Jangan Pergi Lagi !!!

Jangan Pergi Lagi !!!
Episode 33 Revan ( 3 )


__ADS_3

Revan tengah duduk di ruang tunggu di bandara sambil memakan sebuah roti dan di sebelahnya ada sebotol air mineral.


Perutnya sungguh sangat lapar kala itu. Tapi di pagi hari seperti ini dia tidak terbiasa memakan apapun kecuali roti.


Tiba - tiba ponselnya berdering. Di raihnya ponsel tersebut di dalam saku celana nya. Terdapat satu pesan dari kakaknya, Reihan.


" Minggu depan kita sekeluarga akan datang kerumah Aira untuk melamar. Kamu siapkan semuanya. Jangan sampai ada yang terlewat. "


Revan tersenyum melihat isi pesan itu. Dia akhirnya bisa bernafas lega. Akhirnya hati ayahnya luluh juga. Ini akan jadi kabar gembira untuk Aira nanti.


*****


Aira telah bersiap untuk bekerja kembali. Tapi rasanya dia malas untuk berangkat. Pikirannya masih tertuju kepada Revan. Dia khawatir dengan kelanjutan hubungan mereka.


" Mbak kenapa?!." tanya Santi saat melihat kakaknya itu bengong sendiri di kamarnya.


Aira menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin adik atau pun keluarga nya tau soal penolakan ayahnya Revan.


" Ayo sarapan dulu sebelum berangkat mbak." ajak Santi.


" Mbak males sarapan dek. Mbak langsung berangkat aja." jelas Aira lalu beranjak pergi meninggalkan kamarnya.


Santi pun terdiam dan menatap kakak nya dari belakang. Pasti ada yang di sembunyikan sama mbak Aira. Gumamnya dalam hati.


" Mbak Aira sudah berangkat, bun." tanya Akbar suaminya yang keluar dari kamar berganti pakaian.


" Iya."


" Tumben. Kok gak sarapan dulu." tukas Akbar.


" Sepertinya mbak Aira ada masalah deh, Pa." seru Santi khawatir.


" Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mungkin saja mbak Aira lagi capek. Atau lagi kangen sama mas Revan. Soalnya di tinggal mas Revan pulang ke rumah orang tua nya." jelas Akbar menenangkan hati istrinya itu.


Santi masih bergeming di dalam hati.


" Sudahlah bun. Ayo kita sarapan. Aku sudah lapar." tukas Akbar.


Santi mengangguk mengiyakan permintaan suaminya itu.


****

__ADS_1


Sekitar hampir satu jam Revan di atas pesawat. Setelah pesawat mendarat dengan selamat dan tiba di bandara. Revan pun melangkah pergi ke rumah nya.


Setibanya di rumah, mbok sum terlihat kaget saat membuka pintu. Ternyata tuan nya telah kembali.


" Loh tuan, kok sudah kembali?. Katanya satu minggu pulang ke rumah utama. Ini baru dua hari." tanya mbok sum.


" Iya mbok. Males lama - lama disana." jawab Revan. Mbok sum menatap wajah tuan nya itu. Dia tau betul kalau tuan nya itu tak pernah akrab dengan ayahnya. Apalagi semenjak ibunya tiada.


" Mbok sudah masak belum?. Aku lapar mbok." Tukas Revan.


" Maaf tuan. Saya kira tuan masih lama di rumah utama. Jadi saya belum masak apapun. Hanya ada nasi. Tuan mau makan apa?. Akan saya buatkan." jelas mbok sum.


Revan menghela nafas nya. Perutnya sudah sangat lapar. Tidak tahan kalau harus menunggu lagi.


" Goreng kan telur saja lah mbok. Saya udah lapar banget. Keburu pingsan nanti nunggu mbok sum masak." ujar Revan sambil duduk di meja makan.


Mbok sum dengan segera kembali ke dapur untuk menggoreng telur ceplok untuk tuannya itu. Revan menyandarkan tubuhnya di meja makan. Antara lapar dan masih mengantuk.


Tadi dia bangun pagi - pagi buta untuk segera kembali ke rumahnya. Tak sampai lima menit telur ceplok yang di minta Revan telah siap. Dia bangkit dari meja makan dan melihat makanan nya telah matang.


