Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 43 Melepas


__ADS_3

Tookk ... Tookk ... Tookk ...


Terdengar begitu nyaring suara ketokan pintu di rumah Santi. Santi yang tengah menidurkan Bian pun bangkit dan beranjak membuka pintu tersebut.


" Mbak Aira .. " seru Santi saat membuka pintu. Aira langsung menghambur di pelukan adiknya itu. Dia menangis sejadinya. Dia sudah menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi dia tak berhasil.


" Mbak kenapa mbak?." tanya Santi yang keheranan saat melihat kakaknya pulang - pulang langsung menangis. Tapi Aira masih membisu. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan menangis. Akbar suami Santi yang mendengar suara isakan tangis pun keluar melihat apa yang terjadi.


" Mbak Aira kenapa bun?." tanya Akbar kepada istrinya. Santi hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti apa yang terjadi. Akbar pun menutup pintu rumah tersebut. Takut para tetangga melihat dan malah jadi bahan gunjingan. Santi masih memeluk kakaknya itu sambil mengusap punggung kakaknya agar tenang. Aira yang mulai sedikit tenang pun melepas tubuhnya dari pelukan adiknya itu.


" Ada apa mbak?. Cerita ke Santi. Mbak kenapa?." tanya Santi sambil mengusap pipi kakaknya yang basah oleh air mata itu. Akbar pun menuntun kakak iparnya itu untuk duduk. Lalu dia berdiri mengambil air minum dan memberikannya ke Santi.


" Ini di minum dulu." seru Santi sambil menyodorkan gelas air minum ke kakaknya. Aira pun meminum air putih itu hingga habis tak tersisa.


Tookk .. Tookk .. Tookk ..


Terdengar pintu rumah di ketuk kembali. Akbar yang tengah duduk pun akan beranjak dari duduknya membuka pintu rumah tersebut. Tapi Aira menarik tangan Akbar.


" Jangan di buka. Itu pasti Revan. Aku gak mau ketemu sama dia lagi. Jangan di buka pintunya." pinta Aira lirih. Akbar yang mendengar itu pun bingung di buat nya. Dia menatap ke arah istrinya. Santi pun mengiyakan permintaan kakaknya.


" Jangan di buka mas. Biarkan mbak Aira tenang dulu." tukas Santi. Akbar pun mengurungkan niat nya untuk membuka pintu tersebut. Tapi suara ketukan pintu itu terus terdengar.


" Airaaaa ... Buka pintu nya .. Aku tau kamu di dalam. Aku ingin bicara dengan mu. Buka pintu nya ... Airaaa ... Buka pintu nya ..." kini terdengar suara Revan yang mulai berteriak memanggil namanya berulang sambil terus mengetuk pintu rumah itu.


" Santiii ... Buka pintu nyaa .. Aku mohon Santi buka pintu nya. Aku harus bicara dengan Aira ... " teriak Revan dari luar. Akbar dan Santi pun mulai terganggu dengan teriakan Revan. Mereka berdua takut para tetangga keluar dan marah kepada keluarga mereka karena telah berbuat onar di kampung itu.


" Mbak, sebaiknya kita buka saja pintu nya. Mas Revan semakin kencang teriaknya. Takutnya tetangga akan datang mbak." ujar Akbar. Santi pun mengangguk mengiyakan ucapan suami nya itu. Aira masih terdiam. Terdengar suara Bian yang menangis di dalam kamar. Mungkin dia terusik oleh suara teriakan dan ketukan pintu dari Revan. Santi pun berdiri dan masuk ke dalam kamar untuk menenangkan Bian.


Aira pun membuka pintu rumahnya itu. Telihat beberapa tetangga nya tengah keluar dan menatapnya dengan tatapan sinis. Aira pun masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya itu. Terlihat Akbar juga duduk disana. Revan pun langsung mendudukan tubuhnya di samping Aira.


" Aira kita harus bicara. Aku ... " ujar Revan.


