
Revan dan Reihan telah sampai di kediaman revan. Mbok sum yg sudah di beri tau Revan tadi pagi pun telah selesai membersihkan kamar tamu.
" Aku istirahat dulu ya Van. Letih banget badanku." seru Reihan.
" Iya kak. Kakak tidur dulu aja. Nanti kita obrolin lagi." tukas Revan.
Reihan telah masuk ke dalam kamar tamu. Sementara Revan naik ke atas menuju kamarnya sendiri.
" Hallo ... " seru Revan menghubungi kekasihnya sambil duduk di sofa kamarnya itu.
" Hallo Van. Kamu udah di rumah." tanya Aira dari seberang panggilan.
" Sudah. Kamu lagi apa?." tanya nya balik.
" Aku lagi rebahan aja di kamar. Menikmati masa cuti ku yabg tinggal dua hari saja." ujar Aira.
Revan tersenyum mendengar ucapan Aira dari ujung telepon.
" Gimana Van??. Kamu udah kasih tau kakak kamu perihal hubungan kita?." tanya Aira khawatir.
" Sudah. Aku sudah kasih tau kakak ku." jawabnya sambil melepas kaos yang di pakai nya itu.
" Lalu ??." Aira penasaran. Dia takut kemungkinan yang selama ini dia takutkan akan terjadi.
" Yaaa ... Kakak ku menyuruh ku memikirkan ulang niat ku itu." jelas lelaki itu.
Aira tertunduk lesu mendengar ucapan kekasihnya itu. Seperti dugaannya selama ini. Keluarga nya pasti akan menentang hubungannya. Aira menghela nafas panjang.
Revan pun menyadari kalau kekasihnya sedang gelisah akan kelanjutan hubungan mereka saat ini.
" Kamu gak usah khawatir. Kakak ku orang yang bijak dan pengertian kok. Dia akan memahami kondisi kita saat ini." ujar Revan menenangkan kekasihnya itu.
" Heeemmm aku tau. Van ... Apapun yang di katakan keluarga mu akan hubungan kita saat ini itu lah yang terbaik. Aku setuju dengan pemikiran kakak mu yang menyuruh mu untuk memikirkan ulang semua ini." jelas Aira sendu.
__ADS_1
" Tuh kan kamu mulai lagi. Hei ... Aku kan sudah pernah bilang semuanya akan baik - baik saja. Kamu tenang aja. Keluarga ku pasti merestui hubungan kita, sayang." tukas Revan.
" Entah lah. Sepertinya aku akan menyerah saja. Karena aku gak mau kamu jadi anak pembangkang dan durhaka hanya karena aku." jelas aira. Dia masih berbaring dan menatap langit - langit kamarnya.
" Sayang .... Kamu percaya kepadaku kan?." tanya revan memastikan.
" Iya ... "
" Ya sudah kamu jangan sedih dan gelisah begitu. Semua pasti ada jalan keluarnya. " tukas Revan.
Aira hanya diam mendengar ucapan Revan itu. Pikirannya masih melayang. Hatinya pun masih tak tenang. Seandainya dia di suruh memilih melepaskan Revan saat ini juga. Dia pun akan melepas kekasihnya itu. Ini semua demi kebaikan bersama.
" Sayang kamu masih di situ kan." tanya Revan memastikan.
" Heeemmm ... " jawab Aira.
" Kamu merindukan ku tidak." tanya Revan mencairkan suasana.
" Tidak ... " jawab Aira singkat.
Aira tersenyum mendengar Revan kekasihnya itu.
" Malam ini aku ke rumah kamu yaa .. " pinta Revan.
" Ke rumah ku??. Lalu kakak mu??." tanya Aira.
" Yaaa kakak ku di ajak sekalian. Biar dia langsung berkenalan dengan calon adik iparnya." seru nya bersemangat.
" Ngawur kamu. Jangan terlalu berharap lebih Van. Nanti kalau gak kesampaian rasanya akan jauh lebih menyakitkan." tukas Aira.
Revan terdiam. Dia mencerna setiap ucapan kekasihnya itu. Ada nada keputus asa an dari suara wanitanya ini.
" Harapan ku hanya satu. Kamu menjadi milikku selamanya." jawab Revan.
__ADS_1
Entah mengapa saat mendengar kalimat yang di ucap Revan barusan air matanya langsung leleh dan mengalir. Dia menggigit bibir bawahnya menahan suara isakan tangisnya.
Tapi suara isakan itu masih terdengar oleh telinga Revan dari ujung telepon. Revan memejamkan matanya meresapi setiap suara tangis wanita yang di cintainya itu.
" Sayang .... "
" Kenapa kamu menangis?. Apa yang kamu tangisi?." tanya Revan. Aira masih membisu. Suara isakannya masih terdengar.
" Please sayang. Jangan menangis lagi. Hatiku perih saat mendengar suara tangismu saat ini."
" Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu selamanya. Ada restu atau tidak dari keluarga ku. Aku akan tetap memilihmu menjadi pendamping hidupku." jelas Revan. Suara tangis Aira mulai berhenti. Hanya terdengar suara hembusan nafas panjang dari telepon itu.
" Jangan sedih lagi ya. Aku menyayangimu. Sungguh sangat menyayangimu." tukas Revan. Aira menutup matanya. Hatinya terasa sesak.
" Kamu istirahat ya. Jangan banyak pikiran. Nanti aku akan menghubungi mu lagi." seru revan.
" Iya ... " jawab Aira serak. Suara khas sehabis menangis.
Revan menutup panggilan telepon nya. Di gengamnya ponselnya erat. Hatinya seperti teriris ketika mendengar tangis wanita nya itu.
" Aku mencintai mu Aira. Sungguh sangat mencintaimu." gumam revan lirih.
Revan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia mengambil sebuah kotak perhiasan yang terbuat dari kayu. Di buka kotak tersebut. Ada sebuah kalung emas dengan batu permata besar berwarna ungu.
Itu adalah perhiasan milik Almarhumah mama nya dulu. Papa nya memberikan itu pada Revan untuk di serahkan kepada kekasih pilihan anaknya kelak. Dan Revan berniat memberikan kalung itu untuk Aira.
Karena hanya aira yang dia cintai dan dia ingin jadikan permaisuri hatinya. Bukan yang lain.
" Sayang .... Aku mencintaimu." tukas Revan sambil menatap ke arah kalung tersebut.
~ **Happy reading ~
Hai readers ....
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen, dan vote nya yaaa ...
Happy saturday night readers** ....