Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 79 Melepas IUD


__ADS_3

Setelah mendaftarkan diri di loket, Aira pun beranjak menuju poli kandungan seperti yang ada di kertas pendaftaran. Revan terlihat menunggu di depan ruangan tersebut sambil berbicara dengan salah satu perawat disana.


Saat Aira masuk, semua yang ada disana pun menoleh ke arah nya. Tak terkecuali Revan.


" Selamat siang, boleh kah saya lihat kertas nya nyonya." pinta salah satu perawat dengan ramah.


Aira menyerahkan kertas tersebut dengan senyum di wajahnya. Perawat itu pun meraih dan membawa kertas tersebut lalu menulis nya pada sebuah buku rekam medis untuk Aira. Revan memandang nya lalu tersenyum dan beranjak masuk ke dalam ruang kerja nya.


" Nyonya Aira mau periksa kehamilan?." tanya perawat tadi yang membawa kertas nya.


" Oohh bukan. Saya mau melepas IUD." jawab Aira.


" Oohh baiklah. Saya tensi dulu ya tekanan darahnya." ujar perawat tersebut. Aira mengiyakan.


Perawat disana belum ada yang tau kalau wanita di depannya ini adalah istri dari dokter yang ada di dalam tersebut. Revan atau pun Aira belum sama - sama mengatakan status hubungan mereka.


Setelah selesai dengan pemeriksaan tekanan darah dan denyut nadi. Aira di persilahkan duduk di kursi tunggu. Disana ada dua orang perempuan dengan perut yang sama - sama besar sedang memeriksakan kehamilan mereka di temani oleh suami masing - masing.


Aira yang melihat itu pun tersenyum. Dia teringat akan dirinya dulu sewaktu mengandung anak - anaknya. Perasaan bahagia yang tak pernah terlupakan olehnya kala itu. Walau dia menjalani kehidupan yang berat. Tapi saat merasakan tendangan halus kaki mungil dalam perutnya, rasa sakit dan beban berat itu pun terasa hilang seketika.


Tapi sayang, takdir berkata lain. Kedua anaknya harus pergi meninggalkan dirinya tanpa di lihatnya atau pun di peluknya. Dia harus mengikhlaskan semua itu. Aira hanya berharap, kelak dia akan di pertemukan kembali dengan kedua buah hati nya itu.


Tak terasa butiran air mata menetes di sudut matanya. Aira langsung menghapus nya dengan cepat agar siapa pun yang ada disana tak melihat nya. Terutama Revan. Dia tidak ingin suaminya itu melihat air mata tersebut.


Satu persatu ibu hamil itu pun masuk ke dalam ruangan dan di periksa oleh suaminya. Aira menunggu nya dengan sabar. Dia berpikir sejenak. Memandangi pintu ruangan di depannya yang tertutup.


Dia membayangkan Revan sedang memeriksa pasien - pasiennya di dalam. Dia membayangkan raut wajah Revan ketika memeriksa semua pasien - pasiennya. Tiba - tiba saja dia berdecak kesal dengan sendirinya.


Dia pasti senang di dalam. Bisa pegang - pegang seenaknya. Cih, dasar mesum. Pantas saja kelakuannya begitu. Gumam Aira kesal.


Terlihat pasien yang tadi masuk, keluar dengan di temani suami dan perawat yang ada di dalam. Aira melihat wajah ibu hamil tersebut terlihat senang dan bahagia. Aira bergulat sendiri dengan pikirannya.


Pasti senang kan di periksa oleh dokter setampan itu. Awas aja nanti kalau pulang ya. Aira.

__ADS_1


" Silahkan nyonya Aira. Sekarang giliran anda." tukas perawat tadi sambil membawa buku rekam medis milik nya.


Aira berdiri dan mengikuti langkah perawat tadi masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat Revan sedang mencuci tangannya di wastafel yang ada disana. Saat dia menoleh terlihat Aira istrinya sedang duduk di kursi yang ada di depan meja kerja nya. Revan pun tersenyum ke arah Aira. Tapi Aira nya hanya diam saja tak bergeming.


Lihat senyum nya. Apa dia selalu tersenyum seperti itu kepada semua pasiennya. Dasar genit. Huh!!. gumam Aira kesal.


" Selamat siang nyonya Revan. Senang bertemu anda hari ini." sapa Revan yang langsung duduk di depannya. Aira hanya membisu mendengar itu.


" Nyonya Revan?. Maaf dokter, ibu ini namanya nyonya Aira. Bukan nyonya Revan." jelas perawat yang ada di sana dengan bingung.


Revan pun tersenyum mendengar ucapan perawat nya. Begitu lucu pikir nya. Perawat itu pun menatap Revan dan juga Aira secara bergantian.


Ada apa dengan mereka. Kenapa rasanya mereka terlihat begitu dekat ya. Jangan - jangan wanita ini adalah istri dari dokter Revan. gumam perawat itu dalam hati.


Revan membuka buku yabg di berikan oleh perawat di sana. Lalu menyuruh Aira untuk berbaring di sebuah kursi khusus yang biasa di pakai oleh ibu - ibu untuk melahirkan secara normal.


Dengan di bantu perawat yang ada disana, sebelum naik ke atas kursi tersebut, Aira di suruh melepas dulu celana dan celana dalam yang di pakai nya. Aira begitu terkesiap mendengar itu semua. Walaupun yang memeriksa nanti suaminya sendiri. Tapi perasaan malu begitu menghinggapi hatinya.


