
Matahari pun tampak memerah. Revan memasuki halaman rumahnya dan memarkirkan mobilnya di sana.
Wajahnya pun tampak kusut saat memasuki rumahnya tersebut. Amanda yang sedang duduk menonton televisi disana pun terlihat mengamati wajah adik iparnya itu. Revan pun berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, di rebahkannya tubuhnya itu di atas ranjang tempat tidurnya. Rasanya sangat lelah sekali.
" Mandi air hangat sepertinya enak." gumamnya lalu beranjak menuju kamar mandi dan berendam air hangat di bathup kamar mandi.
Suara bel rumah Revan pun berbunyi. Mbok sum setengah berlari menuju pintu depan tapi di cegah oleh Amanda.
" Biar saya saja mbok yang melihat." tukas Amanda saat melihat mbok sum berlari dari dapur.
" Baik nona." jawab mbok sum lalu beranjak kembali ke dapur. Amanda pun berjalan menuju pintu depan.
" Lala ... " sapa Amanda saat membuka pintu rumah tersebut.
" Hai kak." seru Lala yang tak lain adalah Sheila saat melihat wajah Amanda yang ada di balik pintu.
" Ayo masuk. Revan baru saja pulang. Kamu habis pulang kerja?." tanya Amanda yang masih melihat penampilan Sheila masih rapi dengan kemeja dan sepatu fantofel nya itu.
" Iya kak. Dari rumah sakit aku langsung kesini." jawab Sheila.
" Oom Atmaja sama kirana kemana kak?. Kok gak kelihatan." tanya Sheila sambil memandang sekeliling.
" Ada apa kamu mencari oom." seru Atmaja saat keluar dari kamarnya. Sheila menoleh ke arah suara itu. Lalu dia pun tersenyum dan menghampiri lelaki tua itu dan mengecup punggung tangan ayah dari Revan itu.
" Apa oom kurang sehat?. Kok terlihat lesu begitu?." tanya Sheila sambil memperhatikan wajah Atmaja.
" Aahhh tidak. Oom hanya kelelahan saja. Tadi pagi sampai siang oom merapikan kebun di belakang rumah." jawab Atmaja.
Mereka pun berjalan ke arah ruang tengah dan duduk mengobrol di sana. Mbok sum yang mendengar ada suara tamu langsung berinisiatif membuatkan minum dan membawakan beberapa camilan ke ruang tengah.
Saat membawa nampan berisi minuman dan camilan itu, mbok sum begitu terkesiap saat melihat tamu yang datang tak lain adalah Sheila. Sheila pun sedikit kaget saat melihat mbok sum. Dia teringat kejadian terakhir diantara mereka beberapa bulan. Sheila yang saat itu emosi, tak sengaja berkata kasar dan mendorong tubuh mbok sum hingga tersungkur di lantai.
" Silahkan di minum non." tukas mbok sum sambil meletakkan segelas minuman dan camilan di depan Sheila.
" Terima kasih mbok." sahut Sheila canggung.
" Ayo di minum La. Kamu pasti haus kan." seru Amanda. Sheila pun tersenyum mendengar itu lalu mengambil gelas tadi dan meminumnya.
" Oom senang melihat mu datang kesini. Oom berharap, kamu dan Revan bisa seperti dulu lagi. Karena bagi oom, hanya kamu perempuan yang cocok dengan Revan." tukas Atmaja. Sheila yang mendengar itu pun, begitu senang. Seperti mendapat guyuran air es. Begitu menyejukkan hatinya. Amanda terdiam mendengar ucapan ayah mertuanya itu.
" Kamu temani papa ngobrol ya La. Kakak mau bantu mbok sum menyiapkan makan malam." ujar Amanda lalu beranjak pergi menuju dapur. Sheila pun mengangguk mengiyakan permintaan Amanda.
" Apa Lala gak apa - apa oom berada di sini?." tanya Sheila.
" Apa maksud mu bicara seperti itu?." tukas Atmaja.
__ADS_1
" Lala tau Revan sudah memiliki kekasih lagi setelah putus dengan Lala. Apa Revan tidak marah melihat Lala disini?." jelas Sheila.
" Kamu adalah tamu oom. Kalau pun Revan marah, kamu gak usah perdulikan dia.." ujar Atmaja. Sheila tersenyum ke arah Atmaja.
