tanya Santi yang memasuki dapur sambil mengambil irisan buah semangka yang di tata Aira dalam piring besar.
" Manis gak??." tanya Aira. Santi mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
" Ini bawa ke depan." suruh Aira pada adiknya itu.
" Mama masak apa." tanya Aira sambil membuka tutup panci disana.
" Mama masak rawon. Kamu makan gih." jawab mama nya sambil menyodorkan piring pada anaknya itu.
Aira baru mau menyuap kuah rawon ke mulutnya. Tiba - tiba ....
" Assalamualaikum." terdengar suara dari luar. Semua orang disana menatap kepada tamu yang ada disana.
" Mau cari siapa mas." tanya tante kartika pada pria tersebut.
" Saya mau cari Aira. Apa aiera ada?." jawab pria itu sopan.
Aira menaruh piring yang berisi nasi dan kuah rawon di meja dapur. Sepertinya dia kenal dengan suara tersebut. Dia beranjak ke depan untuk memastikan keraguannya itu.
" Silakan duduk dulu mas. Saya panggilkan Aira nya dulu." jelas tante kartika.
Mama memperhatikan lelaki dengan seksama dari dalam rumah.
" Ehh Ra, ada yang nyariin kamu tuh." jelas tante kartika.
" Siapa." tanya Aira bingung.
" Gak tau tuh. Cowok. Ganteng pula." jawab tantenya sambil senyum - senyum. Aira pun keluar.
" Revan. Ngapain kamu kesini." tanya Aira saat melihat tamu yang datang itu. Revan berdiri dari duduknya dan tersenyum.
" Aku ... Aku mau main. Memang gak boleh." jawab revan singkat.
" ini buat kamu." jelas Revan sambil menyodorkan keranjang buah yang di dalamnya berisi buah apel, jeruk, pear, dan anggur.
" Emang siapa yang sakit. Pake bawa buah segala." cibir Aira. Revan tergelak sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal itu. Dari dalam rumah, mama Aira keluar, dia ingin tau siapa lelaki yang mencari anaknya ini.
" Aira .. Ada tamu kok di anggurin aja gak di kasih minum." Seru mama Aira. Revan pun bersalaman dengan mama Aira.
__ADS_1
Aira ke dalam sambil membawa keranjang buah dan menaruhnya di meja ruang makan. Semua mata saudaranya menatap dia dengan tatapan genit.
" Ciyee ciyee yang lagi di apelin pacar." seru tante kartika. Aira melirik sambil cemberut. Semua tetawa melihat Aira.
" Cowok di depan, siapa dia mbak." tanya Santi penasaran. Aira membuka tutup syrup dan menuang ke dalam gelas yg berisi es batu dan siap di tuang dengan air.
" Temen." jawab Aira singkat.
" Temen apa pacar." tanya Santi menggoda. Aira melirik adiknya tajam sambil mengaduk minuman di depannya.
" Yaa .. Pacar juga boleh. Mbak harus move on dari mas Arga dan membuka lembaran baru lagi." seru Santi sambil menepuk pundak kakaknya itu.
Sementara di teras depan. Revan duduk bersama mama nya Aira, Kinanti. Kinan tersenyum melihat Revan.
" Hmmm ... Nama anda siapa." tanya kinan.
" Nama saya Revan tante." jawab Revan malu - malu. Ini pengalaman pertama Revan ngobrol dengan calon mertua begini.
" Nak Revan satu kerjaan dengan Aira." tanya Kinan lagi.
" Oohh tidak tante. Saya bekerja di bidang medis." jawab Revan.
" Oohh gitu. Nak Revan ini perawat atau staff di sana." tanya Kinan menyelidik. Aira keluar dari dalam dan membawa nampan berisi segelas minuman dan beberapa kue diatas piring dan di taruh di hadapan Revan. Aira menatap Revan sebal.
" Di minum dulu nak." seru mamanya Aira. Revan mengangguk sungkan.
" Jadi nak Revan bekerja jadi perawat atau ... " belum sempat Kinan melanjutkan ucapannya Aira menyenggol kaki mama nya itu dan melotot ke arah mama nya itu. Mama nya pun membalas dengan tatapan yang tajam pula ke anaknya itu.
" Saya petugas medis tante. Saya seorang dokter." jawab Revan langsung saat mengetahui gelagat lucu ibu dan anak di depannya ini.
Seketika itu Aira dan mama nya membulatkan matanya dan menatap Revan lekat - lekat. Aira tak menyangka. Lelaki di depannya ini seorang dokter.
