Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 13 Mulai Luluh


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Bel di pabrik pun berbunyi tanda para karyawan sudah boleh pulang. Hari ini tak ada lembur. Karena kuantitas permintaan dari atasan telah terpenuhi.


Aira membuka loker yang ada di sana untuk mengambil tas dan jaket miliknya. Wajahnya lesu karena kelelahan. Maya yang ada di sebelah nya pun menepuk bahunya untuk berpamitan pulang terlebih dulu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum lesu.


Langkah kaki nya gontai saat menuju tempat parkir. Dia merogoh tas nya untuk mengambil ponsel miliknya. Di lihatnya ponsel tersebut. Ada pesan dari Revan. Dia menghela nafas panjang.


" Masih usaha aja tuh anak." gumamnya dalam hati.


Di masukannya ponsel nya ke dalam tas dan dia bergegas mengambil kunci motor untuk segera pulang ke rumah. Badannya sudah sangat lengket terkena keringat seharian.


" Ra, nanti malam ada acara gak." tanya salah satu security di sana saat memeriksa stnk para karyawan. Aira bungkam dan hanya tersenyum menanggapi orang itu.


" Kita jalan yuk Ra." pintanya.


" Tidak. Terima kasih. " jawab Aira singkat dan masih mengulum senyum.


" Sombong banget sih. Udah janda, sombong pula. Emang ada yang mau entar." ucap salah seorang teman sesama security disana. Aira yang mendengar nya pun kaget bercampur sedih dan malu. Dia langsung mengegas motornya cepat dan keluar dari pabrik itu.


Dia hanya menjaga sikap nya selama ini agar spekulasi tentang image seorang janda itu tak di pandang buruk oleh orang yang melihatnya. Tapi malah di artikan lain oleh banyak pihak.


Dia gak mau seperti single woman pada umumnya. Yang terkenal suka genit dan bergonta - ganti pasangan sesuka mereka.


Setibanya di rumah, dia langsung memarkirkan motornya di teras. Bian berlari menghampirinya saat tahu dia pulang bekerja. Di raih nya tubuh gembul Bian dan di gendong masuk ke dalam rumah.


" Mamara Bian mau coklat." serunya saat berada dalam gendongan Aira.


" Oohh Bian mau coklat. Iya mamara belikan ya. Tapi Bian tunggu disini dulu. Mamara mau mandi dulu. Udah bau asem." jawab Aira sambil mencium pipi gembul itu. Bian pun mengangguk kan kepala nya dan duduk di atas kasur milik Aira.


Aira bergegas untuk mandi. Setelah selesai dan berganti pakaian dia pun menghampiri Bian.


" Jadi beli coklat gak." tanya Aira menghampiri Bian yang bermain sepeda di ruang tamu.


Bian menatap ke arah mama nya, sanwti. Di sana tampak Santi tengah melotot ke anak semata wayangnya itu. Aira tau kalau Bian takut sama mama nya itu. Di gendong nya Bian dan di ajak keluar. Santi yang menggerutu karena Aira terlalu memanjakan Bian tak di hiraukannya.


Aira dan Bian pun pergi ke salah satu toko deket dengan rumah kontrakannya tersebut. Bukan swalayan, hanya toko kelontong biasa. Tapi lumayan lengkap disana. Aira masih menggendong Bian dan menyuruh Bian memilih apa yang di inginkan.


Dari dalam ada seorang bapak - bapak dengan mata yang binal memperhatikannya. laki - laki itu pun keluar dan menghampiri Aira dan Bian disana. Pak Rohmat, pemilik toko ini. Dia terkenal suka genit pada pelanggan perempuan. Istrinya ada 3. Dan ini rumah istri pertamanya.


" Eehhh dek Aira. Mau beli apa dek." tanya nya basa - basi sambil terus menatapnya. Aira pun tersenyum sambil menyodorkan coklat yang di inginkan Bian. Aira pun mengambil uang lima puluh ribuan dan di serahkan pada laki - laki itu.


