Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 14 Rasa Itu


__ADS_3

Hari ini hari sabtu. Seharusnya Revan beristirahat di akhir pekan. Tapi tidak di lakukannya karena ada jadwal operasi 3 pasiennya.


Dia mencuci tangan di sebuah wastafel di luar ruang operasi. Peluhnya merambat dari dahi hingga pelipis.


Dia menatap wajahnya pada cermin di depannya. Ada kantuk dalam matanya. Karena semalam tidurnya tak nyenyak.


Bukan karena memikirkan Aira. Tapi dari semalam mantan kekasihnya, Sheila, terus mengganggunya.


Mulai dari mengirim chat yang tak ada habisnya. Dan menelepon berpuluh - puluh kali pada ponselnya.


Sungguh menghancurkan mood nya pagi ini. Dia mendengus kesal kalau memikirkan kejadian semalam. Dia seperti di teror habis - habisan.


Setelah keluar dari ruang operasi. Revan bermaksud kembali ke ruang kerjanya. Saat membuka pintu ruangan, Sheila sudah duduk disana sambil membawa rantang makan yang di taruhnya di meja.


Dia menghela nafas panjang saat melihat Sheila. Sementara gadis itu menyunggingkan senyum manis sekali saat melihat Revan.


" Mau apa lagi sih kamu kesini??. Belum puas kamu meneror ku semalamam." tukas Revan kesal. Sheila tersenyum kecut mendengar itu.


" Kamu pasti belum makan. Aku sudah masak .." belum selesai melanjutkan ucapannya Revan menggebrak meja di depan gadis itu. Seketika gadis itu pun terdiam. Revan menatap lekat - lekat wajah Sheila.


" Aku kan sudah bilang sama kamu, jangan pernah temui aku lagi !!!. Apa kamu tuli, hah !!." bentaknya.


Dia sudah tidak tahan dengan sikap gadis itu. Sungguh sangat posesif sekali. Pikir nya dalam hati.


" Aku tau kamu marah sama aku. Tapi aku yakin, kamu hanya marah sebentar kan sama aku. Kamu akan selalu ada di samping ku. Kita akan baik - baik saja seperti dulu." jelas Sheila meyakinkan dirinya sendiri. Revan tertawa sinis.


" Seharusnya kamu gak pantas jadi dokter syaraf Sheila. Seharusnya kamu jadi pasien nya. Karena otak kamu bermasalah. Siapa yang akan kembali ke siapa, hah. PD sekali kamu berbicara seperti itu. Dasar sakit kamu." cecar revan yang tak bisa menahan emosinya lagi.


Dia sudah sangat muak dengan kelakuan Sheila yang semakin hari semakin tak bisa di pikir dengan akal sehat.


" Terserah kamu mau mencela aku apa Revan. Aku mencintai mu. Hanya milikku." jawabnya tegas. Bibir dan tubuh nya bergetar. Dia membuang semua harga dirinya di depan lelaki yang amat di cintai nya itu.


Yaahh dia tak perduli Revan mencecarnya habis - habisan. Dia akan bertahan mempertahankan cinta nya.


" Keluar kamu. Keluar ..!!!." hardik Revan yang sudah tak sanggup menahan emosinya. Sheila menarik nafas lalu menoleh ke arah Revan dan tersenyum.


" Oke aku akan pulang. Nanti aku akan menghubungi mu kembali. " jawabnya. Sambil keluar dari ruangan itu.


Revan mengepalkan tangannya dan memukulnya di atas meja. Dia melihat rantang makan Sheila masih di situ.


Di ambilnya rantang tersebut lalu di masukannya kedalam tempat sampah.


Dia sudah muak dengan kelakuan Sheila yang semakin sinting.


Dia menghambur kan tubuhnya ke kursi kerjanya tersebut. Di pijatnya pelipis dan tengkuknya itu.


Dia lelah. Sangat lelah ...


*****


Sementara Aira hari ini libur dari rutinitas bekerja nya. Dia mengambil keranjang baju kotornya, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci.