Makan malam pun telah siap. Sheila, kirana, dan Atmaja pun sudah duduk di kursi masing. Amanda yang berjalan sambil membawa ikan goreng dari dapur pun meletakkan piring tersebut di atas meja makan.
" Manda, panggil Revan di kamarnya. Suruh dia ikut makan malam. Beberapa hari ini dia tidak pernah ikut makan malam bersama." tukas Atmaja. Amanda mengiyakan ucapan papa mertuanya itu. Lalu beranjak menuju kamar adik iparnya itu.
Tookk ... Tookk ..
" Van di panggil papa buat makan malam bareng." seru Amanda sambil mengetuk pintu kamar Revan. Revan yang tengah bermain game dalam ponselnya pun membuka pintu tersebut.
" Di panggil papa buat makan malam bersama." ujar Amanda lagi. Revan mengangguk mengiyakan ucapan kakak iparnya itu.
Amanda dan Revan pun turun dari lantai dua rumah itu dan menuju meja makan. Saat berjalan menuju meja makan, terdengar suara tawa Atmaja, kirana dan Sheila. Revan pun mengerutkan dahi nya. Dia sangat mengenali suara satu ini.
" Sheila." seru Revan saat melihat Sheila duduk di samping papa nya dan tengah tertawa lepas bersama papa nya itu.
Revan menoleh dan menatap wajah Amanda. Amanda hanya bisa diam dan menggigit bibir bawahnya itu.
" Apa maksudnya ini kak?." tanya Revan kepada kakak iparnya yang berdiri di sampingnya itu.
" Kamu tanya kan langsung saja sama papa." tukas Amanda lalu beranjak menyusul Papa mertuanya dan lainnya yang tengah duduk di meja makan itu. Revan menghela nafasnya lalu berjalan menuju meja makan pula.
" Revan." sapa Sheila. Revan hanya diam lalu duduk di sebelah Sheila. Wajah Revan tampak dingin tak bersahabat. Sheila pun tersenyum kecut melihat itu.
" Kapan kamu melanjutkan kuliah S3 mu La?." tanya Atmaja di sela makannya.
" Rencananya sih pengen taun ini Oom. Tapi papa selalu menyuruh Lala untuk menikah terlebih dahulu sebelum lanjut kuliah lagi." tukas Sheila. Revan hanya terdiam sambil memakan makanan nya. Tanpa menggubris semua orang di meja makan.
" Benar kata papa mu. Lagi pula umur kamu juga sudah sangat matang untuk berumah tangga." ujar Atmaja sambil melirik ke arah Revan. Tiba - tiba bel rumah itu berbunyi. Mbok sum berlari dari dapur menuju ruang depan untuk membuka pintu.
" Non Aira." seru mbok sum kaget saat melihat perempuan itu yang membunyikan bel rumah tersebut.
" Revan nya ada mbok?." tanya Aira kepada wanita tua tersebut.
" Ada nona. Silahkan masuk." ujar mbok sum.
" Saya tunggu di luar saja mbok. Bisa minta tolong panggilkan Revan mbok?." pinta Aira sopan kepada pembantu rumah tersebut. Mbok sum pun mengiyakan permintaan Aira.
Mbok sum berjalan menuju meja makan dan mendekat ke arah Revan.
" Maaf tuan muda, ada nona Aira di depan." ucap mbok sum berbisik di telinga Revan. Revan pun tercekat dengan ucapan mbok sum lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan tersebut.
Atmaja dan lainnya hanya menatap heran ke arah Revan yang telah berlalu pergi.
" Siapa di luar mbok?." tanya Atmaja kepada mbok sum. Mbok sum hanya menunduk dan terdiam. Atmaja yang geram tak kunjung mendapat jawaban dari pembantu nya itu pun berdiri dan menyusul Revan keluar.
__ADS_1
" Aira .." seru Revan saat melihat kekasihnya itu berdiri di teras rumah nya. Aira tersenyum saat melihat Revan.
" Kenapa kamu kemari?!." tanya Revan.
" Tadi aku dari rumah mama. Terus aku menelepon mu. Tapi ponsel mu gak aktif. Ya udah saat aku pulang sekalian mampir mumpung se arah." ujar Aira.
" Maaf. Ponsel ku kehabisan baterai. Makanya aku charge." tukas Revan. Aira mengangguk mengiyakan ucapan Revan.