" Udah coklat nya dek Aira bawa saja. Gak usah di bayar." jelasnya mengembalikan uang itu pada Aira.


" Loh jangan pak. Saya gak bisa terima kalau di kasih cuma - cuma." jawab Aira.


" Gak apa - apa dek Aira. Kita kan tetangga, jadi gak usah sungkan begitu." jelasnya lagi sambil mengelus tangan Aira.


" Ehh jangan gini pak." seru Aira sambil menarik tangannya.


Dasar tua bangka. Istri sudah tiga masih aja celamitan. Gumam Aira dalam hati.


" Heemm dek Aira ada waktu gak." tanya nya sambil celingak celinguk mencari keberadaan istrinya. Karena takut ketahuan.


Aira hanya tersenyum dan memasukkan uang lima puluhan ribu itu dan permisi pulang. Setelah tiba di rumah Aira mendengus kesal. Santi menatapnya dengan heran.


" Ada apa mbak." tanya Santi.


" Itu tuh si tua bangka gak tau diri sudah punya istri tiga masih aja jelalatan." dengus nya kesal. Santi tau siapa yang di maksud kakak nya itu.


" Emang kamu di apain kak." tanya nya sambil menahan tawa.


" Hiiihh amit - amit yaa punya suami kayak gitu." seru Aira sambil bergidik ngeri. Santi hanya tertawa melihat kakaknya itu.


" Makanya lain kali jangan beli di situ. Aku aja ogah beli di situ. Gara - gara aku pernah beli di situ pake daster, mata pak rohmat langsung melotot menatap ku terus. Kan serem di lihatin kayak gitu." jelas Santi.

__ADS_1


" Yah mbak mana tau dek. Biasanya kan yang melayani istrinya. Ehh hari ini mbak lagi apes makanya ketemu kucing garong kayak tadi." jawab Aira kesel.


" Meoooonnnggggg." tukas Santi sambil menoel - noel lengan kakaknya itu.


" Apa sih kamu. Gak lucu tau gak sih." jawab Aira bete dan masuk ke dalam kamar nya. Di rebahkannya tubuh nya di atas kasur. Tangannya merabah meja kecil di samping nya dan mengambil ponsel nya.


Dia membuka pesan dari Revan. Di lihatnya terus layar ponsel tersebut. Entah mengapa tiba - tiba dia ingin sekali membalas pesan dari Revan.


**To : Revan


Aku sudah makan. Kalau kamu**


Dia tersadar akan tindakan konyolnya itu. Saat ingin menghapus pesan itu malah terpencet tombol kirim. Dia salah tingkah dan memukul - mukul gulingnya disana.


" Dasar bodoh." gumamnya lirih.


Revan telah pulang ke rumah. Setelah selesai mandi dia pun berganti pakaian. Terdengar ponsel berdering tanda pesan masuk. Revan masih tak menghiraukan. Dia sedang menyisir rambutnya itu. Setelah selesai dia menghampiri meja tempat ponsel nya berdering tadi.


Aira !!!. Dia kaget dan tak menyangka Aira membalas pesannya itu. Senyum tersungging di bibirnya. Tanpa pikir panjang dia langsung menelepon aira.


Aira masih merutuki kebodohannya dan tiba - tiba ponselnya berdering. Tertulis nama Revan di layar ponsel tersebut.


" Tuh kan. Gara - gara kebodohanmu dia meneleponmu. Dia mungkin berfikir kamu telah luluh." gumam Aira kesal pada dirinya sendiri.


Tak ada jawaban dari Aira. Revan pun mencoba menelepon kembali. Aira menarik nafas dalam - dalam dan di angkat panggilan tersebut.


" Hallo ada apa." tanya Aira ketus.


" Heemmm kamu lagi apa Ra." tanya Revan balik.


" Aku lagi apa bukan urusanmu." jawabnya ketus. Revan tersenyum mendengar ucapan Aira.


" Sudah makan malam belum." tanya Revan balik.


