Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 118 Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Sampai hari berganti dengan terang pun, Akbar masih belum bisa memejamkan matanya kembali. Dia khawatir jika dirinya tertidur mimpi buruk seperti itu akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya kembali.


Terlihat Atmaja pagi - pagi sekali sudah datang ke rumah sakit. Lelaki paruh baya itu pun langsung menghampiri Akbar yang sedang duduk memainkan ponselnya di ruang tunggu yang ada disana.


" Pak, Tumben pagi - pagi sudah kemari?." sapa Akbar saat melihat sosok itu menghampiri nya. Atmaja tersenyum.


" Bagaimana?. Apa tidak ada perkembangan atau kabar lain?." tanya Atmaja. Akbar pun menggelengkan kepala nya. Atmaja pun menghela nafasnya.


" Baiklah. Kamu boleh pulang. Biar aku yang jaga disini." ujar Atmaja.


" Tidak apa - apa pak. Biar saya temani bapak disini." tukas Akbar.


" Apa kamu tidak lelah?." tanya Atmaja. Akbar tersenyum dan menggelengkan kepala.


" Tidak. Lagian saya disini hanya duduk tak berbuat apapun." ujar Akbar.


" Kalau lelah pulang saja. Nanti agak siangan juga anak saya yang satu lagi akan datang kemari." jelas Atmaja.


" Saya akan temani bapak sampai anak bapak datang kemari." ujar Akbar sambil duduk di sebelah Atmaja.


Cukup lama mereka mengobrol. Atmaja juga bertanya soal Akbar dan keluarga nya. Lelaki itu pun bersemangat saat membicarakan keluarga kecilnya. Ada sorot kebahagiaan di mata Akbar saat membicarakan keluarga kecilnya itu.


" Pak, Sebelum nya saya mau minta maaf." ujar Akbar hati - hati. Dia takut menyinggung perasaan lelaki tua itu. Ingin sekali dia memendam rasa itu sendirian. Tapi terasa tidak enak sekali. Seperti ada yang mengganjal di dalam benaknya.


" Ada apa?. Tanya saja gak usah sungkan." jawab Atmaja. Akbar menghela nafasnya berat. Di tatapnya wajah lelaki tua itu dengan tatapan gugup.

__ADS_1


" Kenapa menatapku seperti itu?. Ada apa?. Tanya saja." tukas Atmaja.


" Semalam saya bermimpi bertemu mas Revan." ujar Akbar kepada Atmaja. Atmaja mengernyit kan keningnya.


" Bermimpi ketemu Revan?. Apa maksudmu?." tanya Atmaja tak mengerti.


" Iya. Semalam saya bertemu mas Revan di dalam mimpi. Dia bilang ke saya kalau dirinya sudah lelah dan ingin pergi." ujar Akbar. Atmaja menoleh dan menatap wajah Akbar dengan seksama.


" Saya sudah melarangnya. Tapi mas Revan tetap pergi dengan wanita cantik yang sekilas wajahnya mirip dengan wajah mas Revan." jelas Akbar. Atmaja membelalakkan matanya.


Ifah. gumam Atmaja.


" Apa kamu yakin, wanita itu mirip dengan wajah Revan?." tanya Atmaja tak percaya.


" Iya pak. Saya masih ingat betul. Wajah wanita itu mirip dengan wajah mas Revan. Apalagi saat tersenyum. Sangat mirip sekali. Seperti mas Revan versi perempuan." ujar Akbar yakin.


" Kenapa pak?." tanya Akbar saat mendengar gumaman dari lelaki itu.


" Itu mama nya Revan. Dia sudah lama pergi meninggalkan kita semua." jawab Atmaja. Seketika wajah Akbar menegang. Dia seperti baru saja melihat hantu.


Atmaja pun berdiri menghampiri kaca besar yang memperlihatkan tubuh anak dan menantunya tengah terbaring disana. Atmaja sejenak menatap alat - alat yang menempel di tubuh anak kesayangannya itu.


