Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 60 Hotel ( 3 )


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan dirinya di atas langit. Tapi Aira dan juga Revan masih saja terlelap dalam mimpi mereka berdua. Bahkan suara deringan alarm pada ponsel mereka berdua pun tak ada yang mendengar nya satu sama lain.


Jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aira mulai menggeliat dalam balik selimut. Dia membuka matanya perlahan dan mulai mengerjap beberapa kali. Di lihatnya jendela kamar hotel tersebut masih gelap karena tirai belum terbuka. Dia melirik ke arah jam di dinding.


" Jam 9!!." seru nya kaget dan langsung terperanjat bangun dari tidurnya. Dia menggoyang - goyangkan tubuh Revan yang tertidur di sampingnya itu.


Lelaki itu hanya menggeliat dan menarik kembali selimut yang membalut tubuhnya.


" Revan ... Bangun!!!. Sudah siang ini. Aku telat pergi kerja!!!." seru Aira masih mencoba membangunkan tubuh lelaki itu. Revan pun hanya diam tak bereaksi. Aira pun beranjak dari atas kasur dan akan menuju kamar mandi. Tapi baru selangkah maju, tangannya di tarik oleh Revan.


" Mau kemana kamu?." tanya Revan sambil masih memejamkan matanya.


" Aku mau ke kamar mandi. Ini sudah siang Revan. Ayo cepat bangun. Kamu gak mau pergi kerja apa?." tukas Aira. Dia berusaha melepas tangan Revan. Tapi revaen malah menarik tangan itu dengan kuat hingga membuat tubuhnya jatuh di atas kasur kembali.


Revan menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah perempuan itu. Perlahan dia pun membuka matanya dan menatap wajah Aira yang baru saja terbangun dari tidurnya. Revan tersenyum melihat wajah Aira yang masih sembab karena baru bangun tidur.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu?." tanya Aira yang merasa malu di tatap oleh Revan.


" Ternyata ini wajah asli kamu." tukas Revan lalu tersenyum.


" Apa maksudmu?." tanya Aira tak mengerti.


" Kata orang, kalau ingin melihat kecantikan wajah seorang perempuan, harus di lihat ketika dia baru terbangun dari tidurnya." jelas Revan. Aira pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merasa malu mendengar ucapan Revan.


" Pasti wajahku sangat jelek sekarang." gumam Aira dalam hati. Revan menarik tangan Aira yang menutupi wajahnya itu. Aira pun berusaha menghindar agar tak bertatap mata dengan lelaki ini.


" Revan. Lepasin tanganku. Aku mau ke kamar mandi dulu." tukas Aira mencoba melepas tangan yang masih di genggam oleh Revan.


" Tidak mau. Kenapa kamu ingin sekali pergi dariku sih?." ucapnya dengan suara manja.


" Apa sih. Aku hanya ingin ke kamar mandi. Tidak ingin kabur dari sini." tukas Aira.


" Sama saja." jawab Revan. Aira pun tak kehilangan akal. Dia mencubit dada Revan dengan keras. Hingga lelaki itu mengerang dengan keras menahan perih pada dadanya itu. Setelah dirasa tangannya lepas dari genggaman Revan, Aira pun berlari menuju kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi dengan rapat.


Revan masih mengusap dadanya yang sakit bekas di cubit kekasihnya itu.


" Kamu jahat sekali sih!!." teriak Revan yang masih kesakitan. Aira yang berada di dalam kamar mandi pun hanya tertawa mendengar jeritan Revan dari balik pintu kamar mandi.


*****


Revan pun tengah duduk di kursi sebuah kafe dekat dengan hotel tempatnya menginap. Sementara Aira masih sibuk melihat buku menu untuk memilih sarapan paginya bersama lelaki di depannya itu.


" Kamu mau makan apa, Van?." tanya Aira.


" Tereserah!." ucapnya dengan nada suara dingin. Aira menatapnya sekilas. Lalu Aira menutup buku menu yang di pegangnya.


" Kamu masih marah?." tanya Aira.


Revan pun hanya terdiam dan menatap ke luar jendela. Memperhatikan setiap orang yang berjalan lalu lalang disana.