" Nak Revan dokter apa. Ehhmm maksud saya kan ada dokter gigi, dokter hewan atau dokter dokter yang lainnya." tanya Kinan.
" Saya dokter kandungan tante." jawab Revan singkat. Aira dan mamanya melongo mendengar jawaban Revan.
What?! Dokter kandungan itu kan yang membantu emak - emak melahirkan anaknya, batin Aira. Jadi Revan kerjaannya setiap hari ngelihatin organ reproduksi wanita di sana dong. Ck !! Sejak kapan sih anak ini jadi se mesum ini. gumam Aira dalam hati. Aira menatap Revan sinis.
" Ya udah nak Revan. Tante tinggal dulu ya. Masih ada kerjaan di dalam. Silahkan ngobrol - ngobrol dulu sama Aira. Aira, di suruh minum dong tamu nya. Kok bengong aja dari tadi." jelas mama Aira mengetahui anaknya dari tadi menatap Revan terus. Setelah mama nya masuk. Aira masih menatap Revan. Revan menghela nafas nya.
" Kalau ada yang ingin di tanyakan, tanya aja. Gak usah di lihatin terus kayak gitu." seru Revan sambil menatap Aira pula. Aira berdecak kesal.
" Mau apa kamu datang kesini. Lagi pula kamu tau dari mana alamat rumah ini. Aku kan gak pernah kasih tau kamu alamat rumah ku." tanya Aira kesal.
" Aku kesini ingin ngobrol dengan mu secara empat mata. Aku tau alamat rumah ini dari dini." jawab Revan sambil mengambil gelas di depannya lalu meminumnya.
" Bisakah kita ngobrol berdua aja tanpa ada yang menguping dan mengintip." tanya Revan setengah berbisik kepada Aira. Karena Revan mengetahui ada beberapa mata dan telinga yang menguping pembicaraam mereka dari dalam rumah.
" Mau ngobrol dimana." tanya Aira kesal melihat tingkah para saudaranya yang kepo nya luar biasa itu.
" Terserah. Pokoknya enak dan nyaman buat ngobrol." jawab Revan. Aira berdiri dan masuk kedalam. Disana terlihat sepupunya dan Santi cengar cengir menatap Aira. Aira mendengus kesal. Di ambil lah tas nya tadi di ruang tengah. Lalu dia berpamitan kepada mama dan neneknya. Begitu pun Revan juga tak lupa berpamitan kepada mereka semua yang ada di sana.
Revan membuka pintu mobil samping kemudi. Setelah Aira masuk, Revan pun berlari kecil membuka pintu sisi lainnya. Di nyalakannya mesin mobilnya dan mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Mereka saling diam saat perjalanan. Aira melirik ke arah pria di samping nya. Ada sedikit rasa kagum di hatinya. Karena lelaki itu telah sukses sekarang.
" Kita ngobrol dimana Ra" tanya Revan.
" Terserah kamu. Kamu kan yang ngajak." jawab Aira sinis. Revan memutar otaknya. Dia mempunyai ide. Di lajukannya mobilnya cepat menuju tempat yang Aira pasti suka.
__ADS_1
Setelah sampai tempat tujuan. Aira kaget saat Revan memarkirkan mobilnya. Ini kan tempat sekolah nya dulu, batin Aira.
" Ayo keluar." seru Revan sambil beranjak keluar. Aira menatap sekeliling. Sudah banyak berubah. Gedung sekolah tersebut sudah banyak di renovasi. Tampak apik dan terawat. Yang masih sama hingga sekarang hanya lapangan sepak bola dan bola basket.
Revan dan Aira berjalan menuju lapangan basket. Ada beberapa anak - anak bermain di sana. Aira tersenyum melihat permainan anak tersebut. Dia jadi ingat masa - masa dulu. Revan tersenyum melihat ekspresi wajah Aira yang mencair.
" Apa kau ingin bermain basket juga." tanya Revan. Aira menggelengkan kepalanya. Mereka duduk di bangku dekat lapangan basket. Aira masih memandang anak yang bermain disana. Dia merasa nyaman berada di sana.
" Kenapa." tanya Aira tiba - tiba sambil menatap kedepan. Revan tersentak.
" Kenapa, apanya." jawab Revan tak mengerti.
" Kenapa dulu kamu pergi begitu saja tanpa kata apapun." jelas Aira melanjutkan ucapannya tadi. Revan menghela nafas panjang.
" Maafkan aku." ucap Revan sambil menatap ke arah lapangan basket. Aira tersenyum datar.