Ifah, kamu tau kan aku sangat menyayanginya melebihi apapun. Dan kamu ingin mengajaknya pergi bersamamu untuk menghukumku di masa lalu. Jangan lakukan itu. Jangan bawa Revan pergi bersamamu. Dia baru saja merasakan sebuah kebahagiaan bersama orang yang dia cintai. Dia belum melihat dan menggendong bayi mungil nya. gumam Atmaja dalam hatinya.


*****

__ADS_1


Seperti kata Atmaja, siang harinya Reihan datang ke rumah sakit bersama dengan Amanda dan Kirana cucunya. Amanda pun masuk kedalam ruangan itu sebentar untuk melihat kondisi Revan dan Aira disana. Sementara Akbar pun berpamitan pulang. Karena dia tidak enak jika lama - lama di tengah - tengah keluarga itu.


" Bagaimana keadaan Revan dan Aira Pa?." tanya Reihan dari luar sambil memperhatikan wajah kedua adiknya dari kaca besar. Atmaja menghela nafas berat.


" Masih seperti itu. Tidak ada kemajuan sama sekali." jawab Atmaja. Reihan mengusap tengkuknya yang tiba - tiba terasa berat. Seminggu ini dia tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Dia selalu memikirkan keadaan adik beserta iparnya itu.


" Apa dokter tidak punya jalan atau alternatif lain untuk kesembuhan mereka?." tanya Reihan gusar.


" Semua sudah di lakukan oleh tenaga medis terbaik. Saat ini kita hanya bisa menunggu sampai mereka sadar kembali." jawab Atmaja.


" Sampai kapan Pa?. Ini sudah seminggu. Dan mereka masih sama seperti itu tanpa ada perkembangan sama sekali." tukas Reihan frustasi. Dia tidak tega jika harus melihat adik dan iparnya seperti itu terus - menerus.


Atmaja menepuk bahu putra sulungnya. Ada banyak gejolak di dalam hati lelaki tua itu. Apalagi saat tadi Akbar bercerita soal mimpi bertemu dengan anaknya yang saat ini terbaring koma itu. Pikirannya semakin tidak karuan.


" Rei." panggil Atmaja. Reihan pun menoleh kepada ayahnya.


" Menurutmu, Apa kita harus mengikhlaskan adikmu pergi bersama Mama mu?." tanya Atmaja kepada anak sulungnya itu. Reihan mengerutkan dahinya mendengar ucapan ayahnya.


" Apa maksud Papa?. Papa kenapa bilang seperti itu?. Papa tidak ingin berkumpul kembali bersama Revan?." tanya Reihan tak mengerti. Atmaja menatap wajah Reihan dengan mata berkaca - kaca.


" Papa takut Rei. Sangat takut. Papa takut jika harus di tinggal Revan pergi." ujar Atmaja dengan air mata yang sudah pecah. Reihan memeluk tubuh ayahnya itu.


Atmaja semakin terisak di pelukan anak sulungnya itu. Berulang kali Reihan menghela nafas berat nya. Dia tidak pernah melihat ayahnya seperti ini. Bahkan dulu saat ibu mereka pergi pun. Reihan tidak melihat setitik pun air mata di wajah ayahnya. Tapi sekarang. Dia melihat air mata ayahnya jatuh hanya untuk adik satu - satunya itu.


Dia tau dari dulu ayahnya selalu memberikan kasih sayang yang lebih untuk Revan. Reihan hanya berpikir, mungkin itu suatu penebusan kesalahan akibat ibunya yang pergi meninggalkan mereka di saat Revan masih dalam tahap pertumbuhan dan butuh kasih sayang dan perhatian yang lebih dari orang tuanya.

__ADS_1


Apalagi dulu sang Ayah jarang sekali di rumah karena pekerjaan yang selalu menuntutnya demikian. Sedikit pun Reihan tak pernah cemburu atau marah dengan sikap ayahnya yang berlebihan kepada Revan. Karena dia tau. Orang yang paling terluka dan kehilangan ibunya adalah Revan. Maka dari itu dia selalu mengalah tentang apapun jika itu menyangkut adiknya itu.


__ADS_2