Tanpa pikir panjang, dia langsung melahap telur ceplok dan sepiring nasi itu. Mbok sum yang melihat tuannya begitu lahap itu hanya tersenyum.


Setelah selesai dengan makan nya Revan pun beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Sambil menyeret koper yang di bawanya tadi. Sekarang dia ingin mandi dan pergi tidur lagi.


****


Tercium bau maskulin pada tubuhnya. Setelah itu Revan beranjak keluar dari kamarnya menuju garasi mobilnya.


Tak sampai 30 menit dia telah sampai di depan gang rumah Aira. Setelah selesai memarkirkan mobilnya dia berjalan memasuki gang tersebut.


Banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya. Seperti sebelum - sebelumnya dia pun tak perduli dengan tatapan mata mereka.


Terlihat Aira tengah menyapu halaman rumah nya lengkap masih mengenakan pakaian seragam kerjanya. Revan berjalan mengendap - endap dan langsung memeluk tubuh Aira dari belakang.


Aira pun berjingkat kaget menoleh ke arah belakang dengan cepat. Di lihat nya wajah kekasihnya yang tersenyum nakal. Aira pun memukul bahu lelaki nya itu.


" Kamu apa - apaan sih. Main peluk aja. Di lihat orang gak enak tau." dengus Aira kesal.


Revan masih terkekeh melihat kekasihnya yang kesal itu. Aira membanting sapu yang di pegangnya. Lalu masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu mengikuti langkah kekasihnya itu.


Aira mendudukan dirinya di depan televisi. Revan pun ikut duduk di sana juga. Aira masih tampak kesal dengannya.

__ADS_1


" Ayolah sayang. Apa kamu tidak merindukanku?. Kenapa kamu cemberut begitu?." tanya Revan menggoda Aira yang masih mengambek itu.


" Jangan kau ulangi lagi kelakuan mu tadi revan. Aku tidak suka dengan caramu tadi. Kalau ada yang melihat gimana. Apa tidak akan jadi bahan omongan kita?." jelas aira kesal.


" Aku tidak perduli mereka mau bicara apa." tukas Revan seraya merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Aira.


Aira terdiam melihat kelakuan kekasihnya itu. Revan menatap wajah Aira dan menarik tangan Aira untuk menyentuh wajahnya.


Kini tangan Aira telah mengusap lembut wajah lelaki itu. Aira pun menatap wajah Revan lekat - lekat. Senyum pu tersungging di bibir keduanya.


" Kenapa kau kembali cepat?. Bukannya kamu bilang satu minggu berada disana?." tanya Aira yang masih mengusap lembut wajah Revan.


" Aku merindukan mu. Tak tahan lama - lama jauh darimu." rayu Revan. Aira berdecak lalu tergelak mendengar ucapan manis kekasihnya itu.


Revan tampak mengendus - endus sesuatu. Aira mengerutkan dahi nya melihat kelakuan aneh lelaki nya itu.


" Ada apa?!." tanya Aira bingung.


" Aku mencium bau asem. Kamu mencium tidak." tukas Revan.


Seketika itu Aira mencubit dada Revan hingga pemilik dada tersebut meringis kesakitan.


" Kamu kenapa kejam sekali sih." Seru Revan.


" Salah sendiri ngelunjak. " dengus Aira.


" Aku kan berbicara sesuai fakta." jawab Revan.


Aira melirik tajam ke arah Revan. Revan masih terkekeh melihat kelakuan kekasihnya itu. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah Aira.


" Cepat mandi. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Dan kau pasti menyukainya." ucap Revan lirih.


" Kemana?." tanya Aira.


" Nanti kamu juga tau." jawab Revan sambil mengecup bibir Aira kilas.


Aira mendorong tubuh Revan hingga terjengkang ke belakang lalu berdiri dan beranjak pergi masuk ke dalam rumahnya.


Sementara Revan tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu. Dia tidak sabar melihat wajah Aira nanti saat dia membawa ke tempat yang dia maksud.


~ **Happy reading ~

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen dan vote nya yaaa** ....


__ADS_2