Setelah itu dia mengambil piring dan memakan sarapan yang telah di siapkan adik tercintanya.


Sekitar satu jam, dia sudah selesai dengan aktivitas mencuci bajunya tersebut. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Di raihnya ponsel yang ada di atas meja. Sepi. Tak ada pesan atau panggilan dari Revan. Gumamnya dalam hati.


" Dasar bodoh. Apa yang ada di pikiranmu sekarang bodoh." Aira merutuki pikirannya. Kenapa sekarang dia banyak berharap pada teman masa kecilnya itu.


Malam pun tiba. Revan melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Sekarang dia sudah ada di depan gang rumah Aira.


Dia berjalan masuk dan menyusuri gang tersebut. Berharap menemukan keberadaan rumah perempuan itu.


Setelah berjalan masuk kedalam, hanya berjarak 300 meter dari jalan besar di depan. Revan melihat perempuan yang pernah di temuinya.


Santi, adik Aira. Revan mendekat dan mengucapkan salam pada adik Aira tersebut.


Santi yang sedang membuang sampah di depan pun kaget melihat lelaki yang pernah datang ke rumah nenek nya itu ada di depannya. Revan pun tersenyum saat berada di depan Santi.


" Assalamualaikum. Apa kamu adiknya Aira." tanya nya.


" Waalaikumsalam. Iya benar saya adiknya. Mas ini kan yang pernah datang ke rumah nenek saya dan mencari mbak Aira kan." jawab Santi menebak.


" Iya benar. Aira ada di rumah??. Kemarin aku tak sengaja melihatnya masuk ke dalam gang ini. Makanya aku kesini." jelasnya. Padahal jelas - jelas dia membuntuti aira dari minimarket depan jalan raya.


" Oohh ada. Mari masuk dulu mas. Saya panggilkan mbak Aira. Silahkan duduk. Maaf rumahnya kotor dan jelek." tukas Santi mempersilahkan tamu kakaknya itu masuk.


Sementara di dalam rumah, ada Akbar dan Bian sedang bermain di ruang tamu.


Akbar berdiri melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah nya.


Revan tersenyum pada Akbar dan menyalami tangan Revan.


" Siapa dia bun." tanya Akbar berbisik pada telinga istrinya itu.


" Pacarnya mbak Aira, Pa." jawab Santi pelan.


" Silahkan duduk mas. Maaf yaa rumahnya kotor. Yaa begini kalau punya balita. Rumah tak pernah bersih." jelas Akbar sungkan.


Bian tersenyum pada Revan dan memberikan mainannya pada lelaki yang baru di kenalnya itu.


" Kasih salam dong dek sama Om nya." pinta Akbar. Bian pun melangkah dan mencium tangan Revan. Revan tersenyum melihat kelakuan manis Bian.


" Oohh pinter sekali. Siapa namanya si ganteng ini." tanya Revan pada Bian. Bian tersenyum malu - malu.


" Bian." jawab Bian lugas.


Sementara Santi masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar kakaknya itu. Tapi tak kunjung ada jawaban.


Sedangkan Aira sedang memakai headset dan maraton drama korea terbaru. Jelas aja dia tak dengar ketukan pintu kamarnya.

__ADS_1


" Aduuhh mbak Aira apa sudah tidur yaa. Kebo banget sih kalo lagi tidur." gumam Santi saat ketokan pintunya tak di buka.


Santi keluar lagi ke ruang tamu. Dia melihat suaminya dan tamu kakaknya sedang berbincang.


" Loh bun, mbak Aira nya mana. Kok belum keluar." tanya Akbar melihat istrinya keluar tanpa kakak iparnya itu.


" Mbak Aira masih di kamar pa. Aku ketok - ketok pintunya gak nyaut - nyaut. Aku mau telepon aja." jelas Santi sambil meraih ponsel nya di atas lemari kecil dekat televisi.


Heemm santi telepon. Ada apa sih. Ganggu aja. Gumam Aira dan mengangkat telepon adiknya itu.


" Ada apa sih dek." tanya Aira sebal.


