Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 137 Belum Rela


__ADS_3

Attar terbangun dari tidur lelapnya. Seperti biasa, dia selalu menangis ketika bangun tidur. Perawat Ita pun terbangun dan memeriksa apa yang salah dengan bayi itu. Popok Attar telah basah karena pipis. Perawat Ita pun melepas popok itu dan menggantinya dengan yang baru.


Attar pun masih merengek meminta sesuatu. Di lihatnya botol termos air panas untuk membuat susu bayi itu telah habis. Perawat Ita pun beranjak ke dapur untuk mengambil air panas yang ada di dispenser.


Attar asyik bermain dengan bola yang biasa di gigit nya itu. Sebuah tangan terulur mengusap kepala bayi tampan itu. Attar tersenyum saat melihat siapa yang mengusap kepala nya.


Attar asyik mengoceh seakan mengajak seseorang itu berbicara. Tangan itu masih membelai lembut kepala Attar. Attar mulai menguap karena belaian lembut tangan itu. Tak lama kemudian bayi mungil itu pun terlelap kembali dalam tidurnya.


Perawat Ita pun kembali ke kamar sambil membawa termos berisi air panas untuk membuat susu bayi tampan itu. Saat membuka pintu, perawat Ita begitu terkejut saat melihat sesosok yang duduk di samping box bayi itu.


" Nona Aira!." seru perawat Ita dengan wajah yang pias dan terkejut itu.


Wanita itu pun menoleh ke arah perawat Ita dan tersenyum. Yah, itu adalah Aira. Lebih tepatnya arwah Aira yang masih belum bisa menerima jika harus berjauhan dengan orang - orang yang sangat di cintainya itu.


Perawat Ita masih berdiri di depan pintu menatap wajah Aira yang masih duduk di samping tempat tidur Attar. Seperti biasa, wajah itu masih terlihat cantik. Hanya saja begitu pucat dan ada raut kesedihan di wajah wanita itu.


Perlahan Aira pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela lalu menghilang disertai hembusan angin yang bertiup kencang masuk ke dalam kamar.


Perawat Ita pun berjalan mendekat ke arah jendela dan melihat ke bawah tempat Aira pergi dan menghilang tadi. Tapi disana tidak ada siapa pun. Sepi dan gelap. Perawat Ita pun tersadar lalu menutup kembali jendela yang terbuka itu dan berjalan mendekat ke arah Attar tertidur.


Bayi itu tertidur dengan sangat pulas sekali. Mungkin dia merasakan kehadiran sang mama yang datang dan menidurkannya itu. Perawat Ita pun menaruh botol termos di atas meja dan kembali ke tempat tidur yang berada di dekat box bayi tempat Attar tertidur. Sebelum tidur pun perawat Ita mengucapkan doa untuk Aira supaya dia tenang di alam sana dan mendapat tempat yang indah di sisi Rabb nya.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya, rumah itu tampak seperti biasa. Mbok Sum dan mbak Aminah sedang berkutat di dapur untuk membuatkan sarapan untuk penghuni rumah itu. Sedangkan perawat Ita sedang memandikan Attar di kamarnya. Kinanti pun baru selesai mandi dan berjalan kembali kamar Attar.


Terlihat Attar sedang berganti pakaian. Kinanti pun tersenyum melihat wajah bayi mungil itu yang terlihat ceria itu. Perawat Ita pun tersenyum saat melihat nenek Attar yang masih terlihat muda walaupun guratan garis penuaan terlihat jelas di wajahnya itu.


" Aduuhh cucu nenek sudah tampan ya. Gimana sayang, boboknya nyenyak ya semalam. Nenek gak dengar suara tangisanmu loh." tukas Kinanti senang.


" Iya nenek. Attar boboknya nyenyak." jawab perawat Ita. Perawat Ita pun jadi ingat kejadian semalam. Dia ingin mengutarakan apa yang di lihatnya kepada Kinanti. Tapi dia takut jika Kinanti malah tersinggung dengan apa yang akan di sampaikannya itu.


Kinanti pun menangkap gelagat wajah cemas dalam air muka Perawat Ita. Di sentuhnya lengan perawat yang sudah merawat Attar dari bayi itu.


" Ita. Kamu kenapa?. Sepertinya kamu terlihat cemas?." tanya Kinanti. Perawat Ita pun tersenyum kecut mendengar pertanyaan Kinanti.


" Tidak ada apa - apa buk." jawab perawat Ita berbohong.


" Katakan ada apa!. Kamu tidak pandai berbohong Ita!." ujar Kinanti.


" Ada apa?." tanya Kinanti.


" Semalam kan buk, Attar terbangun seperti biasanya. Setelah saya mengganti popoknya yang basah, saya mau membuat kan susu. Tapi air panas nya habis. Jadi saya ambil di dapur." cerita Ita.


" Lalu buk, setelah saya kembali dari dapur. Saat saya membuka pintu kamar ini. Saya melihat nona Aira buk sedang mengusap kepala Attar. Dan Attar pun sedang tertidur dengan pulas." imbuh Ita. Kinanti mengernyit kan dahinya mendengar cerita perawat Ita.


" Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?." tanya Kinanti tak percaya.


" Saya yakin buk. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri." jawab Perawat Ita.


" Nona Aira sempat menoleh ke arah saya dan tersenyum kepada saya sebelum dia pergi. Nona Aira pergi lewat jendela itu buk." ujar perawat Ita sambil menunjuk ke arah jendela tempat Aira menghilang semalam.

__ADS_1


Kinanti begitu terkesiap mendengar cerita dari perawat yang mengasuh cucunya itu. Kinanti kembali menitikkan air matanya. Dia masih sangat sedih atas kepergian sang anak yang begitu cepat itu.


" Apa Aira tidak berkata apa - apa?." tanya Kinanti.


" Tidak buk. Nona tidak ngomong apa - apa. Dia hanya tersenyum. Tapi wajahnya terlihat begitu sedih buk." ujar perawat Ita.


" Benarkah?." tanya Kinanti sambil mengusap air matanya yang meleleh.


" Iya buk. Wajahnya masih cantik seperti biasa. Tapi hanya pucat dan terlihat sedih saja." jelas Perawat Ita.


" Mungkin dia sedih karena harus berjauhan dengan orang - orang yang di cintainya." ujar Kinanti.


" Mungkin saja buk. Kasian Attar." tukas perawat Ita.


" Kalau sudah, cepat kamu suapin Attar. Setelah itu kamu ajak dia jalan - jalan di taman belakang. Biar dia dapat menghirup udara bersih." ujar Kinanti.


" Baik buk." jawab perawat Ita.


.


.


.


.


Hai readers ...


Detik - detik cerita ini mau tamat nih ...

__ADS_1


Sedih sih ...


Nantikan cerita selanjutnya ya ....


__ADS_2