" Tak ada yang bisa di bicarakan lagi. Semuanya sudah jelas Revan." jawab Aira menyela ucapan Revan. Santi pun keluar dari kamar sambil menggendong Bian. Akbar dan Revan pun menoleh ke arah Santi. Santi terdiam. Dia memberi kode ke suaminya agar memberikan kakak nya privasi untuk memyelesaikan masalah nya. Akbar pun pamit lalu beranjak masuk ke dalam.


" Kenapa kamu menyuruh ku masuk sih bun?. Kalau mereka sampai berantem gimana?." seru Akbar lirih saat di dalam kamar.

__ADS_1


" Kamu pikir mereka anak kecil. Kalau ada masalah dikit - dikit gelut gitu." jawab Santi sebal. Akbar berdecak ke arah istrinya.


Sementara Revan dan aiera di ruang tamu depan. Aira masih diam tak berbicara sambil sesekali mengusap pipi nya yang basah akibat lelehan air mata nya itu. Revan menatap wajah Aira yang ber sedih itu.


" Ra, aku gak mau kita berakhir seperti ini. Aku mencintai mu Ra. Aku ingin menikah dengan mu." tukas Revan membujuk Aira. Aira masih terdiam.


" Aku gak perduli papa ku, keluarga ku atau siapa pun itu, aku gak perduli kalau mereka semua menolak dan tak merestui kita. Aku gak perduli. Aku akan tetap menikahimu." jelas Revan. Aira menoleh ke arah Revan.


" Cukup Van. Aku tak mau dengar apapun darimu. Mending kamu pergi dari sini." seru Aira.


" Enggak Ra!!. Aku gak akan pergi sebelum kamu setuju kita akan menikah." jawab Revan.


" Pergi Van. Keluar dari sini. Aku sudah gak mau ngelihat kamu lagi. Pergi dari hidup ku Van. Pergi!!. Aku gak butuh semua omong kosongmu itu." teriak Aira sambil beranjak dari duduknya. Revan pun menarik lengan Aira dengan kasar. Aira berusaha menepis tangan Revan. Tapi tak bisa. Tangan Revan terlalu kuat untuk di tepisnya.


" Lepasin tangan ku. Lepasin Van. Aku gak mau melihatmu lagi. Pergiiii .... " teriak Aira. Santi dan Akbar pun langsung keluar mendengar kakaknya berteriak seperti itu. Revan hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.


" Mas. Mending mas Revan pulang aja. Biarin mbak Aira tenang dulu mas. Malu di dengar tetangga. " tukas Akbar saat melihat nya menggenggam lengan Aira dengan kuat.


" Iya mas. Pulang aja dulu. Masalah gak akan selesai kalau semua masih panas begini. Besok kesini lagi aja." jelas Santi sambil menggendong Bian. Revan pun menatap kedua calon adik iparnya itu. Akhirnya Revan melepas kan lengan Aira. Aira pun langsung berlari masuk ke dalam kamar.


" Yang sabar mas. Besok di omongin lagi baik - baik. " tukas Akbar sambil menepuk bahu Revan. Revan pun mengangguk mengiyakan ucapan Akbar.


" Gak apa - apa mas. Tapi sebenarnya ada apa sih mas?. Tadi kalian kan baik - baik aja." tanya Santi. Revan menghela nafas nya. Akbar pun melotot ke arah Santi. Santi pun terdiam.


" Ya udah aku pulang dulu ya. " jelas Revan dan langsung beranjak pergi meninggalkan rumah itu. Akbar pun menutup pintu rumahnya lalu mengunci nya.


*****


Aira merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Pandangannya kosong menatap ke arah pintu kamarnya. Buliran air mata nya pun mengalir kembali. Dia merasakan pedih di hatinya.


" Mbak. Bolehkah aku masuk?." tanya Santi sambil mengetuk pintu kamar Aira. Aira bangkit dari tidurnya dan mengusap pipi nya kasar.


" Masuklah." jawab Aira. Santi membuka pintu kamar kakaknya dan menutupnya kembali. Dia menghampiri kakaknya yang tengah duduk di atas ranjang tempat tidurnya itu. Dia pun ikut duduk di atas ranjang tempat tidur kakaknya itu.