" Darimana aja sih, tidur udah kayak kebo. Di ketok - ketok pintu kamar gak di buka - buka." jawab Santi sebal.


Revan tersenyum melihat kelakuan adiknya Aira. Sementara Akbar nyengir melihat Revan. " Maaf ya mas. Istriku suka begitu kalo sama kakaknya." jelasnya malu.


" Gak apa - apa mas. Santai aja." jawab Revan. Dan Aira keluar dari kamar hanya memakai piyama tidur dengan muka kusut dan rambut di gelung seadanya.


" Ada apa sih. Ganggu orang aja." dia tertegun melihat lelaki duduk di sebelah adik iparnya itu.


" Kamu !!." Aira mendelik melihat Revan. Lelaki itu hanya melambaikan tangan dan tersenyum.


Aira tertegun menatap Revan. Sementara Santi mendelik ke arah kakaknya. Seolah berkata, Mbak bajunya itu di kondisikan. Aduh rambutnya kayak gitu lagi. Parah banget sih.


Tanpa pikir panjang, Santi menarik tangan kakaknya masuk kedalam.


" Aduuhh mbak. Penampilannya gini banget sih. Ada tamu itu loh. Ini rambut juga kayak iyem gini." jelas Santi sambil menepok dahinya.


" Ya mana ku tahu ada tamu. Dia ngapain disini dek." tanya Aira tak mengerti.


" Ya mau apel lah. Mau apalagi coba. Ini kan malam minggu." jawab Santi sebal.


" Udah mbak sekarang ganti baju lalu dandan cepet sana. Aku mau buatin minum dulu." jelas Santi sambil berjalan ke dapur.


Aira masuk kamar kembali dan mengambil baju ganti. Dia menarik celana jeans warna hitam dan kemeja warna hijau di dalam lemari. Setelah mempoles sedikit dengan bedak dan memakai lipstik warna nude tipis - tipis. Dia mengambil jilbab instant warna senada dengan kemejanya yang di lipat rapi di dalam lemari.


Dia tau darimana aku tinggal disini. Mau apa juga dia kesini. Bikin repot aja sih. Gumamnya lirih.


Aira keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Disana sudah ada santi yang duduk di samping Akbar.


" Lama banget sih dandannya." cibir Santi gemas melihat kakaknya itu. Aira melirik sinis ke arah Santi.


" Kamu tau darimana aku tinggal disini." tanya Aira to the point. Revan yang meminum air sirup dingin menaruh gelasnya kembali.


" Kemarin aku tak sengaja lewat sini dan melihat mu masuk gang disini. " jawabnya pasti. Aira melirik tajam ke arah Revan.


" Kamu mengikuti ku kan." tukasnya cepat.


" Untuk apa. Aku cuma kebetulan kok." jawab Revan gelagapan.


" Alasan !!." jawab Aira cepat.


" Terus mau apa kesini." tanya Aira.


" Heemm mau mengajak kamu keluar sebentar cari angin." jawab Revan sambil melirik ke arah Akbar dan Santi yang senyum - senyum melihat nya dari tadi.


" Kemana." tanya Aira lagi.


" Terserah kamu." jawab Revan cepat.


" Bentar aku ambil tas dulu." jawab Aira lalu berdiri dan masuk kedalam kembali.


Tak sampai lima menit, Aira pun keluar kembali sambil melingkarkan tas di pundaknya. Dia pun sudah memakai sepatu flat agar nyaman.


" Saya permisi dulu ya. Mengajak Aira keluar sebentar." Pamit Revan kepada kedua adik Aira.


" Iya gak apa - apa mas." jawab Akbar.


" Hati - hati ya mbak." jelas Santi.


Aira pun mengangguk. Mereka pun berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri dan anaknya itu yang masih berdiri diteras depan. Santi pun tersenyum melihat bayangan kakaknya dan lelaki itu pergi.


" Jadi inget waktu pacaran dulu ya, bun." tukas Akbar.


" Iya, pa. Sekarang kalau mau kemana mana ribet sama Bian dan barang bawaan." jelas Santi.