" Loh kok judes sih. Tadi waktu di sms aja kalem dan manja gitu." sindir Revan. Pipi Aira merah karena malu.


" Oohh itu aku salah kirim." sanggahnya cuek. Revan terkekeh mendengar nya.


" Mau makan malam di luar gak." ajak Revan. Aira terdiam. Dia ingin tapi gengsinya lebih besar.


" Hallo Ra. Kamu masih disana." tanya Revan.


" Aku gak bisa." sahutnya singkat.


" Kenapa." tanya Revan tak mengerti.


" Gak bisa ya gak bisa. Kepo deh." jawabnya kesal.


" Yahh sayang sekali. Padahal aku mau ajak kamu makan bakso pak kancil loh." tukas Revan. Aira tercekat. Itu kan warung bakso kaki lima langgananya dulu setiap habis pulang latihan basket mereka selalu makan bakso disana. Baksonya enak dan tak terlalu berminyak. Air liur Aira seakan menetes membayangkan lezatnya itu bakso.


" Ya sudah kamu tunggu aku di sana aja. Bentar lagi aku nyusul kesana." jawab Aira mengiyakan ajakan Revan.


" Loh Ra, kamu kasih tau alamat kamu biar aku yang jemput kamu." jelas Revan.


" Gak usah. Gak perlu. Kita ketemuan di sana langsung aja." jawab Aira cepat.


" Baiklah. Aku tunggu disana ya." ucap Revan memastikan.


Aira berganti pakaian. Dia bingung mau pakai baju apa. Di pilih - pilih nya baju di dalam lemari.


" Kenapa aku ribet banget sih. Pakai kaos lengan panjang dan celana jeans aja kan cukup. Cuma makan bakso doang aja kok repot." gumamnya lirih. Setelah selesai dia pun keluar kamar.


Santi kaget melihat kakaknya sudah rapi. " Mau kemana mbak." tanya Santi.

__ADS_1


" Mbak keluar bentar kok dek. Mau ketemu temen." jawab Aira sambil memakai masker di hidungnya dan helm. Santi tersenyum menggoda.


" Ciyee mau pacaran yaa.. " seru adeknya itu.


" Huuss ngaco aja kalo ngomong. Udah berangkat dulu." jelas Aira lalu berlalu pergi.


Setelah sampai disana. Terlihat Revan sudah duduk di salah satu bangku panjang disana. Aira memarkirkan motornya dan membuka helm dan masker di hidungnya. Aira langsung duduk di hadapannya. Revan yang tak sadar akan kedatangan Aira. Dia asyik melakukan chat dengan temannya Radit.


Aira berdehem. Revan mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke arah suara tersebut.


" Eehh kamu sudah datang Ra." tanya nya sambil tersebut tersenyum melihat perempuan itu ada di depan nya.


" Sibuk amat. Lagi chating sama pacar atau istrinya yaa .. " tanya Aira datar. Revan tergelak.


" Sudah di bilang in aku belum punya istri masih aja gak percaya." jawab Revan gemas sambil mencubit hidung Aira gemas. Aira memukul punggung tangan Revan.


" Mau pesen sekarang apa nanti." tanya Revan.


" Tahun depan aja." jawab Aira kesal. Revan tertawa. Revan berdiri dan memesankan dua porsi bakso + tetelan dan iga dan dua gelas es jeruk.


Revan duduk kembali dan menatap wajah Aira sambil tersenyum. Dia tak menyangka akan duduk berdua disini lagi dengan perempuan ini. Aira menyadari kalau dirinya di tatap oleh Revan. Kakinya menendang kaki Revan dari bawah meja. Revan pun meringis kesakitan akibat tendangan itu.


" Tega banget sih Ra." keluhnya.


" Salah sendiri punya mata kok celamitan." jawab Aira judes. Bakso mereka pun datang. Tampak sangat menggiurkan sekali melihat isi dalam mangkok tersebut. Mereka pun langsung memakan bakso itu.