" Aku tak butuh permintaan maafmu." jawab Aira. Revan menoleh ke arah Aira. Di lihat nya perempuan itu masih mengamati anak - anak yang bermain basket disana.
" Setelah mama ku pergi. Aku seperti kehilangan harapan hidup. Aku, papa, kak Reihan, kami semua sangat kehilangan saat itu." ucap Revan menjelaskan kepada Aira. Aira tak bergeming sama sekali.
" Aku melihatmu merasa bersalah saat berada di dekatku. Aku melihat tatapan kasian dari matamu. Aku melihatnya disana. Sedangkan kamu tau aku seperti apa. Aku tak ingin orang lain mengasihaniku. Aku tak ingin mereka merasakan sakit yang aku alami. Aku tak ingin kamu merasakan sakit yang aku rasakan." jelas Revan kepada Aira. Aira tersenyum sinis menatap Revan.
" Alasan yang konyol. Kalau kamu tak ingin orang lain merasa bersalah padamu seharusnya kamu bilang. Bukan malah pergi seenaknya gitu. Kamu membuatku semakin merasa berdosa kepadamu." jawab Aira menatap wajah Revan yang sedari tadi menatapnya.
" Sebenarnya aku ingin berbicara padamu seusai kita melangsungkan ujian nasional terakhir. Tapi tiba - tiba papa langsung mengirimku ke rumah nenek saat itu. Karena papa sedang menangani kasus besar dan tak ingin terjadi apa - apa padaku ketika di tinggal sendirian di rumah. Maka dari itu aku langsung pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu." jelasnya padaku. Aira menghela nafas panjang.
" Sudahlah lupakan. Aku lagi tak ingin membahas masa lalu." seru Aira. Revan tersenyum melihat Aira.
" Lalu ... Untuk apa kamu datang mencariku lagi." tanya Aira.
" Aku merindukan mu." jawab Revan singkat. Aira mengerutkan dahi nya.
" Apa kamu tidak tahu statusku sekarang." tanya Aira mencibir ucapan Revan.
" Aku tau dan aku tak perduli." jawab Revan.
" Seandainya aku mengungkapkannya dari dulu. Mungkin saat ini kita sudah bahagia bersama." jelas Revan merutuki dirinya.
" Apa maksud kamu dengan mengungkapkan." tanya Aira tak mengerti. Revan menghela nafas panjang. Bibir nya keluh untuk jujur pada Aira.
" Aku menyukaimu, Ra. Dari dulu saat kita masih sekolah hingga saat ini aku masih memiliki perasaan itu." jawab Revan sambil menatap ke atas. Dia tak berani menatap wajah Aira secara langsung.
Aira tercekat mendengar ucapan Revan. Dia tak menyangka kalau lelaki di samping nya ini memiliki rasa yang sama kepadanya. Aira meneteskan air mata. Entah mengapa air mata nya itu ingin sekali keluar.
" Kamu kenapa nangis Ra." tanya Revan kaget sambil mengusap butiran bening di pipinya itu. Tangan Aira menepis tangan Revan. Revan menarik tangannya kembali. Dan menatap Aira lekat - lekat. Aira mengusap air matanya cepat dan langsung berdiri.
" Kalau sudah tak ada yg di bicarakan aku pulang dulu." ucap Aira sambil beranjak. Revan pun ikut berdiri dan menarik lengan Aira.
" Aku antar kamu pulang." seru Revan sambil menatap Aira. Aira menggelengkan kepalanya.
" Tak perlu. Aku bisa pulang sendiri." tangan Revan lagi - lagi di tepis oleh Aira. Aira melangkah pergi. Lalu dia menghentikan langkahnya.
" Kamu jangan menghubungi aku lagi. Aku tidak mau kamu salah paham. Karena aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Jadi jangan ganggu aku lagi." jelas Aira tegas dan berlalu pergi.
Revan tertegun melihat Aira yang berlalu. Dia tak menyangka Aira akan menutup diri darinya. Revan berlari mengejar Aira. Tapi Aira sudah pergi menggunakan taxi. Revan bergegas mengejar taxi yg membawa Aira pergi.
Mobil Revan berhenti pas di lampu merah. Sementara taxi yang membawa Aira sudah pergi melaju kencang. Revan kesal dan memukul setir mobilnya. Dia kalah cepat dengan pengemudi taxi itu. Revan menghela nafas panjang dan melajukan mobil nya menuju kediamannya.
__ADS_1
~ Happy reading ~