Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 64 Hitam Putih Kehidupan


__ADS_3

Hari - hari pun berlalu. Seminggu tepat kepulangan ayah Revan, Azis menghubungi nomer ponsel Revan. Dia telah menemukan rumah yang seperti Revan minta.


Walaupun ayahnya sudah kembali ke rumah utama, tapi dirinya enggan kembali ke rumah lamanya.


Siang itu dia, pergi bersama Azis untuk melihat - lihat rumah yang di maksud olehnya. Seperti perkiraannya. Rumah yang cukup besar, walau tak sebesar rumah lamanya, nyaman, dan juga memiliki keamanan yang baik.


" Gimana? Apa kamu suka?." tanya Azis di sela - sela saat mengelilingi setiap sudut rumah tersebut. Revan tersenyum mendengar itu.


" Bagus. Kamu kan tau selera ku, mas." jawab Revan. Azis terkekeh mendengar ucapan Revan puas. Hatinya puas. Karena kliennya begitu menyukai pilihannya itu.


" Baiklah kalau kamu suka. Aku akan urus semua. Nanti aku hubungi kamu ya. Kita ketemu di kantor notaris saja. Aku tau kamu orang sibuk." jelas Azis kepada Revan. Revan mengangguk mengiyakan ucapan azis.


Revan bernafas lega. Akhirnya masalah rumah sudah selesai. Dia menatap rumah yang akan jadi miliknya dari luar. Senyum nya pun mengembang. Banyak harapan, doa, dan mimpi disana. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


Di dalam perjalanan, ponselnya berdering kembali. Di lihat layar ponsel tersebut. Ada nama kekasihnya disana. Senyumnya pun terlukis di wajahnya.


" Hallo, Gimana?." tanya Aira saat mendengar suara dari balik ponselnya.


" Baik. Seperti yang aku inginkan." jawab Revan senang.


" Syukurlah. Kamu langsung balik ke rumah sakit atau langsung pulang." tanya Aira.


" Balik ke rumah sakit. Nanti jam 3 aku ada operasi soalnya." jawabnya sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 2 siang.


" Oohh begitu. Ya sudah. Hati - hati. Jangan lupa makan." tukas Aira.


" Baik sayang ku." jawabnya di iringi gelak tawa nya. Aira pun mematikan panggilannya. Di rebahkannya tubuhnya di atas kasur miliknya.


Aira telah resign dari pekerjaannya. Bukan. Lebih tepatnya dia telah di keluarkan dari pabrik tempatnya bekerja.

__ADS_1


Flashback seminggu yang lalu.


Setelah dirinya mendapat pesan dari maya. Keesokan harinya dia pun berangkat seperti biasa ke tempat kerjanya. Beberapa teman satu tim nya ada yang menanyakan perihal keadaannya. Mereka pikir Aira sedang sakit atau sedang mengalami kesusahan. Aira pun tersenyum dan menjawab kalau dirinya baik - baik saja.


Mengetahui Aira sudah masuk kembali ke dalam pabrik. Aira pun di panggil ke ruang HRD. Di sana dia di tanya macam - macam tentang dirinya yang suka tidak masuk kerja dan di beri surat peringatan pertama. Aira pun hanya terdiam dan menerima keputusan itu dengan lapang dada. Karena itu semua memang kesalahan dirinya yang sering absen dari pekerjaan.


Setelah keluar dari kantor HRD, dia pun di panggil lagi untuk menghadap pengawas produksi. Dia pun berjalan menuju ruangan pengawas produksi disana. Dia pun tidak terlalu merasa khawatir. Karena selama ini, pengawas produksi nya selalu baik terhadapnya.


Aira pun mengetuk pintu yang terbuat dari kaca itu. Terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.


" Selamat pagi pak." sapa Aira saat masuk kedalam ruangan itu.


" Aaahh Aira. Masuk masuk sini Aira. Silahkan duduk." tukas nya ramah. Aira pun duduk di kursi yang berhadapan dengan meja lelaki tersebut. Saat melihat ekspresi wajahnya, perasaan Aira jadi tidak enak.


" Kamu sudah menghadap HRD?." tanya lelaki itu.


" Lalu HRD bilang apa?." tanya nya sambil beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Aira.


" Saya di beri surat peringatan pertama." jawab Aira. Lelaki itu pun terlihat menganggukkan kepalanya. Matanya kini menatap wajah cantik Aira lalu tersenyum melihat kecantikan perempuan itu walau tanpa memakai riasan di wajahnya. Aira tau kalau dirinya kini telah di tatap oleh lelaki itu.


