
" Code blue!!. Code blue!!." teriak petugas medis dengan mendorong brankar sangat cepat menuju ruang UGD. Semua dokter jaga dan perawat disana pun langsung sigap menangani pasien itu.
Ada tiga buah brankar yang di dorong menuju ruang itu. Petugas medis disana pun begitu tercekat saat melihat salah satu pasien emergency itu adalah Revan. Siapa yang tidak mengenal sosok lelaki itu. Dia salah satu dokter spesialis terbaik di kota ini.
Semua petugas pun langsung memberikan pertolongan kepada ketiga pasien itu. Semua kemampuan mereka di bidang kesehatan di kerahkan untuk menyelamatkan pasien emergency itu. Terlihat banyak sekali darah di ruangan itu. Perawat disana mengusap cucuran darah yang terus keluar.
" Pasien blue 3 sudah tidak bernyawa." teriak salah seorang dokter memberitahu kepada kepala dokter disana. Dokter itu langsung panik dan menatap wajah Revan yang masih berjuang untuk dirinya sendiri saat ini.
Ada tiga pasien emergency dalam ruangan itu. Code blue merupakan julukan untuk pasien emergency yang butuh penanganan serius dan secepatnya. Dalam insiden tabrakan tadi tidak hanya Revan dan Aira yang ada di dalamnya. Tapi ada satu orang lagi pengendara mobil yang menabrak mobilnya.
Dua orang petugas kepolisian menghampiri kepala dokter di ruang UGD itu. Mereka berdua menyaksikan betapa paniknya suasana yang ada di dalam ruangan itu.
" Salah satu pasien tidak bisa kami selamatkan. Karena luka nya sangat parah." jelas dokter itu.
" Lalu bagaimana dengan dua pasien nya lagi?." tanya petugas kepolisian itu.
" Semua masih di tangani. Karena kondisi kedua pasien itu masih sangat kritis untuk saat ini." jelas dokter itu.
" Apa kau mengenal salah satu pasien itu?. Karena kami menemukan dompet dan kartu anggota medis di salah satu dompet pasien." jelas polisi itu.
" Ya kami mengenalnya. Dia dokter Revan. Salah satu dokter di rumah sakit ini. Dan di sebelahnya itu Nyonya Aira. Dia istri dokter Revan." jelas dokter itu.
" Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya. Tolong selamat kan pasien yang lainnya. Untuk pasien yang sudah meninggal, pindah kan ke ruang jenazah. Kami tim kepolisian akan melakukan tindak prosedur selanjutnya." ujar bapak polisi itu.
" Baik pak." jawab dokter itu.
Setelah dua polisi itu pergi meninggalkan ruangan itu, kepala dokter itu pun langsung kembali melihat perkembangan dua pasien yang masih berjuang disana.
" Bagaimana?." tanya kepala dokter itu.
" Dokter Revan mengalami pendarahan terus menerus melalui telinga nya. Sepertinya ada benturan di kepalanya yang melukai organ kepalanya dok. Kita harus melakukan operasi secepatnya. Apalagi hasil scan barusan menunjukkan ada 3 tulang rusuk sebelah kiri dokter Revan yang patah." jelas dokter itu sambil terus memantau ke stabilan denyut jantung dan nadi lelaki itu.
" Siapkan ruang operasi. Lakukan dengan cepat." perintah kepala dokter itu lalu pergi menghampiri pasien di bed sebelahnya.
" Bagaimana?." tanya kepala dokter itu.
" Nyonya Aira mengalami luka serius di kepalanya. Tekanan darahnya pun juga melonjak tinggi. Nyonya Aira mempunyai riwayat pembengkakan di salah satu bilik jantungnya dok. Kita juga harus segera melakukan operasi. Kalau tidak takutnya tidak bisa di tolong lagi." ujar dokter itu. Kepala dokter itu pun menghela nafasnya berat.
" Tunggu apa lagi. Cepat siapkan meja operasi untuknya. Kita harus menyelamatkan nyawa pasien kita." ujar kepala dokter itu dengan serius.
__ADS_1
Kedua brankar yang di tempati Revan dan dan Aira langsung di dorong dengan cepat menuju ruang operasi. Tim dokter disana begitu sigap dan tanggap. Tim bedah di ruang operasi di bagi menjadi dua bagian. Mereka melakukan penyelamatan untuk dua pasien itu dengan segenap tenaga dan sangat hati - hati.
*****
Bell rumah Revan berulang kali berbunyi. Mbok Sum dengan langkah cepat sedikit berlari menuju pintu rumah itu. Mbok Sum begitu kaget saat melihat dua orang petugas kepolisian sedang berdiri di depan pintu rumah itu.
" Selamat malam. Apa benar ini kediaman tuan Revan Ega Pranata?". tanya salah seorang polisi itu.
" I - iya benar pak. Ada apa ya pak?." tanya mbok Sum.
" Kami ingin memberitahukan bahwa tuan Revan dan istrinya Nyonya Aira Fahira mengalami kecelakaan lalu lintas tadi pukul 00:23 dan sekarang sedang berada di rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis." ujar polisi itu sambil menunjukkan beberapa foto mobil yang sudah hancur tak berbentuk dan terlihat foto dua orang dengan berlumuran darah. Mbok Sum sampai tidak mengenali wajah yang ada di dalam foto tersebut.
" Astaghfirullah. Tuan muda. Nona muda." ujar mbok Sum tak percaya.
" Kami harapkan pihak keluarga segera menuju rumah sakit untuk melakukan administrasi dan prosedur yang ada di sana." tukas polisi itu.
