Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 51 Setitik harapan


__ADS_3

Matahari semakin meninggi. Tapi Revan masih meringkuk di bawah selimut nya itu. Gorden dan tirai di kamarnya masih belum terbuka. Maka dari itu dia masih terlelap dalam mimpinya. Sementara di luar kamarnya. Semua keluarga nya sudah berkumpul di ruang tengah sambil menikmati teh dan menonton televisi bersama.


Terlihat sesekali Reihan sedang bercanda dengan Kirana, putri tunggalnya itu. Amanda istrinya pun tergelak melihat kelakuan bapak dan anak disana itu. Atmaja pun tampak senang melihat putra sulungnya ber bahagia dengan keluarga kecilnya itu. Tiba - tiba tatapan mata lelaki tua itu tertuju kepada pintu kamar di lantai dua yang masih saja tertutup rapat itu. Dia menghela nafasnya. Sampai kapan anaknya itu akan seperti itu.


Revan sudah tiga hari tidak makan di rumah sama sekali. Dia pun selalu menghindar dari keluarga nya. Entah itu aksi protes atau memang dia masih marah, Atmaja pun tak tau.


" Pa kapan balik ke rumah utama?." tanya Reihan yang tengah mengalihkan perhatian ayahnya yang terus memandang kamar lantai dua itu. Terdengar suara helaan nafas ayahnya itu.


" Entahlah. Papa masih tidak tau. Kamu tau sendiri, adikmu masih marah sama papa." jawab Atmaja risau.


" Pa ... Apa papa gak mempertimbangkan sedikit saja perasaan Revan?. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya." jelas Reihan. Atmaja menoleh ke arah Reihan dengan wajah geramnya.


" Tidak!!. Papa tetap dengan keputusan awal. Memang awalnya ini menyakitkan. Tapi nanti Revan juga akan mengerti. Semua ini demi dia." ujar Atmaja. Reihan ingin melanjutkan ucapannya. Tapi lengannya di tarik oleh Amanda. Reihan menoleh ke arah istrinya itu. Amanda menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan membantah lagi." Itu yang tersirat dari tatapan Amanda. Reihan pun menghela nafasnya pasrah.


Suasana yang tadinya hangat, kini berubah dingin kembali akibat ucapan Reihan tadi.


" Mumpung kita masih disini, gimana kalau kita jalan - jalan?." seru Amanda mencoba menyairkan suasana. Atmaja menoleh ke arah menantunya itu. Dia mengangguk mengiyakan ucapan Amanda.


" Baiklah. Mau kemana kita?." tanya Reihan yang menyetujui usul istrinya.


" Kiran mau makan gelato, Pi." pinta kirana kepada papi nya itu.


" Gelato??." tanya Reihan tak mengerti apa yang di maksud anaknya itu.


" Itu loh Pi, makanan yang seperti ice cream. Sekarang lagi rame di sosmed." jelas Amanda. Reihan mengangguk mencoba memahami.


" Baiklah. Ayo kita siap - siap. Kita jalan - jalan sepuasnya." ujar Reihan. Kirana yang senang pun bersorak sambil berlarian menuju kamar nya yqng di ikuti Amanda dari belakang. Atmaja pun beranjak dari duduknya melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


*****


Revan menggeliat dan terbangun dari tidur nya. Di lihatnya jam yang ada di dinding. Sudah pukul 1 siang.


" Sudah siang ternyata." gumamnya sendiri. Lalu dia pun beranjak pergi menuju kamar mandi yang ada di kamarnya untuk menyegarkan tubuhnya itu. Seusai mandi dia menuju lemari pakaian dan mengambil kaos santai dan celana jeans pendek se lutut lalu memakainya.


Selepas itu dia keluar dari kamarnya. Rumahnya tampak sangat sepi. Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut. Lalu dia menuju dapur. Di lihatnya mbok sum yang tengah makan siang dengan mbk Aminah di dapur belakang.


" Mbok ... " sapa Revan saat mendapati mbok sum disana.


" Eeh tuan muda. Ada apa ya tuan?." tanya mbok sum kaget.


" Rumah kok sepi banget. Kemana semua orang?." tanya Revan.

__ADS_1


" Oohh tuan Rei mengajak tuan besar sama nona Amanda pergi jalan - jalan." jawab mbok sum. Revan terdiam.


" Tuan mau di buatkan kopi?. Atau mau makan?." tanya mbok Sum.


" Siapin makanan mbok. Saya lapar." tukas Revan.


" Baik tuan. Sama kopi sekalian?." tanya mbok sum memastikan.


" Enggak usah. Air dingin aja." seru Revan. Mbok sum pun mengangguk mengiyakan permintaan tuannya itu.


Revan pun berjalan menuju meja makan dan menarik salah satu kursi disana lalu duduk. Sambil menunggu mbok sum menyiapkan makanan, Revan pun merogoh ponselnya yang ada di saku celana pendek nya itu. Dia hendak menghubungi kekasihnya itu.


" Assalamualaikum. Hallo Ra, lagi apa?." tanya Revan saat terdengar suara sahutan dari seberang ponselnya.


" Waalaikumsalam. Lagi rebahan aja. Kenapa?." tanya Aira senang akhirnya kekasihnya itu menghubungi dirinya. Dia sudah menanti dari pagi. Di chat dari pagi gak ada balasan.