Lelaki tersebut menggeser tubuhnya yang bertumpu pada meja di belakangnya dan semakin mendekat ke arah tubuh Aira. Aira pun mulai risih dan gugup.


" Lalu, apa penjelasan kamu kepada saya?." tanya lelaki itu yang kini salah satu tangannya sudah melingkar di bahu Aira.


" Apa maksud bapak?." tanya Aira sambil mencoba menepis tangan lelaki itu yang ada di bahunya. Lelaki itu pun tersenyum mesum melihat wajah Aira yang mulai takut.


" Tenang saja. Rileks. Gak usah tegang begitu." ucapnya saat melihat wajah Aira.


Aira hanya meliriknya kesal.

__ADS_1


" Kalau tidak ada lagi yang di bicarakan. Saya akan kembali bekerja pak." tukas Aira. Lelaki itu menahan bahu Aira. Agar Aira duduk kembali di kursi nya. Aira mendongak kan wajahnya menatap wajah lelaki tersebut.


" Santai saja lah. Kita kan belum ngobrol - ngobrol. Saya juga belum mendengar penjelasan kamu. Jadi gak usah buru - buru." jelas lelaki mesum itu.


" Bapak butuh penjelasan apa dari saya?." tanya Aira kesal.


" Ck ck ck. Pelankan suara mu. Wanita cantik gak boleh ngomong sambil teriak - teriak begitu. Nanti cantik nya hilang." jawabnya dengan tangan mulai menyusuri wajah Aira. Aira menepis tangan tersebut berulang- ulang saat tangan tersebut akan menyentuh wajahnya.


" Bapak jangan kurang ajar ya. Saya bisa laporkan bapak nanti." seru Aira. Lelaki itu hanya tertawa mendengar ucapan Aira. Wajah Aira mulai pias. Dia mulai takut dengan lelaki tersebut.


" Kamu sangat lucu, cantik." seru nya.


" Baiklah. Kalau kamu tidak ingin melakukan nya disini. Kita bisa melakukan nya di luar." tukas lelaki itu sambil berbisik di telinga Aira. Tanpa pikir panjang, Aira langsung menampar pipi lelaki tersebut dengan sangat keras. Laki - laki tersebut mengeram dengan sangat marah karena Aira berani menamparnya.


" Dasar lelaki mesum. Kamu pikir aku perempuan murahan, hah?." tukas Aira kesal.


" Halah gak usah sok suci. Aku tau siapa kamu. Kamu setiap malam selalu keluyuran mencari kehangatan lelaki di luar sana kan. Janda seperti mu apalagi yang di cari kalau bukan uang dan kepuasan semata." seru lelaki itu seraya berjalan mendekat ke arah Aira berdiri. Aira pun berjalan mundur mengikuti setiap langkah lelaki yang mendekat itu.


" Dan sekarang aku menawarkan kehangatan untukmu. Aku juga akan memberimu uang. Jadi gak usah sok jual mahal." jelasnya dengan seringai di wajahnya. Aira mengumpulkan semua keberaniannya dan ....


Buuuuuukkkk !!!!


Aira menendang perut lelaki itu kemudian menendang selangka nya. Lelaki itu jatuh dan meringis kesakitan. Aira berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


" Kurang ajar. Kamu di pecat!. Jangan kembali lagi kesini!. Kamu di pecat!." teriak lelaki itu kepada Aira. Aira menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah lelaki itu.


" Dengan senang hati. Kamu pikir aku sudi bekerja dengan lelaki mesum sepertimu. Rasakan itu." jawab Aira dengan kesal lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Aira berlari menuju tempatnya bekerja untuk mengambil tas miliknya disana lalu beranjak pergi meninggalkan pabrik itu. Banyak dari temannya yang bertanya, tapi Aira hanya diam dan pergi dari tempat terkutuk itu.


Dia tidak berani menceritakan soal pelecehan yang dia alami kepada Revan atau Keluarga nya. Dia memendam semuanya sendirian. Rasanya dia malas untuk membahas kembali hal yang di anggapnya menjijikan itu. Kini dirinya menjadi seorang pengangguran yang hanya diam di dalam rumah. Masih belum terpikir olehnya untuk melamar kerja kembali. Rasa takut akan tragedi minggu lalu masih tajam di ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2