" Pa, kamu tau gak. Lelaki tadi yang ngajak mbak Aira pergi. Dia itu seorang dokter loh." jelas Santi pada suaminya. Akbar menoleh pada istrinya itu.


" Masa' sih ma. Pantesan aura nya gimana gitu. Gak mungkin kalo dia kerjanya sembarangan." Tukas Akbar tak percaya.


" Kok bisa kenal ya bun sama mbak Aira " tanya Akbar lagi.


" Dia itu dulu teman SMP mbak Aira, pa." jawab Santi. Santi menghela nafas nya.


" Andai mbak Aira dulu nikah sama dokter itu. Pasti mbak Aira bahagia ya pa. Gak seperti sekarang." tukas Santi yang masih menatap jalan di depan rumah nya.


" Udah lah bun. Gak boleh gitu. Itu sudah takdir. Gak boleh di sesali." jawab suami Santi.


" Ayo masuk bun. Banyak nyamuk di luar." ajak Akbar masuk kedalam.


*****


Sementara Revan dan Aira di dalam mobil. Mereka masih terdiam tak bersuara. Revan melirik Aira sekilas. Perempuan itu menatap keluar jendela.


" Kamu sudah makan, Ra." tanya Revan membuka percakapan. Aira menghela nafas panjang.


" Sudah." jawabnya singkat.


" Yaa Padahal aku belum makan." ujar Revan lesu.


" Ya Sudah kita cari makan kalo gitu." tukas Aira.

__ADS_1


" Mau makan dimana." tanya Revan lagi.


" Terserah kamu. " jawab Aira sambil terus menatap keluar jendela.


Revan menghentikan mobilnya ke sebuah restoran sunda. Disana terdapat saung - saung tempat untuk makan.


Suasana nya sungguh sejuk. Terdengar suara jangkrik disana. Lampu saung yang tak begitu terang pun menambah rasa sejuk dan asri tempat makan itu.


Revan dan Aira duduk dan memilih makanan pada menu yang di sediakan pelayan disana. Aira memilih nasi bakar dan bebek bakar. Sementara Revan memilih ayam goreng lengkuas dan tumis daun pepaya. Serta memesan dua gelas es kelapa muda dan kerupuk.


Setelah pelayan pergi, suasan kembali sepi hanya suara jangkrik yang terdengar disana. Aira menunduk sambil memutar jarinya pada meja disana. Revan menatap wajah perempuan itu dengan seksama.


Aira terlihat sangat manis dengan kerudung yang di pakainya. Revan tersenyum melihat wajah Aira yang semakin lama kalau di pandang semakin sexy.


" Lihat apa kamu." seru Aira yang melirik Revan sekilas. Revan membuang muka ke samping melihat sekeliling. Dia menahan senyumnya.


" Malam minggu begini semestinya kau pergi dengan istri atau pacarmu. Kenapa kau malah menemuiku." tukas Aira membuka pembicaraan.


" Sudah ku bilang aku belum menikah." jawab Revan tegas.


" Setidaknya kau sudah punya pacar bukan." sahut Aira lagi. Revan menghela nafas.


" Tidak punya. Aku tidak punya pacar. Tapi ... Yang mengejar - ngejar cintaku, banyak .. " jawabnya menggoda Aira.


Aira tergelak menahan senyumnya. Pelayan tiba dan mengantar pesanan mereka. Revan memakan makanannya dengan lahap. Aira tersenyum melihat Revan.


" Kau semakin rakus saja." cibir Aira. Revan tersenyum sinis.


" Aku kelaparan tau." jawab Revan cepat. Dia kembali menyantap makanan nya. Aira pun tampak menikmati hidangannya.


" Apa itu enak??." tanya Revan sambil menunjuk nasi bakar milik Aira.


" Yaa setidaknya daripada di tendang kuda." jawab Aira melawak.


Revan tertawa lepas mendengar lelucon perempuan di depan nya. Aira pun ikut tertawa melihat Revan tertawa sampai terbatuk - batuk. Revan menatap Aira.