" Revan." seru Atmaja saat melihat Aira berada di teras rumahnya. Aira langsung menunduk saat melihat Atmaja disana. Revan membalikan badannya mencoba melindungi Aira dari amukan papa nya.
" Dasar tidak tau malu!. Berani sekali kamu datang kemari?." tukas Atmaja.
" Cukup Pa!." seru Revan. Aira masih menunduk di belakang punggung Revan.
" Diam kamu Revan!. Jangan kamu membela perempuan itu." seru Atmaja kesal.
Amanda dan Sheila pun berlari keluar rumah saat mendengar suara gaduh di depan rumah. Di lihatnya Aira ada di belakang Revan.
" Hei kamu, apa yang kamu lakukan di sini hah?. Kamu mau menggoda anakku kan. Gara - gara kamu, anakku sekarang jadi anak pembangkang!." ujar Atmaja geram.
" Papa cukup!. Aira gak salah apa - apa." bela Revan. Aira pun menahan tangisnya agar tidak pecah.
" Revan kamu itu tidak cocok dengan dia. Dia itu tidak pantas bersanding denganmu." ujar Atmaja kepada Revan.
" Lalu siapa yang pantas dengan ku Pa. Siapa? Sheila maksud papa, hah?." tanya Revan geram.
" Iya. Memang hanya Sheila yang pantas bersanding denganmu." ujar Atmaja. Revan tersenyum pelik mendengar itu. Sementara Aira, dirinya seperti di lempar ke suatu lubang yang gelap dan sangat dalam saat mendengar ucapan dari ayah kekasihnya itu. Tanpa sadar pun air mata yang di tahannya pun akhirnya meleleh juga.
" Baik. Kalau itu keputusan papa. Revan yang akan mengalah. Revan akan pergi dari rumah ini. Revan akan pergi dari hidup papa. Revan akan tetap pada pendirian Revan, Pa. Revan akan menikahi Aira." tukas Revan. Atmaja begitu geram mendengar ucapan anaknya itu dan tanpa sadar dirinya menampar anak bungsunya itu dengan keras hingga membuat Revan jatuh tersungkur di lantai.
" Revan!." semua yang ada disana berteriak memanggil namanya. Revan yang masih tersungkur disana pun tersenyum getir. Dia pun mengusap samping bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar. Atmaja melihat tangannya yang di gunakan untuk menampar putranya itu. Dia sungguh tak percaya akan memukul putra nya itu.
Revan pun berdiri di bantu oleh Aira di sampingnya. Lalu dia masuk kedalam rumah tersebut dengan setengah berlari dia menuju kamarnya. Revan mengambil ponselnya yang tengah di charge dan dompet diatas meja kamarnya. Lalu dia mengambil beberapa surat yang ada di dalam map di lemari pakaiannya. Dia pun mengambil jaket dan beberapa baju dan di masukkan ke dalam tas ransel yang di ambilnya. Lalu dia berjalan keluar kamar tersebut.
" Revan kamu mau kemana?." tanya Amanda yang melihat Revan pergi dengan membawa tas ransel. Revan hanya diam saja dan berlalu menghampiri Aira yang masih berdiri disana.
" Ayo!." ajak Revan. Revan pun menggandeng tangan Aira.
" Revan kamu mau kemana?." teriak Sheila. Tapi Revan tak menggubris teriakan mereka. Revan meraih kunci motor yang di pegang oleh Aira dan menyalakan motor tersebut lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.
Atmaja masih diam mematung melihat anaknya pergi dengan perempuan. Dia sungguh geram dengan kelakuan anaknya itu.
" Aaahhh .." teriak Atmaja sambil memegangi dada sebelah kirinya. Seperti ada yang memukul dada sebelah kirinya tersebut.
" Papa!. Papa kenapa Pa?." tanya Amanda sambil merangkul bahu papa mertuanya.
" Papa tidak apa - apa. Ayo kita masuk." ujar Atmaja sambil mengatur nafasnya. Sheila dan Amanda membopong Atmaja memasuki rumah tersebut.
__ADS_1
Sementara Revan dan Aira masih melaju dengan motor Aira. Revan pun melajukan motor Aira dengan cepat. Hingga membut Aira mengeratkan pegangannya pada pinggang lelaki itu.