
Hari ini Attar akan pergi menuju berlin untuk melanjutkan study kedokteran yang selalu di impikan olehnya. Beberapa koper sudah terlihat rapi dan siap untuk di bawa olehnya.
Hari itu Kinanti dan Santi pun datang ke rumah itu. Mereka ingin bertemu dengan Attar sebelum dia berangkat sekolah ke luar negri. Attar tengah duduk sambil memeluk tubuh sang nenek dengan manja. Dua wanita itu yang menggantikan posisi mama nya dalam hidupnya.
Kinanti dan Santi mencurahkan semua kasih sayang dan perhatian mereka untuk Attar. Agar Attar jangan sampai kehilangan sosok ibu yang sangat berperan penting dalam kehidupannya.
" Nenek. Jaga kesehatan ya selama aku pergi. Jangan lupa di minum obatnya. Jangan terlalu capek." ujar Attar dalam pelukan Kinanti. Kinanti tersenyum mendengar ucapan Attar.
Kini usia Kinanti sudah tak muda lagi. Berbagai macam penyakit sudah mulai menggerogoti tubuhnya yang kian hari kian melemah. Obat - obatan selama ini lah satu - satunya asupan kehidupan buat wanita itu. Tanpa itu mungkin wanita itu tidak dapat bertahan.
" Iya sayang. Kamu juga hati - hati disana. Jangan ikut pergaulan yang aneh - aneh. Jangan lupa makan. Jangan lupa sholat. Jangan tidur larut malam. Di jaga kondisi badannya." tukas Kinanti panjang lebar. Attar hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang nenek.
" Aku tau nek. Aku akan belajar yang rajin agar cepat lulus dan bisa kembali kemari secepatnya." ujar Attar.
" Tapi jangan terlalu berlebihan loh sayang." Santi ikut menimpali ucapan Attar.
" Nanti kamu bisa sakit." jelas Santi.
" Bunda gak perlu khawatir. Aku kan anak yang kuat. Iya kan Nek?." tukas Attar dengan senyum termanis nya.
__ADS_1
" Mama mu pasti sangat bahagia sekarang. Karena kamu sudah tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Seandainya mama mu masih hidup. Dia akan menangis saat ini. Melihat mu mau pergi jauh sekali." ujar Kinanti. Santi dan Attar mengusap tangan Kinanti.
" Sudahlah Ma. Mbak Aira pasti tenang disana. Jangan bahas yang sudah - sudah. Gak akan ada habisnya nanti." jelas Santi. Kinanti mengangguk mengiyakan.
" Koper mu sudah siap nak?." tanya Revan saat melihat ketiga orang itu yang duduk di ruang tengah.
" Sudah Pa." jawab Attar.
Revan menghela nafasnya berat. Ini kali pertama nya dia akan di tinggal sang anak pergi jauh dalam waktu yang lama. Sangat berat sekali rasanya. Dia dari dulu tak pernah hidup jauh dari sang buah hati. Tapi ini semua demi Attar. Demi semua impian dan cita - cita sang anak.
Attar melepas pelukan kepada neneknya. Dia pun beranjak berdiri menghampiri sang ayah. Terlihat wajah Revan begitu sedih disana.
" Pa!." seru Attar. Revan pun mendekap tubuh Attar dengan sangat erat. Attar pun begitu. Dia memeluk tubuh ayahnya dengan erat sekali. Seperti tak ingin jauh.
" Iya Pa. Papa juga jaga kesehatan. Jangan kerja terus. Jangan pulang malam terus. Minum air putih yang banyak. Jangan minum kopi terus. Gak baik buat kesehatan. Dan satu lagi. Papa jangan terus - terusan menyalahkan diri Papa atas kepergian Mama. Itu bukan salah Papa. Itu sudah takdir Pa. Papa harus ikhlas melepas Mama. Mama pasti sedih melihat Papa seperti itu." ujar Attar.
Revan menghela nafasnya berat. Dia menepuk punggung Attar dengan lembut.
" Attar sayang Papa. Attar bakalan kangen banget sama Papa. Maafin Attar ya Pa. Attar harus pergi jauh ninggalin Papa sendiri disini." tukas Attar yang sudah tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes.
__ADS_1
" Papa baik - baik saja nak. Ini semua mimpi kamu. Kamu harus kejar sebelum terlambat." jawab Revan haru.
Kinanti dan Santi pun merasa terharu melihat anak dan bapak itu berpelukan seperti itu. Revan melepas pelukannya dari tubuh Attar. Attar pun terlihat mengusap air matanya yang jatuh di pipinya itu. Revan mengusap kepala Attar dengan lembut dan senyum bangga kepadanya.
" Papa bangga sama kamu Nak!." ujar Revan memberikan semangat kepada putranya itu.
" Sudah siap kan?. Ayo kita berangkat. Nanti kamu ketinggalan pesawat kalau di rumah terus." ujar Revan sambil menepuk bahu Attar.
Mereka semua pun bersiap menuju bandara untuk mengantar Attar pergi. Sesampainya di bandara. Mereka pun menuju gate keberangkatan luar negri. Setelah melakukan cek paspor dan visa. Attar pun menghampiri keluarga nya yang mengantar disana.
Di peluknya sekali lagi mereka satu per satu. Sungguh sangat berat sekali bagi dirinya untuk berjauhan dengan orang yang mencintai nya. Kinanti dan Santi tak bisa menahan air mata mereka melepas Attar. Revan hanya bisa tersenyum melihat wajah anaknya itu. Walaupun di dalam hatinya ada perasaan tidak rela melepas sang anak.
" Pa. Attar berangkat ya. Jaga diri Papa baik - baik, ok!." tukas Attar.
" Iya nak. Berapa kali lagi Papa harus menjawab ucapanmu itu." jawab Revan. Attar pun tersenyum mendengar ucapan Revan.
" Kalau sudah sampai sana jangan lupa kabari Papa ya nak!." pinta Revan.
" Pasti Pa!." jawab Attar.
__ADS_1
Attar pun melambaikan tangannya kepada mereka yang mengantar kepergiannya. Kinanti, Santi dan Revan pun melambai balik ke arahnya.
Semoga apa yang menjadi keinginan mu tercapai nak. Papa selalu mendoakan kesuksesanmu. gumam Revan sambil melihat tubuh anaknya yang sudah menghilang di balik kaca bandara itu.