Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 127 Missed Comunication


__ADS_3

Di rumah sakit ...


.


.


.


Reihan keluar dari ruangan tempat Atmaja di rawat. Lelaki tua itu sudah terlelap tidur akibat obat yang di berikan perawat. Pak Aziz terlihat sibuk dengan ponselnya. Reihan pun berjalan menghampiri lelaki itu.


" Kenapa pak?." tanya Reihan. Pak Aziz menoleh ke sumber suara.


" Ini tuan mau mengabari orang rumah. Mau memberitahu kalau bapak masuk rumah sakit. Tapi ponsel saya gak ada sinyal. Saya sudah cari - cari dari tadi tetap saja gak ada." jelas pak Aziz. Reihan menghela nafas sambil menatap ponsel di tangan pak Aziz. Ponsel jadul yang sekarang sudah menjadi barang langka itu. Ponsel dengan layar berwarna yang hanya bisa mengirim pesan dan melakukan panggilan saja. Tidak memiliki fitur seperti ponsel terbaru seperti saat ini.


" Telepon pakai ponsel saya saja pak." ujar Reihan sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Pak Aziz pun menerima ponsel itu.


Tapi, bukannya langsung menghubungi orang yang ada di rumah. Pak Aziz malah menatap ponsel milik Reihan dengan wajah yang kebingungan.


" Ada apa pak?. Katanya mau telepon?. Kok malah bengong?." tanya Reihan heran.


" Maaf tuan. Saya gak bisa pakai ponsel milik tuan. Saya gak tau gimana pakai nya." jelas pak Aziz dengan senyum malu - malu. Reihan pun menghela nafasnya.


" Kenapa gak bilang dari tadi. Sini ponselnya." tukas Reihan mengambil ponsel miliknya.


Dia pun membuka layar kunci ponsel tersebut. Lalu menekan angka nomor 6. Secara otomatis ponsel tersebut memanggil nomor telepon yang ada di rumah Revan.


" Hallo .." sapa dari seberang.


" Hallo mbok Sum." ujar Reihan. Dia sangat hafal sekali suara wanita paruh baya yang sudah mengabdikan hidupnya lebih dari 30 tahun itu.


" Ini tuan Rei ya." tanya dari balik panggilan.


" Iya. Mbok saya sudah ada di rumah sakit sekarang. Papa sedang di rawat. Karena kondisi nya tidak sehat." jelas Reihan.


Tapi pada saat yang bersamaan sinyal di ponsel Reihan pun mengalami gangguan. Ya wajar saja. Sekarang mereka sedang berada di dalam ruangan yang sangat minim akan jaringan.

__ADS_1


Mbok Sum menatap gagang telepon yang menempel di telinga nya. Suara Reihan semakin lama semakin kecil dan menghilang.


" Hallo tuan. Hallo ... Hallo tuan Rei .." panggil mbok Sum.


" Mbok. Hallo. Mbok Sum dengar suara saya kan." tanya Reihan yang belum menyadari akan adanya gangguan sinyal pada ponselnya.


Tiba - tiba ada perawat yang datang menghampiri Reihan dan pak Aziz disana.


" Dengan keluarga bapak Ifan?." tanya perawat itu.


" Ooh maaf sus. Bukan. Saya keluarga bapak Atmaja. Bukan bapak Ifan." jawab Reihan.


" Oohh maaf. Saya kira keluarga bapak Ifan. Lalu dimana ya keluarga bapak ifan?." tukas perawat itu sambil celingak - celinguk.


" Hallo mbok ... Mbok Sum ..." panggil Reihan lagi.


" Iya tuan. Maaf tuan. Suara tuan Rei sangat kecil. Bisa lebih kencang lagi kalau bicara." pinta mbok Sum.


" Ya elah mbok. Ini rumah sakit bukan hutan. Masa' orang di suruh teriak - teriak di rumah sakit. Yang benar aja dong." dengus Reihan sebal. Miss komunikasi diantara kedua nya pun tak bisa ter elakkan.


" Keluarga bapak Ifan?." tanya perawat itu.


" Iya sus. Ada apa dengan ayah saya." tanya lelaki yang baru datang itu.


" Bapak dari mana saja. Dokter dari tadi mencari anda." tanya perawat itu.


" Aahh maaf. Saya baru saja mencari angin di luar." jawab lelaki itu.


" Saya hanya mau mengabarkan. Kalau bapak Ifan telah menghembuskan nafas terakhir pada pukul 08.46 wib. Dan sekarang jenazah sudah di bawah ke kamar mayat untuk melakukan prosedur sesuai aturan dari rumah sakit." jelas perawat itu. Lelaki itu pun langsung terduduk lemas saat mendengar berita dari perawat disana.


Dan Reihan dan pak Aziz pun secara reflek ikut terkejut dan mengucapkan kalimat Innalillahi wa innalillahi rojiun. Mbok Sum pun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Reihan.


" Hallo tuan Rei. Siapa yang meninggal Rei?." tanya mbok Sum cemas.


" Bapak Ifan." jawab Reihan.

__ADS_1


Berhubung sinyal sedang menguji mereka berdua. Akhirnya miss komunikasi pun semakin berlarut dan bertambah buruk. Teihan mendengar mbok Sum berteriak histeris dalam balik panggilan telepon nya.


" Hallo mbok .... Ada apa mbok?. Kenapa berteriak?. Hallo ... " panggi Reihan.


Tuut ... Tuuuttt ... Tuuuuttt ....


Panggilan telepon keduanya pun terputus. Reihan dengan segala kebingungan yang ada akibat teriakan mbok Sum dari balik telepon. Sedangkan mbok Sum dengan segala rasa kepanikan yang mendera. Klop sudah.


" Ada apa tuan?." tanya pak Aziz tak mengerti.


" Entahlah. Mbok Sum tiba - tiba berteriak gak jelas seperti itu. Sudahlah. Pak Aziz disini dulu ya. Saya mau cari kopi sama sarapan. Dari semalam saya belum makan soalnya. Lapar." jelas Reihan.


" Oohh silahkan tuan. Saya akan disini menunggu bapak sampai tuan kembali nanti." ujar pak Aziz.


" Iya. Pak Aziz mau titip sesuatu?. Nanti saya belikan sarapan juga buat pak Aziz. Bapak pasti belum sarapan kan." terka Reihan.


" Terima kasih tuan. Tak perlu repot - repot. Saya nanti bisa beli sendiri." tukas pak Aziz.


" Gak repot kok. Sekalian saja. Ya sudah saya tinggal dulu ya pak." ujar Reihan lalu beranjak pergi.


.


.


.


*****


Sementara di rumah Revan. Kabar duka yang di bawa mbok Sum pun berhasil membuat semua orang yang ada disana pun menangis secara bersamaan.


Rasanya rumah itu di liputi oleh awan mendung dan hitam saat mendengar kabar kepergian Revan untuk selama - lamanya.


Kinanti langsung menghubungi Santi untuk segera datang ke rumah Revan. Santi begitu terkesiap ketika mendengar berita kepergian Revan dari mulut ibunya. Akhirnya Santi dan Akbar pun bergegas menuju rumah kakaknya itu.


Isak tangis di rumah itu pun terdengar jelas sekali. Sampai Aira yang tengah terlelap tidur pun akhirnya terbangun juga. Aira pun berjalan menuju ruang tengah yang ada disana. Kinanti yang melihat Aira menuruni tangga pun langsung menghampiri dan memeluk tubuh putrinya itu dengan air mata yang menetes di pipinya. Aira mengernyit kan dahinya tak mengerti arti dari pelukan sang ibunda.

__ADS_1


__ADS_2