" Mbak ... Sebenarnya ada apa sih mbak?. Kenapa dengan mbak dan mas Revan." tanya Santi hati - hati. Takut kakaknya akan histeris lagi. Aira menatap wajah adiknya itu. Air matanya mengalir kembali. Santi yang melihat itu pun langsung memeluk kakaknya itu.

__ADS_1


" Mbak cerita dong sama Santi. Jangan di pendam sendiri begini. Ada apa sebenarnya?. " ujar Santi sambil mengusap punggung kakaknya itu.


" San, apa salah, kalau mbak ingin bahagia?." tanya Aira sambil sesenggukan.


" Mbak Aira pantas bahagia. Mbak Aira orang baik." jawab Santi menenangkan hati kakaknya itu.


" Tapi keluarga Revan tidak melihatku begitu. Mereka memandang aku begitu hina." jelas Aira sambil menangis sejadinya. Santi melepas pelukannya dan menatap wajah kakaknya itu.


" Ada apa sebenarnya mbak?. Mereka ngomong apa tentang mbak?." tanya Santi penasaran. Aira mengusap air matanya. Dia menarik nafas dan membuangnya. Mencoba menenangkan hatinya agar dapat bercerita kepada adiknya.


" Tadi Revan membawa ku ke rumah nya. Disana ada papa dan kakak iparnya Revan. Papa nya Revan gak pernah suka sama aku, San. Dia bilang kalau dia gak suka anaknya menikah denganku." jelas Aira sambil mengatur nafasnya yang terisak itu.


" Tapi mas Revan bilang kalau keluarga nya akan melamar hari minggu besok. Kenapa jadi begini sih mbak?." tanya Santi tak mengerti.


" Dari awal papa nya itu tak merestui kami Santi. Revan sudah berbohong sama mbak. Dia bohong kalau keluarga nya sudah setuju." jawab Aira.


" Tega mas Revan membohongi mbak. Aku kira mas Revan selama ini tulus sama mbak." ujar Santi kesal mendengar penjelasan kakaknya itu.


" Revan tak pernah membohongi perasaan nya sama mbak. Dia hanya berbohong soal restu dari keluarganya." jeas Aira.


" Lalu mas Revan ngomong gimana sama mbak?." tanya Santi.


" Dia gak perduli kalau semua keluarga nya gak setuju. Dia tetep akan menikahi mbak Santi." jawab Aira. Santi terdiam mendengar ucapan kakaknya itu.


" Mbak Aira sendiri gimana perasaannya sama mas Revan." tanya Santi.


" Kamu ngomong apa Santi?. Mbak sangat mencintai Revan. Mbak juga ingin sekali bersama dengannya. Tapi kalau keluarga nya seperti itu, mau gak mau mbk harus melepas Revan pergi. Mbak gak mau menikah dan berhubungan tanpa restu orang tua." jelas Aira.


" Mbak yang sabar ya. Semua pasti ada jalan keluar nya." tukas Santi.


" Mbak terpaksa harus mengubur impian mbak untuk bersanding bersama nya Santi. Mbak gak mau menjadi beban dalam hidupnya. Mbak memang tak pantas untuk nya." jawab Aira.


" Mbak yakin ingin melepas mas Revan. " tanya Santi.


" Yakin Santi. Mbak harus melepas Revan. Mbak harus melupakan Revan." jawab Aira kembali terisak. Santi memeluk kakaknya kembali. Dia pun turut merasakan sakit yang di rasakan kakaknya itu. Kakaknya orang baik. Kenapa nasib nya selalu begini. Selalu di sakiti. Semoga saja pilihan yang di ambil kakaknya adalah yang terbaik untuk semua. Dia hanya ingin melihat kakaknya bahagia. Karena kakaknya sudah lama menderita.

__ADS_1


~ **Happy reading ~


Jangan lupa kasih like, komen, dan vote yaaa readers** ...


__ADS_2