" I - iya pak. Tapi saya hanya pembantu di rumah ini. Keluarga tuan Revan dan nona Aira tidak tinggal disini." jawab mbok Sum.
" Kalau begitu cepat hubungi pihak keluarga. Agar segera menuju ke rumah sakit." pinta polisi itu.
" Baik. Baik pak. Saya akan menghubungi keluarganya." jelas mbok Sum.
" Baiklah kalau begitu. Kami pamit dulu. Besok kami akan datang kembali guna untuk pemeriksaan dan prosedur yang ada." jelas polisi itu lalu pamit meninggalkan rumah tersebut.
*****
Reihan tengah terlelap dalam tidurnya bersama dengan Amanda istrinya. Tiba - tiba ponsel nya berbunyi. Ingin rasanya lelaki itu tak menghiraukan panggilan masuk yang berbunyi itu. Tapi telinga nya sungguh terganggu dengan bunyi ponsel yang berdering nyaring itu. Dengan berat hati di ambilnya ponsel itu.
" Hallo. Siapa ini?." tanya Reihan dengan suara khas orang mengantuk.
" Hallo tuan Rei." jawab dari balik telepon. Reihan langsung mengenali suara siapa itu.
" Mbok Sum. Ada apa mbok telepon saya pagi buta seperti ini?." tanya Reihan kesal.
" Saya minta maaf tuan. Saya gak bermaksud mengganggu tidur tuan Reihan. Tapi itu tuan. Anu ... Anu tuan ... Aduh saya sampai bingung ngomongnya." ujar mbok Sum panik.
" Anu anu apa mbok. Ngomong yang jelas. Ada apa sih?." tanya Reihan mulai kesal.
" Itu tuan. Tuan muda dan nona muda mengalami kecelakaan. Dan sekarang berada di rumah sakit." jelas mbok Sum. Mata Reihan langsung terbelalak mendengar kabar itu.
__ADS_1
" Apa?. Mbok Sum serius?." tanya Reihan.
" Iya tuan. Barusan ada bapak - bapak polisi datang memberitahu kalau tuan muda dan nona muda kecelakaan. Polisi itu menunjukkan foto mobil tuan muda yang ringsek dan foto tuan muda dan nona muda berlumuran darah. Gak sadar tuan. Parah sekali kondisi nya." jelas mbok Sum dengan suara paniknya.
" Iya mbok. Aku akan beri tahu papa. Aku akan segera kesana." ujar Reihan lalu mematikan panggilan telepon itu.
Reihan langsung loncat dari atas tempat tidur dan beranjak menuju kamar ayahnya untuk memberi tahu kabar buruk ini. Amanda yang kaget saat melihat kelakuan suaminya yang panik dan langsung pergi pun bangun dari tidurnya.
" Mas. Ada apa sih?. Masih pagi juga. Kamu mau kemana?". tanya Amanda saat melihat suaminya membuka pintu kamar dengan tergopoh - gopoh.
" Revan kecelakaan. Aku harus kasih tau papa." jawab Reihan lalu pergi menuju kamar papanya.
" Apa?." tanya Amanda kaget. Perempuan itu pun langsung bangun dan menyusul suaminya.
Tok ... Tok ... Tok ...
" Pa. Papa bangun Pa. Pa buka pintunya. Gawat Pa." seru Reihan sambil terus mengetuk kamar ayahnya.
"Ada apa?. Pagi - pagi buta sudah berisik seperti ini." dengus Atmaja kesal karena sikap anaknya itu.
" Pa Revan dan Aira kecelakaan. Sekarang di rumah sakit. Kondisi nya gawat. Kita harus kesana Pa." ujar Reihan panik.
" Apa?. Serius kamu?." tanya Atmaja kaget.
" Iya Pa. Mbok Sum barusan telepon aku. Katanya Revan kecelakaan sama Aira. Kita di suruh cepat kesana." jelas Reihan.
" Tunggu sebentar. Papa ganti baju dulu." jawab Atmaja.
" Iya Pa. Reihan juga ganti baju dulu." ujar Reihan lalu berlari menuju kamarnya.
Reihan dan Atmaja langsung menuju bandara dan membeli tiket penerbangan pertama untuk menuju ke tempat Revan. Dalam perjalanan yang memakan waktu 1 jam itu, Atmaja dan Reihan tak henti - henti nya memanjatkan doa untuk kedua anaknya yang berjuang melawan maut di meja operasi itu.
Setelah menghubungi Reihan tadi. Mbok Sum langsung menghubungi Kinanti, mama Aira. Kinanti begitu terkejut dengan kabar itu. Dengan di temani Akbar, Kinanti langsung bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya disana mereka menuju ruang UGD. Saat bertanya soal keadaan anak dan menantunya. Perawat yang ada disana mengatakan Revan dan Aira sedang berada di ruang operasi. Kinanti dan Akbar pun langsung menuju ke tempat yang di maksud.
Pintu ruangan itu tertutup rapat dengan lampu di atasnya masih menyala. Menandakan tindakan operasi di dalam sedang berlangsung. Kinanti terduduk dengan lemas di depan ruangan itu. Dia tak henti - henti nya berdoa untuk keselamatan anak dan menantunya itu.
" Sabar Ma. Mbak Aira dan mas Revan pasti baik - baik saja." ujar Akbar menghibur. Kinanti menggenggam tangan menantunya itu.
__ADS_1
" Mama takut nak. Mama takut." jawab Kinanti.
" Kita berdoa saja ya Ma. Semoga mereka baik - baik saja." ujar Akbar. Kinanti mengangguk mengiyakan.