Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 92 Apa Yang Harus Ku Lakukan


__ADS_3

Revan mengantar istrinya sampai di depan lobby rumah sakit dan memanggilkan taxi. Dirinya tidak bisa mengantar karena masih terikat jam kerja yg ada di rumah sakit itu.


" Nanti kalau sampai rumah kabari aku ya." ujar Revan saat melihat taxi yang di pesannya mendekat ke arah nya.


" Iya sayang. Aku pulang ya. Kamu jangan lupa makan siang. Jangan lupa minum air putih. Jangan kopi terus." tukas Aira sebelum masuk kedalam taxi. Revan mengiyakan ucapan istrinya itu.


" Hati - hati ya pak. Pelan - pelan aja jangan ngebut. Istri saya sedang hamil soalnya." tukas Revan kepada sopir taxi tersebut. Sang sopir hanya tersenyum dan mengiyakan permintaan Revan.


Taxi tersebut telah pergi meninggalkan lobby rumah sakit menuju rumah yang mereka tempati. Sepanjang perjalanan Aira mengusap perutnya yang masih rata itu. Senyum di bibirnya tak pernah surut. Rasanya hidupnya telah lengkap saat ini.


Memiliki suami yang baik, tampan dan begitu mencintainya. Serta sekarang di dalam perutnya ada buah cinta mereka berdua. Rasanya begitu bahagia sekali.


Tak lama kemudian taxi yang di tumpangi nya telah sampai di depan rumah nya. Setelah membayar, Aira pun turun dari mobil tersebut. Terlihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah nya. Aira mengerutkan dahinya.


Mobil siapa ini?. Apa ada tamu di dalam?. gumam Aira sambil melangkah memasuki rumah nya.


Pintu depan rumah tersebut tertutup tapi tidak di kunci. Aira langsung membuka pintu tersebut. Dia begitu terkejut saat melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu rumah tersebut.


" Aira. Kamu sudah pulang." sapa lelaki itu yang tak lain adalah kakak laki - laki dari suaminya. Kak Reihan.


" Kak Reihan. Kesini sama siapa?." tanya Aira sambil menatap sekeliling. Reihan pun tersenyum melihat tingkah adik iparnya ini. Dia tau siapa yang di cari oleh istri adik nya ini.


" Aku kesini sendiri. Papa gak ikut kok." ujar Reihan. Seketika ada kelegaan di hati Aira. Dia masih belum siap bertemu dengan Ayah suaminya itu.


" Kak Reihan cari Revan ya?. Dia sedang kerja." ujar Aira sambil duduk di sofa seberang tempat Reihan duduk. Kini posisi dia dan kakak iparnya itu bersebelahan.

__ADS_1


" Aku tau kalau Revan tengah bekerja. Aku kesini mau ketemu dengan mu." tukas Reihan sambil menatap wajah adik iparnya itu.


" Mencariku?. Ada apa kak?." tanya Aira penasaran.


" Kamu dari mana?. Kata mbok Sum kamu pergi bersama Revan pagi tadi selepas sarapan." tanya Reihan mengalihkan pembicaraan.


" Oohh itu. Aku dari rumah sakit. Iya tadi aku berangkat bersama Revan." jawab Aira.


" Rumah sakit?. Ngapain?. Siapa yang sakit?." tanya Reihan penasaran.


" Gak ada yang sakit kok. Aku memeriksakan kandungan ku saja." jawab Aira dengan senyum di wajahnya. Reihan membulatkan matanya sambil menatap ke arah perut datar milik Aira. Aira tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Reihan tergelak melihat jawaban dari adik iparnya itu.


" Waahh waahh kabar baik ini. Seharusnya aku tadi kesini bawa hadiah dulu. Sudah berapa bulan?." tukas Reihan.


" Baru 4 minggu kok kak." jawab Aira.


Di lihatnya wajah Aira lekat - lekat. Ada raut kebahagiaan di sana. Hati Reihan sungguh lega dan tenang melihat itu. Dia pikir adiknya dan istrinya akan merasa bersalah dan menyesal. Tapi ternyata tidak.


" Aira." panggil Reihan.


" Iya kak." jawab Aira sambil menoleh ke arah kakak iparnya.


" Apa kamu bahagia menikah dengan adikku?." tanya Reihan. Aira menatap mata kakak iparnya itu.


" Aku sangat bahagia kak." jawab Aira dengan senyum di wajahnya. Reihan menghela nafasnya.

__ADS_1


" Apa Revan juga merasakan hal yang sama sepertimu?." tanya Reihan lagi. Ada nada kekhawatiran di dalam pertanyaan Reihan. Aira terdiam. Dia tidak pernah tau isi hati suaminya yang sebenarnya.


" Aku tidak tau kak. Kalau di lihat dari sisi luarnya, Revan terlihat bahagia. Aku tidak tau isi hatinya. Aku sering melihatnya duduk melamun sendirian. Entah apa yang di pikirkannya. Dia tidak pernah bercerita kepadaku." jelas Aira. Reihan menghela nafasnya. Dia tau sifat dari adiknya itu. Revan bukan orang yang mudah berbagi penderitaan kepada orang lain. Walaupun itu dengan keluarga nya.


" Kalian tidak ingin bertemu dengan papa?." tanya Reihan. Aira menunduk dan terdiam.


" Sampai kapan kalian akan berlari dan sembunyi seperti ini?." tanya Reihan lagi.


" Entah lah kak. Kami belum siap untuk bertemu dengan papa. Kami takut." jawab Aira.


" Takut?. Apa yang kalian takutkan?. Kalian sudah berani menikah tanpa restu papa. Lalu apa yang kalian takutkan?." tanya Reihan.


" Kami takut papa akan memisahkan kami berdua." jawab Aira. Reihan terdiam mendengar itu.


" Kami takut tidak bisa bersama seperti ini lagi. Kami takut kak." ujar Aira.


" Papa tidak akan melakukan itu." jawab Reihan. Aira menatap wajah kakak iparnya itu.


" Papa tidak akan melakukan itu. Papa akan merestui dan menerima kalian. Apalagi ada calon cucu nya di dalam perutmu." ujar Reihan. Aira masih terdiam.


" Datanglah ke rumah. Temui papa. Meminta maaf lah. Papa akan merestui kalian. Selama ini papa selalu memikirkan kalian. Papa sangat merindukan Revan. Bagi papa Revan itu adalah harga berharga nya yang dia miliki. Kehilangan Revan seperti kehilangan separuh dari nyawanya." jelas Reihan.


" Bujuklah Revan agar mau menemui papa. Jangan sampai kalian menyesal." tukas Reihan lalu berdiri dari duduknya. Terdengar suara helaan nafas dari lelaki itu.


" Aku balik dulu ya. Kamu jangan terlalu capek dan banyak pikiran. Jaga baik - baik bayi dalam perut mu itu. Aku turut bahagia atas kebahagiaan kalian." ujar Reihan lalu beranjak pergi meninggalkan rumah itu dengan mobilnya.

__ADS_1


Sementara Aira masih duduk di ruang tamu dengan pikiran yang kalut. Banyak sekali gejolak di hati dan pikiran nya. Di pegang nya dan di usapnya perut miliknya. Terasa nyeri disana. Dia pun berdiri dan menutup pintu rumah tersebut dan mengunci nya. Lalu dia pun berjalan menuju kamar miliknya yang ada di lantai dua rumah tersebut.


__ADS_2