__ADS_1


" Revan!. Kamu dengar aku ngomong gak sih!." tukas Aira kesal. Lelaki itu menatap nya dengan tatapan tajam.


" Jangan seperti anak kecil deh!." dengus Aira kesal. Sekarang ganti dirinya yang ikut marah.


" Kenapa kamu yang marah?. Seharusnya aku yang marah. Kamu gak punya perasaan banget. Kamu pikir gak sakit apa di cubit seperti itu. Coba sini gantian kamu yang aku cubit." jelas Revan kesal. Aira menatap wajah Revan dan berdecak kesal.


" Iya iya. Aku minta maaf. Salah sendiri pagi - pagi bikin ulah." ujar Aira.


Revan hanya mendengus kesal mendengar ucapan Aira. Mereka memilih nasi goreng sebagai sarapan pagi. Tak butuh waktu lama, nasi goreng pesanan mereka pun datang. Aira yang begitu kelaparan langsung menyuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Di sela - sela mereka makan, tiba - tiba ponsel Revan berbunyi.


' Kak Reihan '.


Revan hanya menghela nafasnya dan mematikan panggilan telepon dari kakaknya tersebut. Aira menatap wajah Revan dengan penasaran.


" Siapa?." tanya Aira.


" Kak Rei." jawab Revan malas.


" Kenapa gak kamu jawab?." tanya Aira lagi.


" Malas. Pasti dia menelepon mau membujukku pulang. Lanjutkan makanmu. Selesai makan, kita pergi ke agen properti buat cari rumah buat tinggal." tukas Revan lalu kembali memakan nasi goreng yang masih memenuhi setengah piringnya itu.


Aira menatap wajah Revan sejenak lalu kembali makan. Setelah selesai makan, mereka pun datang ke salah satu agen properti kenalan Revan dulu waktu membeli rumah yang di tinggalkannya tersebut.


Dengan mengendarai motor milik Aira, mereka berdua pun menuju kantor properti itu. Setengah jam perjalanan mereka pun sampai di kantor properti tersebut.


Terlihat Revan mengusap peluhnya yang bercucuran di pelipisnya akibat sengatan cahaya matahari saat melintasi jalan raya tadi. Aira mengambil tissue dalam saku bajunya dan mengusap dahi serta pelipis Revan yang basah oleh keringat itu.


" Kamu kepanasan ya?. Maaf. Gara - gara aku, kamu jadi naik motor panas - panasan gini." tukas Aira dengan sendu. Revan tersenyum dan mengangkat wajah Aira yang menunduk.


" Ini semua bukan salah kamu. Tapi kemauan aku. Kamu gak usah merasa bersalah seperti itu. Semua orang kan gak selamanya di atas dan hidup enak. Harus sekali - kali merasakan hidup susah juga. Biar tau artinya rasa bersyukur." jelas Revan sambil tersenyum.


" Syukur kamu kepanasan!!." tukas Aira meledek. Revan pun tergelak mendengar ucapan Aira. Mereka berdua pun tertawa bersama lalu beranjak masuk ke dalam kantor tersebut.


" Permisi. Bisakah saya bertemu mas Azis." tanya Revan kepada resepsionis di kantor tersebut.


" Selamat siang. Dengan tuan siapa?." tanya resepsionis itu saat melihat Revan.


" Revan. Revan Danu Ega." seru Revan.


" Sudah buat janji dengan pak Azis, tuan Revan."


" Belum. Bilang saja kepada mas Azis. Revan yang datang. Dia pasti tau." tukas Revan.


" Baiklah. Tunggu sebentar ya." jawab resepsionis itu lalu memencet sebuah nomor telepon yang ada di depannya dan berbicara dengan seseorang disana.


" Tuan Revan, anda di tunggu di ruangan pak Azis. Silahkan." tukas perempuan itu sambil mempersilahkan Revan dan Aira masuk.


" Hai Dokter Revan. Apa kabar?. Sepertinya anda awet muda saja ya." sapa Azis, Manager kantor properti itu saat melihat Revan masuk ke ruangannya.