" Kamu dari mana aja?. aku chat dari pagi gak di jawab sama sekali." tanya Aira.


" Aku baru bangun tidur sayang." jawab Revan santai.


" Itu tidur apa pingsan." ejek Aira. Revan tertawa mendengar ucapan Aira.


" Kamu seneng banget ya kalau aku kenapa - kenapa." jawab Revan.


" Sayang ..." panggil Revan.


" Apa?."


" Aku merindukan mu." seru Revan.


" Cih!!. Tadi tidur gak bangun - bangun. Sekarang sudah bangun malah ngegombal. Kamu gak ada kerjaan lain apa." ujar Aira.


" Kamu suka kan aku gombalin." tukas Revan. Terdengar suara tawa Aira yang renyah bak kerupuk dalam toples. Mbok sum pun membawa makanan yang tadi di masaknya. Dia melihat wajah tuannya begitu bahagia sambil berbincang - bincang dalam telepon.


" Silahkan tuan." seru mbok sum sambil meletakkan sepiring nasi putih, semangkuk sayur lodeh labu siam dan semangkuk lagi opor ayam, telur dan tahu.


" Udah dulu ya. Aku makan bentar. Nanti aku telepon lagi." jelas Revan lalu mematikkan ponselnya.


" Terima kasih mbok." seru Revan pada mbok sum yang tengah menuang air putih dalam gelas di depan Revan.


" Telepon dari nona Aira ya tuan." seru mbok sum. Revan menatap wajah mbok sum.

__ADS_1


" Kok mbok sum tau." tanya Revan heran.


" Hanya nona Aira yang bisa membuat tuan tersenyum seperti itu." tukas mbok sum senang. Revan pun tersenyum mendengar ucapan mbok sum.


" Emang kelihatan ya mbok." tanya Revan sambil menyendok makanan nya dan memasukkan ke dalam mulutnya.


" Saya ikut tuan besar sejak Almarhumah nyonya punya anak tuan Rei. Saya sudah merawat dan menganggap tuan Revan seperti anak saya sendiri. Jadi saya tau apa yqng membuat tuan muda bahagia atau tidak." jelas mbok sum. Revan yang mendengar ucapan mbok sum pun begitu sangat terharu. Mbok sum selama ini pun sudah di anggap seperti ibu pengganti mama nya yang telah tiada.


" Mata tuan selalu berbinar bahagia ketika menyangkut soal nona Aira." ujar mbok sum sambil menatap wajah Revan. Revan pun tersenyum saat mendengar ucapan mbok sum.


" Aira perempuan yang baik mbok. Nasibnya saja yang jelek." tukas Revan sambil melanjutkan makan.


" Saya tau tuan. Saat pertama kali melihat nona Aira datang kemarin, saya tau dia anak yang baik. Lain dari nona Sheila." ujar mbok sum.


" Tapi papa gak suka sama Aira mbok." tukas Revan sedih.


" Tuan besar bukannya gak suka dengan nona Aira. Tuan besar hanya khawatir dengan tuan Revan. Tuan besar takut, kalau kedepannya tuan akan mendapat kesulitan. Jadi saya mohon, tuan Revan jangan membenci tuan besar. Beberapa hari ini tuan besar begitu murung. Sepertinya beliau memikirkan tuan Revan. " jelas mbok sum. Revan pun terdiam mendengar ucapan mbok sum.


" Saya gak benci papa mbok. Saya hanya gak suka dan marah dengan sikap papa." jawab Revan.


" Tuan besar sangat sayang kepada anda, tuan." tukas mbok sum.


" Itu bukan sayang mbok. Itu egois namanya. " ujar Revan. Mbok sum tersenyum mendengar ucapan Revan.


" Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak - anaknya. Tapi terkadang cara penyampaiannya saja yang salah." jelas mbok sum. Revan masih terdiam dan menatap wajah mbok sum. Mbok sum tersenyum melihat Revan.


" Coba bicarakan lagi secara baik - baik dengan tuan besar. Saya tau, tuan Revan sebenarnya sangat sayang dengan tuan besar." jelas mbok sum. Wanita itu pun terkesiap dengan ucapannya.


" Maafkan saya tuan, saya sudah lancang. Saya sudah ngomong yang bukan - bukan. Maafkan saya tuan, saya gak bermaksud apa - apa." tukas mbok sum saat menyadari dirinya sudah ngomong banyak hal yang mungkin bisa membuat tuannya marah.


" Kenapa minta maaf mbok?. Mbok sum gak salah. Saya malah senang bisa berbagi masalah saya dengan mbok sum." tukas Revan. Mbok sum masih berdiri dan menunduk.


" Mbok sum benar. Saya harus bicara sekali lagi dengan papa. Saya akan menyakinkan papa soal Aira. Terima kasih mbok atas nasehatnya." jelas Revan sambil tersenyum menatap mbok sum. Mbok sum pun menatap wajah tuan mudanya yang di rawat mulai bayi hingga sekarang.


" Semoga tuan muda bahagia selalu." ucap mbok sum sambil menyentuh kedua pipi Revan. Revan tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan mbok sum.


Lalu mbok sum pun pamit menuju dapur dan meninggalkan tuan nya di meja makan sendirian. Revan pun memakan kembali makanannya itu. Hingga habis tak tersisa.


~ **Happy reading ~


Hai readers ...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, koment, dan vote nya yaaa ...


Terima kasih** ...


__ADS_2