" Kamu cantik kalau lagi tertawa. " puji Revan. Aira langsung menyurutkan tertawa nya. Dia kembali membisu sambil memakan makanan nya.


Selepas Revan membayar makanan yang mereka makan tadi. Mereka berjalan keluar menuju tempat parkir. Revan mencoba menggoda Aira. Mereka berjalan sambil tertawa cekikikan.


" Mbak Aira .." sapa cahaya, adik Arga, mantan suami Aira. Aira tersenyum kecut menghampiri adik iparnya dulu itu.


" Aya .. Aya sama siapa kesini." tanya Aira basa - basi. Cahaya masih melirik ke arah Revan.


Siapa pria itu??. Apa mbak Aira sudah menikah kembali??. gumam aya, panggilan dari cahaya, dalam hati.


Aira mengetahui gelagat penasaran adik iparnya tersebut. " Aya ini kenalin Revan. Dia .." belum selesai Aira ngomong. Revan pun menyambar perkataan Aira.


" Calon suami Aira."


Cahaya pun mendelik menatap Revan. Sementara Aira tertegun melihat kelakuan konyol Revan. Revan hanya tersenyum melihat dua perempuan ini.


" Oohh maaf mas. Saya cahaya mantan adik iparnya mbak Aira." sapa cahaya setelah sadar dari bengong nya tadi.


" Tidak apa - apa. Cahaya kesini sama siapa." tanya Revan sok akrab.


" Itu sama keluarga saya." jawab aya sambil menunjuk segerombol orang yang tengah masuk kedalam restoran.


" Aya .. Kenapa lama sekali sih." tanya lelaki bertubuh kurus tinggi dari belakang Aira. Aira tercekat mendengar suara lelaki itu. Dia sangat mengenal suara di belakang nya itu.


" Ini temen ka.. " lelaki itu kaget.


" Aira .. " seru lelaki yang ada di samping Aira itu. Yah dia lelaki yang selama 7 tahun ada di hidup Aira. Dia arga. Mantan suami Aira. Aira menoleh dan mencoba tersenyum.


" Mas arga. Bagaimana kabarmu??." tanya Aira basa - basi.


" Sedang apa kamu disini Ra." tanya arga. Dia masih belum menyadari keberadaan Revan di samping cahaya.


Revan berdehem cukup keras. Arga menoleh ke sumber suara tersebut.


" Saya Revan. Calon suami Aira." tukas Revan sambil menjabat tangan arga. Arga menoleh ke arah Aira yang masih terpaku.


Arga melepas jabatan tangan Revan. Terlihat ketidaksukaan di wajah arga saat melihat Aira pergi dengan laki - laki lain.


Revan pun sudah memasang wajah dingin nya. Aura dari dua lelaki disana sungguh sangat mencekam.


" Sudah dulu ya aya, aku pulang dulu." seru Aira sambil menarik tangan Revan.


" Eeehhh iya mbak Aira. Hati - hati di jalan." jawab cahaya terbata.


Revan membuka pintu mobil untuk Aira. Setelah itu berlari kecil mengelilingi bagian mobil yang lain dan masuk kedalam. Tak lama mobil di hadapan cahaya dan arga pun melaju lalu menghilang.


Aira menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya sambil bersandar di jok mobil. Butiran bening kembali mengalir di sudut matanya.


Revan melirik ke arah Aira. Dia menarik tissue yang ada di hadapannya dan memberikan ke arah Aira.


" Terima kasih. " sahut Aira sambil meraih tissue tersebut.


Aira tak menyangka akan bertemu kembali dengan mantan suaminya itu. Sudah hampir setahun mereka tak bertemu muka.


Luka lama di hatinya terbuka kembali. Hanya perih yang di rasakan sekarang. Revan mengusap pucuk kepala Aira.


Aira masih menatap ke luar jendela dengan nanar. Dia meratapi nasib nya yang jelek itu.


~ **Happy reading ~


*Buat para readers ...


Tolong kasih komentar, like dan tombol vote nya yaaaa ....


Agar author semangat terus meng update cerita nya*** ...

__ADS_1


__ADS_2