Mereka tampak lahap memakan bakso itu. Entah karena lapar atau karena rasanya yang memang enak.


" Kamu mau tambah lagi, Ra" tanya Revan saat melihat bakso Aira ludes dalam mangkok tersebut. Aira menggelengkan kepala sambil mengelap mulutnya dengan tissue.


" Aahh aku kenyang sekali rasanya." ujar Revan puas. Aira tersenyum melihat kelakuan lelaki tampan di hadapannya itu.


" Sekarang kita mau kemana lagi Ra." tanya nya dengan semangat.


" Pulang." jawab Aira singkat. Revan mengangkat satu alisnya keheranan.


" Masak pulang sih." jawabnya lesu.


" Mau kemana lagi. Tadi kan janjiannya cuma makan bakso. Sekarang udah makan. Yah pulanglah." jelas Aira. Revan mengerucutkan bibirnya. Tak rela dia harus melepas perempuan itu secepat itu.


" Tapi besok kita ketemu lagi ya." pinta Revan. Aira tercekat mendengar ucapan Revan itu. Di tatapnya wajah lelaki itu. Revan tersenyum melihat Aira.


" Aku gak mau." jawab Aira sambil memalingkan muka.


" Ayolah Ra. Please ... " pinta Revan.


" Lihat besok aja." jawab Aira lesu. Tampak Revan menyunggingkan senyum puas mendengar ucapan Aira tadi.


"Aku antar pulang Ra." tukas Revan.


" Gak usah. Aku kan bawa motor sendiri tadi." jawabnya sambil menunjuk motornya. Revan mengangguk.


" Makasih ya sudah di traktir bakso nya." jelas Aira dan berlalu pergi. Revan hanya memandang Aira yang berlalu pergi meninggalkan dirinya disana.


Dalam perjalanan Aira melihat orang berjualan martabak manis. Itu makanan kesukaan Santi dan Bian. Dia pun berhenti dan membelikan Santi dan Bian martabak manis rasa coklat keju. Aira pun duduk pada kursi yang di sediakan. Karena pada saat itu sedang antri orang untuk membeli martabak manis yang sama dengannya.


Revan keluar dari mini market. Sepulang dari membeli bakso tadi Revan mampir dulu ke minimarket di pinggir jalan untuk membeli pengharum mobilnya yang telah habis. Saat keluar dari minimarket, dia melihat Aira yang duduk tengah mengantri membeli martabak manis disana. Revan ingin menghampiri perempuan itu. Tapi di urungkan niatnya itu. Revan kembali masuk ke dalam mobil dan di lihatnya perempuan ber kerudung warna hitam itu. Dia berniat mengikuti perempuan itu untuk mengetahui tempat tinggal perempuan itu.


Setelah menunggu selama lima belas menit. Tampak Aira telah selesai dengan pesanannya tadi dan bergegas pergi pulang dengan motornya. Revan pun mengikuti Aira dari belakang. Dia mencoba menjaga jarak dari perempuan itu agar tak ketahuan. Tak lama berselang, tibalah mereka di sebuah gang tempat Aira tinggal.


Revan hanya memperhatikan Aira dari jauh. Karena mobilnya tidak bisa masuk ke dalam gang yang lumayan kecil itu. Dia tersenyum puas. Setidaknya dia tau kalau Aira tinggal di gang tersebut. Mudah mencari rumah Aira. Besok dia akan mencarinya dan berkunjung ke rumahnya itu.


Revan pun melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah nya tersebut. Hati nya senang karena dapat makan malam bersama perempuan yang di sukai nya dari dulu. Dan sekarang dia pun telah mengetahui dimana perempuan itu tinggal. Dia tersenyum optimis. Hanya perlu waktu dan kesabaran saja untuk merayu dan meluluhkan hati perempuan kepala batu itu. Karena apa pun yang Revan inginkan itu harus terwujud. Sekeras apapun dia akan berusaha mewujudkannya. Harus ....

__ADS_1


~ Happy reading ~


__ADS_2