" Kalau gak di lepas gimana bisa di ambil IUD nya." tukas Revan saat Aira melakukan protes kepada perawat disana.


Huh! Dia pasti senang kan. Setiap hari bisa ***** - ***** pasien - pasien nya itu. Dasar menyebalkan. dengus Aira.


Dengan di tutupi selimut yang melingkar di pinggang nya, Aira pun naik ke atas kursi eksekusi tersebut. Perlahan dia menarik nafas lalu membuangnya secara kasar untuk mengusir gugup di hatinya.


Revan yang telah selesai menyiapkan alat - alatnya pun mendekat ke arahnya dengan memasang sarung tangan dan menyiramnya dengan cairan alkohol untuk mensterilkan sarung tangan tersebut.


Perawat disana membuka selimut Aira yang ada di perutnya lalu mengolesi dengan gel yang dingin ke perut nya itu. Aira hanya diam saja dan melihat apa yang dilakukan dua orang yang ada disana itu.


Revan menarik stik yang biasa di pakai untuk melakukan USG dan memutarnya di perut nya tadi yang sudah di olesi gel. Dengan seksama dia menatap layar yang ada di depannya. Mencari letak keberadaan alat kontrasepsi yang ada di dalam perut istrinya tersebut.


" Sudah ketemu. Itu dia IUD yang akan kita ambil." jelas Revan kepada Aira. Tapi Aira hanya diam saja tak menyauti ucapan suaminya itu.


Perawat disana memakai sarung tangan juga dan menarik alat - alat yang tadi sudah di siapkan Revan dan merendamnya dengan alkohol agar tetap steril.

__ADS_1


" Sudah siap." tanya Revan. Aira hanya mengangguk.


" Tahan ya. Ini akan sedikit sakit." jelasnya lalu mengambil salah satu alat yang seperti sekrop kecil dan memasukkan alat tersebut ke dalam organ kewanitaan Aira lalu memutar knopnya hingga terbuka dengan lebar.


Aira hanya meringis menahan sakit dan nyilu di area tersebut. Tangannya menggenggam pinggiran kursi tersebut dengan rapat sambil memejamkan matanya. Membiarkan lelaki itu melakukan tugasnya.


Revan mengambil alat lagi yang seperti capit kepiting yang berukuran panjang lalu memasukkan lagi ke dalam sana. Dia menatap wajah Aira sekilas. Terlihat perempuan itu begitu ketakutan dan kesakitan menahan itu semua. Revan hanya menghela nafasnya tak tega melihat istrinya itu.


" Aaawwwww ..." Aira berteriak dengan keras saat dia merasa sesuatu di dalam perutnya yang ditarik paksa oleh dokter disana.


" Iya sabar sebentar lagi. Jangan bergerak ya. Sebentar lagi selesai." jelas Revan.


Dan berhasil. Revan bernafas dengan lega saat berhasil mengambil alat kontrasepsi itu dalam perut istrinya. Lalu dia meletakkan di sebuah wadah kecil yang ada disana. Setelah melepas semua alat - alat yang di pasang tadi Revan berjalan menuju wastafel dan melepas sarung tangan yang di pakainya dan di buangnya lalu mencuci tangannya dengan bersih disana.


Aira di bantu perawat tadi untuk turun dari atas kursi tersebut. Terlihat ada bercak darah di atas bed yang dia tempati tadi. Perawat disana pun langsung sigap mengambil lapisan yang menyelimuti bed tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang ada disana.


" Saya bisa memakai sendiri." tukas Aira saat perawat disana ingin membantunya memakai celana miliknya. Perawat itu pun mengiyakan lalu pergi meninggalkan Aira yang masih di dalam dengan ditutupi tirai.


Revan berjalan mendekat ke arah Aira yang tengah memakai celana. Perawat disana begitu terkesiap melihat apa yang di lakukan oleh dokter nya itu.


" Dia istri ku." jelas Revan kepada perawat disana yang begitu terkejut melihat kelakuan dokternya itu.


Perawat itu lebih terkejut lagi saat mendengar Revan bicara kalau wanita yang barusan di periksanya itu istrinya.


Apa?. Aku tidak salah dengar kan. Wanita itu istri dokter Revan?. Tapi kok dia melepas IUD. Jadi dokter Revan menikah dengan perempuan yang pernah menikah sebelumnya. Ya Tuhan. Aku tidak percaya ini. Dokter setampan dia menikah dengan wanita yang pernah menikah. Kasihan sekali kamu dok. Dapat sisa orang lain. gumam perawat tadi dalam hatinya.


" Apa kah masih sakit?." tanya Revan kepada Aira. Aira hanya mengangguk mengiyakan ucapan Revan.


" Maaf. Padahal tadi aku sudah melakukan sepelan mungkin agar kamu tidak kesakitan." ujarnya.


" Aku gak apa - apa kok. Tenang saja." ujar Aira menenangkan suaminya.


" Aku akan kasih obat pereda nyeri. Biar nyerinya hilang." tukas nya. Aira hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Aira berjalan dengan memegangi perutnya yang masih terasa nyeri duduk di kursi yang ada di depan Revan. Sedangkan lelaki tersebut tengah menuliskan sebuah resep obat untuk istrinya. Lalu menyerahkan resep itu kepada Aira. Dan Aira pun berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Revan meminta izin sebentar ke perawat tadi untuk mengantar istrinya tadi sampai mendapatkan taxi. Karena dia tidak bisa mengantar pulang. Karena jam bekerja nya masih belum habis.


__ADS_2