__ADS_1


" Kamu terlalu memuji mas." jawab Revan. Azis pun tergelak. Lalu dia melirik ke arah Revan saat melihat Aira datang bersamanya.


" Dia ...."


" Dia Aira. Dia istriku." jelas Revan mengerti arti ucapan yang akan di tanyakan Azis padanya.


" Benarkah?. Waahh selamat ya Dokter Revan. Kenapa saya tidak di undang ke pesta pernikahan kalian?." tanya Azis kecewa.


" Kami hanya mengundang kerabat dekat saja." jawab Revan berbohong. Aira pun hanya menghela nafas mendengar ucapan Revan itu.


" Silahkan duduk Dokter Revan, nona Aira." ujar Azis. Aira dan Revan pun duduk di sofa yang ada disana.


" Mau minum apa?. Panas? Dingin?." tanya Azis.


" Apa aja." seru Revan. Azis pun memerintahkan assisten nya untuk menyuguhkan minuman kepada tamunya ini.


" Maksud kedatangan kita kesini, aku mau minta tolong kepadamu mas." ujar Revan to the point.


" Bantuan?. Bantuan apa?." tanya Azis.


" Tolong carikan rumah yang nyaman buat kita. Secepatnya!." tukas Revan.


" Rumah?." tanya Azis heran.


" Benar. Rumah. Rumah yang nyaman dan lingkungan yang nyaman pula." tukas Revan.


" Bukannya kamu sudah punya rumah?. Kenapa dengan rumah mu yang lama." tanya Azis.


" Tidak apa - apa. Aku hanya bosan saja dengan rumah lamaku." ujar Revan. Azis hanya mengangguk kaget mendengar ucapan Revan.


" Baiklah. Kamu mau rumah seperti apa?." tanya Azis.


" Minimalis saja. Pokoknya nyaman. Serta lingkungannya juga bersih dan nyaman. Terlebih lagi aman." jawab Revan.


" Secepatnya ya mas. Kalau bisa dalam minggu - minggu ini harus ada." tukas Revan.


" Waahh ini yang agak sulit. Kamu tau sendiri kan, mencari rumah apalagi yang seperti kamu mau itu agak sulit." jelas azis.


" Gimana kalau apartemen saja?. Aku ada beberapa apartemen yang kosong. Seperti yang kamu tau kan. Tingkat keamanan dan kenyamanan sebuah apartemen Itu jauh lebih baik daripada sebuah rumah. Lagi pula apartemen juga sangat cocok untuk pengantin baru seperti kalian." jelas azis. Revan hanya tersenyum menanggapi itu.


" Benar katamu. Tapi tidak bisa di huni oleh keluarga besar." tukas Revan.


" Keluarga besar?." tanya azis.


" Iya. Keluarga besar. Aku berencana memiliki banyak anak setelah ini. Jadi aku butuh rumah. Kalau apartemen terlalu sempit untuk anak - anakku bermain." ujar Revan.


Azis dan aira pun tercekat mendengar ucapan Revan. Revan hanya tersenyum santai melihat dua orang yang kaget disana.


" Banyak anak?. Memang kamu ingin anak berapa sih, hah?. Negara kita kan mencanangkan program dua anak lebih baik. Kenapa kamu ingin punya banyak anak?." tukas azis heran dan bingung.

__ADS_1


" Heeemmmm aku ingin punya anak kira - kira 9. Atau gak 11. Biar bisa bikin klub kesebelasan sendiri nantinya." jawab revan. Azis pun tertawa terbahak - bahak mendengar ucapan Revan yang sungguh konyol itu. Aira hanya diam memandangi wajah lelaki itu.


" Banyak anak? Sebelas katanya?. Cih! Dia pikir hamil itu gak susah apa. Enak dia tinggal ngomong begitu. Sementara kita, kaum perempuan yang menjalaninya ini pasti akan tersiksa." gumam Aira dalam hati. Revan memandang wajah Aira yang masih menatapnya itu. Dia tersenyum menyeringai saat melihat Aira yang tampak kaget dan kesal itu.


__ADS_2